
Bismillahirrohmanirrohim.
Tiga hari berlalu, akhirnya hari yang ditunggu-tungguh oleh Hans datang juga, Entahlah jawaban apa yang akan Hans dapat dari Ulya. Dia sudah tidak sabar mendengarkan jawaban dari Ulya.
"Sabar Hans, sebentar lagi bang Fahri akan menghubungimu, itu sudah pasti." Ucapnya pada diri sendiri.
Di rumah Ulya.
"Bang Lia mau ngomong, tolong sampai sama mas Hans, Insya Allah Lia menerima niat baiknya 3 hari lalu." Ucap Ulya malu pada abangnya.
"Kamu yakin dengan keputusan kamu, dek?"
"Insya Allah, Lia yakin bang." Jawabnya mantap.
" Tunggu barusan manggi Hans apa? Mas, ciee... udah manggil Mas ya sekarang." Goda Fahri, dia kan memang paling senang kalau masalah menggoda adiknya.
"Apa sih bang, orang emang udah lama disuruh manggil 'Mas' tapi Ulya pikir aneh aja rasanya kalau panggil pak Hans menggunakan sebutan, Mas." Jelas Ulya tidak ingin membuat abangnya berpikir yang tidak-tidak tentang dirinya.
Justru Fahri malah semakin gencar menggoda sang adik kala mendengar penjelasan dari Ulya.
"Iya sekarang udah berani panggil, Mas. Calon suami kan? Makanya berani."
"Tau lah bang, titip pesen itu sama mas Hans, Lia mau pergi ada janji sama temen. Assalamualakum." Lebih baik Ulya buru-buru pergi dari hadapan abangnya dari pada terus saja dijahili.
"Wa'alaikumsalam, jangan pulang malem Lia, sebelum asar udah ada di rumah." Teriak Fahri saat masih melihat keberadaan adiknya.
"Iya bang, siap!" Jawab Ulya ikut berteriak.
Setelah ke pergian Ulya, Fahri langsung mengabari Hans agar mereka bisa bertemu hari ini juga secara langsung untuk membahas jawaban yang akan Ulya berikan pada Hans.
Mendapatkan kabar baik dari Fahri, Hans langsung menyanggupi permintaan Fahri untuk mereka bertemu di sebuah cafe. Memang ini yang Hans tunggu-tunggu, jawaban dari Ulya. Punya firasat jika kabar baik yang akan Hans dapatkan, dia membawa Aditya ikut bersama dirinya.
"Semoga mbak Lia menerima lamaran daddy, son. Setelah daddy dan mbak Lia menikah kita bisa bersama-sama."
"Asik! Berarti kita tidak akan berpisah lagi dengan mbak Lia, daddy?"
"Kamu benar son."
Tak butuh waktu lama Hans dan Aditya sudah sampai di tempat yang sudah Fahri janjikan tadi saat di telefon.
"Hans, Aditya." Panggil Fahri kebetulan dia juga baru sampai di cafe xx.
"Om ganteng, cini." Antusias sekali Aditya melihat keberadaan Fahri.
Fahri mendekati ayah dan anak itu, mereka saling menyapa ramah satu sama lani. "Ayo pesan sekalian ngobrol." Ujar Fahri.
Mereka memilih duduk di meja yang dekat jendela, jadi pemandangan di luar masih terlihat jelas oleh mereka semua. Setelah tak lama pesanan datang obrolan mereka terus berlanjut.
"Hans saya mau menyampaikan pesan Lia. Sesuai janjinya 3 hari lalu, hari ini dia akan memberikan jawaban atas lamaramu, melalui saya abangnya sebagai perantara." Ujar Fahri, mendengar Fahri mulai bicara serius, Hans semakin deg, deg tidak karuan.
"Jadi apa jawaban yang Lia berikan?" sudah tidak dapat lagi Hans menahan rasa penasarannya. Begitu juga Aditya.
"Iya om ganteng, apa kata mbak Li?"
"Dia menerima lamaran daddymu, Aditya. Untuk lebih lajut aku sebagai abang dari Lia akan membantumh untuk rencana selanjutnya. Ulya sudah menyerahkan semuanya pada saya." Lajut Fahri pada Hans.
"Alhamdulillah!" ucap Hans dan Aditya kompak, mereka berdua senang sekali tak lama lagi Ulya akan jadi bagian dari hidup keduanya.
"Kompak amat kalian berdua." Ujar Hans tak habis pikir.
"Satu hati bang."
