
Bismillahirrohmanirrohim.
Jangan menyimpulkan sesuatu secara langsung tanpa kita tahu seluk beluk masalahnya terlebih dahulu. Karena terkadang apa yang kita lihat belum tentu sebuah kenyataan yang sebenarnya. Dalam masalah setiap seorang seharusnya membutuhkan penjelasan orang yang bersangkutan, tidak menyimpulkan semuanya sendiri tanpa sebuah kejelasan.
Hampir dua minggu ini Ulya merasa tubuhnya sering sekali merasa cepat lelah, padahal tidak banyak kegiatan yang dia lakukan. Sore setelah membersihkan tubuh Aditya, Ulya segera masuk ke kamarnya untuk bersih-bersih juga. Menyambut sang suami yang sebentar lagi pulang.
"Ya Allah, akhir-akhir ini sering banget ngerasa capek, ada apa sama Lia." Ulya duduk di kuris depan cermin yang ada di kamar mereka setelah membersihkan diri, dia telah berpakaian rapi. sekarang Ulya sedang bicara pada diri sendiri.
"Oh iya, kemarin Ulya, kan, beli vitamin biar tubuh Lia nggak terlalu lemas begini. Tapi vitaminnya Lia tarok mana."
Ulya berusaha mengingat dimana dia meletakkan vitamin yang kemarin baru saja sempat Ulya beli di apotek.
"Ada di dalam tas, minum sekarang saja tubuh Lia udah benar-benar lelah." Putusnya. Terus saja dia bicara sendiri di dalam kamar.
Puas menatap wajahnya sejenak dari cermin, Ulya segera bangkit dari duduknya mengambil vitamanin yang dimaksud tak lupa membawa air untuk minumnya. Ulya kembali duduk di kursi depan cermin setelah menemukan vitamin yang dimaksud olehnya.
"Alhamdulillah, ketemu juga." Ujarnya.
Baru saja Ulya mau minum vitamin yang ada di tanganya kedua bola mata Ulya membolak sempurna, ternyata dia salah membeli vitamin.
"Astagfirullah, salah untung aja belum diminum, ini pil ternyata." Ulya mengehela nafas lega. Dia hanya minum air saja karena merasa haus.
"Mommy!" panggil Aditya dari depan pintu kamar Hans dan Ulya.
"Iya sayang." Jawab Ulya, buru-buru dia menghampiri Aditya setelah membuang satu butir pil yang hampir dia minum dalam kota sampah.
Ulya meninggalkan sepapan pil dan air putih bekasnya yang tidak sempat ditelan barusan di dekat cermin.
Ceklek!
"Aditya, maaf mommy lama meninggalkan Aditya sendiri." Sesal Ulya melihat bocah itu sudah menunggu dirinya di depan pintu kamar.
"Tidak mom, ayo kita ke taman belakang Aditya mau main ayunan." Ajaknya.
"Tapi sebentar lagi daddy pulang. Kita tunggu daddy pulang dulu baru setelah itu main di taman belakang gimana mau."
"Baiklah, ayo turun sekarang." Aditya menggandeng tangan Ulya.
Perempuan itu selalu tersenyum setiap kali Aditya berinisiatif mau menggandeng tanganya terlebih dahulu. Mereka berdua turun menggunakan tangga walaupun di mansion Kasa ada lift. Sampai di lantai bawah Ulya dan Aditya segera menuju keluar rumah untuk menyambut ke pulangan Hans, setiap sore hari memang itulah rutinitas yang dilakukan Ulya dan Aditya.
Dua puluh menit menunggu mobil Hans akhirnya tiba di kediaman Kasa. Melihat anak dan istrinya menyambut dirinya, Hans tersenyum dari dalam mobil. Setelah mobil berhenti buru-buru Hans turun sebelum Eris membukakan pintu untuknya.
Eris menatap heran bosnya itu saat melihat senyum Hans. "Bukan dia sedang marah dari tadi, sekarang kenapa tersenyum." Bingung Eris.
"Eris kau langsung pulang saja."
"Saya mau numpang makan dulu bos."
Hans tidak peduli, dia segera menghampiri Aditya dan Ulya yang sudah menyambut hangat dirinya.
"Assalamualaikum." Salam Hans. Rasa lelah yang tadi Hans rasakan sirnah setelah melihat wajah anak istrinya.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Ulya dan Aditya bergantian menyalami Hans. Ulya mengambil alih tas kerja suaminya.
"Capek banget kelihatannya, Mas." Ujar Ulya merasa kasihan.
"Benar daddy kelihatan lelah cekali." Sambung Aditya menatap lekat wajah daddynya.
"Capek dan lelah daddy hilang setelah sampai rumah melihat senyum kalian, sudah ayo masuk." Ajak Hans.
Mereka bertiga masuk ke dalam rumah bersama. Aditya berjalan di tengah-tengah Ulya dan Hans.
