
Bismillahirrohmanirrohim.
Sekitar tiga puluh menit berlalu Hans baru kembali ke kamar rawat Aditya membawa pesan mereka. Padahal anak istrinya sudah menunggu kedatangan Hans sedari tadi.
"Assalamualaikum." Salam Hans tak lupa membuka pintu kamar rawat.
"Wa'alaikumsalam."
"Dari mana saja Mas? Anak istrinya sudah nunggu dari tadi kok belum datang-datang juga. Allhamadulilah, aku sama Mama bawa sarapan." Azril bicara panjang.
Hans mendengus kesal mendengar ucapan sang adik. "Kamu tidak tahu Mas cari kemana-mana tempat beli ketoprak, somay sama bubur ayam kagak ada."
"Itulah kalau orang butuh tapi nggak mau bertanya, akhirnya sesat di jalan kan. Di depan keluar gerbang sebelah kiri rumah sakit ada semua yang juga makanan, kamu cari." Sambung nonya Milda.
Baik Ulya dan Aditya jadi merasa bersalah pada Hans, karena permintaan mereka berdua mungkin sekarang Hans sangat lelah juga telah tersesat.
Ibu, anak itu kompak menatap Hans memasang wajah yang bersalah. "Maafkan kami daddy!" ucap keduanya bersama.
"Aditya tidak lagi minta seperti itu pada daddy, maaf sudah menyusahkan daddy."
"Lia juga minta maaf, Mas."
"Astagfirullah hal-adzim, tidak apa sayang. Daddy tidak marah sama kalian berdua. Mama bilang benar ini salah daddy, Mas."
Jadinya kalau seperti ini Hans seperti mengurus dua anaknya yang akan menangis karena dimarah mama mereka. Sejujurnya Azril ingin sekali tertawa agar tidak memecahkan suasana, Azril sekuat tenaga menahan tawanya agar tidak lolos dari bibir cantinya.
"Terus dapat nggak makannya, Hans?"
"Dapat Ma, buat nanti saja Lia sama Aditya juga sudah makan."
"Belum!" ujar keduanya.
Nyonya Milda, Azril dan Hans menatap heran mommy dan anaknya ini kenapa dari tadi bisa sangat kompak sekali.
"Bukan begitu maksudnya, maksud Lia sama Aditya, kita memang sudah makan. Mau makan lagi yang dibawa, Mas Hans." Ulya tidak ingin terjadi salah paham.
Lagipula sang suami sudah capek-capek membelikan makanan untuk mereka masa iya tidak dimakan, Hans sampai kasasar-sasar pula hanya demi ketoprkas, somay. Tadi Ulya dan Aditya memang sengaja makan sedikit mereka masih menunggu Hans.
"Bener kalian berdua masih mau makan?"
"Iya Mas."
"Bener daddy!"
Wajah Hans kembali berseri mengetahui Ulya dan Aditya mau makan apa yang dia beli, tidak sia-sia Hans harus nyasar dulu tadi.
"Mereka udah sehati banget Ma, kayak bener-bener sedarah." Bisik Azril pada nyonya Milda, membuat wanita paruh baya di sampingnya mengangguk setuju.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sudah berapa hari Fahri tidak melihat keadaan bengkelnya. Jadi hari ini dia memutuskan untuk pergi ke bengkel lebih dulu sore baru kembali ke rumah sakit.
"Assalamualaikum." Sapa Fahri pada para pekerja di bengkelnya.
"Wa'alaikumsalam Bang!" jawab semua orang.
Sekarang Fahri sudah menambah satu karyawan lagi, setiap hari bengkelnya itu selalu ramai. Tempat yang strategis membuat banyak pengendara mobil dan motor jika kendaraan mereka bermasalah jadi mampir di bengkel milik Fahri.
"Gimana bengkel, Dio?"
"Alhamdulillah, semakin hari semakin ramai saja bang. Omsetnya naik sudah 5 hari ini." Lapor Dio.
Mereka sudah berada di ruang kerja Fahri. "Alhamdulliah, masih kurang karyawan nggak? gue mungkin satu bulan ini belum bisa bantu kalian."
"Insya Allah, kalau sekarang masih bisa kita tangain berlima bang."
"Kalau ada apa-apa langsung kabar gue aja ya, Di."
"Beres itu mah Bang."
Selesai mengobrol masalah bengkel sejenak, Fahri dan Dio kembali keluar bersama yang lain, Fahri memang dekat dengan seluruh karyawannya.
"Kalian udah pada makan belum."
