
Bismillahirrohmanirrohim.
Seorang gadis terlihat sudah rapi memakai gamis panjang dan hijab yang menutupi dadanya, dia salah satu perempuan yang masih bertahan tetap memakai baju gamis di tengah gempuran orang-orang yang memakai trend fashion masa sekarang, apalagi dikalangan anak kuliah. Gadis itu Ulya.
Hari ini Ulya harus pergi ke kampus untuk bertemu dosen dan sahabatnya, sebelum 2 minggu lagi dia akan mengajukan judul skripsi. Allhamadulilah kaki Ulya yang terkena tusukan beling sudah sembuh 2 hari lalu, selama Ulya sakit dia bisa mengenal sifat nyonya Milda yang sebenarnya. Wanita paruh baya itu sangat baik dan ramah aslinya.
"Mbak Lia, Aditya mau ikut boleh?" Aditya menatap polos Ulya.
"Aditya, mbak Lia mau berangkat kuliah dulu sayang, sama grandma saja di rumah ya Aditya."
"Nggak mau grandma, Aditya mau cama mbak Lia." Bola mata Aditya sudah mulai berkaca-kaca, Ulya sungguh tak tega melihat Aditya hampir menangis.
Tubuh Ulya sudah sejajar dengan tubuh mungil Aditya. "Boleh ikut mbak Lia, tapi Aditya harus mendapat izin dari grandma dan daddy terlebih dahulu."
Langsung saja Aditya menatap grandmanya setelah mendengar perkataan mbak Lia. Aditya menatap polos Milda. "Boleh ya grandma, boleh, boleh, boleh." Bocah itu bahkan mengangguk-anggukan kepalanya sendiri.
Milda dan Ulya sontak terkekeh atas tingkah Aditya. Ulya memang sudah meminta izin pada Hans dan nyonya Milda jika hari ini dia harus ke kampus. Hans juga sudah menceritakan pada sang mama siapa sebenarnya Ulya dan bagaimana gadis itu akhirnya bisa menjadi pengasuh Aditya. Dari situ Milda tahu kalau Ulya memang gadis baik, tidak seperti pikiran beliau sebelumnya.
"Bolehkan grandma?"
"Boleh sayang, tapi Ulya kamu ke kampus naik apa?"
"Saya diantar abang, grandma." Jawab Ulya sopan.
Sebelumnya memang Ulya sudah menghubungi Fahri untuk mengantarnya ke kampus, karena jarak kampus dari kediaman Kasa cukup jauh, tidak seperti dari rumah keluarga Ulya yang memang dekat kampus.
"Ye, ye, ye. Aditya ikut mbak Lia." Senang sekali pokoknya Aditya, dia terlihat senang seperti mendapatkan setumpuk mainan baru.
Sepuluh menit berlalu Fahri sudah datang menjemput adiknya di kediaman Kasa. Setelah berpamitan pada Milda, Ulya dan Aditya segera pergi menuju kampus. Bocah cilik yang banyak tingkah itu juga sudah izin lewat telefon pada daddnya, jika dia ingin ikut Ulya. Untunglah Hans mengizinkan kalau tidak mungkin saja Aditya akan merjajuk pada daddy sendiri.
Mereka sudah berada di dalam mobil, tadi tak lupa Fahri menyapa ramah nyonya Milda. Walaupun Fahri belum tahu siapa wanita paruh baya yang tadi sepat dia sapa.
"Om ganteng, lama nggak ketemu, heheh." Sapa Aditya pada Farhi sok kenal sekali.
Fahri dan Ulya sontak terkekeh, kakak, Ulya itu sempat menoleh sebentar pada Aditya untuk memberikan senyum manisnya. 25 menit mengemudi akhirnya mobil Fahri sudah sampai tepat di depan kampus sang adik.
"Abang mau langsung pulang atau nunggu Ulya?"
"Abang pulang ya dek, nanti kamu abang jemput tapi kalau nggak sepet pesen grab aja ya, hehehe."
"Sip, salam sama mama ya bang. Ulya berangkat dulu. Assalamulaikum."
"Wa'alaikumsalam, napa tangan kamu dek?"
"Ya Allah, masa kayak gini aja nggak peka sih bang, bagi jajan napa jangan pelit sama adek sendiri." Malas sekali Fahri kalau sudah seperti ini, tapi dia tetap memberi adik satu-satunya itu uang jajan.
Kedua bola mata Ulya berbinar melihat abangnya mengeluarkan uang pecahan seratus ribu ada lima lembar. 'Allhamadulilah rezeki, ibarat gini wir kata orang-orang, kamu punya abang, kamu punya mesin ATM berjalan, hahaha.' Batin Ulya tertawa jahat dalam benaknya.
