
Bismillahirrohmanirrohim.
"Ngapain Ar? dari tadi setelah pulang dari rumah sakit masuk ke kamar kamu udah ngadep buku, pulpen sama handpone aja." Heran Hans, melihat Arion fokus pada benda-benad di atas meja depannya.
Jarang sekali Hans masuk ke dalam kamar adiknya, entah angin apa yang membuat Hans menginjakkan kaki di kamar Arion. Setiap kali Hans melewati kamar Arion, dia sering sekali melihat Arion duduk sambil fokus dengan pulpen, buku dan handponenya entah apa yang Arion lakukan.
Keluarga Kasa hampir tahu kebiasaan Arion setipa hari karena dia tidak pernah menutup pintu kamar jika sudah siang hari berada di dalam kamar. Hans tahu adiknya itu bukan sedang belajar, mereka paham Arion yang tidak suka namanya belajar.
Anehnya sering sekali Hans melihat Arion berhadapan dengan kedua benda yang sering disebut buku dan pulpen itu.
Disapa oleh kakak sulungnya, Arion yang sedang fokus pada buku menoleh pada Hans.
"Biasa Mas,"
"Biasa apa aneh, orang aneh itu memang kayak lo. Kagak suka belajar tapi kerjaannya sama buku dan pulpen. Sebenarnya benda-benda itu lo apain sih Ar?"
"Lagi ngomong sama mereka, Mas!"
"Hah!"
Otak Hans geleng sejenak, apa tadi kata adiknya? benar bukan Hans tidak salah dengar. Kalau Arion bilang, lagi ngomong sama benda-benad itu. Bagaimana maksudnya, sekarang otak Hans jadi tidak berfungsi mencerna kata-kata Arion yang terlalu ambigu ini.
"Gimana, gimana maksud lo?" Hans menyerah juga untuk menemukan jawaban sendiri dari perkataan Arion.
"Bisa diperjelas." Lanjut Hans lagi.
"Iya, bagi gue bicara lewat tulisan merupakan salah satu cara untuk mengungkapkan perasaan disaat mulut gue tak mampu untuk berkata. Maka dari itu, walaupun gue nggak suka belajar tapi gue suka nulis apa yang gue mau, apa yang ada di kepala gue."
Yang bisa Hans lakukan hanya tersenyum pada adiknya.
Rupanya Arion belum selesai bicara. "Cerita lewat tulisan itu nggak bakal bocor Mas, coba kalau kita cerita rahasia kita sama orang lain. Tadinya kita cerita sama si A eh, ujung-ujungnya bisa sampai ke si Z."
"Lo bener juga Ar, gue setuju. Maka jangan cepat percaya sama orang lain." Sambung Hans, kali ini dia satu pemikiran dengan sang adik bungsu.
"Modelnya begini Mas kita cerita sama si A, terus kita bilang 'tapi jangan ngomong sama siapa-siapa. Si A jawab 'Iya tenang aja aman sama gue mah rahasia lo. Eh, besoknya si A cerita sama si B terus si A bilang 'Jangan bilang siapa-siapa lo' jawab si B 'Iya' ujung-ujungnya itu cerita nyebar kesemua orang. Tapi ada ucapan jangan bilang kesiapa-siapa." Jelas Arion sebenarnya Hans juga pamah, hal seperti itu bukankah sudah menjadi tradisi.
Tradisi yang tidak patut dikembangkan, sampai anak cucu nanti.
"Adek gue udah bisa ng...."
"Daddy! ditungguin mommy sama Oma, cuman disuruh ajak kak Arion makan saja lama sekali." Protes Aditya.
Kepala Aditya muncul dari pintu kamar Arion. Melihat kedatangan Aditya, Hans hanya mengaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Tak lupa nyengir pada sang anak, dia telah melupakan tujuan awalnya masuk ke kamar Arion.
"Iya daddy tahu, barusan ada perlu sebentar sama kak Arion."
"Sudah ayo kita semua turun, mommy sama Oma udah nungguin." Ajak Aditya sok bijak sekali dia.
"Ayo kak Arion." Aditya mengajak Arion pula, karena laki-laki itu tak bangkit dari kursinya.
"Siap cil."
