
Pagi hari di kediaman Wildan
Wildan sedang bersiap-siap berangkat ke restoran, sementara Anna sedang merapihkan tempat tidur.
"Emm, sayang, boleh kita bicara sebentar? tanya Wildan.
"Bicaralah," jawab Anna singkat.
"Kemarilah." Wildan menarik tangan Anna dengan lembut menuju ke sofa kamarnya.
"Sayang, maafkan aku atas sikap dan perkataanku padamu kemarin, aku sadar telah menyakiti hatimu, aku salah, aku mohon maaf sayang," tutur Wildan sembari mencium tangan Anna.
"Nggak papa kok, aku yang salah karena tidak mengerti keadaan abang, aku sudah mendengar semuanya dari Ibu. Jadi aku memutuskan untuk tidak kemana-mana dan fokus hanya ke abang dan Ameer."
"Nggak sayang, aku yang salah, aku terlalu egois sampai aku lupa kalau apa yang terjadi padaku belum tentu terjadi pada Ameer, aku yakin kamu mampu membagi waktumu dengan baik nantinya,"
Anna terdiam
"Jika memang kamu ingin kuliah dan mengejar mimpimu, maka lakukanlah, aku akan mengizinkan dan mendukungmu sayang," lanjut Wildan kemudian.
Anna benar-benar tersentuh mendengar perkataan Wildan. Matanya kini dipenuhi oleh air yang jika berkedip satu kali saja maka akan tumpah seketika.
"Benarkah?" Wildan mengangguk menjawab pertanyaan Anna.
Anna seketika menghambur memeluk sang suami, ia sungguh sangat bahagia, akhirnya ia bisa berkuliah kembali, menyelesaikan kuliahnya yang tinggal 2 semester lagi hingga ia bisa mengantongi gelar sarjananya seperti yang ia impikan sejak kecil.
Wildan yang terkejut mendapat pelukan mendadak dari Anna pun ikut tersenyum lalu membalas pelukan sang istri dengan sangat erat.
--
Waktu terus berjalan, kini 7 bulan telah berlalu, Anna sudah mulai sibuk kembali dengan kuliahnya. Kadang ia membawa Ameer ikut ke kampusnya, namun kadang juga Ameer ikut dengan Wildan ke restoran.
"Ameer lebih suka diajak kemana sayang? restoran ayah atau kampus ibu?" tanya Anna yang saat ini sedang berada diluar kampus sambil menuggu jemputan Wildan.
"Hmmm" Ameer berpikir dengan menatap langit sambil memegangi dagunya.
Anna menahan tawanya melihat tingkah putra kesayangannya itu, "gimana sayang? udah selesai mikirnya?" tanya Anna kembali.
"Sebentar Ibu, jangan mengganggu konsterasi Ameer dulu,"
"Bukan konsterasi sayang, tapi konsentrasi" ralat Anna
"Iya itulah maksud Ameer, sama saja kan Ibu," celetuk Ameer membuat Anna hanya bisa geleng-geleng kepala.
Belum selesai dengan pikirannya, lewat anak-anak TK yang pulang sekolah di hadapannya.
"Hai bro!" sapa Ameer lengkap dengan tangannya yang terangkat, sementara yang di sapa malah lari menjauhi Ameer, "ck..dasar bocah penakut," lanjutnya berdecak kesal.
"Ini anak ikut siapa sih? perasaan aku nggak gini-gini amat," batin Anna menahan tawanya melihat tingkah Ameer yang udah seperti orang dewasa.
"Sabar yah sayang, insya Allah sebentar lagi dede tripletnya lahir kok," bujuk Anna sambil memgelus rambut ikal putranya. Diusia Ameer yang menjelang 4 tahun, ketampanannya semakin terlihat, dengan kulit kuning langsatnya dan rambut ikal membuatnya semakin menawan.
Beberapa saat kemudian, mobil Wildan pun telah tiba di depan kampus.
"Ayah..." Ameer berlari memeluk sang ayah yang baru saja keluar dari mobil.
"Oh putraku yang tampannya seperti ayah, gimana di kampus ibu? seru?" Wildan berjongkok menyambut pelukan putranya.
"Seru sih ayah, tapi membosankan,"
"Kenapa membosankan sayang?"
"Karena teman ibu semuanya tua-tua, tidak ada yang seumuran Ameer," dumel Ameer membuat Anna dan Wildan tertawa.
"Ya memang gitu sayang, kalau dikampus orangnya tua-tua, kalau Ameer mau ketemu sama yang seumuran dengan Ameer berarti tempatnya di TK sayang," terang Wildan. "Ya udah sekarang kita pulang yuk?" lanjutnya kemudian.
"Oke ayah," seru Ameer semangat.
"Silahkan masuk my Princess and my Prince," tukas Wildan sambil membukakan pintu depan untuk Anna dan Ameer.
"Ayah, Ameer dibelakang saja duduknya yah, Ameer kan sudan besar,"
"Boleh dong sayang, wah anak ayah sudah besar rupanya,"
"Iya dong, Ameer gituloh,"
"Psst.. dia mirip kamu yah sayang," bisik Wildan.
"Mirip abang lah, yang ramah dan percaya dirinya kelewatan itu kan abang," kilah Anna membuat Wildan cengengesan.
Wildan hendak melajukan mobilnya namun ia urungkan saat hapenya tiba-tiba berbunyi.
"Halo assalamu 'alaikum.. iya Yus?"
"Apa?" Baik-baik, kami segera menyusul kesana sekarang," kata Wildan lalu mengakhiri telfonnya.
"Ada apa bang? kak Yusuf kenapa?" tanya Anna penasaran.
"Yasmin sayang, Yasmin udah mau melahirkan," seru Wildan mulai melajukan mobilnya menuju rumah sakit.
"Apa? bukannya usia kandungan Yasmin baru 8 bulan yah?" Anna merasa heran sekaligus khawatir kepada sahabatnya itu.
-Bersambung-
Yuk dukung karya author dengan like, koment dan vote novel ini agar author lebih semangat lagi update cerita selanjutnya.