Kasih Sayang Untuk Aditya

Kasih Sayang Untuk Aditya
Bab 93


Bismillahirrohmanirrohim


بسم الله الر حمن الر حيم


Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad.


اللهم صلي عل سيدن محمد و عل ال سيدن محمد.


Waktu magrib telah tiba orang-orang yang ada di masjid selesai shalat magrib tidak langsung pergi, mereka ingin menyaksikan Eris yang akan mengucap akad nikah untuk menjadikan Azril sebagai pendamping hidupnya.


Eris dan Leka sudah duduk saling berhadapan. Benar, Tuan Leka sendiri yang akan menikahi putrinya. Di sebelah beliau duduk Kyai Halim yang selalu terlihat dengan wajah tenang beliau.


"Apa kita mulai sekarang?" Leka mengangguk yakin sebagai jawaban pertanyaan dari Kyai Halim.


Calon mantu dan calon mertuanya sudah saling berjabat tangan.


“Ankahtuka wa zawwajtuka Eris Zakir Amir bin Almarhumah Tama makhtubataka binti Saqila Azril Kasa binti Leka Kasa alal mahri asyarotun jiromatun minad dzahabi ma'a surati Al-mulk hallan.”


Di pesantren AN-Nur jika ada seorang yang menikah memang diwajibkan akad nikahnya menggunakan bahasa arab. Allhamadulilah nya Eris bisa melakukan akad dengan bahasa arab.


"Qabiltu nikahaha wa tazwijaha Saqila Azril Kasa binti Leka Kasa alal mahril madzkur wa radhiitu bihi, wallahu waliyu taufiq." 


"Kayf takun alshuhud sahihatan? (Bagimana para saksi sah?)" tanya Kyai Halim pada seluruh saksi yang hadir.


"Shareiun." (Sah)


Bersamaan dengan itu seisi masjid ikut mengucapkan kata sah dalam bahasa arab.


"Shareiun." (Sah)


"Allhamadulilah, Nak Eris sekarang kamu sudah menjadi seorang suami, bahagiakan selalu istrimu dan bimbing dia ke surga-Nya."


"Insya Allah, Kyai." Eris cepat menimpali nasihat dari Kyai Halim.


Lalu dilanjut dengan doa yang dipanjatkan oleh Kyai Halim untuk sepasang pengganti baru magrib ini.


Waktu setelah magrib adalah saksi sesungguhnya Azril sudah menjadi istri Eris mereka telah terikat dengan kata 'pernikahan'


Tes!


Tanpa terasa air mata mengalir di sudut mata Azril, sekarang dia sudah sah menjadi seorang istri Eris. Sebelum ada yang menyadari air matanya dia segera menghapus air mata tersebut.


Selesai Kyai Halim memanjatkan doa, Azril yang tadi belum duduk di sebelah Eris kini sudah duduk di samping suaminya.


"Sekarang boleh mencium tangan suamimu, Az," ucap Leka pada putrinya.


Eris menatap teduh Azril, sekarang dia bisa menatap orang yang dia cintai tidak lagi menjadi dosa melainkan telah menjadi pahala untuk keduanya.


"Papa titip Azril sama kamu, Er. Tapi ingat jangan sekalipun kamu sakiti putri Papa, Papa memilihmu sebagai pendamping hidup Azril bukan karena kedekatan yang ada melainkan Papa yakin Insya Allah kamu orang yang tepat untuk menjadi pendamping hidup Azril, jadi jaga amahan yang papa berikan jangan membuat Papa kecewa."


"Insya Allah, Pa. Eris akan selalu membahagiakan Azri," jawab Eris mantap tanpa ada keraguan sedikitpun.


Kali ini acaranya dilanjutkan dengan Eris yang membacakan ayat suci Al-quran surah Al-mulk sebagai salah satu maskawi untuk Azril.


"Audzubillahiminas syaiton nirojim......Bismillahirohmanirohim......"


Baru saja Eris mulai dengan ta'awud semua orang terpaku mendengar suara suami Azril termasuk Azril sendiri. Dia tidak menyangka selama ini Eris memiliki suara yang indah.


Kedua mata Azril kembali berkaca-kaca, mengetahui sang suami yang bisa banyak tahu tentang agama walaupun tidak perahan tinggal di pesantren. Tuan Leka pun tidak menyangka jika Eris memiliki suara emas.


'Masya Allah, kamu membuatku semakin mengagumi dirimu Kak,' batin Azril.


Di sudut sebelah kiri bagian santri putra ada seorang yang hampir berkaca-kaca melihat Azril sudah menjadi milik orang lain.


