
"Sayang, baby Ameernya udah tidur, sekarang kamu juga tidur yah, kamu pasti ngantuk setelah semalaman begadang," bisik Wildan kepada Anna yang baru saja menidurkan baby Ameer di box bayi.
"Iya bang, abang juga tidur yah, kan semalam abang juga begadang temenin Anna jagain baby Ameer," ajak Anna ikut berbisik kepada Wildan.
"Udah nggak papa sayang, biar abang yang jagain baby Ameernya, kalau Ameer bangun, nanti abang bangunin kamu sayang buat nyusuin baby Ameer," tukas Wildan.
"Makasih sayang, udah selalu menemani Anna jagain baby Ameer yang beberapa hari ini suka begadang," cicit Anna mengelus pipi brewok sang suami.
"Ini memang udah tugas abang sayang, abang itu bahagia banget bisa memiliki kalian berdua di sisi abang." Wildan merangkul pundak Anna dan membawanya ke tempat tidur. Perlahan ia membaringkan tubuh Anna lalu menyelimutinya.
"Nah, sekarang tidur lah, abang akan memantau baby Ameer sekalian abang mau mengurus kerjaan sedikit di laptop," ujar Wildan dan dijawab anggukan oleh Anna.
Sudah 5 bulan pasca kelahiran baby Ameer, sudah 5 bulan pula Wildan memantau restorannya dari rumah. Wildan benar-benar ingin menjaga Anna dan Ameer disisinya.
Kata Ibu Sukma, wanita yang baru saja melahirkan dan memiliki bayi itu psikisnya rentan sekali mengalami goncangan. Kehadiran suami yang selalu ada dan memahami kondisi istri sangat berpengaruh positif bagi psikisnya. Sementara suami yang kurang perhatian, atau hanya fokus dengan kerjaannya saja, bisa memberikan efek buruk pada psikis istri. Dan jika psikisnya terganggu, tentu akan berpengaruh pula pada produksi ASI sehingga secara perlahan akan mempengaruhi tumbuh kembang bayi itu sendiri.
Wildan yang mengamati Anna cenderung menunda waktu makannya sendiri setelah melahirkan karena harus mengurus bayi langsung bertindak cepat. Jika memungkinkan, Wildan akan mengambil alih baby Ameer dan memberikan waktu kepada Anna untuk makan dengan nyaman. Namun jika tidak memungkinkan, maka Wildan yang akan datang untuk menyuapi Anna makan secara langsung.
Bukankah Wildan sosok suami yang sempurna? Itulah yang selalu ada dalam benak Anna, ia akan senantiasa bersyukur kepada Allah karena telah dipertemukan dengan sosok Wildan sebagai suami dan ayah dari anaknya.
Hingga beberapa tahun pun berlalu.
Kini Ameer sudah berusia 3 tahun. Memiliki garis wajah yang tegas seperti Wildan, namun mata, hidung dan bibir semuanya mirip Anna. Karakter Ameer yang mudah bergaul sangat mirip dengan Wildan dan ketangkasan serta bar-bar yang tentu sangat mirip dengan Anna.
Saat ini Wildan sedang duduk diam di taman belakang rumah, sambil memperhatikan aksi bocah 3 tahun itu yang sedang aktif-aktifnya. Sesekali ia menirukan gerakan silat yang kadang diajarkan sang Ibu kepadanya.
"Lucu sekali bocah itu, dia menjadi anak laki-laki yang tangguh dan jago beladiri bukan karena mengikuti jejak ayahnya tapi malah mengikuti jejak ibunya." Gumam Wildan yang sambil sesekali menertawakan keterbalikan karakternya dengan Anna. Bagaimana tidak, Wildan lebih ahli dalam memasak, sementara Anna lebih ahli dalam beladiri.
"Woy melamun aja kerjaannya ini bapak beranak satu." Yusuf datang mengagetkan Wildan yang masih asik dengan pikirannya.
"Astaghfirullah.. Yus, kira-kira dong kalau mau ngagetin, setidaknya aku nggak kaget kayak gini," Yusuf malah tertawa mendengar perkataan Wildan.
"Ya Allah Wildan, kalau kamu nggak sampai kaget, itu namanya aku nggak ngagetin kamu," gelak Yusuf sambil memukul pundak Wildan yang mulai mendengus.
"Apaan sih, datang-datang bukannya salam baik-baik, malah bikin perkara," gerutu Wildan.
"Aku juga udah salam dari tadi, kamunya aja yang lagi hanyut dalam hayalanmu," seloroh Yusuf kembali tertawa.
"Hai Ameer keponakanku yang tampannya 11 12 denganku, gimana kabarmu?"
"Ameer baik uncle" jawab Ameer.
Wildan yang mendengar Ameer memanggil Yusuf dengan sebutan uncle tampan mengerutkan keningnya, dan semakin bertambah kerutannya saat mendengar perkataan Yusuf yang mengatakan ketampanannya 11 12 dengan Ameer.
"Hey Yusuf, kau jangan mengajari anakku yang tidak-tidak. Ketampanan yang sesungguhnya tuh ada disini nih disini," sungut Wildan sembari menunjuk-nunjuk dirinya.
"Aku nggak ngajarin anak kamu loh, dia sendiri aja yang berinisitif memanggilku tampan, jadi aku ikut menampali saja," tukas Yusuf menahan tawanya.
"Ameer, coba kamu jujur, lebih tampan mana, ayah atau uncle?" tanya Wildan.
"Uncle yang tampan,"
"Ayah kan juga tampan Ameer?"
"Iya ayah, tapi lebih tampan uncle karena masih muda,"
"Loh, ayah dan uncle itu seumuran nak,"
"Kalau seumuran, kenapa cuma ayah yang wajahnya dipenuhi bulu?" tanya polos Ameer sontak membuat tawa Yusuf pecah.
"Jiahahahahah.. Wildan Wildan, sepertinya kamu tidak bisa membangga-banggakan brewokmu lagi," celetuk Yusuf membuat Wildan malu sekaligus geram dengan anaknya itu.
"Untung kamu anakku, kalau tidak udah aku botakin kamu nak," batin Wildan kesal.
-Bersambung-
Assalamu 'alaikum.. gimana ceritanya sampai disini? apa ceritanya masih seru? mohon selalu dukungannya yah kak.
Oh iya, sekedar info, author saat ini juga sedang membuat novel baru yang judulnya "Rahasia si Gadis Culun", jika berkenan silahkan mampir dan beri dukungannya yah. Terima kasih.