
PROLOG
Langit menghitam, membuat awan putih dengan malu-malu bersembunyi dibalik gelapnya malam. Hembusan angin kian terasa semakin dingin, menerpa wajah cantik seorang gadis yang duduk merenung memikirkan takdir cintanya.
Cinta yang diharapkan terasa indah dan senantiasa bisa mengahadirkan kebahagiaan dan ridho Allah di dalamnya. Namun, ia sadar bahwa tidak selamanya cinta selalu bersanding dengan kebahagiaan.
Cinta adalah anugerah dari Allah yang hadir di dalam hati, menyejukkan dan menghangatkan dalam satu waktu, namun ia juga kadang menghadirkan rasa bahagia dan rasa perih dalam satu waktu.
Sebagai manusia biasa, Rabiah Al-Adawiyah Yusuf, gadis cantik dan sholehah, juga merasakan yang namanya cinta saat usianya baru 16 tahun, usia yang masih sangat belia. Namun, rasa cinta tidak selamanya harus diungkapkan, apalagi di usianya saat ini, mengungkapkan cinta hanya akan membuka celah bagi setan untuk menjerumuskannya ke dalam lembah dosa.
Sebagaimana kisah cinta Fatimah Az-Zahrah, putri Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam yang mencintai Ali bin Abi Thalib dalam diam, bahkan konon setan pun tidak dapat mengendus tentang adanya perasaan cinta di antara keduanya. Rabiah juga ingin menjaga kesucian cintanya hingga tiba saat cinta itu diungkapkan, maka pahala akan menghampirinya.
Rabiah sadar, ia tidak bisa menjadi seperti sosok wanita teladan yang bernama Rabiatul Adawiyah, wanita yang mengajarkan tentang mencintai Allah demi Allah bukan demi surga atau karena takut neraka. Wanita hebat yang menjadikan Allah sebagai satu-satunya prioritas cinta dalam hidupnya.
Hanya Allah, Dzat yang mampu mebolak-balikkan hati manusia, Dzat yang mampu menumbuhkan cinta dalam hati yang gersang, dan mematikan cinta dalam hati yang bahkan penuh dengan cinta dan kasih sayang sekalipun.
Dan kisah seperti inilah yang harus dijalani Rabiah. Ameer, pria yang ia cintai sejak usia belia justru hanya bisa menjadi saksi pernikahannya, alih-alih menjadi pendamping dalam pernikahannya.
Bukan mau Rabiah dan bukan pula mau Ameer, hati mereka terpaut saling mencintai, namun masing-masing tidak menyadari perasaannya satu sama lain. Cinta dalam diam, itulah yang cocok untuk mereka. Kedekatan kedua orang tua yang bahkan sudah seperti keluarga, membuat mereka ragu akan perasaan mereka dan bahkan takut untuk mengungkapkan perasaan mereka sebelum waktunya.
Hingga tiba suatu ketika, saat Rabiah lulus sekolah, seorang pria dari keluarga terpandang datang meminangnya. Saat dimana ia ingin menanyakan perasaannya pada Ameer, namun Ameer justru telah pergi untuk melanjutkan pendidikannya di tempat yang jauh.
Hancur dan sesal, itulah yang dirasakan Ameer. Tapi, apa hendak dikata, bukan masalah waktu, melainkan takdir Allah yang memang lebih berkuasa disini.
Berpikir bahwa ‘andai ia lebih cepat datang melamar Rabiah, mungkin dialah saat ini yang akan menjadi suaminya’, justru hanya akan menambah dosa, sebab berandai-andai sama saja dengan tidak bisa menerima takdir yang telah Allah gariskan.
Apakah hanya sampai disini kisah cinta Rabiah dan Ameer, atau Allah telah menyiapkan takdir cinta untuk Rabiah dan Ameer yang jauh lebih indah di ujung jalan sana? Tentu tidak ada yang tahu, sebab semua itu adalah rahasia Allah.
-----------------------------------‐---------------------------------