
13 tahun kemudian
Dua orang anak laki-laki tampan yang kini menginjak usia remaja (13 tahun), sedang menuggu saudara perempuan satu-satunya di dalam mobil sang Ayah.
"Dek, cepetan, nanti kita terlambat lagi loh upacaranya," panggil Rahul yang sudah menunggu di dalam mobil Ayahnya bersama Rahil.
"Aduh sabar dong kak, ini juga udah cepat-cepat kok," sahut Rabiah yang sedang mengikat tali sepatunya.
"Sabar kak, adikmu itu perempuan, wajar kalau dia agak rempong sedikit," ujar Yusuf kepada anak sulungnya.
Rahul, Rabiah dan Rahil, kini tumbuh menjadi anak remaja yang rupawan. Sebagai kembar identik, wajah mereka bertiga hampir sama, terutama Rahul dan Rahil yang memiliki alis tebal seperti sang Ayah, perbedaannya hanya pada tahi lalat yang ada di dekat mata Rahil, sedangkan Rahul tidak memiliki tahi lalat di wajahnya. Sementara Rabiah, alisnya lebih tipis namun indah dengan bulu matanya yang lentik dan bibir tipis seperti sang Ibu.
Ketiganya mewarisi karakter sang ayah yang dingin, namun Rahul sedikit tidak kaku jika dibandingkan Rahil saat berhadapan dengan anak perempuan selain Rabiah. Begitupun dengan Rabiah, ia dingin pada anak laki-laki kecuali kepada Rahul, Rahil dan Ameer. Mungkin karena mereka sering bersama sejak kecil sehingga Rabiah terbiasa dengannya.
"Ummi, Biah berangkat sekolah dulu yah, assalamu 'alaikum" ucap Rabiah seraya mencium punggung tangan Yasmin.
"Iya sayang, wa'alaikum salam belajar yang baik yah," jawab Yasmin.
Yusuf dan ketiga anak kembar itu kini berangkat bersama, sementara Yasmin hanya dirumah saja bersama anak bungsunya bernama Rayhan yang kini berusia 3 tahun. Namun sesekali, Yasmin akan pergi mengecek apoteknya yang sudah berdiri sejak 10 tahun yang lalu dan memiliki beberapa cabang di kotanya.
-
Sementara itu, Ameer kini sudah berusia 16 tahun, ia kini duduk dibangku SMA kelas 2. Wajahnya semakin tampan dengan rambut ikal khasnya. Ameer memiliki karakter yang ramah dan humble. Sangat banyak anak perempuan yang mengidolakannya, karena selain tampan dan pintar, Ameer juga sangat pandai bermain basket dan bela diri seperti Ibunya. Namun, dari banyaknya perempuan, hanya ada satu perempuan yang ada dihatinya sejak dulu sampai sekarang selain Ibunya, yaitu Rabiah.
Entah sejak kapan Ameer menaruh hati padanya, namun perasaan itu kini bertahan hingga saat ini.
-
Sepulang sekolah, entah kenapa Rabiah tiba-tiba terlihat lesu dan hanya berbaring terus di kamarnya hingga sore hari.
"Rahul, Rahil, kalian ada lihat Biah?" tanya Yasmin yang saat ini sedang menemani ketiga putranya menonton di sore hari.
"Nggak tahu juga Ummi," jawab Rahul.
"Sepertinya sejak selesai makan siang tadi, Biah nggak keluar kamar lagi deh Ummi," jawab Rahil.
Yasmin yang bingung akhirnya pergi ke kamar Biah yang berada di lantai 2 rumah mereka, tepat di samping kamar Rahul dan Rahil.
Tok tok tok
"Biah," panggil Yasmin setelah mengetuk pintu, namun tak ada jawaban dari dalam kamar Rabiah.
Ceklek
Yasmin memutuskan masuk ke dalam kamar Rabiah karena merasa khawatir. Dan benar saja, saat ini ia mendapati Rabiah sedang terbaring lemas di atas tempat tidurnya dengan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Biah, kamu kenapa sayang?" tanya Yasmin lalu duduk di samping Rabiah dan meraba keningnya.
"Astaghfirullah kamu demam sayang, sejak kapan kamu seperti ini?" tanya Yasmin khawatir.
"Sejak pulang sekolah Ummi," jawab Rabiah lemah.
"Habisnya Biah pikir ini cuma demam biasa, jadi kalau Biah tidur sebentar demamnya bisa turun sendiri,"
"Ya tetap saja kalau seperti ini, kamu harus bilang sama Ummi."
"Biah kenapa Ummi?" tanya Rahul yang ikut menyusul Yasmin ke kamar Rabiah bersama Rahil dan Rayhan.
"Biah sakit sayang, dia demam," jawab Yasmin.
"Ya ampun, kok bisa sih?" tanya Rahil khawatir lalu duduk disamping Rabiah.
"Iya, kok bisa tiba-tiba demam sih Biah," timpal Rahul ikut bertanya.
"Kakak Biah sakit kak, jangan dimarahi," sela Rayhan yang mengira Rahul dan Rahil memarahi Rabiah.
"Kami nggak marahin Biah dek, kami cuma khawatir," kilah Rahul.
Rahul dan Rahil memang sangat menyayangi Rabiah, mereka selalu menjaga Rabiah terutama dari anak laki-laki yang ingin mendekatinya. Katakanlah, mereka adalah saudara laki-laki yang sangat protektif dan posesif bagi Rabiah, namun Rabiah tak pernah mempermasalahkan itu, justru ia bersyukur karena ada yang menjaganya.
"Rahul, Rahil, boleh tolong beli obat demam di apotek terdekat sayang? stok obat demam di rumah kita sudah habis soalnya," tanya Yasmin.
"Nggak perlu tanya lagi Ummi, kami tentu bersedia, iyakan Rahil?"
"Iya Ummi, biar kami pergi sekarang kalau begitu," timpal Rahil.
--
Di tempat lain, Ameer sedang nongkrong bersama teman-temannya dengan menggunakan motor gedenya, ia berencana akan pergi bersama teman-temannya ke sebuah Cafe untuk menepati janjinya yang sudah lama tertunda. Namun, tiba-tiba ia melihat Rahul dan Rahil sedang berboncengan naik motor.
"Hey double R, kalian mau kemana sore-sore gini?" teriak Ameer karena prosisi Rahul dan Rahil yang agak jauh darinya.
"Kami mau ke apotek bang, mau beli obat," jawab Rahul sedikit ikut berteriak.
"Siapa yang sakit?" tanya Ameer lagi.
"Rabiah bang, pulang sekolah tadi dia tiba-tiba demam," jawab Rahul.
"Apa?" lirih Ameer dengan raut wajah khawatir.
"Bro, sorry sepertinya janjiku untuk mentraktir kalian makan malam harus diundur lagi deh," ujar Ameer kepada teman-temannya.
"Loh, memangnya ada apa Ameer?" tanya Ali bingung.
"Rabiah sakit, aku harus melihatnya sekarang," jawab Ameer.
"Bukannya dia hanya anak sahabat orang tua kamu yah, kenapa kamu seperti khawatir begitu sampai rela membatalkan janji yang sudah jauh-jauh hari kita rencanakan?" cerca Ilham yang tidak habis pikir dengan Ameer.
"Dia bukan hanya anak dari sahabat orang tuaku, dia juga calon istriku kelak insya Allah," ucap Ameer tesenyum.
-Bersambung-