Kasih Sayang Untuk Aditya

Kasih Sayang Untuk Aditya
Bab 69


Bismillahirrohmanirrohim.


"Eris, saya tidak mau tahu. Hari ini juga kamu harus bisa mencari tahu keberadaan istri dan anak saya!"


"Tapi Tuan muda, bukan kita sudah mencari hampir diseluruh kota ini. Tidak kunjung juga bisa menemukan nyonya muda dan Tuan muda Aditya, kita juga sudah mencari keluar kota bukan."


"Lalu saya harus bagaimana Eris? Saya merindukan istri saya juga Aditya!" Hans menjambak rambutnya kasar.


Dia tidak pernah fokus bekerja, pikirannya terus melayang pada sang istri, anak dalam kandungan Ulya juga Aditya.


"Mungkin Tuan muda harus berusah kembali memaksa Tuan besar agar mau memberi tahu Anda dimana keberadaan nyonya muda Ulya."


"Kamu benar Eris, saya memang harus kembali memaksa papa untuk mengatakan dimana istri saya berada!"


Hans bangkit dari duduknya berlalu meninggalkan ruang kerjanya pergi menemui sang papa untuk menanyakan dimana istrinya. Yang jelas Tuan Leka pasti sangat tahu dimana keberadaan Ulya.


"Aku harapa kali ini Papa mau mengatakan dimana Lia dan Aditya berada." Guman Hans sambil terus melangkah.


Saking buru-burunya Hans sampai dia tak mempedulikan orang yang menyapa dirinya.


"Siang pak Hans." Sapa Maya sebagai salah satu dokter di rumah sakit harapan bangsa.


Hanya Maya yang tahu jika saat ini hatinya masih terisi oleh Hans, walaupun cintanya bertepuk sebelah tangan. Kadang terbesit di hati Maya untuk menggoda Hans, tapi pemikirannya masih waras agar tidak merusak rumah tangga orang.


"Kenapa dengan pak Hans." Bingung Maya. Tapi setelah itu dia tak ambil pusing.


'Memang harus segera melupakan pak Hans, harus mencari seorang yang bisa sama-sama nyaman dan mengerti.'


Sudah hampir empat hari Hans mencari keberadaan istri dan anaknya, tapi dia tidak dapat menemukan mereka. Bertanya dengan mama dan papanya bukan mendapatkan jawaban malah dia mendapat ceramah panjang dari sang mama. Mengancam Arion untuk memberitahu keberadaan Ulya dan Aditya, adik bungsunya tidak buka mulut pun.


Bertanya pada Eris, laki-laki itu juga tidak tahu dimana keberadaan Ulya dan Aditya. Hans hampir frustrasi tidak bertemu dengan anak istri, dia susah tidur berapa malam ini.


Padahal Hans telah mengerahkan beberapa anak buahnya untuk mencari keberadaan Ulya. Hans benar-benar kehilangan jejak istrinya. Ponsel Ulya juga tidak pernah aktif.


"Dek, apa kamu tidak merindukan suamimu ini, sampai hari ini kamu tidak menghubungi suamimu, Mas rindu. Kamu tahu dek, Mas hampir nyerah cari keberadan kamu sama Aditya."


"Mas terus berdoa agar kita segera bertemu dan berkumpul kembali."


Kala sampai di ruang sang papa, saking tergesa-gesanya Hans masuk tanpa mengetuk pintu ruang pemilik rumah sakit harapan bangsa, walaupun papanya sendiri Hans memang selalu perfesional dalam pekerjaan.


"Hans! Apa yang sedang kau lakukan."


"Maaf Pa, Hans minta maaf jika tidak sopan. Hans hanya ingin minta tolong pada Papa katakan dimana Aditya dan Lia berada. Hans merindukan mereka Pa." Tatapan mata Hans benar-benar mengisyaratkan jika dirinya sangat merindukan dua orang yang baru saja dia sebut namanya.


Tuan Leka menatap lekat wajah putra sulungnya. "Kamu tahu apa kesalahan yang telah kamu perbuat Hans?"


"Hans tahu Pa. Hans telah mengecewakan kalian semua termasuk istri Hans sendiri. Hans janji Insya Allah tidak akan mengulangi kesalahan yang kedua kali. Hans minta tolong Pa, katakan dimana mereka berada sekarang." Ucap Hans tersengal sengal.


"Papa tahukan Lia sedang hamil muda, Lia pasti butuh Hans di sampingnya. Hans janji Insya Allah akan menjadi papa dan suami yang siaga." Ucap Hans berusaha meyakinkan Tuan Leka.


