Kisah Cinta Dua Mutiara

Kisah Cinta Dua Mutiara
75. Merusak Momen Romantis


Untuk wanita yang kini menjadi istriku.


Terima kasih atas semuanya, sudah menjaga mutiara terindahmu hanya untukku, orang yang kini kamu sebut suami.


Aku adalah saksi bagaimana kerasnya perjuanganmu dalam menjaganya, dan aku sangat bangga padamu atas itu.


Rasa syukur tiada terkira senantiasa ku senandungkan pada Sang Pembuat Skenario atas hadiah terindah ini dan itu adalah menjadi suami dari wanita hebat sepertimu.


(Yusuf dan Wildan)


--


Tak terasa, sudah 3 minggu bagi dua pasang pengantin baru itu menghabiskan waktu bulan madu mereka di Turki, kota yang terkenal dengan kota yang penuh cinta.


Kini tiba saatnya mereka harus kembali ke tempat mereka, kembali pada rutinitas mereka.


"Bye Turki, semoga kita segera bertemu kembali," lirih Yasmin sembari menatap ke arah luar jendela pesawat yang baru saja lepas landas.


"Kamu senang berbulan madu di Turki sayang?" tanya Yusuf sambil mengusap lembut tangan Yasmin yang saat ini berada dalam genggamannya.


"Iya kak, aku senang sekali dan aku sangat bersyukur karena aku pergi bersama kakak yang kini adalah suamiku." Yasmin menoleh ke Yusuf sambil tersenyum manis.


"Kamu tahu? aku jauh lebih bahagia karena kamu adalah istriku, wanita yang hebat dan tangguh serta lembut seperti namamu, Al thofunnisa. Aku mencintaimu, Yamsin, istri kecilku." Mata Yasmin berkaca-kaca mendengar pengakuan cinta sang suami, hingga satu bulir air mata lolos ke pipinya.


Dengan begitu lembut, Yusuf menghapus air matanya dengan bibirnya, gejolak rasa cinta yang kian membuncah membuat jantung keduanya berdegup kencang.


"Ekhem.. kita ini dipesawat, banyak orang, tapi kok aku merasa kita ini seperti obat nyamuk yah bang?," sindir Anna membuat Yasmin dan Yusuf langsung salah tingkah.


"Iya sayang, entah kenapa aku merasa kita hanya bayangan dipesawat ini." Wildan ikut menimpali.


"Hey Wildan dan istri, kenapa kalian tidak mencari kesibukan sendiri? Daripada memperhatikan kami, mending kalian tidur atau apalah yang lebih bermanfaat," seru Yusuf kesal karena telah merusak momen romantisnya bersama sang istri.


Sementara Yasmin hanya bisa geleng-geleng kepala melihat perdebatan kecil mereka.


-


Setelah menempuh perjalanan panjang yang memakan waktu kurang lebih 11 jam 35 menit, kini pesawat mereka tiba di Bandara Soekarno-Hatta.


"Alhamdulillah.. akhirnya sampai juga kita," kata Anna sembari meregangkan otot-ototnya di depan umum.


"Astaghfirullah, Ann, meregangkan ototnya nanti di rumah saja yah, banyak yang lihat disini." cegah Wildan.


"Emang kenapa kalau ada yang lihat Bang?, mereka pasti maklum kok." Anna kembali hendak meregangkan ototnya, namun kali ini gagal karena Wildan langsung memeluknya dari belakang dan kedua tangan terkunci oleh tangan kekar Wildan.


"Kalau kamu meregangkan badan sepert itu, bentuk tubuhmu akan terlihat, aku tidak mau ada yang melihatnya selain aku, tolong kamu mengerti yah sayang," bisik Wildan membuat Anna mengangguk malu-malu.


"Maaf bang, Anna nggak tahu," cicit Anna.


"Bagus karena sekarang kamu sudah tahu, sekarang ayo kita keluar, Doni sudah menunggu kita," ujar Wildan lalu merangkul pinggang Anna berjalan keluar bersama.


"Nggak usah Wil, kata Ummi, pak Slamet yang akan menjemput kami.... nah itu dia." Yusuf menunjuk mobil yang dibawa Pak Slamet sedang menuju ke arahnya.


Dua pasang pengantin baru itu pun berpisah.


Di dalam mobil.


"Sayang, nanti sore kita ke apartemen yah, soalnya besok kakak sudah harus masuk RS, jadi kalau tinggalnya di apartemen itu lebih dekat dengan RS," tutur Yusuf.


"Baik kak, aku terserah kakak saja bagaimana baiknya," ujar Yasmin.


Mobil yang membawa Yasmin dan Yusuf kini tiba di rumah orang tua Yusuf. Abi Hasan dan Ummi Ulfa sudah menuggu mereka sejak tadi di depan rumah.


"Assalamu 'alaikum, Abi, Umi," ucap Yusif dan Yasmin bersamaan.


"Wa'alaikum salam, mantu kesayangan Ummi," jawab Ummi Ulfa sembari memeluk Yasmin.


"Ummi tidak memeluk Yusuf juga?" tanya Yusuf yang juga berharap dipeluk.


"Nggak ah, Ummi lebih suka memeluk mantu kesayangan Ummi ini," tukas Ummi membuat Yusuf mendengus.


"Sebenarnya anak Ummi siapa sih?" gerutu Yusuf seperti anak kecil.


"Sudah-sudah, sekarang kalian masuk dulu dan beristirahat, kalian pasti sangat lelah," sela Abi Hasan menghentikan Yusuf yang mulai mendramatisir keadaan.


"Gimana bulan madunya di Turki sayang?" tanya Ummi Ulfa merangkul pinggang Yasmin berjalan duluan di depan meninggalkan Abi Hasan dan Yusuf yang ikut berjalan dibelakang dengan bibir yang dimanyun-manyunkan.


"Alhamdulillah, Yasmin senang sekali disana Ummi," jawab Yasmin antusias.


"Semoga Yusuf dan Yasmin junior bisa segera hadir disini yah sayang," ujar Ummi mengelus perut Yasmin.


"Aamiiin.. insya Allah Ummi," cicit Yasmin.


"Ya udah, kalian istirahat dulu, mana Yusuf?" seru Ummi menoleh ke belakang mencari Yusuf yang sempat terlupakan.


"Kasihan anak Ummi, udah jangan terlalu baper, udah tua juga," canda Ummi membuat bibir Yusuf yang awalnya manyun langsung hilang seketika.


"Astaghfirullah Ummi tega banget sih," keluh Yusuf.


Yasmin menahan tawa melihat tingkah Yusuf yang seperti anak-anak ketika berhadapan dengan Umminya.


"Udah nak, kamu sebaiknya masuk duluan aja ke kamar, kalau nungguin mereka berhenti berdebat bisa pingsan kamu berdiri disini," bisik Abi Hasan, dan Yasmin menuruti arahan ayah mertuanya itu.


-Bersambung-


Yuk dukung karya author dengan like, koment dan vote novel ini agar author lebih semangat lagi update cerita selanjutnya.