Kasih Sayang Untuk Aditya

Kasih Sayang Untuk Aditya
Bab 72


Bismillahirrohmanirrohim.


Entah kenapa sejak satu jam yang lalu setelah Aditya dan Erisa masuk ke dalam kelas Ulya merasa gelisa. Ada yang mengusik rongga-rongga hatinya, rasa khawatir menyelimuti Ulya, entah rasa khawatir apa yang saat ini tengah mengganggu pikiran ibu hamil satu ini.


Sudah hampir dua jam berlalu tapi kelas Aditya belum juga keluar, hal tersebut semakin tambah membuat rasa khawatir dalam diri Ulya memuncak. Berbagai macam pikiran negatif telah bersarang di kelapa Ulya.


"Tumben anak-anak sudah lewat lima belas menit tapi belum keluar juga." Komentar Anggi.


"Iya Mbak, kenapa ya kok mereka belum keluar juga." Ulya meremat kedua tangannya kuat untuk mengurangi sedikit rasa khawatir yang melanda dirinya. Namun, semua itu sia-sia saja, rasa khawatir Ulya malah semakin menjadi lagi.


Ya Allah lindungi anak hamba dimana pun dia berada. Semoga tidak terjadi apa-apa pada Aditya. Lia sangat mengkhawatirkan keadaannya saat ini. Padahal dia berada di dalam kelas, semoga Aditya baik-baik saja.


Sekitar sepuluh menit lagi menunggu satu persatu anak-anak dari kelas Aditya mulai meninggalkan kelas. Ulya dapat menangkap sosok Erisa yang terlihat cemas, anak perempuan itu terlihat berlari kearah bundanya dan Ulya.


"Aditya dimana." Guman Ulya tidak melihat kehadiran Aditya bersama Erisa. Bisanya kedua bocah tersebut akan selalu keluar masuk kelas bersama. Sekarang kenapa hanya ada Erisa sendiri.


Pikiran Ulya semakin berkecamuk kembali berbagai hal buruk masuk ke dalam otaknya. Ulya ingin menyangkal jika Aditya masih ada di kelas, Aditya juga sekarang sedang baik-baik saja di dalam kelas. Tapi hatinya mengatakan bahwa Aditya di dalam sana sedang tidak baik-baik saja.


"Bundaaa... Mommy....." Teriak Erisa kala sudah melihat keberadaan kedua wanita cantik di depannya.


"Bunda." Panggil Erisa lagi.


"Hei, sayang pelan-pelan. Coba atur nafas dulu supaya stabil, setelah itu baru katakan ada apa."


Erisa menuruti saran bundanya, anak perempuan di depan Ulya ini seperti sudah terlatih dengan arahan yang diberikan oleh bundanya barusan.


"Erisa sudah tenang?" Erisa mengangguk, Anggil sedikit tersenyum pada putrinya. "Sekarang katakan, ada apa sayang? Apa yang telah terjadi." Anggi bertanya dengan hati-hati.


Melihat Erisa tak langsung menjawab pertanyaan bundanya membuat Ulya semakin penasaran, rasa takut juga sudah memenuhi ruang hatinya. Tapi dia terus berdoa untuk Aditya, orang yang dari tadi Ulya khawatirkan.


"Aditya, Bunda. Aditya! dia pingsan."


Jduar....


Bak disambar kilatan petir yang menghantam tubuhnya sendiri mendengar apa yang dikatakan oleh Erisa. Ulya mematung di tempat, tiga puluh detik kemudian dua orang sudah menggendong tubuh mungil Aditya. Ini lah yang dari tadi Ulya khwatrikan hal buruk benar-benar menimpa Aditya.


"Bawa... ke... rumah... Sakit... Pak..." Ucap Ulya terbata-bata melihat Aditya sudah tak sadarkan diri. Wajahnya terlihat sangat pucat.


Atas saran dari Ulya, Aditya langsung di larikan ke rumah sakit. Sepanjang perjalan menuju rumah sakit Ulya tak berhenti mendoakan keselamatan Aditya. Saking paniknya Ulya sampai lupa menghubungi semua orang.


"Bagimana ceritanya Aditya bisa pingsan sayang?" tanya Anggil pelan.


"Tadi di kelas kami semua sedang tertawa bersama gulu bunda. Telus waktu masih asyik teltawa tiba-tiba Aditya diam, setelah itu dia pingsan. Elrisa juga tidak tahu apa yang terjadi bunda." Jelas Erisa yang melihat kejadian secara langsung karena dia yang duduk bersama Aditya.