"Cil, ayo ikut." Ajak Arion kala berpapasan dengan keluarga kecil ini.
"Kemana kak?"
"Taman belakang, mau ikut tidak."
"Mau, tapi nanti mommy nyusul ke taman belakang." Ujarnya menatap Ulya sejenak.
"Insya Allah, kamu sama kak Arion dulu, oke." Ulya mengelus lembut pucuk kepala Aditya.
"Ayo." Ajak Arion menarik pelan tangan Aditya.
Hans dan Ulya segera menuju kamar mereka. Sampai di kamar Ulya segera menyiapkan semua kebutuhan suaminya.
"Mas mau langsung mandi?" tanya Ulya memastikan.
"Boleh dek."
"Biar Lia siapkan dulu airnya." Ulya berlalu masuk ke dalam kamar mandi untuk menyaipakan air mandi suaminya.
Sepuluh menit berlalu Ulya sudah keluar dari kamar mandi. "Sudah Mas. San bersih-bersih dulu." Hans mengangguk patuh.
Tak lupa Ulya juga menyiapkan baju ganti suaminya setelah semuanya beres Ulya memutuskan keluar dari kamar mengambil air hangat untuk sang suami. Tak butuh waktu lama bagi Hans untuk membersihkan diri, tak lama Ulya keluar kamar dia sudah selesai membersihkan dirinya.
"Dimana Lia? Tumben tidak ada di kamar, biasanya dia selalu menungguku di kamar."
Melihat sudah ada baju ganti yang disediakan oleh sang istri Hans menyungging senyum. Ulya memang selalu bisa menyenangkan sang sumi. Usai memakai baju lengkap Hans berjalan menuju cerim untuk menyisir rambut seperti biasa.
Netra Hans tak sengaja melihat pil yang hampir Ulya minum tadi. "Obat apa ini." Ujar Hans.
Dia membaca nama obat yang ada di atas nakas. "Pil KB."
Deg....
Rahang Hans mengeras setelah membaca merek pil tersebut. Hatinya terasa sakit bak ditusuk sembilu, kedua bola matanya memerah menahan amarah tiba-tiba menguasai dirinya.
"Pantas saja sampai sekarang dia tidak hamil! Kurang ajar, jadi ini balasan yang diberikan padaku selama setelah semua."
Hans berasumsi Ulya sudah mium pil itu karena ada satu yang berkurang air di dalam gelas juga sisa sedikit.
Brak!
Ceklek.
Tepat saat Hans menggebrak meja di kamarnya Ulya membuka pintu kamar. Melihat suaminya marah tentu saja Ulya terlonjak kaget.
"Astagfirullah, Mas ada apa." Ulya berjalan mendekati suaminya, sambil membawa air hangat.
"Ada apa, kamu bilang!" suara Hans meninggi tidak seperti biasanya.
Deg... Kaki Ulya terasa lemas tubuhnya hampir ambruk, dia sangat kaget ini pertama kalianya Hans bicara dengan nada tinggi pada dirinya. Biasanya Hans akan selalu lembut pada Ulya.
"Mas, istighfar. Bisa bicara baik-baik apa salah Lia."
"Masih nanya apa salah kamu, hah! kamu bisa mengatakan secara langsung padaku Ulya, jika kamu tidak menyukaiku, bahkan tidak ingin mengandung anakku! Bukan memakai cara kotor seperti yang kamu lakukan."
Deg... 'Ya Allah. Apa maksud Mas Hans.' Hati Ulya mencolos mendengarnya.
"Maksud, Mas apa sih. Lia tidak paham." Ulya tetap sabar walaupun suaminya bicara dengan nada kasar.
Cih! Hans berdecit mendengar perkataan istrinya yang pura-pura tidak tahu apapun.
"Lalu ini apa maksudnya, hah! Saya kecewa sama kamu Lia." Hans melempar Pil KB itu tepat di depan muka istrinya.
Bruk!
"Astagfirullah, panas, perih." Hans menabrak tubuh istrinya, sampai air hangat masih sedikit panas yang Ulya bawa tumpah mengenai kakinya lalu satu papan pil yang Hans lempar tepat mengenai mata kiri Ulya.
"Mas tunggu dulu biar Lia jelaskan, Mas! Lia mohon dengar dulu penjelasan Lia. Masa sudah salah paham."
Ulya berusaha mencegah suaminya, tapi Hans seakan tidak peduli, dia tak menghiraukan Ulya lagi. Sementara Ulya hendak mengejar suaminya tapi meraskan kepalanya yang tiba-tiba pusing.
"Mas, Lia mohon dengarkan penjelasan Lia dulu. Mas sudah salah paham sama Lia." Teriak Ulya sekali lagi.
Bruk!
"Liaaa...."
Kalau banyak yang komen kita lanjut!