Kasih Sayang Untuk Aditya

Kasih Sayang Untuk Aditya
Bab 95


Bismillahirrohmanirrohim.


Sebelum baca jangan lupa bismillah dan shalawat dulu 🤗


بسم الله الر حمن الر حيم


Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad.


اللهم صلي عل سيدن محمد و عل ال سيدن محمد.


"Mama...Mama....Perut...Lia...Sakit...Ma...." ucapnya pada Ibu Rida sambil memegangi pertu buncitnya.


"Ya Allah, Lia tahan sayang," ucap Ibu Rida segera menolong putrinya.


"Hans cepat siapkan mobil istrimu mau melahirkan!" suruh Milda pada putra sulungnya.


Tanpa pikir panjang Hans segera menggendong tubuh Ulya menuju keluar rumah dikuti yang lain, Ibu Rida berdiri di samping kanan Hans, Milda di samping kiri putranya. Eris sudah berlari membukan pintu mobil untuk mereka.


"Sakit Mas." Ulya menitikan air mata merasa perutnya yang amat sakit.


"Sabar sayang kita akan segera kedokter,"


Tuan Leka dengan cepat langsung menghubungi dokter untuk menyiapkan segala perlengkapan untuk mantunya yang akan melahirkan di rumah sakit.


Semua orang yang berada di ruang tamu ikut pergi ke rumah sakit, Eris yang mengemudikan mobil. Segera menuju rumah sakit.


Sedangkan di mobil satu lagi, Tuan Leka bersama anak dan cucunya menyusul mereka yang sudah lebih dulu diikuti dokter Dika bersama anak istrinya juga.


"Kak Azril, Mommy tidak apa kan?" bola mata Aditya sudah berkaca-kaca.


Benar, dia telah menangis dari di dalam mansion tadi kala melihat sang Mommy merintih kesakitan.


"Insya Allah, Mommy baik-baik saja Aditya. Kita doakan Mommy dan adik yang ada diperut Mommy baik-baik saja." Azril mengelus sayang pipi ponakannya.


Mereka berdua saling berpelukan lalu Arion yang duduk di sebelah Aditya ikut menyusul memeluk Azril dan Aditya. Aditya duduk tepat di tengah-tengah Azril dan Arion.


Tuan Leka duduk di sebelah supir yang fokus mengemudi.


30 menit lebih mereka telah sampai di rumah sakit, dokter juga para suster sudah bersiap menyambut Ulya.


Ibu hamil itu langsung di bawa ke ruang persalinan. "Boleh saya ikut dok?"


"Silahkan Tuan muda Hans, mungkin jika ada suaminya proses melahirkan nyonya muda akan lebih lancar."


Akhirnya Hans ikut masuk sementara yang lain menunggu di luar dengan wajah terlihat cemas, hanya wajah Arion yang sangat terlihat santai karena memang seperti itu ekspresinya setiap saat.


"Tenang Mbak, Insya Allah semuanya berjalan lancar," celetuk Arion melihat Azril yang jalan mondar-mandir.


"Aamiin," sahut mereka semua.


Masing-masing dari mereka melangitkan doa pada Sang Maha Pencipta untuk keselamatan pada Azril dan calon anaknya.


Aditya telah duduk di pangkuan Milda, nenek dan cucu itu terlihat saling menguatkan walaupun keduanya dalam posisi diam.


Di dalam ruang persalinan.


"Kita tunggu pembukaan selanjutnya nyonya muda, sekarang masih pembukaan 8," ucap dokter.


Ulya memang ingin melahirkan secara normal, dia dan suami sudah lama sepakat untuk Ulya melahirkan secara normal tanpa ada operasi, siapa sangka sekarang Ulya sudah pembukaan 8.


"Berapa lama lagi dok?" tanya Hans yang tidak tega melihat sang istri.


"Paling lama bisa sampai 2 jam atau jika lebih cepat hanya menunggu 30 menit," jelas dokter.


"Aku, Insya Allah, akan baik-baik saja, Mas," ucap Ulya dengan suara lirih.


Hans mengangguk yakin dalam benaknya dia juga terus berdoa untuk keselamatan istri dan anaknya sama seperti yang dilakukan semua orang di luar ruangan.


Tangan Hans dan Ulya sudah saling bertatauan, terus saja Hans mencium kening sang istri untuk memberikan kekuatan.


'Ya Allah, lancarkan lah kelahiran anakku. selamatkan istri dan anakku,' batin Hans.


Satu jam berlalu Ulya sudah berada dipembukaan sepuluh. Siapa sangka bisa secepat itu, Ulya telah dipembukan sempurna.


