Kasih Sayang Untuk Aditya

Kasih Sayang Untuk Aditya
Bab 86


Bismillahirrohmanirrohim


بسم الله الر حمن الر حيم


Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad.


اللهم صلي عل سيدن محمد و عل ال سيدن محمد.


Cuaca siang hari semakin terlihat cerah, merasa sedikit panas, matahari mulai naik kepermukaan di atas kepala tanda-tanda waktu shalat dzuhur akan segera tiba. Beberapa menit telah berlalu azan dzuhur mulai berkumandang terdengar di telinga.


Lantunan adzan terdengar dari setiap masjid yang berdiri kokoh didekat jalan raya maupun, dari mushola perumahan atau desa terdekat di tempat mereka berada.


"Kita mampir di masjid depan dulu Er," ucap Hans kala melihat sebuah bangunan masjid kokoh dari dalam mobil.


"Baik Tuan muda," jawab Eris masih tetap fokus mengemudi.


Ulya mengelus pucuk kepala Aditya. "Sayang, acara ulang tahun Erisa dimulai setelah dzuhur bukan?" tanya Ulya memastikan.


Aditya mendongak menatap Ulya sejenak lalu mulutnya terbuka ingin mengucapkan sesuatu pada Ulya. "Yes, Mom," jawabnya.


Mobil akhirnya berhenti tepat di depan masjid mereka semua segera turun dari dalam mobil berjalan menuju masjid.


"Ingat yank, harus hati-hati. Aku tidak ingin terjadi apa-apa pada kalian," pesan Hans pada istrinya.


Ulya melihat khawatiran dari sang suami tersenyum, dia sangat bersyukur Hans begitu menyayangi dirinya dan selalu menjaga dia dan calon bayi mereka.


"Insya Allah, Mas. Lia janji akan baik-baik saja. Ada Allah yang akan selalu melindungi Lia," ujarnya meyakinkan sang suami.


Walaupun begitu tetap saja ada rasa cemas pada diri Hans, tapi dia cepat mengucapkan istighfar. 'Astagfirullah Hal-Adzim.'


"Kamu ambil air wudhu biar Mas tunggu disini, baru bisa tenang lihat kamu sendiri setelah masuk ke dalam masjid."


Tidak ingin membuat suaminya semakin merasa cemas Ulya menurut saja pada Hans, dengan perlahan ibu hamil itu mulai mengambil air wudhu, tak lama setelah itu dia selesai dengan kegiatannya langsung menghampiri sang suami yang masih setia menunggu dirinya selesai wudhu.


"Sudah Mas, Lia masuk ke dalam masjid dulu. Assalamualaikum."


Hans mengangguk sambil menjawab salam istrinya. "Wa'alaikumsalam." Hans menjawab salam Ulya sambil berlalu.


Sebentar lagi iqomah akan segera berkumandang, Hans segera mengambil air wudhu. 5 menit setelahnya Iqomah telah berkumandang seluruh orang yang shalat di masjid tersebut melaksanakan shalat dzuhur berjamaah.


Waktu bergulir.


Selesai melaksanakan shalat dzuhur mereka segera melanjutkan perjalanan, rumah orang tuan Erisa sudah hampir dekat dengan lokasi mereka saat ini.


Jam sudah menujukan pukul 12 : 40 itu artinya 10 menit lagi ulang tahun Erisa akan segera dilaksanakan.


"Kita masih lama Om Eris?" tanya Aditya memastikan.


"Sebentar lagi kita sampai," jawab Eris.


Mobil yang dikendarai sudah memasuki perumahan tempat Erisa tinggal, hanya tinggal mencari letak rumahnya lagi. Benar memang tempat tinggal Eris tidak jauh dari masjid yang sempat buat mereka mampir untuk shalat tadi.


"Mungkin itu rumahnya," tunjuk Ulya pada sebuah rumah yang terlihat ramai anak-anak.


Langsung saja Eris mengarahkan mobil ke tempat yang ditujuk oleh Ulya. Ternyata tidak ada 10 menit mereka sudah sampai di rumah orang tua Erisa.


"Allhamadulilah, Aditya tidak terlambat," guman anak kecil berusia 5 tahun ini.


"Ayo turun."


Mereka semua segera turun ternyata Erisa sudah menunggu kehadiran Aditya, kemarin di sekolah teman sebangkunya itu sudah berjanji akan datang keacara ulang tahunnya.


"Assalamualaikum," ucap mereka semua kompak.


"Aditya!" panggil Erisa juga beberapa teman sekolah Aditya.


