Kasih Sayang Untuk Aditya

Kasih Sayang Untuk Aditya
Bab 73


Bismillahirrohmanirrohim.


Siang hari yang cerah seperti biasa Ulya bersama Papanya sedang jalan-jalan disekitar tempat tinggal mereka, bahkan dari pagi ayah dan anak itu sudah mengelilingi daerah di kota timur kota B, tempat mereka tinggal. Dengan berjalan kaki mereka pergi, mereka hanya mendatangi tempat-tempat yang mereka tahu.


Setiap hari libur Papa Ulya akan meluangkan waktunya untuk putri bungsunya juga anak laki-lakinya. Walaupun Ulya dan Fahri sudah besar perhatian kecil selalu diberikan oleh Pak Guntur untuk putra dan putrinya.


Bisanya beliau akan mengajar Fahri dan Ulya bela diri jika hari libur. Karena hari ini Ulya ingin lari pagi bersama sang papa, jadi jadwal mereka untuk latihan bela diri diganti sore hari nanti.


"Pa, kenapa sih papa suka olahraga?" tanya Ulya.


Kini mereka sudah kembali berjalan pulang setelah mengisi perut yang terasa lapar, nanti sampai rumah mereka pasti akan kembali mengisi perut karena mama Rida sudah masak untuk mereka. Masakan yang selalu enak dimulut.


"Olahraga itu biar sehat, lihat papa anak-anaknya sudah pada besar tapi masih terlihat sehat bukan."


"Selain Papa suka olahraga Papa jugakan pintar beladiri siapa yang ajarin Pa?"


"Almarhum kakek kamu sama almarhumah nenek kamu."


Bola mata Ulya membola sempurna mengatahui nenek dan kakeknya yang sudah tiada sama-sama jago bela diri. Ulya mendengar ceriat papanya sungguh takjub. Dengan nenek dan kakeknya.


"Pasti seru mereka bisa latihan sama-sama. Sayang Ulya belum pernah ketemu mereka." Ucap Ulya, otaknya sambil membayangkan bagaimana pasangan nenek dan kakeknya saat itu mereka masih bersama-sama hidup di dunia ini.


"Doakan saja untuk mereka yang telah tiada." Balas pak Guntur.


"Tolong....Tolong...Tolong..." Teriak seorang dari kejauhan, masih terdengar di telinga Ulya dan sang papa. Pendengaran mereka benar-benar tajam.


Memasuki jalan yang sepi memang Ulya juga pak Guntur jika pulang olahraga suka melewati jalan sepi tersebut karena lebih dekat sampai di rumah mereka.


Ulya menoleh pada papanya begitu juga pak Guntur. "Papa denger?" Pak Guntur mengangguk.


"Ayo kita cari Lia." Ajak pak guntur pada putri bungsunya yang masih duduk dibanguk SMA.


Mereka segera mencari suara perempuan yang teriak minta tolong. Ulya dan papanya menyusuri setiap tempat di jalan sepi tersebut. Sampai samar-samar dari kejauhan Ulya melihat seorang perempuan tengah menggendong bayi dihadang banyak premana. Ulya tahu para perman itu memang selalu menjegat orang-orang yang lewat jalan sepi ini.


"Pa, itu orangnya." Teriak Ulya pada sang papa.


Tanpa banyak bicara lagi Ulya bersama pak Guntur mendekati perempuan yang meminta tolong tadi telah dihadang oleh delapan perman sekaligus.


"Pa, hati-hati mereka pasti bawa senjata tajam." Bisik Ulya pada sang papa. Pak Guntur mengangguk tanda beliau tahu.


"Woi!"


Para preman itu mencari sumber suara mereka tersenyum kecut melihat kehadiran pak Guntur orang yang selalu menggagalkan aksi mereka.


"Orang ini lagi, kali ini jangan beri ampun! kalau tidak kita bisa kehilangan mangsa kita." Ucap seorang pereman pada yang lainnya.


Dengan gerak cepat Ulya menarik perempuan tadi kesisinya. Sampai para perman itu tidak melihat pergerakan Ulya.


"Mbak tidak apa?" orang itu menggeleng lemah. "Mbak kok bisa sampai disini."


"Saya tersesat mengikuti gps." Cicitnya sudah merasa sedikit tenang ada yang menolong dirinya.


