
Bismillahirrohmanirrohim
بسم الله الر حمن الر حيم
Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad.
اللهم صلي عل سيدن محمد و عل ال سيدن محمد.
Tok...Tok...Tok....!
"Daddy, Daddy, Daddy! buka pintunya." Aditya mengetuk pintu kamar tempat Ulya dan Hans tidur bersama Erisa berulang kali.
"Daddy...Daddy...Daddy!" Erisa ikut memanggil Hans seperti yang Aditya lakukan.
Tok...Tok...Tok...
"Buka pintunya Daddy! Aditya mau Mommy," ucapnya sekali lagi.
Aditya berdiri di depan pintu kamar tempat kedua orang tuanya beristirahat, kedua tangannya berada di atas perut jangan lupakan tatapan tajam Aditya yang menatap pintu kamar, lalu pipinya yang sudah mengebung besar tanda dia marah. Juga sudah memerah.
Erisa, anak perempuan itu yang melihat wajah lucu Aditya malah jadi tertawa, tatapanya jadi tidak fokus pada pintu kamar di depannya.
"Aditya wajah kamu jelek sekali," ucap Erisa menahan tawanya.
Dia tidak ingin ketahuan menertawakan Aditya di depan orangnya, karena kalau Erisa melakukan hal tersebut pasti Aditya akan menyemprotnya habis-habisan. Jika bersama Erisa, Aditya berubah menjadi anak laki-laki yang sangat cerewat. Lebih cerewet dari biasanya.
Hahaha!
Akhirnya Erisa tertawa juga melihat ekspresi Aditya, apalagi saat melotot kearahnya.
"Ada apa, Erisa? Kamu ketawain Aditya!" sebalnya tidak terima.
Satu tangan Erisa terangkat sambil melambai tepat di wajah Aditya, sementara satu tanganya lagi memegang perutnya sendiri.
"Tidak ada yang tertawa kok, hahaha! heheheh," dia bicara tidak ada yang tertawa tapi dia malah tetap tertawa.
"Erisa!" Aditya tidak terima, dia menghentakan kakinya di lantai.
"Jangan tertawa Erisa, kalau masih tertawa Aditya marahni sama Erisa," ancam Aditya.
"Siapa yang marah Aditya, tidak ada yang marah kok. Elisa juga tidak menertawakan Aditya bener deh."
Sampai Erisa mengangkat kedua tangannya lalu menatap polos Aditya yang pipinya semakin mengembung.
"Bohong dosa Erisa."
"Elisa tahu kok, kalau bohong dosa! tapi muka Aditya lucu sekali. Hahahaha!"
Akhirnya Erisa kembali tertawa terbahak-bahak membuat Aditya semakin menatap sebal dirinya.
"Erisa jahat! kita tidak temanan lagi gimana,"
"Oke, Elisa tidak mau jadi teman Aditya karena Aditya yang minta!" wajahnya mendongok ke atas.
"Daddy, Mommy. Aditya sudah tidak mau berteman dengan Elisa lagi," adunya pada Hans dan Ulya yang baru saja keluar dari kamar, mereka masih berdiri di depan pintu.
Mendengar perkataan Erisa, Aditya ikut mendongokan kepalanya ke atas dimana kedua orang tuanya sedang menatap mereka berdua.
"Nggak kok Daddy, Mommy bukan begitu maksud Aditya. Aditya tetap mau teman sama Erisa kok, bukan nggak mau temenan lagi," ralatnya buru-buru membenarkan ucapannya yang tadi.
Tidak ada reaksi dari Hans dan Ulya keduanya masih menatap Aditya dan Erisa secara bergantian sambil tangan Ulya mengelus perutnya yang sudah semakin besar.
Berapa menit lalu sebelum Ulya dan Hans keluar dari kamar.
Tok...Tok...Tok...!
"Daddy, Daddy, Daddy! buka pintunya." Hans yang masih tertidur pulas di sebelah istrinya terlonjak kaget, dia langsung bangun dari tidurnya.
"Astagfirullah, bikin kaget saja," keluh Hans buru-buru bangun.
Ternyata sudah waktunya shalat ashar saat hendak membangunkan Ulya tidur, Hans kembali mendengar suara seorang dari balik pintu memanggil dirinya.
Ulya juga rupanya terganggu akhirnya dia segera bangun. "Suara Erisa sam Aditya ya Mas," ucap Ulya sambil membuka matanya.
"Kamu sudah bangun yank," bukannya menjawab pertanyaan sang istri, Hans malah menatap istrinya.
