
Bismillahirrohmanirrohim.
"Papa...Papa...Papa...." Suara rancauan yang keluar dari mulut Ulya membuat Fahri segera membangunkan sang adik.
"Lia bangun, bangun Lia. Abang mohon bangun." Fahri menyenggol lengan adiknya pelan.
Berapa saat lalu ketika Fahri menggantikan Hans untuk menjaga Ulya, malah setelah kepergian Hans juga Ibu Rida yang pamit ke kamar mandi sebentar Ulya terus memanggil papa mereka juga nama seorang bernama Jeni. Fahri yakin adiknya sedang mimpi buruk.
Mimpi buruk yang pernah dialaminya waktu dulu masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Ulya memang sering terbawa mimpi semua kejadian naas dulu, tapi jarang sekali Ulya memimpikan semua itu kecuali dia sedang sakit parah. Biasanya juga Ulya hanya memimpikan papa mereka saja, tidak kejadian ketika bersama Jeni.
"Lia bangun dek, bangun kamu kuat. Abang nggak mau terjadi apa-apa sama kamu juga calon ponakan abang." Ujar Fahri masih berusaha membangunkan sang adik.
Walaupun Fahri sering menjahili adiknya, sering membuat kesal Ulya. Dia sangat menyayangi Ulya, buktinya jika terjadi apa-apa pada Ulya Fahri sangat khawatir sekali terhadap adiknya ini.
"Papa...Papa...Papa! Mbak Jeni bayinya baik-baik sajakan?" rancu Ulya lagi membuat Fahri semakin mengkhawatirkan adiknya ini.
Untuk satu kali lagi Fahri mencoba membangunkan sang adik berharap kali ini Ulya merespon perkataannya. "Lia bangun, kamu cuman mimpi, Dek. Sekarang bangun ya Abang mohon, Aditya sama calon anak kamu butuh mommynya."
Setelah usaha keras Fahri terus membangunkan adiknya yang tengah terjerat dalam mimpi, samar-samar Ulya membuka kedua bola matanya secara perlahan. Cahaya lampun di dalam ruang rawat rumah sakit membuat silau pemandangan Ulya, dia menghalangi cahaya lampu dengan kedua tanganya agar tidak masuk ke matanya.
Baru Fahri bisa bernafas lega melihat Ulya mulai membuka matanya. Usaha yang dia lakukan ternyata tidak sia-sia, Allhamadulilah membuahkan hasil juga.
"Syukur Allhamadulilah, kamu sudah sadar dik!" ucap Fahri benar-benar lega.
"Papa, Lia mimpi Papa bang. Sekarang Lia tahu mbak Jeni orang yang pernah papa tolong dan Aditya anak Mbak Jeni." Ucap Ulya setelah mengingat semuanya.
"Sekarang walaupun sudah tahu jangan dipikirkan dulu Lia. Kamu masih hamil muda kasihan calon anakmu, dek. Abang tahu kamu mengkhawatirkan semuanya, tapi ingat kondisi kamu dan bayi kamu juga." Nasihat Fahri pada adiknya.
"Lia buat Abang khawatir lagi?"
"Jelas Abang khawatir, abang tidak ingin terjadi apa-apa pada kamu dan calon anak kamu, Dek."
"Lalu bagaimana keadaan Aditya, Bang? Dia baik-baik saja bukan. Mas Hans juga dimana?" tanya Ulya penasaran.
Ceklek!
Ibu Rida baru kembali dari kamar mandi masuk ke kamar rawat putrinya, beliau mendengar semua percakapan Fahri dan Ulya. Beliau berjalan mendekat pada kedua anaknya, Ulya dan Fahri menoleh pada pintu masuk kamar. Ibu Rida tersenyum pada keduanya, senyum tulus yang selalu bisa membuat Ulya juga Fahri merasa tenang setelah melihat senyum Ibu Rida.
"Kita semua harus berdoa yang terbaik untuk Aditya, dia sedang melakukan transplantasi sumsum tulung belakang suamimu sedang mendonorkan tulung sumsumnya, karena hanya punya Hans yang cocok untuk Aditya." Ucap Ibu Rida bicara dengana sangat tenang.
Beliau memang sempat menanyakan kabar Aditya pada besannya kala tadi keluar mencari kamar mandi.
"Lia yakin pasti Aditya bisa Ma. Dia anak yang kuat, Lia tahu itu."
Ibu Rida mengelus pucuk kepala putrinya yang tertutup hijab. "Kalau begitu jangan terlalu cemas berdoa yang terbaik. Benar kata Abangmu, kamu juga harus memikirkan keadana dirimu dan ada bayi di dalam sini, Lia." Ujar ibu Rida, sekarang beliau mengelus sayang perut putrinya juga.
