
Tidak terasa, waktu terus berjalan. Hingga waktu PKL Andi, Nisa dan Febri berakhir, dan kini tinggal Yasmin yang PKL sendiri menggantikan waktu liburnya tempo hari.
"Yas, hari ini aku ke kampus pagi-pagi sekali, kamu mau aku antar atau naik taksi online? tanya Anna saat sedang memakai jilbab segitiganya.
Semenjak mengikuti pengajian, Anna merasa seperti ada dorongan dalam hatinya untuk menutup auratnya secara sempurna. Pada dasarnya Anna memang tidak suka memakai pakaian yang terbuka, ia sangat risih ketika ada yang memperhatikannya dengan pakaian tersebut. Apalagi kesan tomboy yang sempat disandangnya membuatnya selalu memakai pakaian longgar tertutup meski celana yang digunakan kadang ketat di kakinya.
Kini, Anna telah membuktikan bahwa Allah selalu punya cara untuk mengirimkan hidayah pada hamba yang Dia kehendaki. Ia mulai memakai jilbab, meskipun jilbab itu masih sebatas menutup kepala dan belum menutup dadanya dengan sempurna. Yasmin sangat menghargai perubahan sahabatnya itu, ia tidak ingin memaksakan sahabatnya agar langsung memakai jilbab syar'i yang menutupi dada. Apalagi baju yang selalu Anna gunakan adalah baju longgar yang tidak memperlihatkan lekuk tubuhnya, serta celana longgar yang tidak memperlihatkan bentuk kakinya.
"Aku ngikut kamu aja, lagipula, aku takut terlambat jika harus naik taksi online karena terjebak macet" kata Yasmin lalu ia bergegas untuk mandi dan berganti pakaian.
Dan disinilah Yasmin sekarang. Berada di depan rumah sakit besar yang cukup terkenal disaat waktu masih menunjukkan pukul 05.55 pagi. Matanya melirik kesana kemari namun keadaan RS saat itu memang masih sepi.
Dengan langkah santai, Yasmin berjalan masuk ke dalam menyusuri lorong rumah sakit yang agak luas. Tujuannya saat ini adalah mampir di taman terlebih dahulu untuk menikmati suasana sejuk dipagi hari sebelum ia kembali melakukan aktivitasnya seperti biasa.
"Mir, itu kan Yasmin anak PKL itu? aku pikir jadwal PKLnya sudah berakhir kemarin"
Suster Mira menoleh "benar itu dia" kata Suster Mira lalu segera menyiapkan peralatan medis yang berisi spoit, obat injeksi, perban, alkohol, dan peralatan medis lain yang ia butuhkan untuk merawat korban kecelakaan dengan luka terbuka yang telah dijahit. Ia lalu berjalan sembari mendorong troli rumah sakitnya "aku ke kamar rawat A dulu yah mau memeriksa keadaan pasien" lanjutnya.
Suster Mira kebetulan sedang mendapat sift malam, sehingga pagi-pagi sekali dia masih bertugas memeriksa dan merawat pasien.
Yasmin tentu saja melihat suster Mira berjalan ke arahnya sambil mendorong troli rumah sakit. Ia berpikir bahwa suster Mira akan mengunjungi pasien pagi ini. Namun, semakin dekat Yasmin merasa kalau suster Mira juga semakin berjalan mendekat ke arahnya, padahal lorong rumah sakit tersebut cukup luas untuk berjalan berjauhan.
Hingga Yasmin melihat troli tersebut seperti sengaja diarahkan padanya, ia mencoba menghindar, namun gerakannya menjadi terbatas ketika tubuhnya membentur dinding di sampingnya, hingga akhirnya troli tersebut berhasil menyenggol sisi kanan tubuh Yasmin dan membuatnya terjatuh.
"Auw.." pekik Yasmin kesakitan sembari mengusap tangan dan perut bagian kanannya yang kesakitan.
