Kasih Sayang Untuk Aditya

Kasih Sayang Untuk Aditya
Bab 83


Bismillahirrohmanirrohim.


Arion. Laki-laki remaja itu masih terus mengejar Fahri, sambil terus memanggil nama Fahri yang tidak dihiraukan oleh sang pemilik nama sendiri.


Terus saja Fahri melangkah entah hendak pergi kemana, jangan tanyakan apa yang kini terjadi pada Fahri. Mungkin jika bertanya pada orangnya langsung Fahri sendiri tidak tahu apa jawabannya.


"Bang Fahri tunggu!" panggil Arion masih berusaha mengejar.


"Astagfirullah, Subhanallah, cepet banget itu orang jalannya." Gerut Arion kesal.


Walaupun begitu Arion tetap kembali melangkah mengejar Fahri dengan napas terengah-engah. Arion memutuskan untuk istirahat sejenak, matanya masih menangkap keberadaan Fahri yang terus melangkah menjauh darinya.


"Mau kemana sih itu orang! bener kata gue jangan-jangan Bang Fahri suka sama Mbak Cia. Lo sih bang telat bergerak cepat, eh, tahunya Mbak Cia sudah ada yang punya saja." Oceh Arion pada diri sendiri, karena Fahri tidak ada bersamanya.


Merasa sudah jauh lebih baik Arion kembali melangkah mengejar Fahri. "Perasaan Bang Fahri cuman jalan dong, sedangkan gue lari kok gak kekejar juga!" bingung sendiri dia.


Fahri. Laki-laki dewasa itu kini telah menginjakkan kakinya di taman belakang kampus, dia tak punya tujuan hanya mengikuti kemana kakinya melangkah, melihat ada sebuah kursi Fahri duduk di kuris tersebut sambil termenung.


"Astagfirullah, sebenarnya ada apa denganku? kenapa mendengar sahabat Lia telah menikah rasanya sesak sekali dada ini, bukankah aku selalu menganggapnya sama seperti Lia." Guman Fahri.


Netranya sibuk menatap taman tempatnya sekarang berada. Bertanya pada diri sendiri tapi Fahri tidak menemukan jawabannya, dia memejamkan kedua matanya agar bisa merasa jauh lebih baik.


Sudah 5 menit berlalu tapi tidak ada yang terjadi apapun pada Fahri, dia malah semakin mengingat Cia. Entah apa sebabnya. Fahri membuka matanya dan menghembuskan napas kasar kala yang dia lihat saat memejamkan mata adalah Cia.


"Astagfirullah, ada apa Fahri? ingat jangan memikirkan istri orang." Nasihatnya pada diri sendiri


"Assalamualaikum." Sapa dua orang dari sebelah kiri dan kanan Fahri.


Kedua orang yang mengucapkan salam itu saling mengangkat kepala mereka untuk melihat siapa yang juga ikut mengucapkan salam bersama.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Fahri tanpa melihat orangnya.


"Lo, yang waktu itu dirumahkan?" Zevran mengangguk.


Benar, orang yang mengucapkan salam bersama Arion adalah Zevran. Tadi dia tak sengaja melihat keberadaan Fahri, jadi berniat menghampiri taunya bersama dengan Arion mengucapkan salam.


Fahri mendongakan kepalanya menatap dua orang yang ada di sampingnya.


"Hus! nggak baik begitu Ar, panggil dengan sebutan, Mas atau Abang atau apalah yang lebih sopan." Tegur Fahri.


"Ya, maaf Bang."


"Iya gue yang di kediaman keluarga Kasa waktu itu. Maaf jika dulu kakak dan papa saya telah mengacau di kediaman kalian."


"Sudah kak tidak usah diingat lagi, yang lalu biar saja berlalu. Terpenting kita dapat mengambil pelajaran dari yang sudah-sudah." Zevran mengangguk membenarkan ucapan Arion.


"Terus kalian berdua ngapain disini." Ucap Fahri buka suara.


"Gue harusnya Bang yang tanya begitu, kenapa lo main pergi aja sih tadi!" kesel Arion. 


"Gue juga nggak tahu Ar, tiba-tiba gue pengen ngilang rasanya." Sahut Fahri enteng.


Lelah berdiri Arion memutuskan untuk duduk di kursi panjang sebelah Fahri.


"Ada yang sakit tapi tidak berdarah ya Bang." Arion tersenyum simpul, sayangnya Fahri tidak menghiraukan dia malah bicara dengan Zevran.


"Terus lo ngapain disini?" kali ini Fahri bertanya pada Zevran.


"Tadi abis angkat telepon dari rektor Bang, terus pas selesai lihat Abang disini gue samperin aja."


"Lo wisuda juga kak?"


"Nggak gue udah lulus satu tahun yang lalu."


"Terus disini ngapain?" Arion kembali bertanya.


"Kerja ngapain lagi." 


"Jadi dosen lo." Suara Fahri membuat Zevran menggeleng tapi tak yakin.


"Masih jadi asisten dosen Bang, doain aja semoga bisa jadi dosen beneran bukan asisten dosen lagi." Jelas Zevran.


"Aamiin." Sahut Fahri dan Arion bersama.


