Kasih Sayang Untuk Aditya

Kasih Sayang Untuk Aditya
Bab 41


Bismillahirrohmanirrohim.


Ceklek!


"Dok, bagaimana keadan anak saya?" kala seorang dokter keluar dari ruang IGD Hans langsung bertanya tentang keadaan Aditya.


Sang dokter menghela nafas panjang. "Allhamadulilah den Aditya segera dilarikan ke rumah sakit, saya tidak tahu apa yang akan terjadi jika telat satu menit saja. Den Aditya juga terkena racun, untungnya racun itu tidak berbahaya. Tapi tuan muda Hans tahu bukan jika penderita penyakit thalasemia tidak boleh mengkonsumsi dangi mereka." Jelas dokter.


"Saya memang tidak pernah memberi Aditya daging, dok!" bantah Hans.


Deg!


"Penyakit thalasemia." Kaget Ulya, selama ini dia penasaran Aditya menderita penyakit apa, sekarang setelah tahu sakit apa yang Aditya derita rasanya sangat menyakitkan sekali.


Bukan Ulya tidak tahu apa itu penyakit thalasemia, dia pernah membaca sebuah artikel tentang penyakit berbahaya satu ini, apalagi untuk anak kecil seumur Aditya.


"Tapi Aditya sudah jauh lebih baik, kan, dok?" Ulya memberikan diri untuk bertanya.


"Alhamdulillah sudah, walaupun sudah membaik, Aditya masih perlu dirawat untuk beberapa minggu ke depan."


"Terima kasih banyak dokter Wira." Ucap Hans setelahnya.


Tak lama kemudian semua keluarga Kasa sudah tiba di rumah sakit milik keluarga mereka, ibu Rida pun ikut menjenguk Aditya.


"Gimana kabar cucu grandma, Hans?" Milda bertanya dengan nada khawatir.


"Kita semua masuk saja dulu, Ma." Usul pak Leka pada semua orang.


Mereka akhirnya menemui Aditya bersama-sama. Bocah itu sedang berbaring sambil menatap langit-langit ruang rawat, kebetulan Aditya sudah dipindahkan ke ruang rawat barusan.


"Daddy, mbak Lia. Cini Aditya mau di peluk daddy cama mbak Lia juga." Kedua bola mata Aditya terlihat berbinar.


"Are you oke, son?"


"Yes daddy. Grandfa, boleh nanti malam Aditya tidur di temani daddy juga mbak Lia."


Deg!


Ulya tidak dapat berkata-kata mendengar ucapan Aditya, kini semua orang saling menatap satu sama lain.


"Aditya mau tidur di peluk mbak Lia, cama daddy." Lajutnya lagi membuat semua orang semakin bingung.


Tuan Leka tidak tega untuk menolak permintaan cucu satu-satunya itu.


"Boleh cucu grandfa, tapi nanti malam oke."


"Ciap grandfa."


"Pa." Perotes Azril tidak terima, bagaimana mungkin masnya yang belum menikah dengan Ulya harus tidak dalam satu kamar.


"Kamu tentang dulu Azril. Nak Fahri dan ibu Rida saya dan istri ingin bicara penting dengan kalian." Ucap pak Leka.


Lalu 4 orang itu pergi meninggalkan kamar rawat Aditya yang masih terlihat tegang, setelah perkataan pak Leka tadi.


"Loh, mbak yang waktu itukan?" suara Arion yang mengajak Cia berbicara memecahkan suasana tegang di kamar rawat Aditya.


"Kak Arion kenal mbak Cia?" Aditya bertanya heran.


"Waktu itu, Arion nolongin mbak Cia, dari para preman yang mau ambil barang-barang, Mbak." Jelas Cia. "Nggak nyangka kita bakal ketemu lagi Arion, terus kamu kenal Ulya, Aditya? Dunia benar-benar sempit."


"Lah orang gue, adiknya mas Hans, iya lah mbak kenal sama Aditya. Ponakan gue itu."


Cia juga berkenalan dengan Azril dan Eris yang masih berada di ruang rawat Aditya. Sementara itu pak Leka sedang bicara serius bersama Fahri dan ibu Rida juga istrinya.


"Maaf ibu Rida, Nak Fahri jika keputusan saya terlalu buru-buru. Sebelumnya saya mau bertanya apakah Ulya menerima lamaran Hans?" Fahri dan ibu Rida mengangguk bersama.


"Alhamdulillah," syukur Milda juga suaminya.


"Mas, tidak terburu-buru apa ini?" heran Milda.


"Demi Aditya Ma. Saya mohon pada kalian untuk memerikan usulan saya."


Fahri menghela nafas panjang anatara ragu juga kasihan pada Aditya. Tapi mau bagiaman lagi dia juga bingung.


