
Bismillahirrohmanirrohim.
"Apa yang terjadi disini?" Hans menatap tajam pada Yulia yang terus saja memberontak, dia baru saja tiba bersama istrinya.
"Hans, ini nggak adil! Kenapa cuman aku yang di penjara sementara Raka nggak."
"Loh, kok nanya sama saya. Tanya sama pihak polisinya lah. Kamu kira saya polisi apa disini!"
"Langsung jebeloskan saja ke penjara pak. Saya juga sangat berterima kasih pihak polisi sudah banyak membantu menyelesaikan masalah ini." Ucap Hans pada seorang komanda polisi.
Raka memang tidak jadi di penjara, dia bebas bersyarat artinya jika Raka terbukti melakukan kejahatan dia akan langsung di penjara. Memang Raka dapat membuktikan jika dirinya tidak bersalah.
"Lepas!" berontak Yulia kala dua orang polisi menyeret paksa dirinya.
"Diamlah mbak! sekali lagi anda memberontak peluru dalam pistol ini akan berpindah ke kaki anda!" ancam seorang polisi tidak main-main.
Yulia sudah di masukan ke dalam sel. Sekarang Raka sudah tidak peduli lagi pada mantan kekasihnya itu. Benar, tadi sampai di kantor polisi Raka langsung memutuskan hubungan dengan Yulia yang sudah terjalin 3 tahun lebih. 3 tahun bukan waktu yang sebentar tapi melihat kelakuan Yulia, Raka jadi merasa malu sendiri.
"Radity terima kasih banyak. Maaf selama ini gue selalu iri sama lo. Lo memang pantas mendapat apa yang lo punya sekarang. Lo dari dulu memang hebat Radity. Mau setelah ini kita berteman?"
"Gue gak pernah ngerasa punya musuh Ka. Selama ini selalu menganggap kalian semua teman waktu di kampus maupun sekarang."
Raka langsung memeluk Hans. Sekarang dia sadar bahwa iri pada orang lain hanya membuat dirinya terus terjerumus dalam masalah yang dia buat sendiri, hanya karena iri, dengki yang tertanam di dalam hatinya.
"Thank Rad," ujarnya melepaskan pelukan mereka. "Apa gue boleh titip salam buat Aditya? Gue dengar sekarang lo yang ngurus dia."
"Insya Allah, Raka. Bagi gue Aditya udah kayak anak gue sendiri." Ucap Hans tanpa sadar jika di sebelahnya masih ada sang istri.
Deg!
'Kayak anak sendiri? Lalu Aditya anak siapa. Ya Allah, sayang Aditya sampai kapanpun akan tetap jadi anak mommy.' Batinya.
Ulya tidak tahu apakah dia harus senang atau sakit hati mendengar kenyataan yang begitu mengejutkan ini. Ada rasa perih di hati Ulya jika Aditya bukan anak kandung Hans, hatinya juga merasa menghangat menerima sebuah kebenaran bahwa Hans bukan seorang duda.
'Lalu dimana orang tua Aditya sekarang? Kenapa aku tidak pernah mendengar orang rumah menyinggungnya.' Ulya terus bertanya-tanya pada diri sendiri atas semua yang dia dengar.
Hans memang sudah lama tahu jika Raka sebelumnya merupakan teman dekat Rama. Bahkan keduanya sahabat yang sangat dekat, Tapi persahabatan mereka tidak berlangsung lama karena mereka sama-sama menyukai perempuan yang sama. Raka juga tau jika Rama mengidap penyakit Thalasemia, tapi dia tidak tahu jika Rama memiliki saudara kembar sehingga membuat Raka sangat membenci Hans karena tidak tahu siapa Hans.
Kembali pada Hans dan Raka juga Ulya yang masih berada di ruang introgasi.
"Mas." Panggil Ulya memberanikan diri untuk bersuara memang sedari tadi dia hanya diam saja di sebelah Hans.
Nyes!
Hati Hans berdesir dia baru ingat jika istrinya sedari tadi sedang berdiri di sebelahnya. "Ya Allah."
"Maksudnya apa, Mas?"
"Nanti mas jelasin ya, Dek. Mas sama keluarga tidak bermaksud apapun menutupi tentang ini dari kamu. Karena kami semua tidak ingin membuat Aditya sedih." Ulya mengangguk patuh, dia percaya pada suaminya pasti tidak berbohong.
"Oh iya, Raka. Kenalin ini istri gue. Pasti dari tadi lo bingung."
