
Bismillahirrohmanirrohim.
Sebelum baca jangan lupa bismillah dan shalawat dulu 🤗
بسم الله الر ØÙ…Ù† الر ØÙŠÙ…
Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad.
اللهم صلي عل سيدن Ù…ØÙ…د Ùˆ عل ال سيدن Ù…ØÙ…د.
Waktu makan malam telah tiba semua orang sudah berkumpul di ruang makan, Arion mengedarkan pandangannya menatap satu persatu semua orang yang ada di ruang makan.
Tatapan Arion berheti pada pasangan pengantin baru ini, di meja makan memang ada pengantin baru. Tapi bukan orang baru karena Eris sudah biasa ikut makan malam bersama keluarga Kasa.
Cek!
Decek Arion membuat Aditya yang duduk di sebelahnya menatap heran pada Arion.
"Ada apa, Kak Arion?" tanya Aditya hanya dia yang menyadari gelaget aneh Arion.
"Masih gak nyangka aja gue bojen, ternyata jodoh Mbak gue deket banget hilalhnya, gue kiri bakal ada orang baru ternyata tetap orang yang sama duduk di sebelah Mbak, gue," adu Arion pada Aditya.
Mereka yang mendengar curhatan Arion hanya bisa terkekeh begitu juga Eris, dia saja tak menyangka akan menjadi mantu dari keluarga Kasa.
"Kalau jodoh orang yang tidak bakal ketuker Ar, namanya Mbak Azril sama Kak Eris kalau memang berjadoh dipisah atau diotak atik bagaimana pun mereka akan tetap dipersatukan," sambung Ibu Rida yang diangguki semua orang.
Di ruang makan itu mereka yang ada disana setuju akan apa kata diucapkan oleh ibu Rida.
"Ngomong-ngomong lo panggil Aditya dengan sebutan bojen maksudnya apa?" tanya Fahri penasaran.
Semua orang sibuk membahas Azril dan Eris yang berjadoh, eh, si Om tampan malah salfok ponakannya dipanggil bojen.
"Bocah cilik jenisu Bang," sahut Arion enteng.
Matanya kembali menatap sekeliling melihat semua orang diambilkan nasi oleh pasangan mereka masing-masing, Fahri saja Mamanya sendiri yang menyiapkan dia sendiri terabaikan di meja makan tersebut.
"Ngaukin juga kamu kalau Aditya lebih jenius dari pada kamu, Ar," kata Hans tapi tak digubris Arion.
Dia masih menatap orang-orang di meja makan, bahkan Aditya juga diambilkan oleh Ulya. Bayi Alvan masih tetap di gendongan Mommynya.
"Apa-apaan ini, Mbak gue juga mau diambilin makan dong, masa semua orang dilayani gue kagak sendiri." Arion memasang wajah cemberut membuat mereka tertawa.
"Makanya nikah Ar," celetuk Fahri, tidak sadar kalau dia sendang membicarkan diri sendiri.
"Sembarangan!" ucap Azril dan Hans kompak.
"Enak aja adek gue masih sekolah lo suruh nikah Bang, gak ada ya nikah-nikahan masih sekolah belajar yang bener," tegas Hans.
"Selain itu dilarang pacaran juga! ingat Ar dilarangan pacaran, kalau kamu tinggal di asrama sekolah ketahuan pacaran awas saja kamu," sambung Azril tak mau kalah.
Leka dan Milda tersenyum melihat kepedulian anak-anak mereka pada saudara sendiri.
"Tuh dengar apa kata kakak-kakakku tercinta Bang Fahri, lagian ngapain Arion yang nikah duluan Bang Fahri dulu dong, kapan sebar undangan gue tunggu, lagian abang juga yang ambil nasi masih Mama Rida, kalau Arion duduk di sampaing mama juga bakali diambilni kok nasi sama lauknya," goda Fahri.
"Nah, kena kan lo Bang. Makanya kalau ngomong hati-hati semua bakal balik ke Abang sendiri, apalagi sama Arion jangan dilawan dah." Ulya juga ikut menimpali tapi dia bicara tak menatap lawan bicaranya karena fokus pada sang anak.
Fahri mendongakkan kepalanya menatap Eris, "Lo juga mau ngatain gue kagak Er?" aneh sekali Abangnya Ulya ini malah menawarkan diri untuk menjadi bahan olokkan.
