
Bismillahirrohmanirrohim.
Sebelum baca jangan lupa bismillah dan shalawat dulu 🤗
بسم الله الر حمن الر حيم
Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad.
اللهم صلي عل سيدن محمد و عل ال سيدن محمد.
Di sebuah apartemen seorang laki-laki tengah menatap langit malam dengan senyum yang terus mengembang di wajahnya, sejak sore tadi senyum itu tidak sedikitpun luntur.
Padahal tadi saat pulang kerja dia merasa amat lelah setelah mengingat jika besok adalah acara resepsinya Eris tersenyum senang. Dia akan segera kembali bertemu dengan sang istri.
Selama satu minggu ini Eris sekalipun tidak pernah melihat Azril jangankan untuk bertemu melihat saja tak pernah, sejak malam terakhir mereka bertemu sebelum di hukum oleh Mama mertua sendiri.
"Akhirnya satu minggu ini akan segera berlalu, aku akan segera kembali bertemu istriku, andai saja boleh untuk menghubungi Azril, sayangnya tidak bisa. Mama dan Hans begitu ketat menjaga istriku agar tidak bertemu suaminya sendiri," dengus Eris sambil memejamkan matanya sejenak.
Ya, jika boleh dikatakan Eris benar-benar merasa kesal dengan Mama mertu dan kakak Iparnya sendiri. Ooh, sebegitu tega mereka memisahkan dirinya dengan Azril.
Cek!
Eris berdecak pelan lalu dia kembali mengukir senyum membayangkan wajah istrinya.
"Eh, tunggu dulu. Bayangin istri sendiri nggak dosakan?" molong Eris. "Dosa nggak sih? bukan malah dapat pahala," masih saja dia bicara pada diri sendiri.
"Teruntuk istriku, semoga kamu bisa mendengar puisiku ini."
"Kerinduan Malamku padamu istriku."
Senja yang telah pergi
Mengapit malam yang sedang menanti
Perlahan ku katakan rindu ini
Di dermaga hati yang menanti
Aku sang perindu, merindukanmu wahai istriku
Aku yang berlaku resah nan pilu
Ku disini mengalunkan rindu
Aku disini mengingkan sosokmu istriku
Setiap detik degup nadiku hanya ada
panggilan namamu istri tercinta
Malam yang perlahan mengintip
Terasa begitu panjang waktu berlalu
Hingga layu harapanku
Menanti bayangmu memeluk rindu
Pagi besok kita akan kembali bertemu
Aku bener-benar merindukan sosok dirimu."
"Selamat Malam istriku yang selalu ada dihatiku, aku rindu denganmu."
Petang ini
Bulan bersinar bersama indahnya bintang
terlihat sedang menyapaku
Termenung sendirian di beranda sunyi
Sambil mengingat namamu
Akrab dengan sepi
Dipelukan malam
Hembusan angin menerpa wajahku
Menyentuh segenggam rindu
Rindu yang lama terpendam
Kemudian
Mulut pun terucap
“Selamat Malam istriku yang selalu ada
dihatiku, aku begitu merindukan dirimu.”
Kubisikkan kepada hembusan angin yang lewat menyapaku
Untukmu, sosok yang kurindukan
Selamat malam istriku.
Tunggu besok Insya Allah, kita akan bertemu.
Setelah mengucapkan dua puisi itu Eris yang sedang menikmati waktu dibalkon kamarnya memutuskan untuk masuk dan segera beristirahat dia berharap pagi akan segera tiba.
"Apa Azril juga merindukanku? bagimana jika aku sendiri yang merindukan dirinya."
***
Tempat yang berbeda sebuah kamar dengan cat tembok berwarna biru kombinasi abu-abu seorang perempuan tengah menatap dirinya di depan cerim besar yang terdapat di kamarnya.
Kedua tanganya memegang bagian dada tempat dijantungnya. Dia tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya kala merasakan jatung yang terus berdebar kencang.
"Ya Allah, ada apa ini?" bingungnya.
Sebelumnya dia tidak pernah merasakan jantungnya yang berdebar diluar kendali, pipinya tiba-tiba terasa memanas satu sosok nama masuk ke dalam ingatannya.
"Mas Eris," nama itu lolos dari mulut perempuan tersebut yang tak lain adalah Azril.
Suara orang dari luar kamarnya membuat Azril tersadar dari lamunannya karena teriakan Mamanya dari depan pintu kamar.
"Azril sudah malam tidur besok acar kamu, jadi harus banyak istirahat," teriak Milda.
