
"Selamat Wil, istrimu memang saat ini sedang mengandung," ucap Ika, dokter kandungan yang juga merupakan sepupu Wildan.
"Apa? aku hamil?" Anna tentu sangat terkejut, pasalnya, ia tidak pernah merasakan gejala kehamilan apapun seperti gejala kehamilan yang selalu ia cari di internet.
"Iya, kamu hamil, dan titik hitam yang ada disini adalah janin kamu, ukurannya masih sangat kecil karena baru berusia 5 minggu." Dokter Ika memperlihatkan hasil USGnya pada Anna dan Wildan.
Anna menutup mulutnya tidak percaya, matanya mulai berkaca-kaca, tentu ia sangat bahagia. Anna kemudian mengalihkan pandangannya pada sang suami yang setia berada di sampingnya sejak tadi.
"Abang, aku hamil bang," lirih Anna dan Wildan mengangguk tersenyum bahagia lalu memeluk Anna.
"Pantas saja beberapa hari ini kamu selalu ingin makan bersama Yasmin." Anna tiba-tiba melepaskan pelukan Wildan saat mendengar nama Yasmin.
"Yasmin, bang, ayo kita lihat keadaan Yasmin. Aku sangat khawatir padanya," seru Anna bergegas turun dari brangkar tempat ia USG.
Wildan tak lupa mengucapkan terima kasih pada dokter Ika sebelum keluar bersama Anna.
"Iya sayang, aku memang berencana membawamu langsung pada Yasmin setelah pemeriksaan ini," kata Wildan yang saat ini sedang di tarik oleh Anna yang berjalan cepat di depannya.
"Pelan-pelan saja sayang, ingat sekarang ada Wildan junior di perut kamu, jadi kamu harus hati-hati untuk menjaganya," tutur Wildan yang seketika membuat Anna memperlambat jalannya.
Wildan tersenyum melihat tingkah istrinya. Ia lalu melangkah sejajar dengan Anna lalu merangkul pundaknya sambil berjalan.
"Jalannya seperti ini saja, insya Allah kamu aman bersamaku," terang Wildan membuat Anna ingin tersenyum, namun dipikirannya sedang memikirkan keadaan Yasmin.
Tanpa bicara, Anna lalu memeluk pinggang Wildan dan mempercepat jalannya. Wildan kembali tersenyum sambil menyamakan langkahnya yang panjang dengan langkah kaki Anna yamg terbilang mungil jika dibandingkan Wildan.
Kini Wildan dan Anna menuju ke kamar rawat VIP khusus keluarga Yusuf. Yusuf baru saja mengabarkan kepada Wildan bahwa saat ini Yasmin sudah dipindahkan ke kamar rawat.
Tok tok tok
Ceklek
"Assalamu 'alaikum," ucap Wildan dan Anna bersamaan.
"Wa'alaikum salam," jawab Yusuf beranjak dari tempat duduknya agar Anna bisa leluasa berada di samping sahabatnya.
"Gimana keadaannm Yasmin kak?" tanya Anna sembari mendekati temoat tidur Yasmin.
"Kata dokter Yasmin insya Allah nggak papa, hanya sedikit luka di kepala, tangan dan kakinya," jawab Yusuf. "Oh iya, apa kalian sudah kembali dari dokter kandungan?" lanjutnya bertanya.
"Sudah Yus, alhamdulillah, terima kasih sudah memberitahuku, dan kami turut berduka atas kepergian calon anakmu," jawab Wildan seraya menepuk-nepuk pundak Yusuf pelan.
"Syukurlah jika perkiraanku benar, selamat untuk kalian," ujar Yusuf tersenyum namun tetap saja matanya tak bisa bohong, ada segudang kesedihan didalamnya.
"Yasmin mengalami keguguran akibat kecelakaan itu," jawab Yusuf lesu.
"Astaghfirullah.. Yasmin.. maafkan aku, untuk kedua kalinya aku gagal menjagamu," lirih Anna menggenggam tangan Yasmin.
"Yus, sebenarnya bagaimana kronologinya? kenapa Yasmin bisa sampai tertabrak?" tanya Wildan penasaran.
Raut wajah Yusuf seketika berubah, ia mengingat kembali kejadian siang itu, wajah wanita itu sangat jelas, dan dia adalah wanita yang pernah ia periksa karena gejala DBD.
"Dia di dorong oleh seorang wanita, tapi aku tidak tahu siapa wanita itu, yang jelas dia dulu adalah pasienku dan kami juga pernah bertemu saat di bazar bersama Wildan 2 tahun yang lalu," terang Yusuf.
"Yang mana Yus? apakah maksudmu gadis yang mengajakmu kenalan waktu itu?" tanya Wildan dan Yusuf mengangguk.
Mendengar pembicaraan Yusuf dan Wildan, Anna segera mengambil hapenya dan mendekat ke arah 2 pria itu.
"Apakah dia wanita yang kakak lihat itu?" tanya Anna sembari memperlihatkan foto Riska yang berhasil ia dapatkan dari media sosial milik Riska.
"Iya betul, aku dapat melihat wajahnya dengan jelas siang itu," tukas Yusuf.
"Dia adalah Riska kak, dia juga tersangka utama dari kejadian buruk yamg menimpa Yasmin beberapa bulan yang lalu," jelas Anna.
"Astaghfirullah, seharusnya dari dulu aku mencari buronan wanita ini, bukan malah membiarkannya," geram Yusuf sambil menjambak rambutnya sendiri merasa frustasi sekaligus kesal.
"Kali ini aku akan usahakan bagaimanapun caranya agar dia bisa tertangkap, rupanya dengan menjadi buronan, itu tidak memberikan efek jera bagi dia," lanjut Yusuf dengantatapan tajamnya.
"Iya Yus, aku juga akan membantumu menangkap wanita itu," timpal Wildan ikut geram.
--
"Jadi apa yang membuat kalian berdua jauh-jauh datang kesini?" tanya Dimas, seorang detektif polisi sekaligus teman Yusuf dan Wildan.
"Aku ingin kamu mencari bukti semua kejahatan dia pada istriku, ini adalah pembunuhan berencana, dan aku ingin dia mendekam di penjara secepatnya," papar Yusuf memperlihatkan foto Riska yang ia peroleh dari Anna.
"Bukankah polisi memang sedang mencari wanita ini?" ujar Dimas heran.
"Dia baru saja mencelakai istriku lagi di depan kampusnya, usahakan dia tertangkap segera sebelum dia beraksi lagi," seru Yusuf.
"Baiklah aku akan berusaha maksimal untuk menemukannya dan bukti kejahatannya," tukas Dimas.
-Bersambung-
Yuk dukung karya author dengan like, koment dan vote novel ini agar author lebih semangat lagi update cerita selanjutnya.