"Kagak gue Bang, gue doain aja semoga lo cepet ketemu jodohnya," ucap Eris terlihat sungguh-sungguh.
"Aamiin," mereka semua mengucap amiin kompak membuat Fahri salah tingkah dibuatnya, dia malah malukan jadinya.
"Doa pengantin baru nih Bang, semoga diijabah buat Lo, gue bilang amin piling kencang dengan sangat ikhlas," iya Hans ngomong begitu, tapi wajahnya itu loh seperti mengejek pada ipar sendiri.
"Walaupun ini rumah lo, Hans. Lama-lama sendok gue melayang juga kemuka lo baru tau rasa lo," kesel Fahri.
Lagi-lagi mereka tertawa, jadi suasana di ruang makan terlihat hidup, Ibu Rida yang sudah lama tak merasakan hal seperti ini merasa bahagia, di dalam benaknya beliau juga ikut mendoakan semoga anak sulungnya itu cepat dipertemukan dengan jodohnya.
"Oh iya, besok saya dan Fahri sudah akan kembali ke kampung Bu Milda, pak Leka," ucap ibu Rida ingat akan hal penting ini.
"Kok cepat banget Ma," bukan Milda maupun Leka yang menjawab melainkan putri satu-satunya Ibu Rida.
Ulya seakan tidak rela kalau ditinggal Mama dan Abangnya secepat ini.
"Maafkan Mama sayang, sebenarnya Mama ingin lebih lama lagi di kota tapi tidak biasa," ucap Milda menatap tak enak pada putrinya.
Hans mengelus pucuk kepala sang istri juga memegang lebut tangan Ulya. "Tak apa sayang nanti kita bisa menyusul Mama sang Bang Fahri, kita berkunjung kesana," ujar Hans memberi pengertian pada Ulya.
"Betul Mbak Lia, kita bisa rame-ramen nanti nyusul Mama sama Bang Fahri ke desa." Azril menyahut antusias, Eris yang melihat istrinya tersenyum senang ikut merasa bahagia.
"Betul apa yang dibilang Hans sama Azril, Lia kalian bisa nanti nyusul Mama Rida sama Fahri disana." Milda buka suara ikut diangguki oleh Leka setuju dengan usul semua orang.
"Tuh, dengar kata suami, adik ipar sama mertua jangan sedih adikku tersayang," ledek Fahri lagi-lagi membuat mereka terkekeh.
"Iya Abangku sayang, Lia juga dengar," jawabnya sebal.
"Aditya juga mau ikut boleh?" celetuknya.
"Boleh cil pasti, sayangnya gue nggak bisa ikut," keluh Arion karena dia sudah tinggal di asrama sekolah jadi tidak bisa bebas.
"Kasihan," sambung Aditya.
"Ohh, iya Er. Lusa kamu sama Azril berkunjung ke pesantren AN-Nur jangan lupa izin bawa pulang Azril untuk seterusnya sama Kyai Halim, bilangnya yang sopan. Beliau itu sudah jadi Papa kedua untuk Azril," pesan Leka pada menatu laki-lakinya.
"Insya Allah, Pa."
Waktu bergulir.
Selesai makan malam mereka sudah kembali ke kamar masing-masing setelah meletakkan bayi Alvan di boxnya, Ulya memeriksa keadaan Aditya terlebih dahulu sebelum tidur.
"Loh, Aditya mau tidur sama Abang?" tanya Ulya melihat Fahri sudah berada di kamar Aditya.
Hans dan Ulya sudah bergantian menemui Aditya sebelum tidur. Tadi Hans sudah menemui Aditya lebih dulu sebelum istrinya.
"Iya Mom, Aditya mau tidur sama Om tampan besokkan Om tampan tidak tidur di rumah sini lagi," bukan Fahri yang menjawab tapi Aditya, Fahri hanya menyengir pada adiknya itu.
"Gak papa lo tidur sama anak Lia Bang, tapi inget jangan diganggu Aditya nya."
"Siap ibu negara."
Di kamar lain, lebih tepatnya kamar pengantin baru itu Azril dan Eris masih duduk bersama di atas karus queen bad berwarna coklat itu.
Eris menatap dalam istrinya, dia seperti ingin bicara sesuatu pada sang istri tapi terlihat ragu.
"Dek Mas...," ucap Eris masih benar-benar ragu.