Serang!


"Gimana ini Pa?" tanya Ulya sambil terus waspada.


"Kamu pergi bawa mbak itu Lia, kasihan bayinya. Jangan lupa hubungi polisi, merekan semua papa yang urus."


"Tapi Pa, Lia nggak mungkin tinggalin papa sendirian disini." Ulya menatap khawatir pada pak Guntur.


"Tidak ada pilihan lain Lia, cepat pergi dari sini atau kita semua tidak ada yang selamat!"


Berat rasanya Ulya meninggalkan sang papa melawan delapan perman ini sendirian. Tapi dia membenarkan apa kata papanya, jika dia tidak segera menghubungi polisi mereka semua tidak mungkin selamat apalagi ada bayi diantara mereka.


Akhirnya Ulya membawa pergi ibu dan anak itu, pak Guntur trus menghalangi mereka semua yang hendak mengejar Ulya.


Srek!


Duk!


Diperut beliau sudah terkena tusukan pisau, beliau masih bisa bertahan untuk melawan mereka semua. Sampai setelah kepergian Ulya sepuluh menit lalu para polisi akhirnya tiba. Semua perman yang selalu meresahkan warga segera ditangkap. Pak Guntur menghela nafas lega setelah polisi menangani para perman ini.


"Alhamdulillah." Ucap beliau yang terlihat linglung.


Bruk!


"Papa!" teriak Ulya yang melihat papanya pingsan, darah segera terus mengalir dari perut sang papa juga bagian tangan sebelah kiri beliau.


Posisi membawa pak Guntur ke rumah sakit bersama Ulya juga ikut. Perempuan bernama Jeni yang ditolong Ulya dan papanya tadi ikut serta ke rumah sakit bersama bayinya.


Sampai di rumah sakit dokter segera menangani pak Guntur yang sudah bersimbah darah.


"Maafkan saya, karena saya papa kamu masuk rumah sakit." Sesal Jeni.


"Ini bukan salah mbak Jeni, semua ini takdir yang sudah ada. Allhamadulilah mbak Jeni sama anak mbak selamat." Ucap Ulya tulus.


"Saya sangat berterima kasih banyak sama Papa, kamu dan kamu, Lia."


Waktu bergulir setelah semuanya selesai pak Guntur Allhamadulilah masih selamat walaupun terluka parah. Setelah bertemu dengan seluruh keluarga Ulya untuk meminta maaf dan mengucapkan terima kasih Jeni harus pergi dari daerah tersebut. Sebagai tanggungjawab Jeni membayar semua biaya rumah sakit pak guntur.


Sebelum pergi Jeni meminta foto Ulya untuk kenangan, dia berharap mereka bisa bertemu lagi. Ditambah keluarga Ulya sangat baik pada dirinya dan sang anak. Akhirnya Ulya memberikan fotonya yang selalu tersimpan dalam dompet pada Jeni. Foto berukuran segi empat tidak terlalu kecil juga tidak terlalu besar.


Sejak hari itu Ulya sering berkomunikasi pada Jeni tapi tak berlangsung lama. Setelah pak Guntur sembuh mereka memutuskan untuk pindah rumah, pindan daerah juga walaupun masih di kota B.


Setelah pindah lagi-lagi kecelakaan menimpa keluarga Ulya, tapi hanya Ulya yang kena sampai gadis yang baru saja akan duduk dibangku kelas 11 SMA itu hilang separuh ingatannya, hanya sedikit tidak banyak.


Setelah dua tahun pindah rumah, Fahri yang baru lulus kuliah telah membuka usaha bengekal sudah berjalan Lima bulan, Ibu Rida memutuskan untuk membuka butik. Usaha mereka lancar sampai satu tahun kemudian dimana puncaknya keluarga Ulya berdua, pak Guntur telah dipanggil oleh Sang Kuasa.


Tepat disaat satu hari setelah hari kelulusan Ulya. Mereka tidak bisa apa-apa selain ikhlas. Tapi semua kejadian itu membuat Ulya akhirnya selalu takut kehilangan seorang yang sangat berharga untuk dirinya.


"Papa.... Jangan tinggalin Lia Pa."


"Mbak Jeni.... Mbak Jeni baik-baik sajakan? Bayi mbak juga baikkan?"


"Papa...."