
Bismillahirrohmanirohim.
Semua orang di meja makan tersenyum mendengar perkataan yang keluar dari mulut Hans, tak terkecuali Zevran. Tahu Hans sangat mencintai Ulya ada rasa lega tersendiri di hati Zevran. Dia telah ikhals Ulya bersama Hans.
'Kamu harus terus bahagia Ulya. Aku bahagia melihat kamu bahagia. Tuan muda Hans memang laki-laki yang tepat untukmu.' Batin Zevran. Mungkin sekarang dia sudah bisa melupakan Ulya.
Hans menatap satu persatu orang yang ada di meja makan, dia tak melihat sosok putranya. "Dimana, Aditya?"
"Tidur Mas, tadi nangis mau ikut sama Erisa." Jawab Azril yang duduk di kursi samping Hans berdiri.
"Anak itu. Hans ke atas dulu." Pamitnya pada semua orang.
Buru-buru Hans menuju kamarnya untuk menemui sang istri, hari ini Hans sangat bahagia karena semua orang sudah tahu dia telah menikah. Semua orang juga tahu gadis bernama Ulya Hanfia sudah menjadi milik Raditya Hans Kasa seutuhnya.
Ceklek!
"Mas, ayo kita salat ashar bersama." Ajak Ulya melihat suaminya telah kembali, dia sudah rapi mengenakan mukena.
Melihat itu Hans tersenyum bahagia sambil meletakkan air dan buah yang dia bawa dari dapur di atas nakas. "Mimum dulu, Dek."
Setelah itu Hans berlalu masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil air wudhu, Ulya menuruti apa yang suaminya suruh. Dia segera minum air putih yang tadi suaminya ambil dari dapur.
Tak butuh waktu lama Hans sudah siap untuk melaksanakan salat berjaman ashar bersama istrinya, biasanya ada Aditya diantar mereka berdua hanya saja bocah itu sedang lelah sekarang. Selesai salat Ulya mencium tangan suaminya takdzim, setelah itu Hans mencium lembut kening istrinya.
"Ibadah panjang kita sudah dimulai, Dik." Ucap Hans. Ulya tersenyum tulus pada suaminya.
"Mas, mau, kah Mas berjanji pada Lia."
"Tentu saja." Jawab Hans cepat.
Ulya menatap lekat manik mata suaminya. Dia dapat melihat tatapan cinta dari kedua bola mata suaminya tatkala menatap dirinya. "Berjanji lah pada Lia, Mas, apapun yang terjadi kita akan saling terbuka. Tidak ada rahasia yang disembunyikan. Lia mohon bimbing Lia agar kita bisa sama-sama meraih surga-Nya."
"Insya Allah, Dek. Mas akan membimbing kamu, Mas juga masih harus banyak belajar agar kita bisa sama sama meraih surga-Nya."
Hans kembali mencium lembut kening istrinya. Sungguh kebahagiaan seperti ini yang belum pernah Hans rasakan.
"Mas, mau denger Mas sholawatan. Kata Azril suara Mas Hans bagus apalagi pas lagi sholawatan." Ucap Ulya setelah Hans menjauhkan bibirnya dari kening sang istri.
Hans mencubit gemas hidung Ulya membuat sang empuhnya cemberut. "Jangan ditarik Mas! Lia tahu hidung Lia pesek."
"Tak apa pesek, kamu tahu dek. Pesek itu ngangenin tahu, Mas malah pengeng gigit hidung kamu."
"Ihh! Jadi sholawatan nggak sih Mas. Kalau nggak Lia keluar aja." Ancamnya, dia malu terus digoda oleh sang suami.
"Jadi dong, mau shalawat apa?"
"Apa saja terserah, Mas Hans."
"Baiklah."
Tak peduli apa yang kan terjadi.. Engkau Tetap ku cintai.
Istriku.. Engkau Ratu di hatiku..
Engkau istriku Tercinta.. Semoga Di Panjangkan Umur.
Tetap Dalam Satu Cinta.. Bersama Selalu Bersyukur.
Harapan ku Hanya satu.. Setia mu kepadaku
Dukunglah Setiap Langkahku.. Bahagia Disampingku.
Engkau Istri Yang Sholehah.. Yang Selalu Banggakan
Kemana Kaki Melangkah.. Doamu Engkau Sertakan
Istriku.. Engkau Ratu di hatiku..
Resah dan gelisah di hati.. Bercampur jadi satu
Pabila dirimu sedang.. Tak lagi ada di samping ku
Ku hanya bisa berdoa.. Kepada Allah ta'ala
Semoga dirimu tetap.. Didalam perlindungan-Nya
Keringatku demi cinta.. Kasihku Untukmu Saja
Bersamamu ku bahagia.. Walau hidup sederhana.
