
Yusuf dan Wildan masuk ke dalam mengikuti Anna, Anna yang dulu terbiasa masuk dalam club tersebut seakan sudah hafal letak ruangan disana.
Sementara Yusuf dan Wildan yang baru pertama kali masuk hanya bisa menunduk sambil berjalan melewati beberapa orang ketika dihadapkan dengan pemandangan yang tidak biasa mereka lihat.
"Astaghfirullah.. sungguh keadaan yang menggalaukan, seperti kata pepatah lucu 'dilihat dosa, tidak dilihat barang bagus', astaghfirullah astaghfirullah, mata jaga mata, jangan jelalatan kalian please" gumam Wildan sembari mengikuti kemana Yusuf dan Anna berjalan.
Anna menyusuri lorong yang mengarah pada VIP room, namun langkahnya terhenti saat ia melihat sepupu Robi yang ia kenali melalui foto kiriman Robi tadi.
"Permisi, kamu sepupu Robi kan?" tanya Anna menghalangi jalan Dave.
"Kamu siapa? ada urusan apa kamu sama aku?" tanya Dave ketus.
"Kamu tau cewek ini kan? sekarang dia dimana?" Anna memperlihatkan foto Yasmin di hapenya.
" Dia kan..." Dave tidak melanjutkan kata-katanya. "Kenapa kamu cari dia? biarkan dia melakukan tugasnya dulu" lanjutnya kemudian.
Mandengar perkataan Dave, Anna langsung tersulut emosi, dengan cepat ia menarik tangan Dave dan memelintirnya ke belakang tubuh Dave lalu menguncinya.
"Dimana dia sekarang?!" Anna meninggikan suaranya.
Melihat tindakan Anna, tentu membuat Yusuf dan Wildan terkejut. Mereka tidak menyangka Anna akan seberani itu. Mereka tidak tahu saja bagaimana kemampuan bela diri Anna.
Yusuf lantas mendekat ke arah Dave yang tengah kesakitan.
"Dimana dia sekarang?" tanya Yusuf kembali.
"Lepaskan aku dulu baru aku akan jawab" kata Dave
Anna perlahan melepas tangan Dave.
"Tadi, cewek itu datang bersma temannya, katanya dia siap melakukan tugasnya melayani aku malam ini, tapi karena tadi aku punya urusan mendadak sementara bayaran sudah ku terima, jadi tuh cewek aku alihkan ke temanku yang bernama Jhon".
"Dimana dia sekarang? apa kamu lihat dia kesini dalam keadaan sadar?" tanya Yusuf.
"Waktu temannya bawa dia kesini, dia dalam keadaan setengah sadar, kayaknya dia sedang mabuk, dan baru saja tadi Jhon membawa dia pergi ke hotel C" papar Dave terus terang.
Tanpa basa basi mereka bertiga langsung pergi menuju hotel C yang jaraknya tidak jauh dari club tersebut.
"Wil, tolong telfon Rahul buat kasi kita akses dihotelnya, supaya kita bisa cepat menemukan Yasmin" kata Yusuf kepada Wildan. Wildan yang mulai mengerti dengan keadaan akhirnya langsung menelfon teman mereka yang merupakan direktur hotel tersebut.
"Yus, gimana sih ceritanya sampai Yasmin bisa masuk ke dalam sana?" tanya Wildan penasaran.
"Aku juga tidak tahu persis bagaimana awal mulanya" jawab Yusuf mengusap wajahmya kasar menggunakan tangan kanan, sementara tangan kiri memegang stir mobil.
*Flashback*
Di Rumah Sakit
Yasmin baru selesai dengan tugasnya hari ini. Diliriknya arlojinya sudah menunjukkan pukul 05.05 sore.
"Hufth.. akhirnya pulang juga" gumam Yasmin riang.
Dret dret (suara panggilan masuk)
"Siapa yah ini?" lirih Yasmin melihat nomor asing sedang menelfonnya.
"Halo Assalamu 'alaikum"
"Halo Yasmin, aku Riska"
"Riska? ada kamu menelfonku"
"Aku butuh bantuanmu sekarang Yasmin, saat ini aku lagi sakit, tapi tidak ada yang membantu merawatku" kata Riska dengan suara seolah-olah sedang menangis.
"Kamu sakit apa?" tanya Yasmin
"Sepertinya aku terkena gejala DBD, tubuhku demam sejak kemarin, aku juga mual dan muntah, tolong bantu aku" rengek Riska
Yasmin hanya diam. Ia bingung harus bereaksi bagaimana mengingat Riska pernah hampir mencelakainya. Disatu sisi, ia masih takut namun disisi lain ia merasa empati kepada Riska yang merupakan tetangganya di Makassar.
"Aku tahu, kamu mungkin berpikir aku ingin jahatin kamu kan? tenang saja Yas, aku udah berubah, buktinya aku udah nggak pernah gangguin kamu atau mengancammu lagi kan?"