Ketiganya sama-sama menuju meja makan, Ulya menatap heran suaminya itu karana lama di kamar sang adik, bisanya juga tidak pernah mau masuk kamar Arion. Tadi malah sampai disusul oleh Aditya.
Tidak ada yang menyuruh Aditya untuk memanggil Hans dan Arion, semua itu inisiatif Aditya sendiri.
"Cuman manggil Arion makan dong kok sampai disusul Aditya, Mas."
"Biasa yank, abis dapat ilmu teori dari Arion." Jawab Hans yang tak dimengerti oleh Ulya.
"Weeek...Week...Week!"
"Mas, kenapa?" panik Ulya.
Sementara Hans langsung lari menuju wastafel yang ada di dapur, Ulya ikut menyusul suaminya.
"Weeek...Week...Weeek!"
Terus saja Hans muntah mengeluarkan isi perutnya. Ulya mengelus-elus punggung suaminya agar Hans bisa mengeluarkan semua isi perutnya biar tidak ada yang tersisa nanti bisa diisi lagi.
"Hah! hadeh....Capek." Ucap Hans selesai mengeluarkan semua isi perutnya.
"Mas nggak papa? kok bisa muntah begini abis makan apa emangnya, Mas," heran Ulya.
"Bau bawang putih sama daging yank!" jawab Hans lemas.
"Daddy, are you oke?" Aditya memegang tangan Hans
Hans menatap anaknya. "Daddy oke boy!"
Ibu Rida yang baru saja masuk ke dapur tersenyum mendengar perkataan Hans.
"Kasih suami kamu minyak angin dulu, Lia." Ujar ibu Rida menyodorkan minyak kayu putih pada Ulya.
"Mas Hans, masuk angin kali ya Ma."
"Kalau tidak masuk angin, mungkin ngindam!"
"Apa!" bukan Ulya dan Hans yang teriak, melainkan Hans juga Arion yang ikut masuk ke dapur.
"Kok bisa Mas Hans ngidam, Ma? bukan yang hamil mbak Lia. Lagipula kalau orang ngindam itu diawal-awal kehamilan saja bukannya." Imbuh Arion sedikit tahu tentang hal semacam itu.
"Ngidam itu nggak cuman diawal-awal masa hamil aja Ar. Ngidam bisa terjadi kapan saja selama masa kehamilan. Terus yang bisa ngidam bukan ibu yang hamil saja, sebagai suaminya calon anak bisa juga ngidam. Dulu Mama waktu lagi hamil mbak Lia juga begitu, nggak pernah muntah selama 9 bulan lebih, minta macem-macem juga nggak pernah, tapi almarhum papa sampai kasihan dulu mama liatnya." Jelas Ibu Rida, mengingat perjuangan sang suami dulu.
Ibu Rida dibantu Arion memapah Hans menuju meja makan, tak lupa menyuruh pekerja untuk tidak meletakkan daging dan makanan yang berbau bawang di meja makan.
"Sudah sekarang kita makan dulu, Hans diisi dulu perutnya jagan sampai kosong. makanan yang bau daging sama bawang sudah disisihkan."
"Iya Ma, Hans makan."
Aditya mentapa iba daddynya, baru pertama kali dia melihat sang daddy sakti seperti sekarang ini.
"Daddy mau Aditya panggilkan dokter Wira atau dokter Dika. Sekarang ini makannya Aditya yang suapin daddy, daddy mau."
Terharu sekali Hans mendengar perhatian anaknya, apalagi sekarang Ulya dan Aditya mengelus tangannya bagian kiri kanan.
"Aditya duduk ditangah-tengah bair mommy suapin Aditya, Aditya supain daddy." Timpal Ulya tak membiarkan Aditya tidak makan.
"No mom! mommy harus makan juga, nanti Aditya makan setelah suapin daddy, Aditya janji tidak bohong kok."
Kali ini Ulya hanya bisa pasrah membiarkan Aditya melakukan yang dia inginkan. Lagi ibu Rida tersenyum melihat ketulusan Aditya.
Arion, dia sudah terharu sendiri. "Masya Allah, jiwa peduli kamu tinggi sekali cil, kak Arion sampai terharu jadinya."
"Sudah makan kak Arion!" tegas Aditya sudah seperti Hans saja.
"Siap Aditya, kak Arion makan."