
Di Rumah Sakit A
Jam telah menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Yasmin nampak tertidur pulas setelah lelah menangis semalaman. Mungkin luka fisik yang ia terima tak seberapa, namun luka batin yang ia terima akibat kejadian tadi sangat berpengaruh pada psikisnya.
Yasmin saat ini berada di kamar VIP, Yusuf sengaja menempatkannya di kamar tersebut agar ia dapat menjaganya lebih baik dan dapat memberikan ketenangan pada Yasmin sendiri.
Semenjak kejadian tadi, Anna, Yusuf dan Wildan selalu standby di dekat Yasmin. Anna duduk di samping tempat tidur Yasmin, ia selalu merasa bersalah kepada Yasmin karena tidak mampu menjaganya.
"Maafkan aku Yas, padahal dulu aku pernah mengatakan kepadamu bahwa aku akan menjadi bodyguardmu, tapi apa, aku malah kecolongan dalam menjagamu" monolog Anna sambil mengusap lembut tangan Yasmin.
Sementara didepan kamar Yasmin, Yusuf dan Wildan sedang memberikan keterangan kepada polisi terkait kejadian tadi. Mereka yakin bahwa Yasmin dijebak, sehingga mereka meminta kepada pihak polisi untuk mengusut tuntas masalah ini.
"Siapa kira-kira musuh Yasmin? tega sekali dia melakukan itu padanya" gumam Yusuf saat polisi telah pergi.
"Iya, aku tidak menyangka wanita sebaik Yasmin punya musuh" timpal Wildan.
"Siapapun dia, akan ku pastikan dia mendekam dipenjara dalam waktu yang lama" kata Yusuf sembari duduk setelah lelah mondar mandir.
"Yus, kamu nggak memberitahukan masalah ini pada Ummi dan orang tua Yasmin?" tanya Wildan.
"Aku berencana akan memberitahukan Ummi dan Abi besok pagi, tapi kalau untuk orang tua Yasmin, aku masih ragu untuk memnyampaikan masalah ini kepada mereka, Ayah Yasmin baru-baru saja sembuh dari penyakitnya, aku takut dia drop lagi jika mengetahuinya.
"Tidak!!! ku mohon jangan dekati aku, hiks hiks" Yasmin mengigau, membuat Yusuf dan Wildan langsung masuk ke dalam kamar Yasmin.
"Ada apa?" tanya Yusuf khawatir.
"Dia mengigau, sepertinya dia mimpi buruk tentang kejadian tadi" jawab Anna.
Yusuf perlahan mendekati tempat tidur Yasmin, nampak kening Yasmin berkerut dan keringat dingin membasahinya.
Yusuf mendekat ke arah telinga Yasmin yang tertutup jilbab, lalu membacakan sebuah doa:
Allohumma inni na'zubika min 'amalis syaithoni wa sayyi-atil ahlam.
Artinya: "Ya Allah kami berlindung kepada-Mu dari perbuatan setan dan buruknya mimpi."
Perlahan, kerutan di kening Yasmin berkurang dan Yasmin kembali rileks.
"Ann, kami akan berjaga di depan kamar ini, jika ada apa-apa langsung saja panggil kami" kata Yusuf dan diangguki Anna.
Pagi hari, Ummi Ulfa dan Abi Hasan datang ke RS dengan tergopoh-gopoh setelah Yusuf memberitahukan keadaan Yasmin dan apa yang menimpa Yasmin semalam.
"Dimana Yasmin?" tanya Ummi Ulfa kepada Yusuf dan Wildan saat tiba di depan kamar Yasmin.
"Di dalam Ummi" jawab Yusuf sambil membukakan pintu.
Sementara Yasmin sudah terjaga sejak tadi setelah melaksanakan sholat subuh. Ia duduk di atas tempat tidurnya sambil memandang ke depan dengan tatapan kosong. Anna sejak tadi mengajaknya bicara, namun hanya jawaban singkat yang ia terima.
"Assalamu 'alaikum.. Yasmin" ucap Ummi Ulfa yang baru masuk bersama Abi Hasan, Yusuf dan Wildan.
Yasmin menoleh ke arah suara lalu menyunggingkan senyum tipis yang bahkan tidak sampai ke matanya.
"Wa'alaikum salam, Ummi, Abi" jawab Yasmin lirih kemudian mencium tangan mereka bergantian.
"Keluarkan saja suaramu nak, keluarkan semua emosi yang kamu pendam, agar hatimu lebih legah dan tenang" bisik Ummi sambil mengusap kepala Yasmin yang tertutup jilbab.
