
Aku bersyukur karena Allah masih memberiku kesempatan yang sangat berharga ini. Aku bersyukur karena Allah telah mengirim orang-orang baik untuk menyelamatkanku di waktu yang tepat. Jika boleh, aku ingin membalas kebaikan mereka suatu saat nanti, maka semoga Allah memudahkan aku untuk membalas kebaikan mereka.
(Yasmin Al-Thofunnisa)
--
Sudah dua hari Yasmin di rawat di RS, dan selama dua hari pula ia lebih banyak diam, namun saat tidur ia akan sering mengigau dan menangis dalam tidurnya.
"Apakah sebaiknya kita menghubungi kedua orang tuanya di Makassar?" tanya Ummi Ulfa sembari mengusap lembut tangan Yasmin yang sedang tertidur.
"Mungkin memang sebaiknya kita menghubunginya Ummi, saat ini Yasmin sangat membutuhkan sosok Ibunya disampingnya" kata Yusuf setelah mengganti cairan infus Yasmin.
Saat ini hanya ada Ummi Ulfa dan Yusuf yang menemami Yasmin. Setelah jadwal pemeriksaan Yusuf berakhir, maka ia akan langsung menuju ke kamar Yasmin untuk memantau perkembangannya.
Sementara Anna pergi kuliah dan langsung kembali ke RS saat jam kuliahnya telah selesai. Ia hanya sesekali pulang ke rumah hanya untuk mandi dan berganti baju.
Semenjak kejadian itu, motor Anna belum sempat ia ambil di hotel tempat ia memarkirnya terkakhir, sehingga untuk bolak-balik kampus dan RS ia akan menggunakan taksi atau ojek.
Namun, kali ini, saat Anna baru keluar kampus dan hendak menunggu taksi, tiba-tiba Ryan datang dan menawarkan dirinya untuk mengantar Anna ke RS.
"Siapa yang sakit Ann?" tanya Ryan sambil mengemudikan mobilnya.
"Yasmin, sahabatku sekaligus teman sekontrakanku" jawab Anna.
"Wah, ternyata aku punya saingan sekarang yah, mana sainganku cewek lagi" canda Ryan.
Anna hanya tersenyum tipis menanggapi candaan Ryan.
Kini mobil Ryan tiba di tempat parkir, dan ternyata mobil Wildan juga baru saja tiba dan memarkirnya tepat disamping mobil Ryan.
"Anna? kamu sama siapa datang?" tanya Wildan saat melihat Anna keluar dari mobil.
"Eh iya, aku datang sama temanku Ryan" jawab Anna menunjuk Ryan yang baru keluar dari mobil.
"Oh" kata Wildan singkat lalu berjalan ke arah Anna.
"Oh iya, aku lupa memperkenalkan kalian, Ryan ini Wil..." kata Anna terpotong karena Wildan langsung menjabat tangan Ryan sambil memperkenalkan dirinya sendiri.
"Wildan, abang-abangnya Anna" kata Wildan pecaya diri membuat Anna melotot seketika.
"Ryan, sahabat dekatnya Anna dari kecil sampai sekarang" kata Ryan tak ingin kalah lalu melepaskan jabat tangan mereka.
"Syukurlah kalau masih sahabat sampai sekarang" sindir Wildan membuat Ryan mengerutkan keningnya hendak membuka mulutnya, namun Anna yang sejak tadi merasakan hawa tidak menyenangkan langsung angkat bicara.
"Ayo masuk, disini panas bangat tahu, mana aku lapar lagi" kata Anna mulai berjalan.
"Kamu mau makan apa, biar aku bawakan" kata Wildan dan Ryan bersamaan, seketika Wildan melemparkan tatapan tajamnya pada Ryan, begitupun sebaliknya.
"Nggak usah, aku bawa makanan sendiri, ayo cepat kita masuk, panas tau" kata Anna lalu berjalan duluan meninggalkan dua manusia yang nampak mulai memancarkan aura persaingan.
