
Mata Valko terpejam rapat. Napasnya berhenti, dan tubuh lelaki itu perlahan dingin. Air mata Luna pun meluncur deras membasahi pipi. Dadanya terasa begitu sesak melihat sang kekasih sudah tidak bernyawa.
"Val, jangan bercanda! Bangunlah! Ini nggak Lucu!" teriak Luna histeris.
Micky dan Micko melihat ada sesuatu yang janggal. Setelah mereka memperhatikan baik-baik tubuh Valko, ternyata lelaki itu bukanlah kekasih dari Luna. Micko mendekati Luna kemudian membisikkan sesuatu.
"Kak, jangan sampai air matamu menetes membasahi luka atau bagian dadanya. Dia bisa hidup lagi."
"Micko, apa maksudmu?"
"Dia itu Paman Catz, Kak! Fokuskan tatapanmu baik-baik."
Luna pun menuruti instruksi yang diberikan oleh Micko. Dia memusatkan energi yang dia punya pada mata. Gadis itu menguatkan hati untuk melihat sosok asli orang yang ada di pangkuannya itu.
Tak lama kemudian, Luna terperanjat. Dia langsung bangkit dari lantai dan menjauhi tubuh itu. Benar saja, tubuh tegap tersebut bukanlah milik Valko, melainkan badan Catz yang menjelma menjadi kekasihnya.
"Ba-bagaimana bisa?" Luna melangkah mundur, mata gadis itu terbelalak, dan mulutnya terbuka lebar.
"Kak, apa kamu tidak menyadarinya? Bahkan aroma tubuhnya saja berbeda. Paman Catz memang licik sekali!" Micky mendekati Luna lalu meraih jemarinya.
"A-aku benar-benar tidak tahu kalau dia adalah Paman Catz. Lalu, di mana Valko sekarang?"
"Kita tunggu sebentar. Biar aku memanggil warga lain untuk menguburkan paman Catz dengan layak." Micko berlari keluar rumah untuk mendatangi rumah-rumah warga, dan meminta bantuan mereka untuk menguburkan jenazah Catz.
Sementara Micky menemani Luna dan membujuk gadis itu untuk tetap tenang. Micky juga meyakinkan Luna bahwa Valko pasti baik-baik saja.
Tak lama kemudian para warga datang, dan membawa jenazah Catz ke pemakaman setempat. Hati Luna masih belum bisa tenang karena hingga saat ini, dia belum melihat Valko menghampirinya.
"Aku harus cari Valko!" Luna menghapus air mata, kemudian melangkah keluar rumah.
Dia tidak bisa jika hanya menunggu. Micky serta Micko memutuskan untuk menemani Luna mencari Valko. Langit sudah sepenuhnya gelap. Hutan Gato pun mulai terasa lengang.
Hanya terdengar suara gesekan sayap serangga malam yang membuat suasana tempat itu tidak terlalu sunyi. Luna dan dua bocah kembar itu pun menyusuri jalan setapak menuju hutan di mana Valko dan Catz tadi keluar dari perumahan.
"Lihat di sana, Kak!" Micko menunjuk ke arah hutan bagian dalam.
Luna pun segera berlari karena menangkap sosok Valko yang tengah bersandar pada batang pohon oak. Begitu sampai di hadapan lelaki itu tangis Luna kembali pecah. Dia langsung terduduk lesu seraya menggoyang lengan Valko.
"Val, bangun! Dasar bodoh! Bangunlah, atau aku pukul kepalamu!" seru Luna di tengah isak tangis.
Valko masih belum merespons. Kaki lelaki itu mengeluarkan banyak darah dan terlihat sedikit bengkak. Agaknya dia mengalami patah tulang.
"Val, bangun!" Kali ini Luna menepuk pelan pipi sang kekasih.
Benar saja, usaha terakhirnya itu membuahkan hasil. Valko mulai menggeliat dan kesadarannya perlahan kembali. Lelaki itu meringis menahan sakit, dan berusaha untuk duduk tegak.
"Val, kamu sudah sadar? Bisa berdiri?"
Valko membuka mata, dan menatap sendu sang kekasih. Dia tersenyum lembut lalu membelai wajah cantik Luna.
"Aku kira aku sudah mati."
"Hey, kamu belum mati, Bodoh! Ayo, ikut aku! Bisa berdiri, 'kan?"
