
Bismillahirrohmanirrohim.
"Auh....Sakit sekali kepalaku." Keluhnya.
"Alhamdulillah, kamu sudah sadar Hans. Biar saya periksa dulu." Ujar dokter Dika mulai memeriksa keadaan anak pertama kakaknya.
Hans tidak membantah, dia membiarkan saja apa yang dilakukan oleh dokter Dika. Otaknya masih mencerna apa yang telah terjadi pada dirinya sekarang ini.
"Sekarang jam berapa dok?" tanya Hans pada dokter Dika, setelah dokter Dika selesai mengecek keadaannya.
"Hampir magrib 30 menit lagi." Dokter Dika menjawab sambil melihat jam di tangannya.
"Inalilahiwainalilahirojiu'n, saya belum shalat asar sama dzuhur. Boleh saya shalat dulu dok."
"Boleh asal tetap shalat di dalam ruangan, kamu baru saja sadar Hans, jadi jangan banyak polah dulu. Nanti kalau shalatnya tidak kuat berdiri duduk saja."
"Saya tahu dok."
Dibantu dokter Dika, Hans menuju kamar mandi yang ada di kamar rawatnya saat ini untuk mengambil air wudhu. Setelah Hans selesai mengambil air wudhu dokter Dika kembali membantu Hans untuk berjalan menuju tempat shalat yang sudah disiapakan oleh dokter Dika.
Pamanya ini memang sangat perhatian sekali, Hans melihat tempat shalatnya sudah disiapkan oleh sang paman menyungging senyum tanda terima kasih pada bapak anak dua ini.
"Terima kasih banyak paman."
"Bisa bilang terima kasih juga kamu rupanya, sudah sana shalat sebelum waktu asar berganti magrib jangan lupa qodok shalat dzuhur kamu yang terlewat."
"Baik paman terima kasih atas nasihatnya."
Kala Hans melaksanakan shalat, Dika tidak pergi meninggalkannya di kamar rawat itu sendiri. Dengan sangat telaten Dika menunggu Hans sampai menyelesaikan shalatnya terlebih dahulu.
Selesai Hans shalat dokter Dika masih di tempatnya semula. "Ingat Hans kamu jangan banyak bergerak dulu sebelum bekas jahitan itu mengering."
"Saya tahu paman, pasti paman Dika mengkhawatirkan saya. Boleh saya bertemu Aditya dan istri saya."
Sekarang Hans telah mengingat sepenuhnya, dia baru saja mendonorkan tulang sumsum untuk Aditya. Hans juga ingat saat dia meninggalkan Ulya tadi istrinya itu belum siuman, jadi sekarang Hans mengkhawatirkan mereka. Hans sangat berharap semua baik-baik saja.
"Boleh tapi tidak sekarang, nanti setelah isya kamu baru boleh keluar Hans."
Kali ini Hans tidak dapat membantah pada sang paman, dia harus menurut apa kata dokter tidak boleh membantah memaksa seenaknya saja.
"Baik paman!" patuhnya.
"Bagus juga kamu menjadi orang yang patuh Hans." Mendengar ucapan pamannya Hans hanya mendengus kelas.
"Ingat Hans jangan berani keluar dari kamar rawat ini sebelum saya izinkan, saya harus memeriksa beberapa pasien dulu."
"Iya paman Dika, saya bukan Aditya yang akan kabur paman tenang saja." Ujar Hans sudah mulai bicasa ketus.
"Kalau begini paman tenang meninggalkanmu, saya pergi dulu. Ingat jangan kemana-mana."
Hmmm.
Hans tidak menjawab lagi, kesal pada sang paman akhirnya Hans membelakangi pintu kamar malas jika akan kembali bertemu dengan pamannya yang cerewet itu.
Ceklek! Tak lama setelah kepergian Dika, seorang kembali membuka pintu kamar rawat Hans, membuat Hans mengerang malas, karena dia kira yang datang pamanya lagi.
"Apalagi sih paman Dika! kenapa cepet banget balik lagi kesini. Saya mau sendiri, saya akan mendengarkan pesan paman tadi." Kesal Hans tanpa melihat terlebih dahulu siapa yang datang.
Posisinya masih membelakangi pintu membuat orang yang berada di kamar rawat Hans malah tertawa atas tingkah Hans sendiri.
"Mas." Panggil Ulya dengan suara lembutnya.
Suara Ulya terdengar sangat lembuat di telinga Hans, membuat Hans langsung menoleh pada sumber suara. Melihat istrinya datang bersama nyonya Milda membuat Hans akhirnya tersenyum senang.
