Kasih Sayang Untuk Aditya

Kasih Sayang Untuk Aditya
Bab 2


Bismillahirohmanirohim.


...Ingatlah, jangan memutuskan sesuatu dengan terburu-buru, pikirkan secara matang-matang. Karean sebuah penyesalan selalu ada diakhir...


Ulya baru ingat, jika dia belum memberi kabar pada kakak laki-lakinya, kalau mama mereka mengalami kecelakaan. Kadang gadis berparas ayu itu memaki dirinya sendiri, karena terlalu sering melupakan sesuatu bahkan hal penting seperti sekarang ini. 


Ulya segera mengambil handphonenya yang dia simpan di dalam tas selempang berwarna hitam miliknya yang sedari tadi melekat di badannya sendiri.


Untuk Ibu Rida, beliau sudah dipindah ke ruang rawat, tadi juga Ulya sudah menunaikan shalat dzuhur terlebih dahulu setelah kepergian Aditya bersama dokter Dika.


"Mama, kapan mama mau buka mata. Maafkan Ulya yang tidak bisa menolong mama saat kejadian naas itu menimpa, Mama." Sesalnya.


Jika mengingat kejadian sekitar jam 10 pagi tadi, Ulya sungguh merasakan sesak sendiri di dadanya. Andai dia saat itu dapat menolong sang mama, andai Ulya bergerak cepat pasti saat ini mamanya tidak akan terbaring lemah di atas brankar rumah sakit. Tapi Ulya tidak ingin selalu berandai-andai, dia tahu semua ini sudah rencana sang Maha Kuasa, jika terus berandai-andai sama saja Ulya seakan tidak menerima takdir Allah.


20 menit berlalu, seorang laki-laki bertubuh tinggi tergesa-gesa menuju ruang rawat  ibu Rida. Ada guratan khawatir yang terlihat jelas di wajah pria itu.


"Lia, Lia, kenapa coba baru kasih kabar." Kesal orang itu.


Karena begitu terburu-buru dia sampai tidak terlalu memperhatikan sekitar.


"Astagfirullah, maaf saya buru-buru." Ucap Fahri-kakak sulung Ulya. Setelah mengucapkan kata maaf dengan laki-laki yang hampir ditabrak tadi, Fahri kembali melangkah mencari kamar rawat mamanya. 


Ceklek!


Pintu kamar rawat ibu Rida dibuka oleh seorang, Ulya langsung menoleh pada pintu itu, dia tahu pasti kakaknya yang datang.


"Abang." Ucapnya segera bangkit menghampiri Fahri yang masih mematung di tempatnya.


Tanpa basa-basi Ulya langsung memeluk kakaknya yang masih mematung di depan pintu. Mendengar suara tangis sang adik Fahri mengelus pucuk kepala adiknya sayang.


"Abang…maaf…hih…maaf…kan…Lia… Lia…nggak…bisa…jaga…mama…" Ucap Ulya terbata-bata karena menangis.


Padahal tadinya Fahri sudah berniat akan memarahi adiknya ini, baru memberi kabar keadaan mama mereka. Tapi melihat adiknya yang menangis tak karuan didekapannya membuat Fahri akhirnya mengurungkan niat untuk memarahi sang adik.


"Sudah jangan menangis lagi, tadi apa kata dokter tentang kondisi, mama?" tanya Fahir melepaskan pelukan keduanya.


"Kata dokter, mama sudah melewati masa kritisnya. Tinggal menunggu mama siuman." 


Adik dan kakak itu berjalan mendekati brankar yang di tempati mama mereka. Wanita yang selalu memberi semangat pada kedua orang tersebut.


"Lia, cuman takut kehilangan mama, bang. Lia belum siap, apalagi setelah kepergian, papa." Ucapnya tertunduk.


Fahri menatap iba pada adiknya, dia ingat betul seberapa terpuruknya sang adik saat tahu papa mereka sudah tiada. Fahri menarik tangan sang adik lembut untuk memberi ketenangan disana. "Percaya sama abang. Insya Allah semua akan baik-baik saja." Ulya mengangguk.


Ulya dan Fahri memutuskan untuk menjaga mama mereka di rumah sakit sampai besok, Fahri juga sempat pulang untuk mengambil pakaian ganti mereka.


****


Pagi-pagi sekali Aditya sudah berada di depan ruang rawat ibu Rida, dia ingin bertemu dengan Ulya. Aditya tidak bisa menunggu mbak Ulya datang sendiri ke kamar rawatnya, takut mbak Ulya telah lupa akan janjinya.


"Astagfirullah, adik kecil ngapain disini?" tanya Fahri, dia baru saja akan membeli sarapan untuk dirinya dan sang adik.


