Kisah Cinta Dua Mutiara

Kisah Cinta Dua Mutiara
86. Hari Kelulusan dan Kelahiran


Menghadapi orang yang membenci, seringkali memberi kekuatan tersendiri bagi kita. Dan kekuatan yang paling tinggi adalah memaafkan.


(Yasmin Al-Thofunnisa)


--


Hari kian berganti, senantiasa berguling ke depan tanpa bisa kembali ke belakang.


Delapan bulan, bukanlah waktu yang singkat, seringkali ada masalah yang muncul, namun jika dihadapi bersama dengan bijak, masalah itu akan menjadi pelajaran hidup yang tidak ada tandingannya.


Hari ini, adalah hari kelulusan Yasmin dengan gelar barunya sebagai Ahli Madya Farmasi. Sampai pada tahap ini tentu tidaklah mudah bagi Yasmin yang dalam setahun ini menghadapi masalah silih berganti.


Namun, tak ada masalah yang berat saat dihadapi dengan hati yang tenang, apalagi dengan kehadiran seseorang yang senantiasa mendukung dan menjaga. Hanya rasa syukur yang bisa Yasmin lantunkan atas apa yang ia miliki saat ini.


"Selamat yah sayang, akhirnya lulus juga, kamu memang wanita paling hebat dan kuat yang pernah ku kenal setelah Ummi." Yusuf memberikan sebuket bunga mawar yang sangat indah untuk Yasmin, lalu mencium keningnya.


Hati siapa yang tidak menghangat saat mendapat perlakuan manis dari sang suami tercinta. Itulah yang dirasakan oleh Yasmin.


Semua keluarga hari ini datang di acara kelulusan Yasmin. Menyaksikan bagaimana seorang Yasmin mampu meraih predikat lulusan terbaik setelah badai yang menghantamnya beberapa kali.


"Dia sahabatku, perempuan lembut tapi tegas, manja tapi juga dewasa," puji Anna kepada Yasmin saat melihat Yasmin berbicara memberikan sepatah kata sebagai lulusan terbaik.


"Ets, jangan lupakan, kalau dia istriku, lembut tapi kuat, meskipun tubuhnya mungil tapi hatinya sungguh lapang untuk memaafkan." Yusuf tak ingin kalah.


"Dia itu kakak kami," sela Yana dan Yani


"galak tapi.." Yana


"penyayang," Yani


"cerewet tapi.." Yana


"peduli," Yani


Yusuf, Wildan dan Anna diam saling menatap satu sama lain, tak disangka rupanya duo bocil ini tak ingin kalah.


Seketika semua tertawa bersama merasa lucu dengan apa yang mereka lakukan tadi.


"Eeekheeem." Ummi Ulfa berdehem keras karena merasa para anak muda yang sudah tidak muda lagi itu sangat berisik, sontak membuat tawa mereka hilang seketika. Suasana kembali hening, hanya ada suara Yasmin yang masih berbicara.


-


"Ayo kita selfie bersama guys," ajak Anna semangat sambil memegang hapenya, namun tiba-tiba aksinya terhenti.


"Sudah belum sayang, gigi abang udah kering nih," ujar Wildan membuat Yusuf, Yasmin dan si kembar ikut mengangguk.


"Bang, perutku kok sakit bangat yah?" tanya Anna sembari memegangi oerutnya yang sudah berusia 9 bulan.


"Apa? sakit?" tanya Wildan dan melirik Yusuf untuk memberikan jawaban.


Yusuf yang mengerti arti lirikan mata Wildan langsung menghampiri Anna.


"Sakit perutnya seperti apa Ann?" tanya Yusuf.


"Ini kak, seperti mules gitu, tapi sakit," jawab Anna sambil sesekali meringis.


"Sepertinya Anna mau melahirkan Wil!" seru Yusuf.


"Apa? melahirkan? astaga ayo kita ke rumah sakit sekarang!" Wildan langsung menggendong Anna menuju ke mobilnya.


-


Di rumah sakit A


Semua keluarga sudah berkumpul didepan ruang persalinan Anna, termasuk Ibu Sukma dan keluarga Anna. Sementara Wildan saat ini kut menemani Anna melahirkan.


"Bismillah sayang, insya Allah kamu pasti bisa, kamu istriku, wanita tangguh," bisik Wildan pada telinga Anna.


"Abang, sakit sekali.. hiks." Anna memegang tangan Wildan erat sambil menangis menahan rasa sakitnya.


Wildan yang melihat air mata keluar dari mata istri langsung menghapusnya dengan bibirnya, kemudian lanjut mencium wajahnya dengan penuh cinta.


"Jika kamu ingin melampiaskan rasa sakitmu, kamu bisa menggigit tanganku, atau menarik rambutku sayang, aku ikhlas. Kata Ibu, wanita yang melahirkan akan merasakan sakit yang luar biasa, bahkan tidak ada sakit didunia ini yang lebih sakit dari melahirkan, sebab itu, Allah menghadiahinya dengan pahala yang luar biasa, seperti pahala berjihad di jalan Allah, dan Allah juga mengangkat derajat seorang Ibu serta menjadikan surga seorang anak berada di telapak kakinya." Wildan kembali berbisik di telinga Anna, memberikan semangat padanya.


Mendengar perkataan Wildan, hati Anna menghangat, dan seutas senyum tipis menghiasi wajahnya, meski saat ini ia benar-benar kesakitan.


"Bu, pembukaannya sudah lengkap, tolong ikuti instruksi saya yah bu. Ingat saat mengedan jangan menutup mata, jangan juga berteriak yah bu karena tenaga Ibu akan cepat terkuras jika Ibu berteriak, dan tolong saat mengedan Ibu jangan mengangkat panggul Ibu," saran bidan sebelum memberi instruksi kepada Anna.


"Baik bu bidan," jawab Anna lemah.


"Baik, bu sekarang ibu coba mengedan," bidan mulai memberi instruksi.


Anna mengikuti instruksi bidan dengan patuh.


"Iya lagi bu,"


"Sedikit lagi bu, kepalanya udah kelihatan,"


Anna sudah merasa sangat lelah, namun ia tahu, ada bayi kecil yang juga sedang berjuang untuk keluar,


"Aku harus berjuang, hmmmm," Anna mulai mengedan kembali dengan sisa kekuatan yang ada.


"Semangat sayang, aaaaaaa" teriak Wildan saat Anna benar-benar menggigit tangannya.


"Oh ya Tuhan, sakit sekali..."


"Aaaaaa, oh ya ampun...."


"Sakiiiiit...."


para asisten bidan nampak menahan tawa sebab teriakan itu bukanlah teriakan dari Anna yang sedang berjuang melahirkan, melainkan teriakan Wildan yang kesakitan karena tangannya digigit oleh sang istri.


-


Sementara diluar ruangan, Yusuf mengerutkan keningnya saat mendengar suara teriakan Wildan.


"Sayang, ini persalinan Anna kan? bukan Wildan?" Yasmin ikut bingung mendengar pertanyaan Yusuf.


"Iya kak, kok bertanya seperti itu?"


"Iya, soalnya yang berteriak sejak tadi dalam ruangan itu Wildan, bukan Anna," mendengar jawaban Yusuf, Yasmin dan keluarga yang lain mulai memfokuskan pendengaran mereka. Dan benar saja, suara teriakan yang terdengar adalah suara Wildan. Sontak semua orang ikut tertawa geli.


-Bersambung-


Yuk dukung karya author dengan like, koment dan vote novel ini agar author lebih semangat lagi update cerita selanjutnya.