Leka tak langsung memberi tahu pada Hans dimana keberadaan mantu dan cucunya. Tapi dari tatapan Hans beliau tahu, jika putra sulungnya telah benar-benar menyesali semua kesalahan yang dia perbuat. Hans adalah laki-laki yang bertanggung jawab. Tuan Leka kenal seperti apa putra sulungnya.


"Papa akan mengatakan dimana mereka berada. Kasihan juga kamu, Hans. Sudah mengerahkan anak buah tapi tidak bisa menemukan keberadaan anak dan istrimu."


"Semua ini juga ulah Papa, kan, Hans tahu papa yang menghalangi informasi mereka."


"Jadi Hans mohon katakan dimana mereka." Desak Hans.


"Kamu memang sudah sangat merindukan mereka. Baik papa katakan dimana mereka berada. Mereka di Villa Xx."


"Apa! Hans sudah mencari kesana berkali-kali tapi tidak ada siapapun." Ujar Hans tidak percaya.


"Terserah kamu mau percaya atau tidak apa papa katakan. Jelas kamu tahu siapa yang memisahkan kamu dengan Lia."


"Baik, Hans percaya! Hans pergi dulu Pa, Assalamualaikum. Hans pulang dulu mau langsung nyusul mereka."


"Wa'alaikumsalam." Jawab Tuan Leka menggelengkan kepala melihat tingkah Hans.


"Aku merasa melihat diriku waktu masih muda."


Semua yang ada di dalam diri Hans hampir 80% menurun dari Leka. Jika sudah sayang dengan satu perempuan tidak bisa berpaling begitulah Leka dulu sampai menurun pada Hans.


***


Villa Xx milik keluarga Kasa, rupanya bukan hanya Hans seorang yang merindukan Ulya. Sebaliknya juga begitu, Ulya merindukan Hans sang suami.


Bumil satu ini kini tengah menatap hamparan pohon hijau dan bunga di depannya sekarang. Lalu tak lama kemudian kedua bola matanya terpejam menikmati udara sekitar.


"Lia tahu disini memang sangat nyaman dan damai, tapi jika tidak bersama Mas Hans. Lia juga tidak mau lama-lama berada di tempat ini." Guman istri seorang Raditya Kasa Hans.


Siang ini Ulya berada di Vill sendirian tanpa Fahri, Cia dan Aditya. Dua orang dewasa itu sedang menemani Aditya jalan-jalan. Dari pagi Aditya sudah merengek ingin pergi jalan-jalan bersama Ulya, tapi Ulya belum bisa menemani Aditya pergi jalan-jalan ke tempat jauh, akhirnya bocah itu memaksa Fahri dan Cia agar mau menemani dirinya.


Bosan sendiri Ulya memutuskan untuk menantap hamparan bunga didekat Villa. Dia memang tidak sendiri ada penjaga yang menjaga Villa tersebut tapi mereka menjaga jarak dari nyonya muda.


"Mas, Lia kangen tahu. Pengen dipeluk, pengeng tidur sambil dengerin Mas shalawatan. Akhir-akhir ini Lia juga pengen banget makan disupin sama Mas, karena Mas nggak ada jadi tipa hari Lia minta suap sama abang, sampai abang terus ngoceh sama Lia selalu minta suap kalau makan."


Grep!


Asyik bicara pada diri sendiri, Ulya tiba-tiba merasakan ada seorang yang merangkunya dari belakang kedua tangan kekar itu terasa nyaman diperut Ulya.


"Mas juga kangen sama kamu dek, bahkan Mas hampir putus asa nggak ketemu kamu. Apalagi kamu nggak pernah telefon atau wa Mas sekalipun. Mas kira kamu benar-benar pergi." Bisik Hans tepat di kuping istrinya.


Suara Hans terdengar sangat indah di telinga Ulya, suar barusan yang sangat Ulya ridukan.


"Pasti aku lagi mimpi saking kangenya sama Mas Hans." Ucap Ulya pada diri sendiri.


Rangkul Hans terasa sangat nyata, suara khas Hans juga terasa begitu nyata bagi Ulya. Saat ini Ulya sedang memejamkan matanya belum membuka kedua bola mata tersebut.


"Hei, kamu lagi nggak mimpi sayang. Aku bener suami kamu!"


Ulya langsung membuka matanya dan membalikan badan untuk melihat sang suami.


"Masya Allah, Mas."


Keduanya berpelukan menumapkan rasa rindu yang sudah memuncak hampir satu minggu tidak bertemu tanpa ada komunikasi.


(Udah ya Lunas, suami istri satu ini udah balik bareng-bareng lagi. Benar mereka nggak boleh pisah lama-lama🤗)