
Bismillahirrohmanirrohim
بسم الله الر حمن الر حيم
Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad.
اللهم صلي عل سيدن محمد و عل ال سيدن محمد.
"Ada lagikah barang yang ingin kamu beli Aditya?" ucap Eris, ditanganya sudah ada beberapa paper bag belanjaan.
Aditya menghentikan langkahnya berbalik menatap Eris sejenak. "Apakah semua itu berat Om Eris?" Aditya malah balik bertanya.
Seperti orang setengah sadar Eris malah bengong, sedetik kemudian dia tersadar apa yang telah dilakukan. Sadar akan pertanyaan Aditya, Eris cepat menggelengkan kepala.
"Tidak!"
"Tentu saja tidak berat Om Eris, di dalam tiga paper bag itu hanya ada tiga macam barang," ucap Aditya, jangan lupa senyum manisnya yang memiliki arti lain.
Sementara Eris yang mendegar perkataan Aditya tersenyum kecut. "Kamu benar Aditya di dalam tiga paper bang ini memang hanya ada tiga jenis barang." Eris mengangkat tiga paper bag yang ada di tangannya.
"Asal kamu tahu, satu paper bag yang berisi buku sangatlah berat! lagi pula untuk apa kasih kado buku banyak-banyak sih," protes Eris.
Mendengar keluhan Eris, Aditya malah tertawa pelan membuat Eris melotot tak percaya.
"Kenapa ketawa?" protes Eris lagi tidak terima.
"Tidak apa Om Eris, semua buku-buku itu untuk Aditya baca hanya satu yang akan diberikan pada Erisa. Sekarang ayo kita bungkus dulu kadonya."
"Jalan lagi? kapan kita selesainya, sudah hampir 40 menit kita berkeliling di Mall Aditya, Om Eris lelah," keluhnya.
Walaupun Eris mengeluh dia harus tetap mengikuti kemanapun Aditya pergi, kalau tidak bisa bahaya.
"Sekali lagi Om Eris protes. Aku akan bilang pada Kak Azril, jika Om Eris menyukainya," ancam Aditya tidak main-main.
Gleg
Eris sampai tersedak ludah sendiri mendengar ucapan Aditya. Anak kecil ini tahu dari mana jika selama ini dia menyukai adik bosnya sendiri, Eris tiba-tiba jadi merinding sendiri mendengar perkataan Aditya.
Senyum licik muncul di sudut bibir Aditya melihat reaksi Eris yang tidak biasa, seperti orang yang terkejut dan ketakutan.
"Kenapa diam Om? benar bukan Om Eris menyukai Kak Azril," ucap Aditya lagi.
"Nggak!"
"Orang kalau bohong itu ketahuan jelas Om! lihat saja sekarang Om Eris terlihat sangat gugup, benar bukan yang Aditya katakan Om Eris menyukai Kak Azril."
"Tidak Aditya!" bantah Eris untuk yang kedua kalinya.
"Bagus lah jika tidak, nanti kalau ada laki-laki yang mengkhitbah kak Azril, Om Eris berarti tidak akan patah hati," semakin gencar Aditya menyudutkan Eris.
"Memang siapa yang ingin melamar Azril?" satu pertanyaan ini lolos begitu saja dari mulut Eris.
Hahaha!
Aditya bahkan tertawa sembari memegangi perutnya sendiri melihat ekspresi Eris yang tidak dapat dijelaskan lagi kala terkejut.
"Kaget ya Om, Aditya bilangkan misalnya. Sekarang ngaku aja deh, Om Eris suka sama kak Azril kan?" sekali lagi Aditya bertanya untuk memastikan kebenarannya.
Anak kecil ini sudah lama tahu jika Eris menyukai Azril, karena Aditya melihat gerak-geriak tidak biasa pada Eris, setiap kali dekat dengan Azril, Eris terlihat begitu gugup.
"Sebelum Om Eris menjawab pertanyaan kamu, katakan dulu Aditya tahu dari mana jika Om Eris menyukai kak Azril?"
Dengan bertanya seperti itu pada Aditya secara tidak langsung Eris mengakui bahwa dia memang menyukai Azril.
"Aditya tahu dari gerak-gerik Om Eris selama ini itu saja. Gerak-gerik Om jika bersama kak Azril terlalu terlihat jelas jika menyukai kak Azril, benar begitu bukan," jawab Aditya santai.
Sekarang tidak ada yang dapat Eris lakukan selain menganggukkan kepala membenarkan perkataan Aditya jika dia mencintai Azril dalam diam selama ini.
