
Bismillahirrohmanirrohim.
Milda baru saja hendak membuka pintu kamar beliau yang berjarak sedikit jauh dari kamar Hans. Malah mendengar teriakan sang mantu memanggil putra sulungnya dengan derai air mata yang membasahi pipi Ulya.
"Mas, Lia mohon dengarkan penjelasan Lia dulu. Mas sudah salah paham sama Lia." Teriak Ulya membuat Milda mengerutkan dahinya.
Tidak pernah sekalipun Milda milihat anak mantunya ribut, rumah tangga Hans dan Ulya selalu rukun. Itu lah yang selama ini Milda amat dari rumah tangga Hans dan Ulya. Ulya adalah wanita yang selalu sabar jika ada masalah Ulya selalu akan mendengarkan penjelasan suaminya terlebih dahulu.
Kaki Milda melangkah hendak mendekati Ulya, tapi tubuh mantu keluarga Kasa itu lebih dulu ambruk di lantai.
"Liaa...." Teriak Milda buru-buru menolong Ulya yang sudah jatuh pingsan.
"Bi, cepat panggil siapa saja yang bisa bawa Ulya ke rumah sakit." Teriak Milda lagi semakin kencang.
Rasa khawatir kini melanda wanita paruh baya itu, apalagi beliau baru saja melihat Ulya mengejar Hans, Milda yakin meresa sedang bertengkar. Sekarang sudah dipastikan Hans tidak berada di rumah, Milda tahu sekali tabiat anak sulungnya, jika ada masalah di rumah pasti akan pergi meninggalkan rumah entah kemana sampai Hans benar-benar merasa tenang barulah dia akan kembali pulang.
Tak lama kemudian Bi Ifah kembali bersama Eris, kebetulan laki-laki itu berada di ruang makan keluarga Kasa.
"Ma." Panggil Eris terbelak melihat istri bosnya sudah tergeletak di lantai. Milda mendongokan kepalanya kala mendengar suara Eris.
"Eris, cepat bawa Lia ke rumah sakit!"
Tanpa banyak tanya Eris langsung menggendong tubuh Ulya ala bridal style. Segera membawa ke lantai bawah diikuti Milda dengan rasa khawatir yang menyelimuti diri wanita paruh baya ini, beliau takut terjadi hal serius pada Ulya.
'Ini suaminya kemana? Biasanya sih Tuan muda Hans khawatir banget sama nyonya muda Ulya. Kalau dia tahu gue gendong istrinya bakal ngamuk itu orang.' Batin Eris sempat-sempatnya memikirkan nasib sendiri.
Sampai di lantai bawah Milda dan Eris berpapasan dengan Arion dan Aditya. Aditya langsung berlari mendekati grandmanya kala melihat sang mommy tidak sadarkan diri.
"Grandma, mommy kenapa?" tanyanya dengan tatapan khawatir.
"Kita ke rumah sakit sekarang sayang, grandma juga belum tahu apa yang terjadi pada mommymu, kita berdoa semoga dia baik-baik saja." Milda mengelus sayang pucuk kepala Aditya.
Akhirnya Arion dan Aditya ikut ke rumah sakit menemani Milda untuk melihat keadana Ulya. Aditya tak henti-hetinya menatap khawatir waja Ulya. Mereka sekarang sudah ada di dalam mobil.
"Grandma, wajah mommy kok pucet banget."
Milda langsung menatap wajah Ulya yang berada di pangkuan beliau mendengar penuturan Aditya.
"Astagfirullah, Ya Allah. Eris ayo lebih cepat lagi kita harus segera sampai di rumah sakit mama tidak mau terjadi sesuatu pada Lia!" titih Milda semakin khawatir.
"Mbak Lia pasti nggak apa Ma. Dia perempuan yang kuat." Ucap Arion bersusah menghibur semua orang.
"Benar, mommy pasti kuat! Aditya yakin mommy baik-baik aja. Tapi grandma, dimana daddy?"
Aditya baru menyadari ketidak hadiran sang daddy biasanya laki-laki itu akan selalu sigap menjaga mommy, tapi kenapa disaat seperti ini daddynya tidak ada pikir Aditya, padahal tadi saat menyabut Hans pulang kerja semua masih baik-baik saja.
"Daddy, masih ada urusan sayang. Nanti segera menyusul."
Entah kenapa Aditya tidak sepenuhnya percaya pada ucapan grandma, tapi dia tetap menganggukkan kepalanya pada grandma.