'Dia memang bukan jodohmu Revandra, kamu juga terlambat bergerak cepat sampai kini seorang yang kamu sebut dalam doamu telah menjadi milik orang lain.' Batin laki-laki tersebut yang merupakan santri putra.


Tentu saja Tuan Leka ingin mencari tahu lebih dulu siapa pelaku yang telah menjebak putrinya dan Eris.


Karena waktu isya sudah masuk jadi acara akad Azril dan Eris dilanjutkan dengan shalat isya berjamah.


"Mau kemana Ning? sebentar lagi shalatnya akan segera dimulai," ucap Azril pada Mei yang hendak keluar dari masjid.


"Saya batal Mbak heheh. Biar cepet saya mau wudhu di tempat santri putri saja, saya pergi dulu Mbak, Assalamualikum," pamit Ning Mei sambil berlalu keluar dari masjid.


"Wa'alaikumsalam," jawab Azril pelan.


Dari tadi Ning Mei yang menemani Azril dari sebelum ijab sampai Azril telah menjadi seorang istri.


Baru 3 menit Ning Mei keluar dari dalam masjid shalat Isya di masjid telah didirikan.


"Akhirnya rencanaku berhasil, benar apa saya bilang Mbak kalau laki-laki itu bukan mahram Azril sekarang mereka sudah menikah jadi tidak ada lagi penghalang untuk aku bisa mendapatkan ustadz Revandra."


Deg!


Ning Mei mematung di tempatnya kala mendengar suara dua orang di dalam toilet santri putri dia mengenal suara itu, tanpa pikir panjang Ning Mei segera mereka obrolan keduanya.


"Astagfirullah, jadi semua ini rencana Mbak Lisa dan Mbak Mira!" geram Ning Mei.


"Lihat saja Mbak kalian akan mendapatkan sangsi yang setimpal! Aku memang setuju Mbak Azril dan kak Eris menikah, tapi tidak dengan cara difitnah." Mei merasa geram dengan kedua santri yang sudah mendapat title ustadzah di pesantren AN-Nur.


Tak mendengar suara dari dalam toilet lagi Ning Mei bergegas mengambil air wudhu setelah itu bergegas pergi, entah kebetulan atau bagaimana dia yang tidak pernah membawa ponselnya, saat acara tadi Ning Mei membawanya.


Sebenarnya tidak masalah dia ketahuan juga tapi nanti tak akan menjadi kejutan lagi.


Waktu bergulir.


Jam sudah menunjukkan 9 : 30 tapi Umi Aliza bersama Ning Mei masih mengumpulkan beberapa santir putri Azril juga ada disana.


"Apa maksudnya ini Ustadzah Lia, Ustadzah Mira! Kenapan kalian tega memfitnah teman sendiri! kenapa apa salah Mbak Azril pada kalian?" tanya Umi Aliza dengan hati-hati.


"Jawab saja pertanyaan Umi, Ustadzah, kalau tidak mau biar saya yang menjawab rekaman itu saya sendiri yang dapat tadi saat shalat isya!" tegas Mei sudah kepalang geram.


"Sabar Nak," tegur sang umi.


Lisa dan Mira menunduk diam, Umi Aliza masih menunggu kedua santai putri ini membuka suara. Azril menenangkan Ning Mei yang sudah terbakar emosi.


"Afwan Umi ini rencana saya," Lisa membuka suara semakin menunduk dalam.


"Kenapa Ustadzah?"


"Saya mencintai Ustadz Revandra, Umi. Saya tidak ingin Mbak Azril bersama Ustadz Revandra."


Revandra adalah santri putra kepercayaan dan juga sebagai tangan kanan Kyai Halim banyak santri putri yang menyukainya termasuk Lisa.


"Astagfirullah!" kaget Umi Aliza, Mei dan Azril.


"Mbak tahu bukan kalau jodoh itu sudah ditentukan oleh Allah, lalu dari mana Mbak tahu jika Mbak Azril menyukai kang Revan?"


"Saya pikir Mbak Azril menyukai ustadz Revandra, Umi."


"Afwan Umi menyela, saya memang sudah lama menyukai seorang tapi bukan kang Revan!"


"Lalu siapa Mbak." Lisa kini mengangkat kepalanya menatap Azril menunggu jawaban.


"Suami saya," dua kata itu lolos dari mulut Azril.


Entah akan seperti apa rekasi Eris jika dia tahu Azril juga diam-diam menyukai dirinya, mungkin akan terbang ke angkasa raya.