"Allhamadulilah, kita lakukan sekarang nyonya muda, Tuan muda," izin dokter membuat Ulya dan Hans sama-sama mengangguk kompak.


"Bismillah, tolong ikuti intruski saya nyonya muda." Ulye mengangguk lagi.


"Ayo nyonya terus dorong keluar, satu dua tiga."


Hans rasanya tidak tega melihat sang istri, Ulya sampai memegang kuat tangan sang suami meninggalkan bekas disana.


"Kamu bisa sayang sebentar lagi, Allah bersamamu," bisik Hans di telinga Ulya. "Mas ada disini menemaniku, kamu ibu dan istri yang hebat," bisik Hans lagi.


"Ya Allah, Allahu Akbar..."


"Oweek...Oweek...Oweek..."


"Allhamadulilah," ucap mereka semua.


Orang-orang yang ada diluar ruang persalinan Ulya kompak mengucap hamdalah kala mendengar tangis bayi.


"Allhamadulilah," ucap mereka semua.


"Aditya punya adik kak Arion! sekarang Aditya punya adik," bocah itu terlihat bahagia sekali.


Arion langsung mengangkat tubuh Aditya. "Nambah lagi ponakan gue," ucapnya.


Melihat Aditya bahagia semua orang juga ikut terlihat bahagia.


"Allhamadulilah, ponakan gue udah lahir," semua orang menoleh pada sumber suara membuat laki-laki yang baru saja bicara itu hanya mampu tersenyum.


"Assalamualaikum semua,"


"Wa'alaikumsalam,"


"Fahri, kamu disini, Nak."


"Fahri baru sampek Ma, tadi sempat ke mansion tapi kata para pekerja lagi pada di rumah sakit jadi Fahri langsung kesini."


Kembali ke dalam ruang persalinan.


Senyum terukir di wajah Ulya saat melihat tubuh anaknya yang masih berlumur darah, dia menitikan air mata bahagia. Sangat bahagia sekali pokoknya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata lagi.


"Allhamadulilah, terima kasih sayang. Terima kasih sudah mau menjadi Ibu dari anak-anakku." Hans kembali mencium seluruh wajah istrinya.


Ulya tersenyum geli atas tingkah sang suami, dia dan suaminya telah diberi amanah yang sangat luar biasa.


Setelah bayinya dibersihkan dokter langsung memberikan bayi mungil itu pada Hans.


"Selamat Nonya muda, Tuan muda anak kalian laki-laki. Masya Allah tanpan sekali, bibirnya mirip dengan nyonya muda."


Ulya tersenyum," terima kasih dok."


Setelah bayi itu berpindah tangan pada Hans dia segera mengadzani dan iqomah anaknya yang terlihat sangat tampan walaupun baru berapa detik tadi lahir.


Selesai mengadzani anaknya Hans memberikan putra mereka pada Ulya. Perempuan itu menatap lekat putranya.


"Dia juga sedikit mirip Aditya dan kamu, Mas."


"Jelas harus mirip kakaknya." Ulya dan Hans tertawa bersama.


Satu persatu orang masuk ke ruangan itu setelah dokter membereskan semuanya.


"Masya Allah, cucu Grandfa tampan sekali," ucap Tuan Leka langsung menggendong cucunya.


Aditya yang sudah penasaran dengan sang adik, meminta diangkat pada Eris agar bisa melihat adiknya di gendongan sang kakek.


"Lucu sekali adik, Aditya," celetuk bocah itu membuat semua orang tertawa.


Mereka semua bergantian menggendong sikecil dengan hati-hati sampai bayi itu berada di gendongan Fahri.


"Lo udah cocok punya anak Bang," ujar Hans belum sadar entah kapan tiba Abang iparnya ini.


"Wah, benar sekali Fahri kamu sudah cocok jadi seorang ayah. Udah punya calon belum," yang diledek mendengus kesal.


"Jangan dengarkan mereka boy, Om pastikan kamu akan selalu membelas Om tampan ini." Fahri berucap narsis pada bayi mungil itu mengingat Aditya selalu memanggilnya Om tampan.


Siapa sangka sang bayi malah tertawa. "Masya Allah, bayinya ketawa," ucap Azril antusias sekali.


"Lucunya," ucap Eris membuat semua orang menatapnya.


"Maka..."


"Abang kapan sampai?" tanya Ulya sebelum suaminya menggoda adik ipar yang baru sehari.


"Sadar juga kamu, tadi pas bayinya lahri sampai," jawab Fahri memang begitu adanya.