Valko mengangguk. Dia mulai berdiri dengan bantuan Luna. Namun, kaki Valko tidak kuat menopang berat badannya saat ini.
"Memangnya kenapa?"
"Apa Kakak tidak tahu? Air mata titisan Arthemis adalah salah satu obat paling ampuh di dunia! Bahkan konon dipercaya bisa menghidupkan lagi orang yang sudah meninggal."
"Benarkah?" Luna masih tidak mempercayai ucapan bocah di hadapannya itu.
Namun, Luna sejenak berpikir, dan kembali teringat ucapan Micko beberapa waktu lalu. Dia dilarang meneteskan air mata pada dada Catz mungkin karena hal ini juga. Akhirnya Luna pun berusaha mengeluarkan air mata sebanyak yang dia bisa.
Setiap butir air mata yang mengalir, Luna tampung pada telapak tangan. Setelah penuh, gadis itu membalurkan air mata tersebut ke atas kaki Valko yang terlihat bengkak. Secara ajaib, kaki Valko diselimuti sinar keemasan.
Sinar tersebut membalut luka Valko layaknya perban. Dalam hitungan detik, cahaya tersebut menghilang. Valko pun merasa kakinya jauh lebih baik. Tidak ada lagi rasa nyeri di sana.
"Kakiku sembuh!" seru Valko seraya menggerakkan kakinya perlahan.
Rasa sakit dan nyeri luar biasa yang tadi dia rasakan, kini lenyap seketika. Lelaki itu perlahan bangkit dari atas tanah. Luna membantunya sedikit, menopang lengah kokoh lelaki tersebut.
Benar saja, kini Valko dapat berdiri tegak tanpa rasa sakit pada kakinya. Dia bahkan bisa melompat tinggi sambil terus berteriak. Luna pun menggeleng melihat tingkah sang kekasih.
"Ah, Micko, ngomong-ngomong kenapa kamu bisa tahu kalau air mataku bisa dipakai untuk menyembuhkan seseorang?"
"Ah, itu ... sebenarnya kami berdua mengetahuinya ketika ayah serta ibu diperintahkan untuk menculikmu, Kak," sahut Micky.
"Wah, kamu harus beruntung karena memilikiku, Val! Aku ini perempuan langka!" seru Luna sombong seraya mengangkat dagu serta melipat lengan di depan dada.
"Jadi, apa aku perlu memasukkanmu ke dalam akuarium kaca dan membawamu ke museum?"
"Ya, nggak begitu juga konsepnya, Ferguso!" seru Luna sebal.
Mereka semua pun tertawa. Micky serta Micko meminta Luna dan Valko untuk menginap malam itu. Hari itu kembali berakhir dengan kedamaian.
Di malam yang sama, mimpi lain yang membuat Luna risau pun kembali datang. Kali ini dia dibuat bimbang sekaligus sedih. Ketika semua bahan yang akan digunakan untuk ritual hampir terkumpul, sebuah fakta menyedihkan harus siap dia terima setelahnya.
***
"Kami pulang dulu, ya? Jangan nakal ketika bersama Kak Zura! Berjanjilah untuk terap menjadi anak yang baik!" pesan Luna ketika berpamitan kepada Micko dan Micky.
Dua bocah kembar itu pun mengangguk mantap. Luna dan Valko akhirnya kembali meneruskan perjalanan ke Hutan La Eterno. Sepanjang perjalanan, Luna termenung.
Gadis itu ingin menceritakan semua yang dia mimpikan semalam, tetapi ragu. Akhirnya dia memilih diam seraya menatap pepohonan yang berbaris rapi di tepi jalanan kota Flor.
"Kamu kenapa?" tanya Valko ketika mencium gelagat aneh sang kekasih.
Luna hanya menjawab pertanyaan Valko dengan menggelengkan kepala. Sikap Luna semakin membuat Valko kebingungan. Lelaki itu pun menginjak pedal remnya, kemudian memutar tubuh hingga berhadap-hadapan dengan Luna.
"Kamu kenapa, ha?" Valko mengusap lembut pipi mulus sang kekasih.
Luna terlihat berpikir, mencari kata-kata untuk menjawab pertanyaan Valko. Namun, dia tidak menemukannya. Akhirnya, Luna memutuskan untuk menyimpan kenyataan pahit yang akan menghampirinya.
Gadis itu menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Luna menarik sudut bibirnya ke atas, hingga terciptalah sebuah senyum penuh keterpaksaan.
"Val, aku ...."