"Mau ngapain?" tanya Ulya kala kesadarannya sudah 100% kembali.
Hans malah tersenyum penuh arti membuat Ulya buru-buru membuka suara.
"Ayo asaran dulu Mas, abis ikut ketemu sama Aditya juga Erisa mereka sudah manggil kita."
"Tapi...."
"Tapi apa? Ingat rumah orang jangan macem-macem," setelah Ulya mengatakan seperti ini mereka berdua malah mendengar keributan dari luar.
Benar, itu suara Aditya dan Erisa yang tengah berdebat masalah wajah Aditya. Ulya yang mendengar perdebatan mereka hanya menggelengkan kepala pelan.
"Apa tidak ada yang memisahkan mereka, kemana Eris?" ucap Hans pada diri sendiri, tapi Ulya yang berada di sebelah suaminya malah tersenyum.
"Biarkan saja Mas, sekarang ayo shalat abis itu langsung temui mereka takut nanti nggak sempat shalat asar."
Ulya yakin sekali pasti Aditya dan yang lainnya sudah melaksanakan shalat asar, Hans akhirnya menuruti istrinya saja.
"Sudah ayo shalat dulu."
Mereka pun segera melaksanakan shalat asar berjamaah, selesai shalat Hans kiri perdebatan Erisa dan Aditya akan selesai ternyata belum usai juga.
Hans berdiri lebih dulu langsung berjalan ke arah pintu kamar diikuti Ulya yang sudah membereskan bekas shalat mereka. Tangan Hans membuka pintu kamar secara perlahan samapi tidak menimbulkan suara.
Hans dan Ulya menyimak perdebatan Aditya, keduanya sudah berdiri di depan pintu kamar. Hans kira dua bocah di depanya ini tidak menyadari kehadiran mereka, ternyata Erisa menyadari mereka yang sudah berada di depan pintu kamar.
"Erisa jahat! kita tidak temanan lagi gimana," perkataan Aditya yang membuat Hans menundukkan kepalanya untuk menatap sang anak, karena tubuh Aditya dan Erisa masih terlalu pendek sekali.
"Oke, Elisa tidak mau jadi teman Aditya karena Aditya yang minta!"
Hans dan Ulya menyadari wajah Erisa yang mendongok ke atas. Ulya tersenyum melihat Erisa dan anak perempuan itu kembali membuka suara, membuat Hans tak habis pikir dengan kedua bocah di depannya ini.
"Daddy, Mommy. Aditya sudah tidak mau berteman dengan Elisa lagi,"
"Nggak kok Daddy, Mommy bukan begitu maksud Aditya. Aditya tetap mau teman sama Erisa kok, bukan nggak mau temenan lagi,"
Hampir saja Hans tertawa mendengar perkataan Aditya setelahnya yang membela diri sendiri.
"Sudah-sudah tidak baik sesama teman saling ribut, ayo sekarang minta maaf," ucap Ulya pada keduanya.
Akhirnya setelah beberapa detik mereka hanya saling tatap Ulya membuka suara.
Aditya maupun Erisa tidak ada yang ingin minta maaf duluan.
"Ayo dong, tidak baik saling marahan. Sekarang minta maafnya sama-sama." Hans dan Ulya memposisikan tubuh mereka dengan Erisa dan Aditya.
"Daddy, Mommy kita minta maaf telah mengganggu istirahat kalian," ucap keduanya kompak membuat Hans dan Ulya malah saling tatap.
Anggi bersama suaminya yang sedari tadi memperhatikan tingkah Aditya dan Erisa dari tempat lain hanya mampu menggeleng pelan sambil tersenyum.
"Oke, Mommy dan Daddy memaafkan kalian. Sekarang kalian yang harus saling minta maaf paham boy, gril." Aditya dan Erisa mengangguk bersama.
Mereka berdua yang tadi menghadap Ulya dan Hans, kini saling berhadapan.
"Erisa Aditya minta maaf, kita masih teman kok," ucap Aditya mengulurkan tanganya pada Erisa.
"Aditya, Erisa juga minta maaf. Sekarang kita sudah teman lagi," keduanya saling berjabat tangan dan tertawa bersama.
Lalu saling tos!
"Kalian ini ada-ada saja, ayo kita ke tempat ayah sama bunda Erisa. Ada adik bayi juga," ajak Ulya pada keduanya.
(Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa ilaaha illallah, Laa ilaaha illallah, Laa ilaaha illallah. Allhamadulilah, Allhamadulilah, Allhamadulilah. Subhanallah, Subhanallah, Subhanallah.)