"Iya Ma, Azril memang mau tidur," jawabnya sambil berjalan menuju pintu kamar.
Ceklek!
"Malam Ma, selamat tidur semoga mimpi indah," ucapnya kala pintu kamar sudah terbuka sempurna. Wanita paruh baya itu yang tak lain Milda masih berdiri di depan pintu kamar putrinya.
Cup!
Azril tersenyum setelah mencium pipi Milda lalu dia segera kembali menutup pintu kamarnya, Milda yang melihat tingkah Azril menggeleng pelan.
"Ada-ada saja," ujar wanita paruh baya itu sambil berlalu dari depan kamar putrinya.
"Azril sudah tidur Ma?" tanya Hans tak sengaja berpapasan dengan sang Mama, laki-laki itu membawa makanan dinampan.
"Baru mau, terus ini kamu mau makan lagi?" bingung Milda.
"Buat Lia Ma, Alvan minum asinya banyak terus," mendengar penuturan anak sulungnya, Milda mengangguk paham.
"Gantian sama istrimu jagain Alvan," pesan Milda sambil berlalu.
"Itu sudah pasti Ma," jawab Hans mantap.
Seorang muncul dibelakang Hans setelah kepergian sang Mama, " apa sih Mas teriak-teriak udah malem," nada suara orang itu terdengar sedikit ketus.
Hans memutar tubuhnya jadi menghadap ke belakang. "Kamu sejak kapan di rumah?" bingung Hans, setahunya adik bungsunya ini yang suka lupa jalan masih diasrama sekolah.
"Tadi sore, ya kali Mbak Azril sama kak Eris mau adain acara resepsi aku diasrama aja," jawabnya terus menguap.
"Terus kok tadi makan malam nggak ada di ruang makan."
"Ini baru bangun, bangun juga karena laper. Arion mau makan dulu," pamitnya berlalu dari hadapan Hans.
Sedangkan Hans segera masuk ke dalam kamarnya yang berjarak satu kamar dengan kamar Arion, di tengah-tengah mereka kamar Azril.
Di dalam kamar ternyata Azril masih membuka matanya.
"Kok aku mikirin Mas Eris terus, kenapa ya? masa iya aku kangen," ujar Azril menggeleng pelan.
"Malam mulai sunyi seperti biasanya, menghadirkan kamu diam-diam dalam kepala. Aku tidak tahu apakah ini yang dinamakan rindu, wajahmu selalu ada dibayanganku, di dalam kepalaku selalu teringat namamu, Mas apa sekarang aku sudah dizinkan untuk merindukan dirimu. Dulu sebelum aku menjadi istrimu, aku tak bernai menyebut namamu juga tak berani membayangkan wajahmu. Karena sudah pasti dosa akan menemuiku, lalu setan akan tertawa senang melihatku yang tebawa tipu daya mereka."
Azril sampai tak sadar sudah merangkai kata-kata sendiri untuk sang suami yang malam ini tanpa dia sadari juga merindukan dirinya.
Mereka berdua pasangan halal yang saling merindu karena terhalang akan jarak temu, Eris setiap hari selalu menginjakkan kaki di kediaman Kasa, namun satu minggu ini Azril sekalipun tak bisa melihat suaminya itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Matahari bersinar cerah membuat Eris yang sudah rapi ingin sekarang menuju mansion Kasa, tapi lagi-lagi dia harus menunggu untuk bertemu dengan sang istri.
"Begini amat nasibu gue," keluh Eris. "Mau ketemu istri aja susahnya minta ampun."
Eris sedang menunggu supri yang dikirim dari kediaman Kasa untuk menjemput dirinya atas permintaan Papa mertuanya.
Jika saja bukan Papa mertua sendiri yang meminta untuk menunggu supir, mungkin Eris sudah menyalakan mobilnya menuju kediaman Kasa.
"Maafkan saya telat menjemput Tuan muda Eris," ucap pak supir.
"Jangan panggil saya tuan muda Pak, panggil Eris seperti biasa, apa itu Tuan muda," katanya karena memang Eris mengenal supir yang menjemput dirinya. Dia seperti meraskan devaju dengan kata-kata barusan.
"Sekarang baru pukul 7:30 jadi sama memaafkan bapak karena terlambat," lanjut Eris lagi.
Mobil telah melaju menuju mansion Kasa, di dalam mobil Eris sudah mengenakan jas untuk acara resepsinya hari ini. Dengan Jas abu-abu pilihan sang mertua Eris terlihat semakin berkhasrima.
"Gue deg-degan sumpah," gumamnya.