Yasmin membenarkan apa yang dikatakan Riska, ia memang sudah sangat lama tidak mengganggu atau sekedar mengancam.
"Baiklah, dimana rumahmu" tanya Yasmin yang mulai percaya pada Riska.
Tak butuh waktu lama, kini Yasmin tiba dirumah yang cukup besar untuk ukuran rumah kontrakan. Yasmim tidak heran sebab ia tahu bahwa keluarga Riska merupakan salah satu pengusaha sukses di Makassar.
Tok tok!
"Assalamu 'alaikum" ucap Yasmin
Riska yang baru selesai memberi sesuatu pada kulitnya langsung bergegas membuka pintu.
"Wa'alaikum salam" jawab Riska sembari membuka pintu. Saat ini, Riska mengubah sedikit penampilannya, ia tidak memakai lipstik sehingga bibirnya terlihat pucat dan terdapat ruam merah dikulitnya.
"Riska? bagaimana keadaanmu?" tanya Yasmin yang masih berada diluar rumah.
"Yaa seperti yang kamu lihat Yas, silahkan masuk" Riska mempersilahkan Yasmin masuk ke dalam rumah.
Setelah masuk ia duduk disofa yang cukup besar. Ia mengamati keadaan Riska.
"Apa kamu masih demam?" tanya Yasmin
"Udah turun demamnya, tadi udah minum obat" jawab Riska sambil mengambil secangkir teh yang sudah ia siapkan sejak tadi.
"Maaf sudah merepotkanmu Yas.. aku hanya nggak tahu mau menghubungi siapa lagi selain kamu" kata Riska sembari meletakkan secangkir teh hangat dihadapan Yasmin "Minum dulu Yasmin kamu pasti hauskan" lanjutnya kemudian.
Yasmin yang memang sejak tadi sudah sangat haus langsung meminumnya hingga tandas, ia tak curiga sama sekali kepada Riska.
Hingga perlahan ia mulai merasakan hal yang aneh pada tubuhnya. Pandangannya mulai kabur dan kepalanya pusing.
"Ris, aku boleh rebahan sebentar disini nggak? kayaknya aku kelelahan" kata Yasmin sambil mengusap keningnya
"Oh iya, istirahat aja, nanti aku bangunin kamu alau aku butuh bantuanmu" kata riska lalu tersenyim licik.
Yasmin akhirnya terlelap sejenak di atas sofa yang empuk.
"Halo, Dave kamu dimana sekarang?" tanya Riska kepada seseorang diseberang telfonnya.
"Aku di club, kamu kesini aja bawa temanmu itu" kata Dave.
"Oke, aku udah mau kesana nih" kata Riska lalu mengakhiri telfonnya.
Riska lalu menghubungi Mira untuk datang menjemputnya. Tak berselang lama, Mira datang dengan menggunakan mobil kakaknya. Mereka akhirnya berangkat membawa Yasmin yang masih dalam keadaan setengah sadar namun tak bisa apa-apa.
Beberala menit kemudian, mereka sampai di sebuah club malam.
"Riska, mana teman kamu itu?" tanya Dave yang sejak tadi menunggu di depan club.
"Ini dia" kata Riska lalu mengeluarkan Yasmin dari dalam taksi dan membopongnya keluar bersama Mira.
"Sini biar aku yang langsung bawa dia ke dalam, ruanganku sudah siap" kata Dave lalu menggendong Yasmin ala bridal style.
"Oke, dia itu lagi mabuk, jadi terserah kamu mau apain aja dia tapi kamu harus merekamnya, aku pergi dulu yah, uang udah ku transfer ke rekening kamu tadi" kata Riska lalu pergi bersama Mira.
Dave mengangguk lalu membawa Yasmin masuk ke dalam VIP room yang ia pesan.
"Ternyata kalau dilihat langsung dia jauh lebih cantik" gumam Dave.
Dret dret
"Halo Mam?" ucap Dave menjawab telfon ibunya.
"Apa? oke, Dave akan langsung kesana" kata Dave setelah berbicara sesuatu dengan ibunya melalui telfon.
"Sial, padahal makanan lezat sudah ada di hadapanku, hufth" kata Dave lalu menghubungi Jhon.
"Halo, Jhon, kamu kesini sekarang, aku punya sesuatu buat kamu, cepetan!" kata Dave lalu mematikan hapenya.
Tak berapa lama, akhirnya seorang pria bertubuh besar berotot datang, Dave langsung memberikan Yasmin padanya, karena Jhon lebih suka di hotel maka ia langsung membawa Yasmin yang sudah tidak sadarkan diri ke sebuah hotel yang tidak jauh dari club tersebut.
*Flashback off*
-Bersambung-
Yuk dukung karya author dengan like, koment dan vote novel ini agar author lebih semangat lagi update cerita selanjutnya.