
Bismillahirrohmanirrohim.
"Gue harus cari cara buat jatuhin cewek itu, lagipula belum ada acara resmi kalau perempuan yang bersama Aditya tadi beneran calon istri Hans, cuman pengumuman dari Hans saja tidak ada bukti lain." Yulia masih berdiri di tempatnya tetap menatap sengit kearah Ulya.
Berbagai macam trik dan rencana licik sedang dia rangkai untuk membuat malu Ulya bukan hanya di depan Hans tapi juga semua orang. Yulia ingin membuat Ulya menjadi malu.
"Aku harus meminta bantuan seseorang. Siapa kira-kira yang bisa membantuku, Raka? Mungkin aku bisa memanfaatkannya." Segera Yulia meninggalkan tempat tersebut kala merasa rencana emas sudah dia dapat.
Apapun caranya Yulia berpikir harus bisa membujuk Raka agar mau membantu dirinya, dia juga harus mencari cara agar Raka tidak tahu semua yang dia lakukan hanya demi mendapatkan Hans.
"Tidak ada yang boleh menikah dengan Hans kecuali aku, hanya aku lah satu-satunya perempuan yang pantas untuk mendampingi Hans setiap harinya."
Sedari tadi Aditya yang sudah masuk ke dalam kedai es crem terus memperhatikan Yulia. Anak kecil itu tahu dari gerak-gerik Yulia, dia yakin ada rencana licik yang akan diperbuat.
'Tante itu bahaya juga.' Guman Aditya saat melihat kepergian Yulia.
Dia menatap wajah mbak Lia nya, orang yang baru masuk di kehidupan Aditya selama beberapa bulan tapi sudah menjadi orang yang sangat berarti untuk Aditya.
'Aku haruc kacih tau daddy kalau mbak Lia dalam bahaya, tante itu pacti mau celakain mbak Lia.' Sungguh Aditya tidak ingin terjadi apa-apa pada Ulya.
"Aditya mau ice cream rasa apa?" Ulya membuyarkan lamunan Aditya.
"Vanilla caja mbak Lia."
"Siap, anak manis." Setelah memilih ice crem yang mereka inginkan Ulya segera mengajak Aditya pulang ke rumahnya.
Lagipula Aditya belum pernah bermain di rumah Ulya, mungkin dia akan mengenalkan tempat ternyamannya pada Aditya.
"Mbak Lia kenal tante tadi?" Aditya bertanya saat mereka sudah sampai di rumah Ulya.
"Tidak! Bukan dia orang yang pernah kita temui di mall waktu sama daddymu."
"Benar mbak Lia, cepertinya tante tadi cangat tidak menyukai mbak Lia."
"Huss! Aditya tidak boleh bilang begitu, sudah ayo kita main saja di rumah mbak Lia. Sebentar lagi mama, mbak Lia pulang dari butik."
Akhirnya Ulya dan Aditya bermain di rumah gadis itu. Permainan yang membuat mereka tertawa bersama, permainan yang membuat mereka bahagia.
...----------------...
Hans tidak fokus dengan pekerjaannya, dia terus kepikiran tentang Ulya. Dia juga terus memikirkan usulan dari adik perempuannya itu.
"Aish! Nggak bisa gini terus, semua ini harus cepat diselesaikan." Putus Hans.
Segera dia menyelesaikan semua pekerjaannya lebih dulu, setelah semuanya sudah beres barulah Hans buru-buru meninggalkan rumah sakit.
"Hans, mau kemana? Tumben jam segini udah keluar dari ruang kerja." Kebetulan Dika berpapasan dengan ponakannya itu.
"Pulang paman, ada hal penting yang harus Hans selesaikan. Kalau ada perlu hubungi Eris saja, Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam." Dika menatap kepergian Hans merasa heran, tidak pernah direktur rumah sakit itu pulang diwaktu jam kerja.
Tapi biarlah ya namanya juga rumah sakit keluarga sendiri, dia juga sudah biasa dengan pikiran ponakannya yang tidak bisa ditebak itu Dika berlalu pergi kembali melanjutkan pekerjaannya.
Sampai di rumah Hans langsung menemui mamanya.
"Mama!" panggil Hans mencari keberadaan Milda diseluruh kediaman Kasa tapi sudah 20 menit mencari batang hidung mamanya pun tidak terlihat.
"Aish! Mama kemana sih, gini nih kalau butuh aja ngilang coba kalau lagi nggak dicariin sudah seliwer sana sini." Gerut Hans merasa sedikit lelah.