Tiga laki-laki itu akhirnya mengobrol lebih lanjut lagi, sambil menikmati suasana di taman yang sangat menenangkan hati, apalagi tampak tak ada pengunjung selain mereka bertiga.


Di tempat yang Fahri tinggalkan tadi, Cia dan Ulya sudah duduk bersama sambil melihat para keluarga mereka yang saling bertegur sapa.


"Kapan kamu nikah Cia?" pertanyaan yang terlontar dari ibu hamil di sebelah Cia, membuat dia menoleh pada Ulya.


"Satu bulan yang lalu Lia, sebenarnya aku mau mengabari kamu. Tapi tidak jadi karena aku…."


"Karena aku apa, Cia?"


"Maaf, aku tidak bisa mengatakannya, aku ingin menjaga marwahku sebagai seorang istri." Cia tertunduk.


Dan hal itu membuat Ulya menyadari satu hal ada yang aneh dari pernikahan sahabatnya ini. Tapi Ulya tidak mau bertanya lebih lanjut, begini saja dia sudah mengerti lagipula Ulya yakin Cia bisa menghadapi apapun yang terjadi dalam pernikahan sahabatnya. Ulya tahu Cia wanita yang kuat, hebat.


Ulya memegang lembut kedua tangan sahabatnya, sambil menatap teduh pada Cia, membuat keduanya sama-sama melempar senyum sahabat yang sudah seperti saudara sendiri.


"Bismillah, Cia, aku Lia sebagai sahabat kamu hanya bisa mendoakan kebahagiaan pernikahan kamu. Apapun yang terjadi dalam pernikahanmu, aku tahu bahwa Cia Alyana Zahra sahabatku adalah seorang wanita yang baik, kuat dan hebat. Kamu bisa Cia, kamu bisa melewati semua ini. Bahagia selalu Cia." Ucap Ulya penuh haru.


Mereka berdua sampai meneteskan air mata kembali saling berpelukan. Setelah itu mereka tertawa kecil bersama, Ulya membuang napas kasar.


"Terima kasih Lia."


"Sama-sama Cia." 


Lalu keduanya saling diam sampai Ulya kembali membuka suaranya menatap Cia.


"Tahu nggak sih Ci, padahal dulu aku berharap kamu bisa jadi kakak iparku." Ulya tertawa subang. "Ternyata Allah punya rencana lain buat kamu."


Deg…


Cia diam membeku mendengar perkataan Ulya. 'Astaghfirullah, ampuni hamba Ya Allah.' Batin Cia.


"Oh, iya Cia, kenapa suami kamu datang terlambat, baru datang pas foto keluarga memang tadi kemana?"


"Mas Riko, dia…."


"Mommy!" Aditya berlari mendekati Ulya dan Cia, sambil memanggil mommynya membuat Cia tidak meneruskan perkataannya.


"Aditya hati-hati sayang, jangan lari Nak." Tegur Ulya.


"Aditya jangan lari." Tegur Cia juga bersamaan dengan Ulya.


"Hehehe, sorry mom. Sorry Mbak Cia." Ucapnya sambil tertawa menampakkan seluruh gigi Aditya yang sudah penuh, tinggal nunggu copot biar dia ompong dulu.


"Mbak Cia sama mommy ayo kita semua foto bersama." Ajak Aditya membuat Ulya dan Cia sama-sama mengangguk.


Aditya menoleh kekanan, kiri seperti masih mencari orang lain.


"Kamu cari siapa Aditya?" tanya Cia memastikan karena Aditya terlihat sedikit bingung.


"Om ganteng sama kak Arion kemana Mbak Cia, Mom?" tanyanya tidak melihat kehadiran dua orang yang Aditya sebut namanya.


Sontak Cia langsung mengingat kejadian tadi, dia melihat kepergian Arion dan Fahri.


'Astagfirullah, Cia.' Tegurnya pada diri sendiri.


"Kita disini cil, eh, Aditya." Ralat Arion cepat.


Tiga laki-laki berjalan seiringan menghampiri mereka bersamaan dengan Hans yang juga ikut menghampiri istrinya.


"Kok disini?" heran Hans menatap Zevran.


"Kak Zevran sudah jadi asisten dosen, Mas." Jawab Arion mewakili Zevran.


Hans mengangguk pamah. "Sekarang ayo foto bersama sudah ditunggu Mama, papa. Sekalian mau ikut Zev." tawar Hans.


"Maaf sekali Tuan muda Hans saya harus menolak tawaran anda karena ada urusan yang harus saya selesaikan." Sesal Zevran.


"Tak apa."


"Kalau begitu saya pergi dulu semua, Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam." Jawab mereka kompak.


(Astagfirullah, Astagfirullah, Astagfirullah)


(Subhanallah, Subhaballah, Subahanallah)


(Alhamdulillah, Allhamadulilah, Allhamadulilah)


(Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar)


(Assalamualaikum semua. Hayo ngaku siapa yang disini kaget tahu Cia jodohnya bukan Fahri🤭. Maafkan author yang udah bikin kalian semua kecewa🙏. Tapi tenang disini cuman aku spil dong kok, Insya Allah setelah karya ini selesai. Aku bakal lanjut kisah Cia dan Fahri. Adakah yang mau baca kalau aku buat kisah mereka berdua? 🤗)