Kasih Sayang Untuk Aditya

Kasih Sayang Untuk Aditya
Bab 80


Bismillahirrohmanirrohim.


1 bulan berlalu.


Aditya akhirnya sudah dinyatakan sembuh, walaupun tidak sembuh total dari penyakit yang dia derita, tapi dari hasil transplantasinya tulang sumsumnya yang lancar jadi hari ini Aditya sudah diperbolehkan pulang.


Hans sudah lama sehat, begitu juga Ulya. Kepulangan Aditya hari ini bersamaan dengan jadwal kontor kandungan Ulya. Jadi sebelum menjemput Aditya pulang Hans dan Ulya pergi ke dokter kandungan yang sudah biasa menangani Ulya lebih dulu. Sekarang disini lah mereka.


Di tempat dokter kandungan, masih di rumah sakit yang sama dengan Aditya. Rumah sakit Harapan Bangsa.


"Kita periksa dulu Mbak Ulya. Silahkan berbaring di ranjang." Ucap dokter Vita ramah.


Ulya menurut saja, dia berbaring di ranjang yang sudah tersedia, dokter Vita mulai mengecek kandungan Ulya.


"Masya Allah, Allhamadulilah semakin kesini bayinya semakin sehat Tuan Hans, mbak Ulya." Ujar sang dokter.


"Alhamdulillah," ucap Ulya dan Hans bersama


Mereka sangat bersyukur sekali janin mereka yang dinyatakan sangat lemah beberapa bulan lalu kini sudah semakin sehat saja.


"Seperti biasa jangan lupa resep yang saya kasih tetap dikonsumsi Mbak."


"Insya Allah, dok."


Kehamilan Ulya kini sudah memasuki minggu kesebelas, Hans sudah tak sabar menunggu kedatangan buah hatinya berapa bulan lagi untuk tiba di dunia. Melihat dunia, mereka bisa bersama-sama. Perut Ulya juga sudah terlihat semakin buncit.


"Terima kasih dok, kami permisi dulu."


"Baik Tuan muda." Dokter Vita menjawab sopan.


Sekarang Ulya dan Hans menuju kamar rawat Aditya, disana sudah ada Arion yang menunggu mereka bersama Aditya.


"Mas, lusa Lia wisuda. Terus ini gimana, apa nggak papa Lia tetap keacara wisuda dalam keadaan seperti ini."


"Nggak papa yank, lagipula ada bapaknya ini. Nanti Mas yang temenin kamu diacara wisuda, sudah jangan pikirkan apapun." Hans mengelus lembut tangan istrinya.


"Semua orang di kampus juga sudah tahu kalau kamu telah menikah dengan Mas bukan." Ulya mengangguk setuju.


"Mas, mau tanya boleh."


"Boleh, mau tanya apa yank."


Semenjak mendonorkan tulung sumsum pada Aditya, tidak tahu kenapa Hans lebih nyaman memanggil istrinya dengan sebutan 'Yank' ketimbang harus memanggil 'Dik' dia merasa Ulya seperti Azril jika memanggil Ulya 'Dik' padahal istri sendiri.


"Foto yang ada di dompet, Mas Hans." Cicitnya.


"Perempuan pakai seragam sekolah SMA." Tebak Hans, Ulya mengangguk pelan.


"Ada apa, dengan foto itu yank." Hans semakin penasaran, dia yakin pasti istrinya sudah tahu tentang foto di dompetnya.


"Foto siapa, Mas? terus Mas dapat dari mana." Cicit Ulya semakin ingin tahu Hans mendapatkan foto SMA nya dari siapa.


"Dari Jeni, itu foto kamu, kan? Mas sadar setelah menikah dengan kamu. Waktu itu nggak tahu kenapa Jeni kasih Mas foto kamu dan disuruh simpen, sebelumnya cuman Mas tarok di kamar mereka. Tapi setelah sadar foto itu mirip kamu sekarang Mas simpen di dalam dompet." Jelas Hans.


"Masih penasaran?"


"Udah nggak lagi, kata Aditya masih nyimpen foto itu setelah kita menikah."


"Betul! itu bener kamu, kan? bukan orang lain."


"Memang Lia kok di dalam foto itu, Mas."


"Baguslah." Suara Hans terdengar senang.


Obrolan seru mereka harus berakhir karena telah sampai di depan pintu kamar rawat Aditya.


"Mas, lusa setelah wisuda Lia mau ziarah kemakam Papa, mbak Jeni sama Mas Rama boleh." Ucap Ulya mengutarakan keinginannya sebelum mereka masuk ke dalam kamar rawat Aditya.