"Tuna Leka, bukankah jika mereka harus menikah hari ini tetap membutuhkan persiapan? Seperti baju pengantin, berkas, mahar juga penghulu."


"Itu gampang Nak Fahri, jika dari pihak Ulya setuju maka sekarang juga akan kita siapkan."


"Bagimana Ma?" tanya Fahri pada sang mama, dia tidak mungkin memberikan keputusan sepihak.


"Bismillah, Mama setuju saja bang, Insya Allah memang ini jalan yang terbaik untuk keduanya."


"Alhamdulillah." Ucap Leka dan Milda bersama.


"Baik kita akan menguru semuanya. Untuk dokumen Ulya dan Hans yang mengurus biar Eris, masalah baju Azril dengan teman Ulya tadi. Untuk penghulu Nak Fahri yang mencari. Dan untuk persiapan tempat saya bersama Arion yang menyesuaikan di dalam kamar rawat Aditya cukup luas. Mahar, juga cicin Hans sudah menyiapkannya." Setelah pembagian tugas itu mereka semua bergerak cepat.


Keputusan besar telah diambil oleh dua pihak keluarga. Akhirnya semua orang mulai melakukan tugas mereka masing-masing. Ibu Rida di temani Azril mengambil dokumen-dokumen milik Ulya yang diperlukan. Sedangkan Eris menyiapkan milik bosnya itu.


Milda menemani Ulya dan Hans yang menjaga Aditya. Karena anak kecil itu tidak mau ditinggal oleh Hans maupun Ulya. Tak lupa tuan Leka juga menghubungi Dika untuk mencari baju pengganti Hans.


"Mau ngapain, Ar?" heran Hans melihat Arion mulai mendekor kamar rawat Aditya bersama beberapa orang.


"Nanti lihat aja mas." Jawab Arion setelahnya, lalu dia kembali menyelesaikan tugasnya.


Tak terasa 4 jam telah berlalu semua sudah siap, Fahri juga sudah mendapatkan penghulu.


"Mau ngapain? Kayak orang mau nikahan aja, memang siapa yang mau nikah? Lu ya bang." heran Hans saat semuanya sudah siap.


"Lah, yang mau nikah kamu Hans." Jawab Milda enteng.


"Nah bener, lagian gue juga kalau mau nikah belum ada calonnya." Ujar Fahri enteng.


"Mbak Cia cocok tuh bang." Arion yang tidak tahu tempat.


"Sudah-sudah, ayo kita mulai saja. Tapi Hans dan Ulya ganti baju dulu kalian akan menikah sekarang juga."


"Yes! Mbak Lia cebentar lagi jadi mommy Aditya, jadi bica temeni Aditya tidur cama daddy nanti malam." Bahagia sekali Aditya.


Tadinya baik Hans maupun Ulya hendak protes atas rencana pernikahan mereka yang diadakan secara mendadak sekarang ini. Melihat Aditya kedua orang itu tidak tega untuk menolaknya. Apalagi semua sudah berkerja keras agar pernikahan mereka hari ini berjalan lancar.


"Kamu tenang saja Hans, ini hanya untuk akad. Resepsinya tetap akan digelar setelah Aditya bolehkan pulang." Jelas tuan Leka.


Cinci dan mahar yang akan Hans berikan untuk Ulya juga sudah ada pada nyonya Milda. Hans memang telah mempersiapkan semuanya sejak dia berniat melamar Ulya.


Mereka sudah memakai baju pengantin masing-masing. Dengan Azril dan Cia membantu Ulya. Sedangkan Hans dibantu Arion dan Eris.


"Masya Allah, kamu cantik sekali, Nak." Ucap ibu Rida terharu.


"Abang nggak nyangka dek, setelah hari ini tanggungjawab papa untuk menjaga kamu sudah bukan abang lagi yang pegang. Tapi Hans calon suami kamu."


Ulya memeluk erat mama berserat bangnya butiran bening itu mengalir disudut matanya. Fahri yang akan menikahkan adiknya sendiri seharusnya menjadi tugas papa mereka.


Tanpa menu menunggu lama penguhu sudah menyuruh Hans menjabat tangan Fahri.


"Bismillahirrohmanirrohim, Raditya Kasa Hans bin Leka Kasa saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan adik saya bernama Ulya Hanifa binti almarhum bapak Guntur. Dengan mahar uang tuani sebesar 50 juta, satu unit mobil, emas 7 gram dan surat Al-mulk. Dibayar tunai."


"Saya terima nikah dan kawinnya Ulya Hanifa binti almarhum bapak Guntur dengan maskawin tersebut dibayar tunai." Hans mengucapkan akad sekali tarikan nafas.


"Bagaimana para saksi, sah!"


"Sah...Sah...Sah.." Kata sah mengema di kamar rawat Aditya. Boca itu terlihat bahagia sekali sangat bahagia bahkan.