
Di Restoran X
"Anna?" gumamnya lirih
Entah kenapa begitu melihat Anna, wanita yang ia duga akan dilamar oleh pelanggannya, membuat tubuh Wildan lemas seketika, tubuhnya seperti tak mampu berkutik. Ada apa dengan hatinya, Wildan pun tidak mengerti, yang pasti hatinya saat ini sedang tidak baik-baik saja.
Ryan mulai mengajak Anna masuk ke dalam restoran, namun mata Anna sudah ditutup sebelum turun dari mobil, sehingga ia tidak dapat melihat situasi saat ini di restoran.
Ryan mendudukkan Anna di kursi yang telah disiapkan. Lalu membuka penutup mata Anna perlahan.
Anna mengedipkan matanya berkali-kali untuk menyeimbangkan cahaya yang masuk tiba-tiba ke dalam matanya.
Sejenak ia terdiam sembari mengamati sekeliling ruangan yang cukup luas tersebut. Tak ada satupun pelanggan selain mereka, dan dekorasi restoran yang berbeda dari biasanya. Namun, sesaat kemudian pandangan Anna terpaku pada sebuah tulisan besar yang ada di sampingnya, 'Anna Will you marry me?', begitulah tulisannya.
"Yan, apa maksud semua ini?" perasaan Anna mulai tidak enak.
Ryan tersenyum, "kita makan dulu yah, aku sudah lapar banget" kata Ryan yang dijawab anggukan oleh Anna.
Sesaat kemudian makanan mereka datang, Ryan nampak sangat menikmati makan malamnya. Namun tidak dengan Anna, ia merasa tidak nafsu makan sama sekali. Anna memaksa dirinya untuk makan seperti biasa agar Ryan tidak kecewa padanya.
Setelah makan, Anna menatap Ryan seolah ingin diberi penjelasan akan semua ini.
Ryan tersenyum paham akan tatapan Anna. "Surprise!!!, hari ini, adalah hari yang aku tunggu-tungu selama ini. Kamu tahu? aku sudah lama menyimpan rasa untukmu, namun baru hari ini aku bisa mengungkapkan niatku padamu" kata Ryan masih dengan senyuman manisnya.
"Kamu nggak bercanda kan Yan? kenapa kamu tidak mengatakan apa-apa sebelumnya tentang ini? kamu tidak meminta pendapatku terlebih dahulu Yan" kata Anna lirih agar hanya Ryan yang mendengarnya.
"Anna, aku sudah mengatakannya sejak tadi, bahwa aku ingin memberikan kejutan padamu. Dan sekarang aku ingin mengungkapkan perasaanku dan niat baikku padamu" Anna terdiam mendengar penuturan Ryan.
"Anna, will you marry me?" ucap Ryan sambil menggenggam kedua tangan Anna yang berada di atas meja.
Anna terkesiap saat menyadari Ryan menggenggam tangannya, dengan refleks ia langsung melepas genggaman tangan Ryan.
"Maaf aku refleks" kata Anna singkat.
Ryan tersenyum, "tidak apa-apa aku mengerti, lalu bagaimana denganmu?"
Ann benar-benar tidak habis fikir dengan sikap Ryan yang selama ini ia anggap sahabatnya, tak pernah sedikitpun terbesit dalam pikirannya bahwa Ryan akan menaruh hati padanya.
"Ternyata benar apa yang dikatakan Yasmin, tidak ada persahabatan antara pria dan wanita dewasa yang murni kecuali salah satunya ada yang menyimpan rasa" batin Anna.
Saat ini Anna benar-benar bingung, ia harus menjawab apa, disatu sisi ia ingin menolaknya langsung karena memang Ryan hanya sahabat dimata Anna, namun disisi lain ia tak ingin mempermalukan Ryan saat ini.
"Ryan, a-aku.. aku belum bisa menjawabnya sekarang, apa boleh kamu memberiku waktu untuk berpikir? tanya Anna hati-hati.
Mendengar penuturan Anna, senyuman yang sejak tadi tersungging di bibir Ryan perlahan pudar.
"Apakah kamu tidak pernah memikirkan bagaimana perasaanmu padaku, sehingga kamu meminta waktu untuk berpikir?" tanya Ryan sedikit lesu.