"Kamu tahu bukan Aditya sangat mengharapkan memilik seorang adik." Lanjut Ibu Rida membuat Ulya mengangguk. "Sekarang istirahat yang banyak jangan cemaskan apapun. Apalagi hal yang belum tentu terjadi."
Mendapatkan pencerahan dari mamanya Ulya mengangguk setuju, kini pikirannya sudah lebih baik dari sebelum tadi. Semuanya sudah terasa pelong bagi Ulya.
"Lia cuman mau buah mangga yang dijual toko buah yang ada di samping rumah sakit ini bang. Yang jual bapak-bapak, boleh Lia minta beliin."
"Boleh, tadikan Abang yang nawarin." Ujar Fahri.
"Abang beliin Lia mangga dulu Ma. Titip Lia kalau ada apa-apa cepat beritahu Fahri. Assalamualikum."
"Wa'alaikumsalam." Jawab Ibu Rida juga Ulya, tapi Ulya setelah itu kembali teriak pelan.
"Sama smoothie juga ya bang satu yang buah naga." Pesan Ulya lagi sebelum Fahri keluar dari kamar rawatnya.
"Insya Allah, udah nggak ada lagikan?" tanya Fahri memastikan.
"Udah itu aja bang."
Bismillah semoga transplantasi tuluang sumsum anakku Aditya, berjalan lancar Ya Allah, Ya Rabb. Tidak ada halangan yang menghambat. Semuanya bisa berjalan lancar, kami semua mendoakan yang terbaik untuk Aditya, dokter juga pasti sudah berusaha melakukan semua yang mereka mampu. Namun, semua kendali ada pada Engkau, aku berharap semua berjalan lancar dan Aditya segera sembuh. Aamiin.
Ulya berdoa dalam benaknya setelah kepergian Fahri. Kini dirinya dan Ibu Rida mengobrol ringan di dalam kamar rawat Ulya. Ibu Rida tak menyangka secepat ini beliau rasa putri kecilnya sebentar lagi akan menjadi seorang ibu yang sesungguhnya.
"Papa pasti bahagia melihat putrinya mendapatkan suami yang sangat mencintai kamu, Lia. Ditambah ada Aditya cucu mama yang begitu menyayangi kamu juga."
"Mama benar Papa pasti bahagia." Ucapnya sambil menatap langit seakan Ulya melihat papanya sedang tersenyum pada dirinya. "Karena Lia juga bahagia bisa menjadi keluarga Mas Hans dan Aditya. Mereka sangat berarti dalam hidup Lia."
Sementara di tempat dokter Wira sedang melakukan transplantasi tuluang sumsum untuk Aditya tengah berjalan sesuai prosedur rumah sakit. Hans kini sedang bersama dokter Wira untuk mengambil donor tulang sumsum. Sedangkan yang lain menunggu diluar ruangan.
"Papa sudah menyuruh Eris menjemput Azril?" tanya nyonya Milda.
Mereka bukan ingin mengganggu fokus Azril yang sedang mencari ilmu, hanya saja memang dimoment seperti ini Azril lah orang yang paling bisa menguatkan mereka semua.
"Sudah Ma, Arion ikut menjemput kakaknya bersama Eris. Takutnya jika hanya Eris yang menjemput tidak dapat izin dari pihak pesantren karena mereka bukan mahram." Jelas Leka pada sang istri. Milda mengangguk paham.
Lalu netra wanita paruh baya itu tidak sengaja menangkap keberadaan Anggi dan Erisa. Beliua menghampiri Ibu dan anak itu, apalagi melihat wajah cemas Erisa membuat Milda heran.
"Anggi, Nak Erisa." Sapa nyonya Milda, saking paniknya beliau baru menyadari kehadiran Ibu dan anak ini.
Anggi menyapa ramah Milda sedangkan Erisa menatap lekat wajah Milda seakan sedang mencari sebuah jawaban. "Aditya pasti baik-baik sajakan grandma?" tanyanya.
Memang Erisa sudah kenal Milda disaat acara resepsi pernikahan Hans dan Ulya waktu itu.
"Jadi gadis cantik ini mencemaskan keadaan Aditya?" Erisa mengangguk lemah.
Bagimanapun juga di sekolah dia dan Aditya adalah teman dekat. Mereka sering bersama walaupun tak jarang akan berakhir berdebat.
"Insya Allah, Aditya baik-baik saja sayag, kita doakan yang terbiak untuk Aditya. Karena berdoa adalah salah satu kekuatan untuk kita semua untuk Aditya juga."
"Ya Allah, semoga Aditya cepat sembuh. Bial ERrisa bisa main lagi baleng-baleng sama Aditya, kalau ndak ada Aditya nda selu."