"Thansk you abang, sering-sering begini Lia tambah sayang." Buru-buru Ulya keluar dari mobil abangnya sambil menggendong Aditya, sebelum dirinya kena semperot si cerewet, Aditya malah menatap polos Fahri dan Ulya.
"Adek kagak ada akhlak emang." Dengus Fahri segera kembali melajukan mobilnya kembali.
Tidak perlu menunggu lama Ulya segera berjalan menyusuri lorong kampus untuk menemui dosen di ruangan dosen, karena Ulya sudah ada janji pada ibu Rita dosenya. Ulya sama sekali tidak peduli pada tatapan mahasiswa-mahasiswi yang menatap aneh dirinya karena membawa seorang anak kecil ke kampus, dia malah asik berceletot ria bersama Aditya yang sangat aktif sekali.
Sampai di ruang ibu Rita, Ulya segera menemui beliau, gadis itu tetap membawa Aditya disisinya untunglah saat menemui ibu Rita, Aditya tidak lewel dan ibu Rita juga tidak mempermasalahkan Ulya membawa Aditya bersama dirinya.
Sesuai janji setelah menemui sang dosen Ulya akan bertemu sahabatnya. Mereka sudah janjian akan ketemu di cafe kantin kampus.
"Assalamualaikum."
"Inalilahiwainalilahirojiu'n, Wa'alaikumsalam." Cia terlonjak kaget saat sahabatnya itu sudah datang.
"Subhanallah Lia, main ngagetin aja." Kesal Cia, tapi sedekti kemudian bola matanya berbinar saat menatap Aditya.
"Ya Allah, Masya Allah, sungguh indah ciptaan Engaku, Ya Rabb."
Saking jatuh cintanya pada pandangan pertama tangan Cia sudah terangkat hendak mencubit pipi gemul milik Aditya.
"Jangan pegang tante!" Marah Aditya.
Ulya menahan tawanya mendengar Aditya memanggil Cia tante, apalagi wajah kesal Cia jelas sekali terlihat karena Aditya memanggilnya tante.
"Enak aja tante, panggil mbak Cia!" ucap Cia penuh penekanan.
Mereka akhirnya duduk bersama tak lupa Ulya memasan makanan untuk dirinya dan Aditya.
"Napa dah muka Ci?" tanya Ulya pada sahabatnya itu.
"Aku lagi kesel aja Lia, kamu tahu kan kalau aku suka banget baca novel. Tapi tahu nggak sih."
"Kagak!"
"Astagfirullah Hal-Adzim Lia, jangan potong dulu aku berbicara mohon dengan sangat!" wajah Cia kali ini sudah semakin kusut.
"Yang cabar mbak Cia." Nasihat Aditya.
"Denger tuh apa kata anak kecil, yang cabar mbak Cia." Ulya mengikuti gaya bicara Aditya.
"Kalian berdua cocok kayaknya kalau jadi ibu dan anak." Celetuk Cia tanpa pikir panjang.
"Mommy!" sontak Ulya dan Cia saling tatap saat Aditya memanggil Ulya dengan sebutan mommya kala mendengar ucapan Cia barusan.
"Eh, kita kembali ketopik awal Lia. Aku lagi kesel cari novel yang nggak ada romansnya tapi semua tetap ada, novel horo ada, novel action ada, novel urba ada, novel fatim ada, novel fantasi ada. Semua ada."
"Hahahaha, ceperti angkel Mutu mbak Cia, cemua ada, hahahah." Aditya tidak bisa mengeketikan tawanya, tawa itu bahkan nular pada Ulya dan Cia.
Tak jauh dari tempat ketiga orang itu duduk, ada seorang yang sedari tadi menatap tak suka tepat pada Ulya.
"Cerita Romanc pelengkap mbak Cia, benerkan Aditya, mbak Lia?" jawab dan tanya Aditya polos.
'Anak ini, apa dia tahu apa arti romans.' Batin Ulya tak habis pikir.
"Gimana-giaman Aditya." Cia malah penasaran akan jawaban yang diberikan Aditya.
"Iya romanc itu cudah ada dari dulu, karena kata kak Azril romanc adalah pelengkap cetiap kicah yang ada bahkan dimulai dari manucai pertama, cudah ada kicah romanc Ibu Hawa dan Nabi Adam."
Cia maupun Ulya tidak bisa berkata-kata anak kecil sebesar Aditya sudah tahu apa itu romans dan Ulya tahu siapa dalangnya Azril, adik dari daddnya Aditya sendiri.
Keduanya mencerna perkataan Aditya. "Bener juga ada kisah romanc Sayyidah khdijah dan Nabi Muhammada juga, kamu memang pintar Aditya."
"Tapi mbak Cia, Kicah cinta para Nabi kata kak Azril tidak bisa dicamakan cama kicah cinta dino-"
"Astagfirullah, Aditya awas..."