'Kalau terjadi sesuatu sama mommy, Aditya tidak akan memaafkan daddy! Aditya pasti akan menyalahkan daddy!" ujar Aditya dalam benaknya sendiri.
Setelah menempuh perjalanan dua puluh lima menit menuju rumah sakit. Akhirnya mobil yang dikendarai Eris sampai juga di tempat tujuan, Eris kembali menggendong tubu Ulya dibantu Arion. Melihat ada pasien para suster langsung sigap mengambil bad hospital.
"Tolong periksa keadaan putri saya, Dok!" ujar Milda sangat khawatir.
Ulya dibawa ke ruang UGD.
Arion segera menghubungi semua orang sayangnya hp Hans tidak aktif. Sepuluh menit kemudian Arion telah kembali bergabung bersama yang lain.
"Sudah semua Ma, mereka akan segera ke rumah sakit. Tapi hp Mas Hans tidak aktif." Milda mengangguk mengerti.
'Awas saja Hans, kamu! Jika terjadi sesuatu pada mantu Mama. Mama tidak akan memaafkanmu.' Maki Milda.
"Apa perlu saya mencari Hans, Ma." Ujar Eris mendekati Milda.
"Boleh, kalau ketemu jangan bawa dia kesini Eris, bawa pulang suruh tunggu Mama di rumah."
"Baik, Ma." Sahut Eris tidak membantah.
Saat ini Milda sedang merasa gondok pada putra sulungnya. "Ya Allah, semoga mommy baik-baik caja. Aditya tidak mau terjadi cesuatu pada mommy."
Doa Aditya membuat Milda terenyuh, beliau membawa cucunya ke dalam dekapan. Lima belas menit berlalu dokter keluar dari ruang UGD bersama dengan Fahri, Ibu Rida dan Cia juga datang. Tak lama kemudian muncul Tuan Leka pula yang datang tergesa-gesa masih lengkap mengenakan baju kantor.
"Bagaimana keadaan putri saya dok?" tanya Milda langsung kala dokter sudah berada di hadapan mereka semua.
Dokter menarik nafas panjang. "Nyonya muda Allhamadulilah, baik-baik saja. Dia hanya terlalu lelah butuh banyak istirahat, maklum faktor Ibu hamil, tapi."
"Hamil? Anak saya hamil." Potong Ibu Rida merasa bahagia.
"Benar anak Ibu hamil, sudah masuk satu bulan dua minggu, tapi."
"Alhamdulillah." Ucap mereka semua merasa bersyukur.
"Horee! akhirnya sebentar lagi Aditya punya adik." Aditya bahagia sekali, semua orang akhirnya bisa tersenyum melihat kebahagain Aditya.
"Tapi apa dok." Sekarang Milda yang memotong ucapan dokter.
"Ma, tenang dulu biar dokter menjelaskan." Tuan Leka tetap bersikap tenang, walaupun beliau merasa ada yang tidak beres pada calon cucunya juga pada menantunya.
"Tapi saat ini keadaan janin sangat lemah sekali, saya sarankan agar nyonya muda tetap ceria tidak banyak pikiran untuk sementara jangan melakukan hal berat-berat terlebih dahulu, saat ini lebih baik nyonya muda dirawat di rumah sakit selama beberapa hari agar dokter bisa terus memantau keadaan janin dan ibunya." Jelas dokter panjang lebar.
"Lakukan terbaik untuk menantu saya dok." Sahut pak Leka tegas.
"Insya Allah, baik satu orang boleh ikut saya mengambil resep untuk nyonya muda."
"Saya saja." Ujar Ibu Rida mengikut dokter yang memeriksa keadaan Ulya tadi.
Setelah kepergian dokter dan ibu Rida. Leka menatap heran tak melihat keberadan putra sulungnya. Sementara yang lain sudah mengikuti suster yang hendak memindahkan Ulya ke dalam kamar rawat.
"Dimana Hans, Ma?" Milda menggeleng tanda tidak tahu.
Leka geram pada putra sulungnya kala sang istri sedang tidak baik-baik saja suaminya entah berada dimana.
"Anak itu, apa dia bertengkar dengan Ulya?" tebak Leka.
"Mama kurang tahu Pa, tapi tadi sebelum Ulya pingsan dia sempat mengejar Hans. Mengatakan jika Hans salah paham pada Ulya. Tapi Hans sudah tidak ada di rumah."
"Awas saja kau, Hans! Akan Papa buat menyesal tau rasa, kau." Geram Leka.
Lanjut?