Dia memutuskan mencari mamanya ke taman belakang rumah tempat itulah yang belum Hans kunjungi.
"Ya Allah, disini rupanya mama dicariin juga dari tadi."
"Ada apa?" tanya Milda yang masih dapat mendengar ocehan putranya.
"Duduk!"
Hans menurut saja duduk tepat di depan mamanya. Milda tidak bersuara membiarkan apa yang akan Hans katakan pada dirinya.
"Ma, Hans udah putusin buat ngelamar Ulya secepatnya minggu depan kalau bisa. Mama bisa bantu."
"Uhuk...Uhuk...Uhuk...Air, air." Segela air putih Hans sodorkan untuk mamanya.
Sudah mendapatkan air Milda langsung menghabiskan air itu untuk menyiram tenggorokannya.
"Alhamdulillah, kamu bilang apa tadi Hans? Mama nggak salah dengar bukan."
"Hans mau lamar Ulya minggu depan!" jawabnya mantap.
"Bener kamu sudah yakin dengan keputusanmu Hans? Cepet banget ambil keputusan."
"Iya ma, Hans abis ketemu Azril."
"Pantes, tapi kamu tahu kan Hans resikonya? diterima atau ditolak itu sudah menjadi resiko kamu nanti. Sore ini kamu jemput Aditya, dia di rumah Ulya, bilang sama keluarga Ulya minggu depan kita akan bertamu kesana, nanti apa saja yang dibawa buat lamaran urusan mama." Milda sangat bersemangat sekali mendengar keputusan putranya.
"Ma, tapi Hans belum berani ketemu sama keluarganya."
"Resiko Hans, kalau kamu mau Ulya lebih yakin dengan kamu ambil hati orang tuanya kakaknya juga begitu dong! Mama sudah ketemu dua kali sama Fahri kelihatan orangnya asyik, baik, dicoba dulu kalau tidak mama nggak mau bantu kamu."
"Iya ma, tapi kata Arion abangnya Ulya galak."
"Arion kok dipercaya, kamu tau sifat adik kamu yang satu itu Hans."
Mendengar penjelasan sang mama Hans kini jadi bersemangat, dia merasa tidak menyesal atas keputusannya untuk melamar Ulya. Dia juga jadi bersemangat ingin bertemu dengan gadis itu sekarang dipikir-pikir sudah 3 hari mau 4 hari Hans tidak pernah melihat Ulya suara gadis itupun tidak terdengar lagi di telinganya.
Hans sudah merasa lega karena telah bercerita pada sang mama.
"Papa gimana, Ma?"
"Papa kamu urusan mama."
"Siap, udah Hans siap-siap dulu abis itu langsung jemput Aditya."
"Bilang aja nggak sabar ketemu Ulya."
"Hans nggak bilang begitu ya, Ma." Bantahnya tidak terima.
Waktu bergulir, sekarang Hans sudah terlihat lebih segar dari sebelumnya. Setelah berpamitan dengan sang mama dia buru-buru menuju rumah Ulya. Arion kebetulan berpapasan dengan kakak sulungnya merasa heran akan tingkah tak biasa sang kakak.
"Wah, mas Hans udah gila senyum-senyum sendiri." Ucap Arion.
Dengan berbekal pemberitahuan dari mamanya dimana letak rumah Ulya. Tidak butuh waktu lama Hans sudah sampai di rumah gadis itu bersamaan dengan motor milik Fahri yang baru saja terparkir.
Fahri memperhatikan mobil mewah berwarna hitam yang berhenti tepat di depan rumah mereka.
"Siapa?" tanya pada diri sendiri, sampai sosok Hans keluar dari mobil.
"Hans, untuk apa dia kemari." Kalau kemarin-kemarin Fahri bisa bersikap ramah pada Hans sekarang tidak, karena Hans belum menjelaskan pada dirinya dan sang mama apa alasan Hans mengakui Ulya sebagai calon istrinya. Video yang tersebar juga hanya sepotong-sepotong.
"Assalamualaikum, sore bang."
"Walaikumsalam, Ngapain kesini?" tanya Fahri sengit.
"Mau silaturrahmi sama ibu abang, sama abang juga sekalian jemput Aditya." Fahri mengangguk.
"Ayo masuk." Sesebal apapun Fahri pada Hans, dia tetap menghargai tamunya.
Tak lupa Hans membawa buah tangan untuk keluarga Ulya, seperti pesan mama Milda dekati keluarganya juga itulah yang Hans lakukan. Dia pasti akan meyakinkan orang tua Ulya dan kakak gadis itu.