"Yank, kamu memang sudah baikan." Ucap Hans memperhatikan istrinya.
"Alhamdulillah, jauh sudah lebih baik dari sebelumnya Mas."
"Mama, Aditya bagaimana keadaannya?" Hans beralih bertanyan sang mama.
"Alhamdulillah, transplantasi tulang sumsumnya berjalan lancar. Sekarang Aditya masih istirahat."
"Alhamdulillah, Ya Allah. Terima kasih banyak." Ucap Hans merasa bersyukur sekali.
Ulya dan nyonya Milda semakin mendekat keranjang tempat Hans istirahat. "Hans mau ketemu Aditya sama Lia tadi, Ma. Tapi belum boleh sama paman Dika, Hans baru boleh keluar setelah isya."
"Turuti apa kata pamanmu, semua yang dia lakukan juga demi kebaikan kamu juga Hans."
"Iya Ma, Hans paham. Tapi sepi aja disini sendiri. Untung Mama sama kamu datang yank." Ucap Hans mencium pipi istrinya.
"Mas!" tegur Ulya.
Dia malu sekali dilihat oleh mertuanya langsung, muka Ulya berubah merah karena malu ulah Hans. Sementara Hans sendiri malah tertawa melihat wajah istrinya yang sudah berbuah mereka. Nyonya Milda yang menyaksikan semua itu tersenyum bahagia, sejak keributan Hans dan Ulya waktu itu, suami istri ini semakin intropesi diri akan rumah tangga mereka.
Sekarang mereka selalu saling berbagi cerita agar kesalah pahaman tidak terjadi lagi diantara mereka.
"Jangan malu yank, orang Mama aja seneng kok lihatnya. Iya kan Ma." Hans malah semakin gencar menggoda sang istri.
"Sudah Hans kasih istri kamu malu."
"Tahu tuh Ma, Mas Hans suka banget godain Lia, kan, Lia malu." Nyonya Milda tertawa mendengar perkataan mantunya.
Waktu bergulir, akhirnya setelah isya tiba juga, Hans bersama istrinya telah melekaskan shalat isya berjamaah. Mereka akan segera menemui Aditya, Fahri dan Erisa sudah menunggu mereka. Milda sudah pulang lebih dulu.
Dibantu Fahri, Ulya menggunakan kuris rodanya, sedangkan Eris membantu bosnya, walaupun Hans tidak menggunakan kursi roda seperti Ulya.
"Assalamualaikum." Salam keempat orang itu.
Aditya sudah sadar sekitar 30 menit yang lalu, tubuhnya masih terlihat lemas walaupun Aditya sudah sadar sepenuhnya.
"Wa'alaikumsalam." Jawab mereka semua yang berada di kamar rawat Aditya.
Hanya ada Azril bersama ibu Rida yang lain sudah pulang.
"Masya Allah, Aditya sayang kamu sudah sadar, Nak." Ulya merasa sangat bahagia.
"Mommy, daddy!" ucap Aditya pelan.
Belum bisa bicara terlalu keras. Ulya dan Hans mendekati Aditya. Ketiganya saling berpelukan membuat mereka yang masih ada di kamar rawat Aditya terharu.
"Kamu buat mommy khawatir sayang." Ujar Ulya langsung membawa Aditya ke dalam pelukannya, Ulya memeluk Aditya sangat pelan.
"Maafkan Aditya, mommy! sudah buat mommy dan adik Aditya khawatir."
"Tidak apa sayang, asal jangan diulangi lagi."
"Insya Allah, mommy."
"Anak daddy harus cepat sehat boy!"
Melihat Aditya sudah sadar seperti sekarang ini, walaupun belum sembuh sepenuhnya membuat Ulya dan Hans merasa jika keadaan mereka berdua sudah jauh lebih baik.
Di kamar rawat Aditya atas permintaan Hans ditambah lagi dua bat hospital untuk Hans dan Ulya. Kamar rawat Aditya memang sangat besar, bahkan ada tempat tidur untuk yang menunggu mereka.
"Mama, Azril sama Eris pulang dulu. Biar malam ini Fahri yang jagain mereka bertiga."
"Tapi Bang, Mama juga mau disini. Di rumah mama sendirian kalau nggak ada kamu."
"Baik ma, Azril sama Eris pulang lah lebih dulu, besok bisa kembali lagi kalian harus istirahat."
"Tapi..."
"Kami pulang bang! titip mbak Lia, Mas Hans sama Aditya." Ucap Azril lebih dulu, padahal Eris belum selesai bicara.
"Mereka urusan Abang, kalian tenang saja."
Tak ada pilihan lain bagi Eris selain pulang bersama Azril.