
Bismillahirrohmanirrohim.
Sebelum baca jangan lupa bismillah dan shalawat dulu 🤗
بسم الله الر ØÙ…Ù† الر ØÙŠÙ…
Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad.
اللهم صلي عل سيدن Ù…ØÙ…د Ùˆ عل ال سيدن Ù…ØÙ…د.
Keluarga besar Kasa sudah berkumpul di mansion untuk membahas lebih lanjut pernikahan Eris dan Azril. Allhamadulilah, Ulya bersama anaknya sudah pulang dari rumah sakit.
Jadi seperti kata Hans, mereka akan lebih lanjut membahas pernikahan Azril dan Eris yang sudah terjadi. Malam ini semua orang sedang berkumpul di ruang keluarga.
Ulya ikut berkumpul sambil menggendong bayinya. Hans duduk bersama putra sulungnya, Leka dan Milda duduk bersama ada Fahri juga ibu Rida.
Sedangkan pengantin baru ini duduk di hadapan mereka semua, jika dikumpulkan seperti ini Eris merasa seperti mau disidang habis-habisan saja.
'Ya Allah, gue ngerasa kayak abis buat kesalahan besar aja. Tapi emang benar sih, gue nikah tiba-tiba sama Azril, memang itu bukan masalah? Justru karena gue nikah mendadak jadi begini nih, disidang semua orang.' Eris berdebat dengan diri sendiri.
Azril yang duduk di sebelah suaminya gugup luar biasa, bukan hanya gugup di depan semua orang. Azril gugup karena duduk didekat Eris dengan jarak yang mungkin tidak ada celah baju keduanya bahkan menempel.
Heemmm, dehem Leka membuat suasana di ruang keluarga itu terlihat semakin tegang bagi Eris sendiri, yang lain terlihat santai saja, apalagi Ulya, dia bahkan tertawa bersama bayi Alvan.
"Eris, kamu dan Azril kan sudah menikah. Jadi apakah kamu sudah mendaftarkan pernikahan kalian di negara?" Leka mulai membuka suara.
Eris bernafas lega sekali, dia kira akan diintrogasi habis-habisan oleh mereka semua. "Belum Pa, tapi Eris memang sudah ada rencana untuk mendaftarkan pernikahan kami," kata Eris, Leka mengangguk.
"Terus kamu, Az. Sekarang sudah punya suami jadi tidak mungkinkan harus tinggal di pesanter lagi, jadi kapan kamu mau izin benar-benar pulang?" sekarang Hans yang bertanya pada sang adik.
Azril mengangkat kepalanya yang tertunduk menatap sang kakak. "Tapi Mas, Azril...."
"Sekarang kamu sudah jadi tanggung jawab suami kamu, Az. Jadi harus mengikuti kemana suami tinggal," sambung Milda memberi pengertian pada sang putri.
Eris bersorak gembiar mendengar orang-orang menyuruh Azril ikut bersamanya, dia juga berharap Mama mertuanya melupakan hukuman yang beliau beri untuk dirinya. 'Semoga Mama lupa sama ucapannya mau misahain aku sama Azril dalam waktu satu minggu,' batin Eris sangat berharap.
"Kalau begitu itu Azril ikut saja apa kata kam Eris, Ma. kapan pun bisa izin sana Umi dan Abah, Insya Allah. Azril sudah siapa."
Milda dan Leka tersenyum merasa lega, setidaknya putri mereka terlihat baik-baik saja dalam pernikahan mendadaknya.
"Satu minggu lagi kita juga akan melakukan resepsi untuk kalian, jadi Bang Fahri sama Mama Rida juga jangan pulang dulu," celetuk Hans.
Fahri bersama ibu Rida yang tadi diam mengangguk setuju.
"Oh iya, Mama lupa. Karena seminggu lagi akan ada resepsi kalian berdua sesuai janji Mama Er, kamu dan Azril tidak boleh bertemu selama satu minggu, sebelum resepsi," ujar Milda membuat harapan Eris pupus.
Ulya menyadari wajah lesu Eris membuat dirinya ingin sekali tertawa kasihan baru nikah sudah dipisah saja.
"Baik Ma," sambung Eris terlihat baik-baik saja, tapi tidak di dalam benaknya. 'Mama memang tidak akan pernah lupa dengan perkataannya sendiri,' keluh Eris pasrah.
"Sabar ya Er,"
"Sabar Om Eris." Aditya dan Ulya berkata kompak membuat semua orang tertawa.