"Oops, maaf!" ucap suster Mira dengan senyuman liciknya lalu pergi meninggalkan Yasmin yang masih terduduk di lantai.
Dengan langkah lemas, Yasmin tetap melanjutkan langkahnya menuju taman untuk sejenak menenangkan dirinya.
Ia duduk di bangku taman. Sejenak ia memandang ke arah langit. "Huufth" Yasmin menghela nafas berat, matanya berkaca-kaca ketika mengingat perlakuan suster Mira yang ia sendiri sangat tahu kalau itu adalah sebuah kesengajaan.
"Aku harus kuat" kata Yasmin sembari mengusap air matanya yang lolos jatuh ke pipinya.
Yasmin memang wanita mandiri dan tegas yang tak suka ditindas, namun jangan lupakan jika ia juga hanyalah wanita yang memiliki sisi lembut. Perasaannya mudah tersentuh, dan mudah baginya untuk menangis.
"Mungkin ini hanyalah sedikit ujian di masa ta'arrufku. Jika ujian ini bisa ku hadapi, maka kedepannya aku bisa menghadapi ujian yang lain. Aku yakin dengan janji-Nya, Dia tidak akan memberikan ujian diluar batas kemampuan hamba-Nya" gumamnya menyemangati dirinya sendiri.
--
"Masya Allah, mengisi perut saat sedang kosong-kosongnya adalah hal paling nikmat yang ku rasakan siang ini. Untung saja maag ini nggak kambuh" gumam Anna mengusap-usap perutnya.
"Hai Anna"
"Ryan? kamu kok bisa ada disini? tanya Anna terkejut melihat Ryan sudah duduk di hadapannya.
"Loh emangmya salah kalau aku mau makan siang bareng sahabatku?" kata Ryan santai lalu mengambil sesendok makanan milik Anna dan memasukkannya kedalam mulutnya sendiri.
"Astaga nih anak, sana ambil makanan sendiri, ini makananku, aku laper banget nih" kata Anna menarik piringanya.
"Iya iya.. bawel amat sih" kata Ryan beranjak pergi mengambil makanannya.
Entah ini sudah yang keberapa kalinya, tapi akhir-akhir ini Ryan selalu saja muncul di hadapan Anna secara tiba-tiba, seolah-olah ia tahu dimana Anna berada saat itu. Kadang Anna menduga-duga apakah Ryan sedang menguntitnya kemanapun ia berada. Namun, Anna langsung membuang jauh-jauh pikiran negatif tersebut. Ia selalu berusaha berpikiran positif, tidak mungkin Ryan mau macam-macam padanya, Ryan adalah sahabatnya dari kecil sampai sekarang.
"Ann.. kapan-kapan temani aku makan malam lagi yuk, orang-orang dirumah pada sibuk semua jadi jarang bangat mereka makan di rumah, sepi bangat tau nggak makan sendirian terus" kata Ryan.
"Iya iya insya Allah.. cengeng banget sih jadi cowok" kata Anna membuat Ryan cengengesan.
Mereka melanjutkan makan siangnya, namun tanpa sepengetahuan Anna, Ryan nampak tersenyum sambil sesekali melihat ke arah Anna.
--
Dret dret
"Halo?"
"Halo kak, ini aku Riska, aku sudah keluar dari rumah sakit sekarang. Dan aku ingin bertemu denganmu untuk membahas masalah Yasmin yang tempo hari kita bicarakan.
Mira tersenyum setelah mendengar perkataan Riska, "Baiklah, temui aku di cafe Z sore nanti". Lanjutnya lalu mengakhiri panggilannya.
"Jika aku tidak dapat bersama Yusuf, maka jangan harap wanita lain bisa bersama dengan Yusuf juga" batin Mira yang saat ini sedang berada di rumahnya.
-Bersambung-
Yuk dukung karya author dengan like, koment dan vote novel ini agar author lebih semangat lagi update cerita selanjutnya.