"Daddy, Aditya mau main kecana." Tujuknya saat melihat sudah tersedia tempat permainan anak di dalam cafe.
"Ciap daddy." Rasanya sekarang Aditya sangat bahagia sekali.
Sambil terus mengawasi Aditya, baik Hans maupun Fahri melanjutkan obrolan mereka.
Siapa sangka Ulya juga berada di cafe yang sama dengan Fahri dan Hans bertemu, tapi meja berbeda sedikit jauh. Ulya memiliki janji pada Cia akan menceritakan semuanya pada sang sahabat. Ternyata Yulia juga berada di cafe yang sama dimana Ulya berada.
"Itu Aditya, pasti bocah laki-laki itu datang bersama Ulya. Ini saatnya aku membuat malu Ulya." Senang sekali Yulia mendapatkan kesempatan emas untuk menjatuhkan Ulya.
Diam-diam Yulia mendekati Aditya yang dia kira Aditya datang bersama Ulya. Yulia menyuruh seorang pelayan memberi Aditya kue yang terbuat dari daging sapi campur daging kambing.
"Mbak tolong berikan makanan ini pada anak saya yang bermain di tempat anak-anak itu ya. Bilang saja dari mbaknya jangan bilang dari mamanya."
Tanpa rasa curigai pelayan cafe itu menurut saja apa yang Yulia suruh. Gadis itu tidak menyadari keberadaan Hans.
"Adik kecil, ini kue dari mbak kamu yang disana." Tunjuk pelayan itu kearah Yulia, tapi Aditya malah menangkap sosok Ulya.
"Terima kasih, mbak." Ucap Aditya sopan.
Tanpa rasa ragu Aditya mulai menyantap makanan yang dia kira dari Ulya. Yulia yang melihat Aditya mulai memakan kue tadi tersenyum puas.
"Mampus kamu Ulya, setelah ini seluruh keluarga Kasa akan membenci dirimu." Batin Yulia tertawa puas, ada sedikit racun yang diletakkan dalam makanan itu, tidak bahaya sih tapi ya namanya racun. Apalagi untuk anak kecil.
Lima menit berlalu tiba-tiba suasana cafe menjadi kacau balau kala Aditya mulai merasa ada yang salah pada dirinya.
"Daddy! Daddy!" teriak Aditya, akhirnya anak itu menangkap sosok Yulia yang terlihat panik saat mengetahui Hans ada di tempat yang sama dengan Ulya.
"Tungguh, kenapa jadi seperti ini." Bingung Yulia saat melihat Hans panik sedangkan Cia dan Ulya masih mengobrol.
"Aditya!" teriak Hans.
Deg!
"Aditya." Guman Ulya pelan, tiba-tiba rasa khawatir menghujani hati Ulya.
"Lia lihat geh, disana kok rame-rame sih." Tujuk Cia pada kerumunan orang di dalam cafe.
Sontak Ulya juga menatap arah yang sama dengan Cia. "Abang! Cia ayo kesana." Ajak Ulya.
"Astagfirullah, Aditya!" teriak gadis itu yang sudah mengeluarkan air mata.
Tanpa banyak berfikir Ulya lebih dulu membawa Aditya dalam pangkuannya.
"Hei, Aditya are you oke, sayang?" Air mata Ulya jatuh membasi pipi tembeb Aditya.
"Aditya oke mbak." Jawabannya paruh tak lupa memasak senyum pada Ulya.
"Abang, Cia, mas Hans jangan diam aja panggil ambulans atau bawa Aditya segera ke rumah sakit." Suara Ulya sudah terdengar paruh.
Tidak ingin terjadi hal serius pada putranya Hans membawa Aditya ke dalam gendongannya. Segera membawa anak itu ke rumah sakit..
"Kumpulkan semua pekerja di cafe ini!" suruh Cia pada seorang menejer cafe.
"Baik, bu Cia."
"Ingat saya tidak ingin kejadian seperti ini terulang lagi. Tutup cafe untuk hari ini, cari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Jangan sampai terjadi sesuatu pada cucu keluarga Kasa! Saya ingin masalahnya cepat ditemukan, kamu menejer di cafe ini Fiah, jadi jangan mengecewakan saya!" geram Cia.
Semua orang kaget mendengar perkataan yang keluar dari mulut Cia. Setelah itu dia ikut menyusul Ulya ke rumah sakit.
Yulia sudah kabur saat kekacauan yang dia buat terjadi. Rasa takut kini menghantui dirinya apalagi perhitungannya salah.
"Jangan sampai ada yang lihat gue!" ucap Yulia takut