Mereka berjalan menyusuri lorong RS, Wildan dan Ryan nampak jalan di samping kiri kanan Anna bagaikan bodyguard. Hingga sampai di depan kamar Yasmin.
"Kalian tunggu dulu disini, aku ingin memastikan Yasmin memakai jilbabnya" kata Anna lalu membuka pintu kamar
"Assalamu 'alaikum" ucap Anna, ia memberikan kode kepada Ryan dan Wildan untuk ikut masuk menyusulnya ketika melihat Yasmìn memakai jilbab.
"Wa'alaikum salam" jawab Ummi Ulfa dan Yusuf bersamaan, sementara Yasmin masih tidur.
Yusuf dan Ummi Ulfa mengerutkan alis saat melihat Ryan yang masuk bersama Wildan. Mengerti dengan tatapan Ummi Ulfa, Anna pun menjelaskan.
"Oh iya Ummi, ini Ryan teman Anna" kata Anna memperlihatkan Ryan dengan tangannya.
"Oh iya nak" kata Ummi Ulfa tersenyum ramah, "kalian datang bertiga yah?" tanya Ummi kemudian.
"Tidak Ummi" jawab Ryan dan Wildan cepat secara bersamaan, membuat Ummi mengangkat alisnya.
"Ekhm, tadi aku sama Ryan datang bersama Ummi, tapi pas di parkiran kita ketemu sama Wildan" terang Anna membuat Yusuf dan Ummi Ulfa mengangguk bersama.
"Bagaimana keadaan Yasmin kak?" tanya Anna pada Yusuf.
"Masih seperti itu Ann, jarang bicara, dan suka ngigau" jawab Yusuf lesu. "Oh iya Ann, kamu ada nomornya orang tua Yasmin? aku ingin mengabarinya tentang Yasmin, walau bagaimanapun mereka harus tahu" lanjutnya.
"Baik kak" sambil duduk disofa, Anna mencoba mencari hape yang tadi ia simpan di tasnya.
"Silahkan duduk nak" kata Ummi pada Ryan.
"Iya tante, jawab Ryan hendak duduk disamping Anna, namun Wildan mendahuluinya duduk disamping Anna walau agak berjauhan sedikit, hingga akhirnya dengan terpaksa Ryan mencari tempat duduk lain di samping Wildan.
Ummi tersenyum melihat tingkah Wildan yang seolah sedang menjaga miliknya agar tidak diambil orang.
Sementara mereka mengobrol, Yusuf keluar dari kamar Yasmin untuk menelfon ibunya. Ibu Yasmin sangat terkejut mendengarnya begitupula dengan ayahnya. Rencananya, ibu yang akan langsung ke Jakarta sore ini juga, sementara ayah akan tinggal bersama si kembar.
Yusuf berencana kembali ke ruangannya sebentar untuk mengambil sesuatu, namun ditengah jalan ia tak sengaja mendengar suara dua orang wanita yang sedang berdebat dibalik tangga darurat. Yusuf tak ingin ambil pusing sehingga ia berjalan begitu saja hingga langkahnya tiba-tiba terhenti saat ia mendengar mereka menyebut nama Yasmin.
Yusuf hendak berjalan mendekat ke arah pintu menuju tangga darurat, namun ia melihat pintu tersebut akan terbuka sehingga Yusuf segera bersembunyi dibalik pintu.
Ia melihat seorang suster keluar dari sana, dan tak lama kemudian ia melihat seorang gadis yang tidak begitu asing baginya keluar dari pintu tersebut dengan wajah kesal.
"Siapa mereka? kenapa menyebut nama Yasmin? ah sudahlah, mungkin mereka sedang membahas Yasmin yang lain" monolognya lalu melanjutkan langkahnya.
-Bersambung-
Yuk dukung karya author dengan like, koment dan vote novel ini agar author lebih semangat lagi update cerita selanjutnya.