
Bismillahirrohmanirrohim.
"Ini Lia, buat Aditya." Cia memberikan bingksan pada Ulya yang sempat dia beli untuk Aditya.
"Ya Allah, ngapain repot-repot sih Cia. Kamu ini kayak sama siapa aja." Ulya selalu salut pada sahabatnya ini.
"Makasih banyak, ayo kita duduk." Ajak Ulya setelahnya.
"Terima kacih, mbak Cia cantik." Ucap Aditya juga.
Cia tersenyum pada Aditya. "Sama-sama Aditya, cepet sembuh pintar."
"Aamiin." Sahut Ulya, Fahri dan Aditya bersama.
Aditya kembali sibuk bermain bersama omnya. Mereka berdua terlihat semakin akrab saja. Entah apa yang sedang dilakukan oleh Fahri juga Aditya mereka berdua sibuk sendiri.
Kedua gadis di dalam kamar rawat Aditya itu sudah duduk di sofa yang memang sudah disedikan.
"Kamu udah mulai nyusun skripsi, Lia?" Cia berbasa-basi saat mereka berdua sudah mendaratkan bokong di sopa.
"Alhamdulillah, udah mulai buat bab satu. Kamu gimana?" tanya Ulya balik.
"Sama, aku juga baru mulai nyusun bab satu. Ngomong-ngomong masalah skripsi sekarang Ria kuliah di mana ya? Padahal kita udah mulai skripsi si Ria malah berulah."
"Tunggu, maksud kamu apa Cia? Bukannya Ria masih di kampus yang sama, sama kita." Bingung Ulya.
Dia memang belum tau jika Ria sudah tidak lagi kuliah di kampus yang sama dengan mereka.
"Astagfirullah, sebulan sudah lewat kamu belum tau setelah kejadian di kampus waktu itu Ria di do langsung dari pihak kampus."
Ulya membolakan kedua bola matanya sempurna mendengar penjelasan Cia. Jujur dia kaget mendegar perkatan Cia, bagaimana bisa Ria di do dari kampus.
"Selama ini kemana aja ya, aku."
"Harusnya aku yang nanya begitu sama kamu, Ulya. Selama ini kamu kemana aja, lah kok nggak tau kabar yang satu ini."
"Kamu tau Cia, aku nggak kemana-mana kok."
"Kita sekarang nggak usah bahas hal udah lewat. Ada sesuatu yang lebih penting mau aku kasih tau kekamu."
"Apa?" Ulya menatap bingung flashdisk yang Cia sodorkan pada dirinya.
"Di dalam flashdisk ini ada rekaman cctv orang yang udah jahatin Aditya. Dia perempuan tapi aku nggak kenal, siapa tahu kamu atau keluarga Kasa mengenalnya. Nih ambil, aku juga bisa kasih tau suami kamu, Lia."
Ulya mengambil flashdisk itu dari tangan Cia. Melihat hal itu Ulya tersenyum pada sahabatnya.
"Terima kasih banyak, Cia." Langsung saja Ulya memeluk erat sahabatnya.
Cia melakukan semua ini bukan hanya karena Aditya cucu dari keluarga Kasa. Dia melakukan semua ini karena melihat betapa sayangnya sang sahabat pada Aditya. Mengingat saat Aditya hampir tidak sadarkan diri Ulya terlihat sangat kacau.
"Jadi pelakunya sudah di temukan?" timpal Fahri membuat pelukan Ulya dan Cia terlepas.
"Mungkin untuk menangkap pelaku rekaman cctv dari cafe tidak cukup. Harus ada bukti yang lebih kuat lagi." Jelas Cia, Fahri mengangguk paham.
'Tante itu mungkin cekarang cedang bersembunyi agar tidak tertangkap. Pasti daddy cudah menyuruh orang untuk menangkap pelakunya.' Batin Aditya, padahal dia tau siapa dalang dari semua ini. Sayangnya dia tidak mungkin memberitahu semua orang.
Ulya bangkit dari duduknya. "Bang, Cia, titip Aditya sebentar ya. Aku mau keluar dulu."
Kaki Ulya melangkah mendekati Aditya. "Aditya, sama mbak Cia sama om Fahri bentar ya."
"Ciap, mom." Jawab Aditya patuh.
Cup!
Sebelum keluar dari kamar rawat Aditya, Ulya mencium gemas pipi sang anak terlebih dahulu. "Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Tujuan Ulya saat ini menemui sang suami untuk memberikan rekaman cctv yang dia dapat dari Cia. Dia juga penasaran siapa orang telah tega meracui seorang anak kecil seperti Aditya.
"Ulya, mau ketemu Hans, ya." Sapa Dika yang kebetulan lewat.
"Iya, paman." Memang Ulya masih sedikit canggung dengan keluarga Kasa.
"Bareng aja sekalian, saya juga mau ketemu Hans." Ajak Dika.