Semakin lama tubuh Yasmin semakin bergetar hebat, diikuti dengan suara tangis Yamin yang pecah. Suara tangisan yang sungguh mengoyak hati bagi siapa yang mendengarnya, seolah dapat merasakan rasa sakit yang dialami Yasmin.
Benar, saat ini Yasmin merasakan rasa sakit dihatinya akibat pele****n yang hampir merenggut mutiaranya, juga kepercayaan yang ia berikan kepada Riska namun dengan teganya ia merusaknya dengan begitu kejam.
Jika saja Anna, Yusuf dan Wildan tidak datang atau bahkan datang terlambat sedikit saja malam itu, maka ia tak tahu apakah ia masih bisa menghadapi kehidupan yang kejam ini seperti semula.
Keadaan hening, hanya terdengar suara tangisan Yasmin, Ummi tak mampu menahan air matanya namun ia tak memperlihatkannya pada Yasmin karena ia tahu, saat ini Yasmin sedang membutuhkan sosok yang kuat disampingnya untuk menguatkannya.
Abi Hasan, Yusuf dan Wildan pun nampak sesekali mengusap matanya yang mulai berair.
Sementara Anna, ia memilih keluar kamar untuk sementara, ia tak sanggup mendengar tangis pilu sahabatnya itu. Ia memang kuat, tapi ia tak mampu menahan air matanya dihadapan Yasmin. Sosok yang sangat dibutuhkan Yasmin saat ini adalah sosok Ibu, Anna tahu itu sebab tak ada yang bisa memungkiri bahwa kekuatan seorang ibu untuk menguatkan anaknya yang rapuh sungguh luar biasa.
Wildan yang tadinya melihat Anna keluar pun juga ikut keluar. Ia membuka pintu perlahan, Anna nampak sedang duduk di kursi depan kamar Yasmin, kedua tangannya menutupi wajahnya. Nampak punggungnya bergetar, jelas sekali saat ini Anna juga sedang menangis namun tanpa mengeluarkan suara.
"Kenapa kamu keluar?" tanya Wildan setelah melihat Anna mulai tenang.
Anna menoleh ke arah Wildan "hanya tidak ingin menganggu suasana saja" bohong Anna.
"Kalau gitu biar ku temani disini sambil bercerita?" tawar Wildan ingin mengalihkan kesedihan Anna.
"Memangnya kamu mau cerita apa?" tanya Anna
"Semalam, aku melihatmu menghajar pria itu, kemampuan bela dirimu bagus juga, bahkan kekuatan pukulanmu sangat kuat" kata Wildan.
Anna mengerutkan keningnya "darimana kamu tahu kalau pukulanku sangat kuat?"
"Yaa dari wajah pria itu yang babak belur, aku juga sempat merasakannya sekali sih semalam" terang Wildan.
"Merasakan sekali? maksudnya?" tanya Anna tidak mengerti karena memang ia tidak menyadari pukulannya ke Wildan malam itu.
"Wah.. rupanya saking marahnya, sampai memukulpun kamu tidak sadar kepada siapa saja pukulanmu itu mendarat" kata Wildan terkekeh.
"Oh jadi, semalam itu kamu sempat terkena pukulanku yah? astaghfirullah.. maaf maaf banget, aku benar-benar nggak sengaja. Saat itu mataku sudah tertutupi oleh air mata jadi pandanganku agak kabur" kata Anna mengatupkan tangannya di depan dada memohon maaf.
"Iya santai aja, aku ngerti kok. Aku salut sama kamu, kamu cewek yang sangat berani, tidak kenal siapa yang ada dihadapanmu, jika itu mengganggu orang yang kamu sayangi pasti akan kamu lawan" puji Wildan jujur.
"Makasih" ucap Anna singkat.
"Singkat banget jawabannya" kata Wildan.
"Memangnya respon seperti apa gang kamu harapkan dariku setelah mendengar pujianmu?" Wildan tidak bergeming mendengar pertanyaan Anna, "aku memang kadang tidak tahu bagaimana merespon pujian orang, sebab aku takut rasa sombong dan merasa lebih baik dari orang lain muncul dalam hatiku" lanjutnya kemudian.
Mendengar perkataan Anna, Wildan terenyuh, benar yang dikatakan Anna, kadang pujian bisa menjadi penyemangat, namun, tidak jarang pujian justru menjadi penyebab seseorang merasa sombong dan lebih baik dari orang lain.
-Bersambung-
Yuk dukung karya author dengan like, koment dan vote novel ini agar author lebih semangat lagi update cerita selanjutnya.