Memang Hans sudah berapa kali ziarah kemakam almarhum papa mertuanya bersama Ulya tentunya.


"Boleh sayang, nanti sama Mas juga."


"Sama-sama."


Pintu telah terbuka keduanya berlalu masuk ke dalam kamar rawat Aditya, benar saja Arion dan Aditya sudah menunggu kedatangan mereka berdua.


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam."


"Mommy!" Aditya mendekati Ulya mengelus perut ibu hamil itu.


Setiap kali melihat perut Ulya yang semakin menonjol membuat Aditya jadi gemes sendiri dibuatnya.


"Mulai lo cil." Protes Arion yang tidak dihiraukan oleh Aditya.


"Assalamualaikum, adik. Apa kabar? Adik di perut mommy sehat-sehat, kan."


"Wa'alaikumsalam, Mas Aditya. Allhamadulilah, adik baik-baik caja, Mas Aditya." Sahut Ulya mengikuti cara bicara anak kecil pada umumnya.


"Mommy! Aditya tidak mau dipanggil, Mas! sudah berapa kali Aditya bilang panggil Abang, Abang! bukan, Mas."


"Anak daddy satu ini kenapa tidak mau dipanggil, Mas sama adiknya?" tanya Hans heran.


"Tidak mau daddy! yang boleh manggil Aditya Mas itu istri Aditya nanti. Kalau adik-adik Aditya harus panggilnya Abang!"


"Anak ini, kayak ngerti saja kamu cil." Arion lebih dulu protes ketimbang Hans dan Ulya.


"Masih kecil saja sudah tahu tentang istri kamu ini, tahu dari mana sih." Lanjut Arion lagi masih penasaran.


"Kak Arion tidak lihat mommy sama daddy selalu bersama! kata kak Azril mereka suami istri begitu juga grandma dan grandfa. Aditya nanti kalau nikah mau punya istri sabar seperti mommy, cantik seperti kak Azril dan mommy juga. Penyayang seperti grandma, pinter masak seperti Oma." Ucapnya gamblang sekali.


"Astagfirullah, sudah jangan dilanjut lagi. Sekarang ayo kita pulang."


Arion dan Hans membawa barang Aditya, sedangkan Ulya menggandeng tangan Aditya.


"Kalau mau punya istri seperti itu Aditya harus jadi laki-laki baik, tidak boleh menyakiti seorang perempuan paham."


"Aditya paham mommy! paman Eris sering memberitahu Aditya, katanya tidak boleh menyakiti perempuan."


"Ketahuan, kan, sekarang siapa racun ini bocah, Mbak Azril sama kak Eris. Kompak banget itu orang dua." Sambung Arion yang masih bisa mendengar obrolan Aditya bersama mommynya.


"Asal bukan hal yang tidak baik mereka ajarkan pada Aditya." Hans ikut bersuara.


Sepanjang jalan menuju parkir mobil mereka banyak bercerita, untung hari ini Arion libur sekolah jadi bisa membantu Hans dan Ulya menjemput Aditya, karena yang lain memiliki usuran masing-masing.


Sampai di parkir mobil mereka semua segera masuk ke dalam mobil, tak lama Hans langsung melajukan mobilnya membelah jalan raya yang tetap saja ramai walaupun hari libur.


"Mbak, lusa wisudakan?" Arion menghadap bangku belakang dimana Ulya bersama Aditya duduk bersama, Arion sendiri di duduk sebelah Hans.


"Insya Allah, ada apa, Ar?"


"Kata Mama nanti mau pada dateng, ngomong-ngomong wisudanya kok ditunda sampai 3 bulan hampir 4 malah Mbak, ada apa memangnya di kampus Mbak."


"Bukan ditunda Ar, jadwalnya memang baru bisa dilaksakan besok untuk wisuda tahun angkatan mbak."


"Kirain."


30 menit berlalu mereka sudah sampai dikediaman Kasa, ternyata Ibu Rida telah menunggu ke pulangan mereka.


"Alhamdulillah, kalian sampai juga."


"Assalamualaikum, Ma. Mama dari tadi disini?"


"Wa'alaikumsalam, belum lama Lia, sekitar 10 menit yang lalu. Sepi sekali pada kemana memang?"


"Ada acara di pesantrennya Azril, Ma. Jadi Mama sama Papa hadir kesana ditemenin Eris."


"Begitu rupanya, Mama kira pada kemana."


"Ayo sekarang kita semua masuk dulu." Ajak Hans pada mereka.