Bersamamu ku bahagia.. Walau hidup sederhana.
Engkau istri yang halal.. Janganlah tergoda syaitan
Walaupun banyak rayuan.. Yang s'lalu jadi rintangan
Harapan ku Hanya satu.. Setia mu kepadaku
Susah senang ku kan selalu.. Bersama dengan dirimu.
Engkaulah seorang Istri.. Yang selalu aku banggakan
Hariku siang dan malam.. Hanyalah untukmu sayang
Resah dan gelisah di hati.. Bercampur jadi satu
Pabila dirimu sedang.. Tak lagi ada di samping ku
Ku hanya bisa berdoa.. Kepada Allah ta'ala
Semoga dirimu tetap.. Didalam perlindungan-Nya
Keringatku demi cinta.. Kasihku Untukmu Saja
Bersamamu ku bahagia.. Walau hidup sederhana.
Keringatku demi cinta.. Kasihku Untukmu Saja
Bersamamu ku bahagia.. Walau hidup sederhana.
Setiap kata yang keluar dari mulut Hans membuat hati Ulya terasa sejuk. Azril tidak bohong suara kakak sulungnya memang bagus, suami dari Ulya Hanifa.
Posisi Ulya yang tidur berbantal paham suaminya sambil mengedar shalawat sang suami. Membuat Ulya melingkarkan tangannya di perut Hans, sambil menenggelamkan kepalanya di perut Hans membuat laki-laki itu terkekeh geli melihat tingkah sang istri.
"Sura Mas bagus sekali." Puji Ulya setelah Hans menyelesaikan shalawatnya.
"Sekarang ayo kita turun, kamu belum makan dari tadi, sayang." Hans baru ingat jika istrinya belum mengisi perutnya.
Ulya tak membantah dia segera mengganti bajunya dengan gamis panjang dan hijab panjang yang menutupi seluruh dadanya. Setelah Ulya lebih rapi baru sepasang suami istri itu keluar dari kamar mereka.
"Aditya dimana, Mas?"
Begitulah Ulya, dia tidak akan pernah sekalipun melupakan Aditya. "Kata Azril tidur di kamar, abis nangis dia nggak mau pisah sama Erisa."
"Ada-ada saja, aku ke kamar Aditya dulu Mas. Mas duluan saja tidak apa."
"Mas juga mau ikut kamu."
Akhirnya sepasang suami istri itu menuju kamar anak mereka. Sampai di kamar Aditya yang jaraknya hanya terpisah satu kamar dengan kamar Hans. Mereka segera masuk rupanya Aditya sedang melakukan salat ashar. Melihat hal itu Ulya dan Hans saling pandang.
"Masya Allah." Ucap keduanya.
'Lihat Rama, Jeni. Anak kalian tumbuh menjadi seorang anak laki-laki yang soleh." Ujar Hans dalam benaknya, dia sangat terharu melihat apa yang Aditya lakukan.
"Mommy, daddy." Ucap Aditya setelah selesai salat dan berdoa melihat kehadiran kedua orang tua sambungnya.
"Anak mommy, rajin sekali. Jadi anak soleh sayang."
"Aamiin." Jawab Aditya dan Hans. Memang paling dianjurkan mengatakan hal baik-baik untuk anak kecil, walaupun dia sangat nakal sekalipun.
"Ayo kita keluar, Aditya pasti belum makan. Tapi sebelum itu kamu kok sudah wangi sayang, siapa yang membantu kamu mandi?" heran Ulya, pasalnya di kamar Aditya tidak ada siapa-siapa selain Aditya sendiri.
"Aditya sendiri mom, ayo kita turun untuk makan, aku sudah lapar. Tadi habis menangis."
"Jagoan daddy kenapa bisa menangis, hmmm."
"Maaf daddy, tadi Aditya masih acyik mani cama Erica. Dia malah pulang, kan. Aditya masih mau main." Aditya terduduk merasa takut pada Hans.
"Tidak apa, besok bukan bisa bertemu lagi dengan Erisa bisa bermain bersama dengan kawan-kawan lain juga." Hans memberikan pengertian pada putranya.
"Daddy tahu tidak, tadi Aditya lihat Erisa bawa adiknya. Aditya juga mau adik boleh?" bola mata Aditya berbinar saat mengatakan ingin punya Adik.
"Boleh, tapi nanti kalau sudah dikasih sama Allah. Daddy sama mommy sudah berusaha."
"Yee! Aditya tadi berdoa cama Allah biar cepat punya adik kayak Erica."