Kisah Cinta Dua Mutiara

Kisah Cinta Dua Mutiara
61. Dipatahkan oleh Ketidakpercayaan


Sore itu, Ryan hendak mengajak Anna untuk berjalan-jalan sore bersama. Ia baru mengangkat tangan untuk memencet bel kamar Anna, tapi saat mendengar suara yang menyebut namanya, tiba-tiba ia mengurungkan niatnya.


Ryan mendekatkan telinganya pada pintu kamar tersebut, sehingga ia dapat mendengar apa yang dikatakan Anna tentang perasaannya pada Ryan.


"Ck, jadi percuma aku mengikutimu sampai disini, jika ujung-ujungnya kamu tetap akan menolakku," decak Ryan lalu berjalan kembali ke kamarnya.


"Aku pastikan kamu akan menjadi milikku Anna," gumam Ryan dengan tatapan tajamnya sembari memasukkan sesuatu ke dalam saku celananya.


--


Malam hari di Toraja yang sangat sejuk. Setelah makan malam, Wildan memutuskan untuk jalan-jalan sebentar menikmati udara malam di Toraja.


Langkah kaki Wildan terhenti melihat Ryan yang sedang duduk sendiri di sebuah cafe.


"Ryan ngapain nongkrong sendiri disitu? atau aku ikut gabung aja kali ya," monolog Ryan hendak melangkah namun terhenti saat pelayan datang membawa dua minuman ke meja Ryan.


"Kenapa dua? apa dia sedang bersama seseorang?" gumam Wildan berbicara sendiri.


Wildan memutuskan tidak beranjak dari tempatnya untuk memantau Ryan yang dari dulu memang selalu ia waspadai.


Sesaat kemudian, Wildan mengernyitkan alisnya saat ia melihat Ryan mengeluarkan sesuatu dari sakunya yang nampak sepeti obat, Ryan lalu memasukkan obay itu ke dalam minuman yang berada disamping minumannya.


"Astaga, apa yang dilakukan anak itu," lirih Wildan sambil mengepalkan tangannya.


--


Sementara di kamar, Yasmin sedang bersiap-siap untuk tidur.


"Yas, aku di ajak Ryan ke cafe sebelah, sepertinya ada hal yang ingin dia bicarakan padaku," kata Anna sambil memakai jilbab dan jaketnya.


"Kamu mau aku temani?" tawar Yasmin bangkit dari tidurnya.


"Nggak usah, mungkin Ryan butuh privasi," tukas Anna.


"Ya udah, hati-hati dan jangan lama-lama yah," kata Yasmin lalu kembali membaringkan tubuhnya.


"Oke, Assalamu 'alaikum." Anna lalu keluar dan menutup pintu kamar.


Anna berjalan keluar hotel menuju sebuah cafe yang ada disamping hotel.


"Hai Ryan, sorry lama," sapa Anna langsung duduk di hadapan Ryan.


"Oh iya nggak papa Ann, ini menuman kamu, tadi aku pesan duluan biar kamu bisa langsung minum saat tiba disini," tukas Ryan menyodorkan minuman yang berada disamping minumannya tadi ke hadapan Anna.


"Ciee baik banget sih, makasih yah," ucap Anna lalu mengambil minuman itu hendak meminumnya.


Puk.. prang...


Wildan datang dari samping Anna dan langsung memukul gelas itu hingga jatuh dan pecah.


"Jangan minum minuman ini Ann," tegas Wildan membuat Anna mengernyit bingung.


"Maksud kamu apa Wildan?" tanya Anna


"Hey, berani sekali kau mengganggu kami seperti itu," bentak Ryan marah kepada Wildan.


"Minuman itu sudah ditambahkan obat oleh Ryan," kata Wildan menatap tajam Ryan.


"Maksud kamu apa Wil? mana mungkin aku melakukan itu pada Anna? dia sahabatku dari kecil," gertak Ryan tak ingin kalah.


"Tapi aku melihatmu Ryan! kamu jelas memasukkan obat ke dalam minuman Anna," Wildan meninggikan suaranya kesal.


"Tidak mungkin aku melakukan itu, dan apa yang kau lakukan disini? apa kau memata-matai kami lagi?" sungut Ryan menyudutkan Wildan.


"Hentikan omong kosongmu Ryan, jangan mengalihkan pembicaraan," ujar Wildan berusaha tenang.


"Omong kosong apa? mana mungkin ada kebetulan yang seperti kau katakan itu, kebetulan liburan ke Toraja, kebetulan melihat kami disini, itu bukan kebetulan tapi kamu memang memata-matai kami, iya kan?" Ryan semakin memancing emosi Wildan.


"Berani sekali kau mengatakan aku seperti itu," geram Wildan menarik kerah baju Ryan dan hendak memukulnya.


"Stoooppp!!!" teriak Anna membuat kedua pria itu langsung terdiam.


Anna langsung pergi meninggalkan tempat itu tanpa berbicara apapun.


Ryan terdiam melihat kepergian Anna, sementara Wildan pergi mengejar Anna.


"Anna tunggu, tolong percaya padaku, aku tidak memata-matai kalian, dan apa yang aku katakan tadi itu benar." Wildan berbicara sambil mengekori Anna yang berjalan terlebih dahulu di depannya dengan langkah cepat.


"Ann, tolong percaya padaku," kata Wildan membuat Anna langsung menghentikan langkahnya dan berbalik.


"Apa? percaya? bagaimana mungkin aku lebih mempercayaimu di banding Ryan yang sudah aku kenal sejak kecil, kami tumbuh bersama. Tidak mungkin dia melakulan itu padaku." Wildan seketika merasa hatinya tercubit, ia merasakan kakinya begitu lemah sehingga tak mampu melangkah lagi.


"Jadi, kamu tidak mempercayaiku?" lirihnya, "aku tidak pernah memata-matai kalian, aku hanya tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian saat direstoran, dan aku mengikutimu bukan untuk memata-mataimu atau mengganggumu, aku hanya ingin menjagamu dari orang seperti Ryan," lanjutnya merendahkan suaranya.


"Tahu apa kamu tentang Ryan? dia itu baik, selalu ada saat aku membutuhkan bantuan, jika memang ada orang yang harus aku waspadai, itu kamu," gertak Anna lalu pergi meninggalkan Wildan yang masih berdiri tak mampu berkutik.


Tak terasa air mata Wildan menetes, hatinya begitu sakit mendengar perkataan Anna. Niatnya untuk melindungi Anna langsung dipatahkan seketika oleh ketidak percayaan Anna padanya.


Disudut lain, nampak Ryan tersenyum puas melihat kemarahan Anna pada Wildan.


"Itu akibatnya jika kau mencampuri urusanku," sinis Ryan tersenyum licik.


-Bersambung-


Yuk dukung karya author dengan like, koment dan vote novel ini agar author lebih semangat lagi update cerita selanjutnya.