Informasi yang Ulya dapat dari Erisa membuat dirinya menyimpulkan jika penyakit Aditya pasti kambuh lagi.


Kamu, Insya Allah, akan baik-baik saja sayang. Mommy yakin, kamu anak yang kuat. Aditya pasti kuat! Aditya bisa melawan penyakit Aditya, kamu pasti sembuh.


Dua puluh lima menit menempu perjalan akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Sampai di rumah sakit, pihak rumah sakit segera memberikan pertolongan pertama untuk Aditya. Apalagi cucu keluarga Kasa yang sedang sakit, kebetulan dokter Dika yang menangani Aditya.


"Lakukan yang terbaik untuk Aditya, Paman. Aku mohon, Aditya pasti akan baik-baik saja bukan?" air mata telah membasahi pipi Ulya.


"Insya Allah, kami akan melakukan yang terbaik Ulya."


Dokter Dika menghubungi dokter Wira sebagai dokter yang selama ini menangani Aditya. Sudah datang dokter Wira mereka segera melakukan tindakan, karena dokter Wira yang menangani Aditya. Jadi Dika segera menghubungi semua orang memberitahu tentang kondisi Aditya. Ulya masih dilanda kecemasan sampai dia lupa jika tidak boleh banyak pikiran, sekarang tubuhnya sudah terasa lemas.


Anggi dan Erisa berusaha menenangkan Ulya yang terlihat sangat memperhatikan saat ini. "Mommy, Aditya anak laki-laki yang kuat ERrisa tahu itu." Ucap Erisa. Ulya mengangguk sedikit tersenyum pada Erisa.


Setelah menunggu selama dua puluh menit lebih semua keluarga yang bersangkutan sudah berkumpul melihat keadaan Aditya.


"Sayang." Panggil Hans membuat Ulya mencari sumber suara.


"Mas, Aditya." Ucapnya dengan suara lemah. Ulya sudah lama menangis dari di sekolah Aditya tadi.


Hans buru-buru mendekati Ulya. Ulya juga bangkit hendak menghampiri sang suami, tapi baru satu langkah tiba-tiba tubuh Ulya oleng, hampir saja Ulya jatuh di lantai kalau abangnya yang baru datang tidak menahan tubuh sang adik.


"Liaaa!" ucap mereka semua kompak.


Ceklek...


Saat itu juga dokter membuka ruang UGD tempat Aditya diperiksa.


"Hans bawa dulu istrimu, dia juga harus diperiksakan kasihan Ibu dan bayinya." Intruksi Milda pada putra sulungnya.


"Aditya, Ma."


"Aditya biar Mama sama Papa kamu yang urus, istri kamu juga penting." Ujar Milda.


Hans segera membawa tubuh istrinya untuk diperiksa juga oleh dokter, diikuti Ibu Rida sedangkan Fahri ikut menunggu kabar Aditya.


"Sekarang bagaimana keadaan cucu saya dokter Wira? Apakah ada hal yang serius?"


"Kita harus melakukan transplantasi sumsum tulang, karena ada sel darah yang rusak pada tubuh Tuan muda Aditya. Dengan transplantasi sumsum tulang bisa menggantikan sel darah yang rusak dalam tubuh Tuan muda Aditya dengan sel darah sehat."


Deg....


Semua orang kaget mendengar penjelasan dokter termasuk Anggi yang tidak tahu apapun tengang keluarga Kasa. Apalagi tenang Aditya, anak laki-laki yang ceria dan pintar nyatanya harus berjuang melawan penyakitnya sejak kecil.


"Lakukan yang terbaik untuk cucu saya dok!" ujar Leka memutuskan.


"Tapi kita butuh donor tulang sumsum Tuan besar. Yang cocok untuk transplantasi tulang sumsum Tuan muda Aditya."


"Kami punya yang cocok dok!" Milda menoleh pada Fahri yang masih berdiri diantara mereka semua. "Fahri Mama minta tolong panggilkan Hans, Mama titip Lia padamu. Kita butuh Hans untuk keselamatan Aditya."


Fahri tak banyak tanya dia segera mencari keberadaan adik iparnya. Memang kesehatan Ulya juga harus diperhatikan, keselamatan Aditya juga sangat penting. Jadi mereka membagi tugas ada yang menjaga Ulya dan ada yang menunggu Aditya, akan melakukan transplantasi tulang sumsum.


(Setelah ini Insya Allah konfliknya selesai ya. Sabar dulu. Kalian mau Aditya selamat atau tidak?)😢