"Mbak Ulya." Ucapnya dingin seakan tidak senang dengan keberadaan Fahri.


"Lia sini, ada yang nyari." Suruh Fahri pada sang adik. Tanpa bertanya pada kakaknya, Ulya langsung saja menghampiri Fahri.


"Masya Allah, Aditya kenapa disini? Mbak Ulya kan sudah bilang akan mengunjungi Aditya."


"Aditya, takut mbak Ulya lupa." Ucapnya sedih.


"Tidak mungkin lupa, Aditya." Ulya mengelus lembut pucuk kepala Aditya, keduanya sama-sama tersenyum.


Sedangkan Fahri sudah pamit pergi untuk membeli sarapan mereka. Dia tahu adiknya itu punya riwayat penyakit lambung jadi Ulya tidak boleh terlambat makan.


"Mbak, boleh Aditya jenguk mama, mbak Lia? Apakah boleh Aditya juga memanggil mbak Ulya dengan cebutan mbak Lia seperti kakak tampan tadi." 


Sungguh Ulya tidak bisa menolak permintaan Aditya, jadi dia hanya mengiakan apa yang Aditya mau, jadilah kedua orang itu masuk ke dalam kamar rawat ibu Rida. Ulya tidak sadar jika sedari tadi ada seorang laki-laki tak jauh dari tempat mereka berada terus memperhatikan interaksi Ulya dan Aditya. Laki-laki itu merasa aneh, karena Aditya bisa dekat dengan perempuan orang asing pula.


"Siapa gadis itu, kenapa Aditya bisa dekat dengan dia." Ucap laki-laki tersebut yang bernama Hans, direktur rumah sakit Harapan Bangsa.


"Lo, kan, lagi cari pengasuh buat Aditya, lebih baik lo jadiin gadis itu kandidat. Gue bisa lihat Aditya ngerasa nyaman sama gadis itu." Usul dokter Dika yang entah datang dari mana.


Hans menaikkan satu alisnya mendengar perkataan Dika. "Mas, tahu?"


"Dari kemarin Aditya sudah bersama gadis itu, emang lo nggak liat senyum Aditya saat bersama gadis cantik berhijab syar'i itu."


"Akan gue pertimbangkan." Sahut Hans berlalu pergi, Dika hanya mampu berdecak melihat kelakuan Hans.


Waktu bergulir.


Dari pagi hingga siang, Hans terus memikirkan usulan yang diajukan oleh adik dari papanya itu. Hans membenarkan usulan Dika, tapi yang jadi masalah apakah gadis berhijab syar'i itu mau menjadi pengasuh Aditya. Dengan semua pemikiran yang masih tertumpuk di kepalanya Hans memutuskan untuk mengecek kondisi sang anak.


Tak butuh waktu lama untuk sampai di kamar rawat Aditya, Hans langsung masuk begitu saja.


Deg!


Dia begitu kaget melihat Aditya bisa tertawa lepas, tidak dingin seperti biasanya. Hans senang melihat Aditya bisa ceria seperti ini.


'Mungkin usulan mas Dika bisa aku ambil.' Batin Hans.


"Daddy." Panggil Aditya, Hans langsung menghampiri Aditya dan Ulya.


"Daddy kenalkan, ini mbak Lia." Ulya mengangguk sopan, jujur dia sedikit takut dengan laki-laki yang Aditya panggil daddy.


"Aditya istirahat oke, sudah waktunya kamu tidur, son. Daddy ingin bicara sebentar sama, mbak Lia." Ucap Hans, Aditya mengangguk patuh, dia memang tidak bisa membantah perkataan daddynya.


Sementara Ulya sudah terkejut takut, akan dimarahi dady dari Aditya. Karena sudah mengajak anak laki-laki itu bermain.


"Ikut saya sebentar." Pinta Hans setelah memastikan Aditya sudah mulai tidur.


Anehnya Ulya tidak dapat menolak perintah Hans, dia mengikuti kemana Hans pergi.


"Langsung saja, apakah kamu mau menjadi pengasuh Aditya? Maaf jika menyinggung dirimu, tapi aku butuh bantuan dari dirimu. Selama ini Aditya tidak pernah dekat dengan orang asing, tapi tidak tahu kenapa dia bisa dekat dengan dirimu. Aku akan memenuhi apapun yang kamu minta, asalkan kamu setuju untuk menjadi pengasuh, Aditya." Ucap Hans panjang lebar tapi tetap dengan nada dinginnya.


Hening…


"Aku setuju, tapi boleh beri aku waktu 3 hari agar lebih pasti lagi dan bisa mengajukan syarat yang aku inginkan." Jawab Ulya setelah berperang dengan otaknya. Hans mengangguk sebagai jawaban setuju.