"Belum bang!" jawab mereka kompak.
"Mau makanan dari restoran depan kagak. Makanya disini aja tapi biar dibungkus."
"Kagak bang!" sahut Vito.
Empat karyawan lainnya menatap Vito tajam, buru-buru Vito membenarkan ucapannya.
"Gue juga reques boleh kagak bang." Udi juga ikut nyambung.
"Catet aja apa yang kalian mau, nanti gue yang beli disana."
"Siap bang, ayo Dio catet." Ujar Andi bersemangat sekali dia.
"Boleh bungkus buat di rumah kagak bang."
"Boleh Bian, tapi nanti aja gue pesan lagi kalau kalian mau pulang."
Lima menit kemudian semua pesan mereka selesai dicatat oleh Dio. "Maafkan kami kalau maruk ya bang."
"Santai Dio, segini aja kalau udah gue pesen dulu di depan."
"Siap bang!"
"Gila baik banget Bang Fahri, pantes lo betah kerja disini Dio." Ucap Vito yang merupakan pegawai baru.
"Kalau bos sudah baik jadi jangan mengecewakan."
"Isnya Allah, itu mah." Jawab mereka semua.
Fahri sendiri baru masuk ke dalam restoran yang berada di depan bengkelnya itu. Restoran yang selalu ramai pengunjung.
"Mbak, saya pesen semua yang ada di dalam catatan ini. Saya tunggu di meja seperti biasa."
"Siap bang Fahri, pesanan akan segera tiba." Ucap seorang karyawan yang mengenal Fahri.
Bola mata Fahri sibuk menatap sekeliling dalam restoran, sampai netranya tak bisa diam itu melihat seorang yang Fahri kenal.
"Itu Cia, kan, sahabat Lia. Sama siapa dia disini, tumben." Ucap Fahri pada diri sendiri.
Fahri tak sengaja melihat Cia sedang makan bersama seorang laki-laki yang tidak dia kenal. Membuat Fahri heran, sudah berapa kali dia bertemu Cia tak pernah sekali pun Fahri melihat Cia hanya keluar berdua dengan seorang laki-laki.
"Mungkin saudaranya, lagipuna kenapa kepo sih Fahri!"
Tapi Fahri masih tetap mengamati meja di depannya. Sampai 15 menit menunggu seorang karyawan menghampiri Fahri.
"Bang Fahri pesanan tiba." Ucap Okta membuat Cia yang mendengar nama sahabat kakaknya disebut mencari orangnya.
"Bang Fahri." Ucap Cia tanpa sadar.
Fahri masih bisa mendengar Cia menyebut namanya menoleh sejenak sampai mata mereka saling beradu tatapan. Fahri tersadar lebih dulu lalu tersenyum pada Cia.
"Sorry Ok, gue langsung kekasir bayarnya atau sama lo saja." Fahri segera beralih pada Okta yang menunggunya.
"Nih, udah gue bawa mesin atmnya bang."
"Tahu aja Lo, Ok." Fahri membayar semua belanjanya dengan kartu debit.
"Bang, salam sama Dio." Ucap Okta malu-malu.
"Pacaran lo sama Dio?"
"Kagak bang, elah soudzon aja cuman sekedar mengagumi."
"Bilang sama Dio kalau suka langsung ke rumah orang tua lo, duit udah banyak ini buat nikah, masalah kerja kalau udah nikah kerja lagi sama gue gampang."
"Orang tua gue kan di kampung bang."
"Nanti gue urus waktu buat Dio dah, pergi dulu."
"Oke thanks Bang Fahri, I love you sebakom. Aku padamu bang pokoknya!" teriak Otak.
Interaksi Fahri dan Okta tak luput dari Cia, dia tidak tahu apa yang mereka obrolkan. Entah kenapa ada yang aneh di hati Cia kala mendengar karyawan perempuan tadi mengucap I Love you pada Fahri.
Kok sakit, ada apa denganku. Sadar Cia bang Fahri bukan siapa-siapa kamu, lagipula selama ini kamu cuman anggap dia seorang Abang sama kayak Lia. Sekarang kamu....
Cia tak sanggup melanjutkan ucapannya dalam benak sendiri.
"Cia, Cia, Cia!" orang yang sedang makan bersama Cia tampak sedikit kesal. Terus memanggil Cia tapi tidak ada respons.
"Astagfirullah, ada apa, Mas?"
"Jangan ngelamun, habis ini kita langsung pulang!" ketus laki-laki yang bersama Cia.
"Iya, Mas Riko."