"Mommy, Aditya main sama mereka," izin Aditya terlebih dahulu pada Ulya.


"Baik boy, tapi ingat tidak boleh nakal pad siapapun," pesan Ulya.


"Aditya janji Mom, tidak akan nakal."


Ulya mengangguk mengizinkan Aditya, lalu para anak-anak segera bermain bersama. Mereka mendekati Erisa yang memiliki acara.


"Masya Allah, terima kasih sudah mau datang Ulya," ucap Anggi sambil menggendong adik Erisa yang baru berusia 2 tahun kurang.


Sedangkan Hans sudah izin pada istrinya untuk menemui ayah dari Erisa. Hans bersama dengan Eris tentunya, ada berapa orang juga yang mengenal Hans juga.


Acara ulang tahun Erisa segera dimulai, seperti berpengalaman melihat acara ulang tahun Aditya waktu itu, Erisa juga mengundang para anak yatim untuk bersama-sama merayakan ulang tahunya dengan menambah banyak teman. Walaupun tetap masih ada kue ulang tahun berwaran biru milik Erisa.


Semua orang terlihat bahagia, acara berjalan dengan lancar.


"Mbak boleh saya izin istirahat? saya merasa sangat lelah," ucap Ulya merasa tidak enak.


"Astagfirullah, maafkan saya Ulya. Ayo saya antar ke kamar."


Ulya hanya bisa mengikuti anggi, ternyata memang sudah ada kamar yang disiapkan untuk mereka yang merasa terlalu lelah ingin beristirahat.


"Terima kasih banyak Mbak Anggi, maaf jika saya merepotkan Mbak." Ulya merasa tidak enak pada tuan rumahnya.


"Tidak ada yang direpotkan Ulya, kamu memang harus butuh banyak istirahat." Ulya tersenyum menanggapi ucapan Anggi.


"Mbak boleh minta tolong lagi?"


Anggi terkekeh melihat Ulya yang masih merasa sungkan dan tidak enak karena terus meminta tolong pada dirinya.


"Katakan saja Ulya, kamu ini seperti sama siapa saja, apa yang kamu inginkan. Biar saya ambil untuk kamu."


Ulya menggeleng, "tidak ada Mbak, saya hanya minta tolong bilang sama Aditya kalau dia nyariin aku ada disini, Aditya juga suruh bilang sama Daddy nanti. Minta tolong sekali ya Mbak."


"Iya kamu tenang saja, saya tinggal sendiri tidak apa?" Ulya mengangguk.


Setelah Ulya sendirian di dalam kamar, dia mulai memejamkan mata karena kantuk yang menyerang, sekarang Ulya memang lebih sering tidur.


Dua puluh menit berlalu Ulya tertidur, seorang membuka pintu kamarnya.


Ceklek!


Seorang laki-laki masuk mendekati Ulya yang sedang tertidur pulas, senyum menghiasi wajah laki-laki tersebut. Tanganya terangkat mengelus pucuk kepala Ulya yang tertutup hijab juga mengelus perut Ulya.


"Masya Allah, nyenyak sekali Ibu hamil satu ini tidurnya." Hans mencium lembut kening istrinya.


Dia pelan-pelan ikut naik ke atas ranjang menatap Ulya yang masih tertidur pulas, sementara Aditya masih bermain dengan teman-temannya.


Hans tahu dari Aditya jika Ulya sedang istirahat di kamar ini. Sesuai pesan Ulya tadi meminta Anggi untuk menyampaikan pada Aditya jika dirinya sedang beristirahat.


"Kamu belum mau bangun dek? baik, Mas akan ikut tidur bersamamu, lagipula Aditya ingin pulang nanti setelah asar."


Masih sibuk saja Hans mengganggu istrinya tidur, tapi Ulya tidak terusik sama sekali. Hans yang melihatnya jadi gemas sendiri, Ulya tidur dengan begitu tenang.


"Sama sekali nggak keganggu tidur kamu ya yank, Masya Allah sekali. Maaf jika Mas mengusik tidurmu."


Hans menatap pintu kamar sejenak. "Sopan nggak sih tidur di rumah orang, tapi tadi udah izin sama Mas Devran juga Mbak Anggi mau nemenin Lia tidur," guman Hans merasa tidak enak, tapi dia tetap memposisikan diri untuk tidur di sebelah istrinya, sambil memeluk sayang Ulya.


(Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa ilaaha illallah, Laa ilaaha illallah, Laa ilaaha illallah. Allhamadulilah, Allhamadulilah, Allhamadulilah. Subhanallah, Subhanallah, Subhanallah.)