"Tolong Aditya jangan bilang siapa-siapa ini rahasia kita berdua," pinta Eris sangat memohon.
Eris mendengus kesal mendengar jawaban Aditya. Untung mereka sudah selesai membungkus kado untuk Erisa.
"Sekarang ayo balik, Mommy sama Daddy pasti sudah menunggu lama kita," ajak Aditya.
Rasa was-was sekarang benar-benar menghampiri Eris, benar kata Aditya. Mulut anak-anak belum tentu bisa mengaja rahasia, kalau Aditya keceplosan sekali saja. Habis sudah dirinya oleh Hans.
"Tidak usah dipikirkan Om, Om Eris tenang saja Aditya tidak akan mengatakan apapun pada Daddy. Tapi boleh Aditya kasih saran."
"Boleh," ucap Eris tanpa sadar, sekarang dia sedang berbincang dengan anak kecil!
"Mending segera akui Om pada grandfa jika menyukai kak Azril, daripada keduluan orang."
"Saya tidak punya keberanian Aditya! mereka majikan saya termasuk kamu," ucap Eris merasa lemah.
"Huh! Om laki-laki atau bukan sih! kata Om ganteng jadi laki-laki harus gentel, selama ini grandma dan grandfa juga tidak pernah membandingkan status sosial bukan, jadi ayo Om tunggu apa lagi,"
"Aditya mendukung Om bersama kak Azril," lanjutnya membuat Eris menatap kearah Aditya.
Tatapan tak percaya itulah yang Eris berikan pada Aditya. Mana mungkin Aditya mendukung kak Azril bersama dirinya.
"Jangan menatap Aditya seperti itu, Aditya sungguh-sungguh dengan ucapan Aditya barusan, jangan jadi seperti Om ganteng menyesal setelah diambil orang lain," tegas Aditya.
"Maksudnya?" bingung Eris.
"Sudah lupakan apa yang Aditya katakan tentang Om genteng. Sekarang Om Eris harus pikirkan baik-baik perkataan Aditya,"
Obrolan mereka terhenti saat sudah berada didekat Ulya dan Hans yang menunggu mereka sudah hampir 50 menit lebih.
"Sudah beli kadonya?" tanya Hans.
"Sudah daddy! ayo sekarang kita ke rumah Erisa sebentar lagi acaranya akan dimulai."
Ulya tak lupa membeli buah dan kue juga berapa cemilan untuk Erisa dan untuk mereka dijalan, siapa tahu Aditya ingin ngemil begitu juga dengan dirinya.
Ketika mereka akan masuk ke dalam mobil Hans menatapa heran pada Eris.
"Ada apa denganmu, Eris?" heran Hans.
"Eh, hah!" Eris yang baru saja akan masuk ke dalam mobil jadi gelagepan sendiri, Aditya yang melihat kejadian itu tersenyum kecil sambil menggelengkan kepala pelan, lalu segera menyusul Ulya yang sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil.
"Saya tidak papa Tuan muda Hans," jawab Eris sambil sedikit menunduk dan hal tersebut semakin membuat Hans yanik jika ada yang salah dengan Eris.
Huh!
Hans menghembuskan napas kasar. "Baik saya mengerti kamu punya masalah kamu sendiri, tapi ingat tetap fokuslah mengemudi dengan baik."
"Baik Tuan muda Hans,"
Tidak ada jawaban dari Hans karena dia sudah masuk ke dalam mobil, Eris lalu segera menyusul mereka masuk. Setelah itu mobil kembali melaju menuju tempat yang awal dituju yaitu rumah Erisa.
Di dalam mobil diam-diam Aditya memperhatikan gerak-gerik Eris.
'Kaget ya Om Eris, rahasianya selama ini ada yang tahu. Kaget dong pasti masa enggak, orang rahasianya disimpen sendiri tapi tetap masih ada yang tahu.'
Rasanya Aditya ingin tertawa tapi harus dia tahan agar tidak menimbulkan pertanyaan dari Hans dan Ulya.
(Type disini Takbir, Tahlil, tahmid, tasbih)
(Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa ilaaha illallah, Laa ilaaha illallah, Laa ilaaha illallah. Allhamadulilah, Allhamadulilah, Allhamadulilah. Subhanallah, Subhanallah, Subhanallah.)
Jangan lupa shalawat!
Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad.
اللهم صلي عل سيدن محمد و عل ال سيدن محمد.