
Yasmin dan Yusuf menjadi Ratu dan Raja hari ini. Dengan pakaian adat Sulawesi Selatan, Yasmin sangat terlihat sangat anggun, begitupun dengan Yusuf yang nampak sangat tampan dengan balutan pakaian khas tersebut.
"Selamat menempuh hidup baru abang," ujar Fatimah yang datang menghampiri Yusuf dan memeluknya seraya mengucapkan doa.
"Barakallahu laka wabaraka 'alaika wajama'a bainakumaa fii khoiir."
Semoga Allah memberikan berkah untukmu, semoga Allah memberi berkah padamu dan menghimpun kalian berdua (sebagai suami istri) dalam kebaikan.
"Terima kasih banyak doanya dek," ucap Yusuf.
Kini Fatimah beralih pada Yasmin yang berdiri di samping Yusuf. "Masya Allah kakak iparku cantik sekali, pantas saja manusia es disamping ini bisa mencair," celoteh Fatimah seraya memeluk Yasmin dengan sayang.
"Makasih banyak kak Fatimah." Wajah Yasmin merona mendengar pujian Fatimah.
"Loh, kok kakak sih? aku kan adik iparmu," protes Fatimah memanyunkan bibirnya.
"Hey.. ingat dek, umurmu lebih tua 2 tahun dari istriku, jadi wajar ia memanggilmu dengan sebutan kakak," sanggah Yusuf membuat Fatimah mendengus.
"Iya iya yang sudah punya istri," seloroh Fatimah membuat Yasmin dan Yusuf terkekeh geli.
Fatimah dan suami akhirnya kembali ke tempat duduknya untuk menikmati hidangan yang telah disediakan.
"Kak, apa kak Wildan datang?" tanya Yasmin sambil menoleh ke Yusuf saat mereka sudah kembali duduk.
"Iya, dia datang, emang kenapa? kok aku cemburu kamu cari cowok lain di depanku." Yasmin menjadi salah tingkah mendengar perkataan Yusuf.
"Eh, bukan gitu maksudku kak, aku hanya berharap Anna dan kak Wildan bisa segera bertemu, karena mereka harus menyelesaikan masalah mereka," tukas Yasmin sembari menunduk malu karena sejak tadi Yusuf menatapnya.
"Coba kamu lihat kesana, sepertinya sebentar lagi mereka akan bertemu," ujar Yusuf menunjuk Wildan yang sedang menuju ke tempat stand makanan, begitupun dengan Anna bersama si kembar Yana dan Yani.
-
"Ayok dek, kita ambil makanan dulu," Anna mengajak Yana dan Yani yang sejak tadi mengeluh perutnya lapar.
"Ayo kak, Yana sudah lapar sekali ini," kata Yana antusias lalu menarik Yani ikut bersamanya.
Merekapun mulai antri mengambil makanan. Namun, tiba-tiba Anna dikejutkan dengan suara yang tidak asing ditelingannya menyapanya.
"Hai Anna, apa kabar?" sapa Wildan dari belakang Anna yang juga sedang antri mengambil makanan.
Jantung Anna bergemuruh saat mendengar suara yang sudah lama ia tidak dengar itu. Anna kemudian menoleh ke belakang.
Degh
"Wildan?" ucap Anna terkejut.
Hati Wildan menghangat mendengar panggilan Anna yang terasa lembut di telinganya, suara yang terdengar masih sama dengan suara Anna memanggilnya terakhir kali saat sebelum Anna pingsan.
"Alhamdulillah ba..." ucapan Anna terpotong saat Yana memanggilnya.
"Kak Anna, ayo," seru Yana saat mereka telah selesai mengambil makanan.
"Kak Wildan?" ujar Yani membuat Wildan menoleh ke samping Anna.
"Eh Yana, apa kabar dek," sapa Wildan mengangkat tanga kanannya, sementara tangan kirinya memegang piring yang kini sudah terisi makanan.
"Bukan Yana kak, tapi Yani," sanggah Yani memanyunkan bibirnya.
"Eh iya astaghfirullah, salah lagi kakak yah." Wildan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "ya udah, Yani dan Yana apa kabar dek?" lanjut Wildan mengulangi pertanyaannya dengan langsung menyebut nama keduanya.
"Baik kak Wildan," jawab Yani dan Yana bersamaan.
"Kami mau kembali kesana untuk makan, kak Wildan mau ikut," ujar Yana sambil menunjuk tempat duduk mereka sebelumnya.
"Kalian duluan aja, kak Wildan boleh pinjam kak Annanya sebentar nggak?" tanya Wildan melirik Anna yang sejak tadi diam.
"Boleh kak, kalau gitu kami duluan yah," ujar Yani lalu pergi bersama Yana.
Wildan dan Anna terdiam beberapa saat.
"Sepertinya kita masih punya masalah yang belum terselesaikan, iya kan?" tutur Wildan melihat Anna yang sejak tadi menunduk.
"Iya, aku memang sejak lama mencarimu untuk menyelesaikannya," cicit Anna mengangkat wajahnya menatap Wildan.
"Kamu mencariku?" tanya Wildan menahan senyumnya.
"Tentu saja, sayangnya orang yang ku cari pergi ke tempat yang belum bisa ku jangkau saat ini," terang Anna.
Wildan tersenyum samar, "tapi sekarang kan kamu sudah bertemu dengannya, sekarang mari selesaikan masalah kita," kata Wildan.
"Tapi makanannya gimana?" tanya Anna bingung.
"Kita makan dulu, ikuti aku," kata Wildan lalu berjalan duluan, sementara Anna mengekor dibelakangnya.
Anna terus mengikuti Wildan higga ia melihat Wildan berhenti di sebuah meja yang terdapat seorang wanita paruh baya.
Wildan yang melihat Anna masih berdiri akhirnya bersuara.
"Duduklah Anna, nggak perlu takut, wanita cantik disampingku ini adalah Ibuku," terang Wildan sembari menggenggam tangan Ibu Sukma yang sejak tadi tersenyum melihat kedatangan Anna.
-Bersambung-
Yuk dukung karya author dengan like, koment dan vote novel ini agar author lebih semangat lagi update cerita selanjutnya.