"Iya Ryan, maafkan aku, selama ini aku nyaman bersama kamu tapi aku tidak pernah memikirkan rasa nyaman ini karena kamu sahabatku atau karena ada perasaan lain." tutur Anna.
"Baiklah kalau begitu, aku akan memberimu waktu berpikir sampai besok, ba...." perkataan Ryan terpotong.
"Jangan besok, aku akan ke kampung halamanku besok sampai satu minggu ke depan. Tolong beri aku waktu sampai aku pulang dari kampungku maka aku akan memberimu jawaban".
"Kamu mau pulang kampung kemana?" tanya Ryan heran.
"Aku bersama Yasmin akan ke Toraja kampung halaman alm. ayahku" kata Anna.
"Apa aku boleh ikut? siapa tahu dengan sering melihatku kamu bisa menyadari bagaimana perasaanmu padaku, lagipula aku juga ingin liburan ke sana" kata Ryan dengan mata berbinar.
Anna berpikir sejenak.
Sementara itu, dibalik dinding, ada sepasang telinga yang sejak tadi mendengar pembicaraan mereka.
"Aku juga harus ikut ke Toraja" batin Wildan tersenyum setelah mengetahui bahwa Anna belum menerima lamaran Ryan.
"Bos? sehat?" tanya Doni yang sejak tadi memperhatikan Wildan senyum-senyum sendiri dari tadi.
"Aku sehat, sehat banget malah, oh iya.. kamu pegang restoran sementara yah, besok aku ingin liburan" kata Wildan sambil tersenyum lalu masuk ke dalam ruangannya.
Doni masih melongo menatap punggung bosnya yang hilang dibalik pintu. Ia masih mencerna apa yang dikatakan bosnya barusan.
--
Pagi harinya..
"Anna, barang-barang kamu sudah siapkan?" tanya Yasmin setelah merapikan barang-barangnya.
"Siap dong, oh iya semalam Ryan bilang kalau dia ingin ikut ke Toraja, boleh kan?" kata Anna
"Hah? Ryan ingin ikut? kenapa tiba-tiba?" tanya Yasmin heran.
Anna akhirnya menceritakan apa yang terjadi semalam tanpa ada yang disembunyikan sedikitpun.
"Oh jadi gitu, ya sudah lah terserah dia saja, tapi di Makassar nanti, dia harus cari tempat nginapnya sendiri yah, aku nggak enak bawa cowok nginap di rumah soalnya" terang Yasmin.
"Sipp, itu bisa di atur" kata Anna mengacungkan jempol tangannya.
Mereka pun bersiap-siap untuk berangkat setelah menyiapkan barang-barang mereka.
-
Pukul 09.00 pagi, Yasmin dan Anna sudah berada di bandara Soekarno-Hatta, mereka menunggu kedatangan Ryan yang juga akan ikut liburan ke Toraja.
Beberapa saat kemudian, Ryan datang dengan tas dan kacamatanya.
"Aku sudah siap, yuk masuk" ajak Ryan masuk untuk check in sebelum masuk ke ruang tunggu. Baru beberapa langkah mereka berjalan, mereka mendengar suara seseorang.
"Hey.. tunggu aku... " kata Wildan yang tiba-tiba datang sambil menenteng ranselnya yang agak besar.
"Kak Wildan?" kata Yasmin
"Wildan?" kata Anna
"Mau kemana kamu?" tanya Ryan ketus
"Yaa aku mau liburan, kalian bertiga mau liburan juga?" tanya Wildan berpura-pura.
"Iya kami ingin liburan juga, kamu mau liburan kemana?" tanya Anna.
"Aku rencana mau liburan ke Toraja" jawab Wildan santai.
"Wah sama dong kak, bareng kita aja kalau begitu, kita bertiga juga mau ke toraja buat liburan" kata Yasmin antusias.
Sementara, Ryan justru merasa kesal setelah mengetahui bahwa Wildan akan ikut bersama mereka liburan.
"Hufht, ada pengganggu" batin Ryan mendengus kesal.
-Bersambung-
Yuk dukung karya author dengan like, koment dan vote novel ini agar author lebih semangat lagi update cerita selanjutnya.