"Denger kata Mbak iparmu sama ponakanmu, Er, sabar," ejek Hans membuat Eris memutar bola matanya malas.
"Tapi Eris malam ini tetap tinggal disini apa gimana?" tanya Fahri.
"Tidur di apartemen Er, kalau kamu tetap disini sama aja bohong Mama kasih hukuman untuk kamu," tegas Milda.
"Iya Ma, Eris paham."
Hans dan Fahri sudah tertawa mengejek pada Eris, untung saja tidak ada Arion. Kalau ada adik Azril itu pasti juga akan ikut meledek dirinya, seperti Hans dan Fahri.
"Oma, Aditya mau bobo." Aditya bangkit dari duduknya mendekati Ibu Rida.
"Ayo kita bobo," ajak Ibu Rida pada Aditya. "Mama sama Aditya duluan semua," pamit Ibu Rida menggandeng tangan Aditya menuju kamar Aditya.
Mereka semua mengangguk wajar Aditya sudah mengantuk karena jam sudah menunjukkan pukul 9:30
"Lo nggak pulang Er?" Hans bukan bertanyan melainkan mengejek Eris.
Milda dan Leka juga telah pamit masuk ke dalam kamar untuk istirahat.
"Belum, gue mau sama istri gue dulu sebelum pisah. Apa kalian mau lihat gue mesra-mesraan disini?" sindir Eris ikut mengejek, karena sudah palang kesal pada Hans dan Fahri.
Blus.
Eris tak sadar jika perkataannya telah membuat Azril malu sekali, rasanya dia ingin tenggelam ke dalam dasar lautan.
"Percaya yang udah punya istri, oke. Gue jomblo gue ngalah, dah gue mau tidur ngantuk," ujar Fahri berlalu meninggalkan mereka semua.
"Oke gue kasih waktu lo sampai 10:30 kalau lo masih disini sama Azril, gue pastiin Mama bakal nambah hukuman Lo."
"Nggak asik bener lo, Hans," kesel Eris.
Tapi Hans tidak peduli dia mengabaikan Eris malah bangkit mendekati istrinya.
"Sayang, Alvan sudah tidur?" Hans bertanya sambil mencium istri dan anaknya di hadapan Eris dan Azril.
'Kurang aja sekali kau, Hans! sengaja banget pamer kemesraan di depan gue sama Azril, walaupun sekarang Azril istri gue nggak mungkin gue cium dia sekarang juga,' kalau bisa Eris ingin sekali mebabok pipi Hans sampai bonyok.
"Sudah Mas," jawab Ulya tersenyum geli melihat tingkah Hans yang sedang menggoda Eris.
"Udah yuk ke kamar, Alvan juga sudah tidur," ajak Hans sambil merangkul pinggan istrinya.
"Baik Mas," patuh Ulya. "Az, Er. Aku ke kamar duluan ya, Alvan udah tidur," pamit Azril pada pasangan itu.
"Iya Mbak." Azril yang dari tadi diam akhirnya bersuara juga sedangkan Eris mengangguk saja.
"Ingat jangan diem-diem tidur di mansion," teriak Hans.
"Iya gue tahu!" sahut Eris ikut berteriak tak lupa dia bedecak pelan, rasanya ingin sekali Eris mengumpat habis-habisan kakak iparnya.
Sekarang di ruang keluar itu hanya ada Eris dan Azril, suasana langsung jadi canggung.
"Az, kamu belum ngantuk?" tanya Eris memecahkan keheningan diantara mereka berdua.
Azril mengangkat kepalanya untuk melihat Eris, dia belum sadar jika saat ini Eris tengah menatapnya dalam.
Deg!
Bola mata keduanya bertemu, Eris seakan mengunci bola mata sang istri agar tetap menatap matanya.
"Belum kak," jawab Azril gugup.
Eris tersenyum hangat. "Kamu bisa jangan memanggilku Kak lagi?"
"Terus apa," bingung Azril mengerutkan dahinya.
"Apa saja asal jangan Kak, nanti dikira aku bukan suamimu pula."
Blus
Ya Allah, tolong siapa saja! jantung Azril sekarang benar-benar tidak aman, apalagi mukanya dan Eris begitu dekat, Azril tak pernah menyangka jika Eris bisa menjadi seberani ini setelah mereka menikah padahal dulu Eris terlihat selalu menjaga jarak dari dirinya, sekarang kenapa jadi seberani ini?