Tentu saja Ulya mengiakan tawaran Dika. Mereka berdua menuju ruang Hans sambil sedikit mengobrol layaknya pama dan ponakan. Dika bercerita banyak tentang Hans.
"Jadi maksud pada Dika, Mas Hans punya kembaran?" Ulya baru mengetahui kebenaran yang satu ini.
Tok...Tok...Tok....
"Masuk." Suruh orang dari dalam.
Obrolan Dika dan Ulya hanya sampai pembahasan tentang Hans memiliki seorang kembaran, padahal Ulya masih penasaran dimana sekarang kembaran Hans.
"Dek." Hans tersenyum senang melihat sang istri menemui dirinya di ruang kerja. Di dalam ruangan Hans itu ada seorang dokter perempuan juga, saat Ulya juga Dika masuk.
"Pak Dika. Ini adik perempaun direktur Hans? cantik sekali." Ujar sang dokter perempuan.
Ulya tersenyum menyapa dokter perempuan bernama Maya yang tertera diname tagnya.
"Sayang sini," Hans menyuruh Ulya menghampiri dirinya, lalu dia kembali melanjutkan kalimatnya. "Dia bukan adik saya tapi istri, saya!" tegas Hans.
Deg!
Ada dua hati yang merasa kaget atas pengakuan Hans. Ulya jelas tak menyangka sang suami akan memberitahu status mereka secepat ini pada orang lain. Sementara Maya tidak menyangka laki-laki yang selama ini dia cintai dalam diam telah memilik seorang istri.
"Istri pak Hans, maaf saya kira adiknya. Selamat atas pernikahan kalian pak!" Ucap Maya berusaha tegar.
"Terima kasih mbak, tidak papa kok." Ujar Ulya ramah.
"Saya dikucilkan disini." Sindir Dika yang merasa tidak dianggap.
"Dokter Dika, ada keperluan apa?" Hans mencoba tetap perfesional walaupun saat ini dia ingin sekali memeluk sang istri.
"Mau ngasih laporan ini." Dika memberikan dokumen pada Hans.
"Kenapa dokter Dika yang memberikan laporan ini pada saya? ini bukan tugas dokter Dika!" tegas Hans.
"Tadi sekalian Hans, mumpung mau ketemu saya tuan Leka."
Barulah Hans mengangguk paham setelah itu baik Dika maupun Maya izin untuk pergi dari ruang kerja Hans.
'Ya Allah, ternyata pak Hans udah punya istri. Semoga bapak dan istri bahagia selalu.' Doa Maya walaupun ada rasa perih di hati.
Kini hanya ada Hans dan Ulya di ruang itu.
"Mas." Panggil Ulya pada Hans.
"Apa, sayang." Hans langsung memeluk tubuh sang istri dari belakang kala hanya mereka berdua di dalam ruangan itu.
Deg!
'Ya Allah, ngapa jadi peluk-peluk gini dah. Lia, kan, malu jadinya.' Batin gadis itu benar-benar sudah merasa sangat malu.
"Mas, Cia kasih rekaman cctv kejadian kemarin. Katanya ada perempuan yang sengaja mau mencelakai Aditya." Ulya memberikan flashdisk tadi pada Hans.
Satu tangan Hans menerima flashdisk dari Ulya, tapi satu tanganya lagi seakan enggan untuk melepaskan pelukannya dari sang istri.
"Mas, lepas dulu pelukannya." Cicit Ulya merasa malu sendiri.
Bukannya melakukan apa yang sang istri minta, Hans justru semakin memeluk erat sang istri.
"Kamu mau lihat siapa yang udah mencelakai Aditya?" Kepala Ulya sepontak mengangguk.
"Ayo, kita tonton." Ajak Hans menarik tangan sang istri agar ikut duduk dengan dirinya.
Hans duduk di kursi kebesarannya. "Ets, mau kemana?"
"Duduklah, Mas mau kemana lagi." Bingung Ulya heran.
"Duduk disini saja."
"Hah! Duduk dimana? ini bangku cuman satu terus Lia berdiri gitu."
"Bukan, tapi duduk disini sayang!"
Bruk!
Dalam hitungan detik Ulya sudah duduk di pangkuan sang suami. "Mas, Lia mau duduk sendiri aja." Pintanya sudah semakin malu.
"Disini saja, ayo kita lihat siapa pelakunya." Hans menahan tubuh sang istri agar tidak bangkit dari pangukannya.
Demi apapun Ulya saat ini malu, walapun Hans suaminya. Tadi tetap saja Ulya tidak pernah begitu dekat dengan seorang laki-laki, sepertinya Ulya harus beradaptasi dengan perbuatan sang suami yang selalu diluar dugaan Ulya.
'Ya Allah, aku ingin menghilang dari sini.' Keluh Ulya.