"Kapan nikah lo, Radity? Gercep amat selamat buat pernikahan kalian. Saya Raka, maaf atas semua yang terjadi." Ucap Raka sungguh-sungguh pada Ulya.
Mereka hanya mengobrol sebentar lalu Hans dan Ulya segera pamit mereka harus segera kembali ke rumah sakit. Ulya harus menggantikan mamanya yang sedang menjaga Aditya.
Waktu bergulir.
"Assalamualaikum." Ucap keduanya sambil membuka pintu kamar rawat Aditya.
"Wa'alaikumsalam." Ternyata Ibu Rida sedang bermain dengan sang cucu.
Ketika sudah masuk ke dalam kamar rawat Aditya, Ulya menatap lekat wajah bocah laki-laki itu. 'Ya Allah, kenapa hati ini rasanya perih sekali. Mommy janji Aditya, Insya Allah. Akan selalu menyayangimu.'
Bagaimana Ulya tidak merasa hatinya perih melihat kehidupan yang dijalani Aditya. Dia memang terlahir dari orang kaya, tapi sedari kecil Aditya sudah mengidap penyakit mematikan lalu kedua orang tuanya Ulya pun tidak tahu dimana sekarang mereka berada.
'Ternyata memang benar setiap orang memiliki cobaan mereka masing-masing. Orang kaya pun mendapatkan cobaan. Ya Allah semoga aku dan semua keluarga bisa selalu bersyukur atas semua nikmat yang Engaku berikan dimuka bumi ini.Tidak pernah lalaikan terhadap Engaku, Ya Rabb.'
"Mommy!" panggil Aditya melihat Ulya yang melamun.
"Astagfirullah, iya. Sayang." Ulya mendekati Aditya dan langsung mencium sayang anak kecil itu.
Mendapatkan ciuman bertubi-tubi dari mommya, Aditya merasa senang. Setelah itu Ulya menatap sang mama.
"Mama, maaf Ulya sudah menyusahkan, Ma." Dia merasa tidak enak.
"Kamu apa sih, dek! Mama senang jagain cucu mama seru main sama Aditya. Coba oma tanya Aditya mau adik tidak?"
"Mau!" Jawab Aditya mantap tanpa ada keraguan sedikitpun.
Ulya merasa malu sendiri atas pertanyaan mamanya pada Aditya, sedangkan sang suami malah senyum-senyum tidak jelas.
"Iya, mama mau pamit pulang ya. Jangan lupa kasih cucu lagi buat mama."
"Insya Allah, Ma." Jawab Hans cepat. "Mama mau Hans antar?" tawanya setelah itu.
"Tidak usah abangmu sudah jemput mama. Mama pulang dulu. Aditya oma pulang dulu ya, nanti kalau kamu sudah boleh pulang sama dokter minep di rumah oma ya."
"Siap oma!" Aditya mencium tangan ibu Rida dengan sangat takdzim.
"Hati-hati dijalan oma, bilang cama om ganteng bawa mobilnya jangan ngebut-ngebut."
"Pasti sayang, kamu pintar sekali. Oma pamit, Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam." Jawab mereka, Ulya mengantar sang mama sampai depan pintu kamar rawat Aditya.
Melihat mama Rida sudah tidak terlihat lagi Ulya kembali ke dalam untuk menjaga Aditya.
"Mas, nggak kerja?" heran Ulya melihat sang suami belum pergi ke ruang kerjanya.
"Kerja dek, tapi bukan kamu mau ngerjain skripsi? Jadi biar mas jagain Aditya disini. Mas kerja dari sini juga bisa kok. Nanti Eris kesini."
"Tapi apa Aditya nggak papa kalau aku ngerjain skripsi sekarang? Dia nggak bakal bete emang?"
"Tidak mommy, mommy kerjankan caja cekripcinya. Aditya mau temani mommy disini bareng daddy juga." Ujar Aditya sedikit mengerti tentang apa yang dibahas kedua orang dewasa itu.
'Anak ini masih kecil tapi tau saja.' Heran Ulya tak habis pikir.
"Baiklah, terima kasih sayang." Ulya kembali mencium Aditya membuat Hans sedikit kesal karena istrinya tidak peka.
Dia juga ingin mendapatkan hadia dari Ulya seperti Aditya.
"Cudah mom, lihat muka daddy! Cudah merah cemua mau marah tapi tidak bica." Ledek Aditya.