Kasih Sayang Untuk Aditya

Kasih Sayang Untuk Aditya
Bab 102


Bismillahirrohmanirrohim.


Sebelum baca jangan lupa bismillah dan shalawat dulu 🤗


بسم الله الر حمن الر حيم


Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad.


اللهم صلي عل سيدن محمد و عل ال سيدن محمد.


Sampai di depan kamar baik Eris juga Azril kembali merasakan suasana canggung yang luar biasa, tapi keduanya sama-sama menahan canggung itu sendiri dalam benak mereka, sambil masuk ke dalam kamar.


'Ya Allah, jantung gue gini amat. Mau senam jantung atau bagaimana, lebay banget lo jantung cuman berdua sama istri sendiri aja, kayak mau maraton, deg-degannya semakin kenceng weh, gimana ini,' sibuk Eris bicara dengan jantungnya sendiri.


Tidak tahu saja Eris jika perempuan di sebelahnya merasakan hal yang sama atau mungkin melebihi Eris.


'Astagfirullah hal-adzim, Astagfirullah hal-adzim, Astagfirullah hal-adzim. Tenang Az jangan deg-dengan, nggak papa kok sama suami sendiri ini di kamar berdua jadi nggak bakal dosa," peringatnya pada diri sendiri.


Hari ini untuk pertama kalinya Azril membawa seorang laki-laki masuk dalam kamarnya selain saudara kandungannya sendiri dan sang papa.


Mereka tidak sadar kalau masih berdiri di depan pintu, tapi Eris lebih dulu ngeh dia dan Azril sama-sama bengong di depan pintu masuk kamar.


"Sayang, kok bengong," suara Eris menyadarkan Azril.


Ya Allah, rasanya muka Azril panas pasti sekarang sudah merah, mungkin kalau Eris melihatnya laki-laki itu akan tertawa.


"Eh iya, Mas juga kenapa bengong, ayo masuk," ajak Azril.


Eris di belakangnya mengikut Azril saja, setelah mereka masuk ke dalam kamar Eris yang di belakang Azril tanpa disadari oleh Azril sendiri suaminya mengunci pintu kamar.


Ketika melihat pintu sudah tertutup sempurna jantung Azril berdekat semakin tak karuan. 'Ya Allah, ini kenapa sih jantungnya semakin berdebar,' keluh Azril.


"Astagfirullah." Eris menepuk sedikit keras keningnya membuat Azril bingung.


"Ada apa, Mas?" bingung Azril sambil menghampiri Eris. "Keningnya jangan ditepuk keras-keras," ujar Azril mengelus lembut kening sang suami.


Entah Azril sadar atau tidak apa yang dia lakukan, Eris? tentu saja dia menikmati wajah cantik istrinya yang bisa dia tatap lebih dekat seperti sekarang ini.


"Kenapa emang kalau ditepuk keras?" Azril benar-benar tidak sadar, jika sekarang Eris sedang menggodanya.


"Jangan Mas, pasti sakit."


"Kan, ada istri Mas yang bakal ngelus-ngelus kening Mas yang sakit." Eris semakin gencar menggoda sang istri, dia bahkan sengaja meniup wajah Azril.


Sontak Azril langsung mundur setelah sadar apa yang dia lakukan. "Eh, maaf Mas. Azril benar gak sengaja. Tadi apa yang kelupaan, Mas?"


Azril segera mencari topik lain sebelum dia kembali malu di depan Eris, tadi saja refleks Azril mengelus kening Eris setelah sadar rasanya dia ingin tenggelam ke dalam dasar bumi, saking malunya.


"Ahh, itu baju Mas kan belum ada disini." Eris mengaruk telinganya sendiri ikut salah tingkah.


"Sudah dipindah sama Mama, itu baju gantinya juga udah Azril siapin, Mas mandi dulu aja," suruh Azril.


"Sama kamu mau?"


"Kan, Azril sudah mandi Mas," jawabnya polos.


"Berarti kapan-kapan boleh?" tanpa Azril sadari dia mengangguk.


"Yes! oke sayang sekarang Mas mandi dulu."


Cup!


Eris langsung menyebar handuknya, Azril? tentu saja dia jadi patung di tempatnya kala sang suami mendaratkan sebuah ciuman.


"Astagfirullah hal-adzim, Mas Eris emang diluar dugaan," keluh Azril setelah lama terbengong.


Mungkin sekarang Azril harus terbiasa dengan hal-hal tak terduga yang Eris lakukan pada dirinya.


"Azril bikin minuman aja buat Mas Eris," putusnya berjalan menuju pintu.


Tapi kala Azril memegang knpo pintu ternyata pintunya sudah terkunci.


Lupa Azril jika tadi yang terakhir masuk Eris, jadilah dia mencari kemana-mana kunci kamarnya. Tapi sudah 15 mencari dia tak menemukan barang yang dicari.


"Nggak ada, terus dimana." Azril sedang memutar otaknya sampai dia teringat jika Eris yang terakhir masuk.


"Sama Mas Eris pasti."


Tanpa pikir panjang lebih dahulu, Azril mendekati pintu kamar mandi dan lagi-lagi dia dibuat jantungan oleh Eris, karena tepat Azril sudah di depan pintu Eris juga membuka pintu kamar mandi, dia telah menyelesaikan ritual mandinya.


"Astagfirullah hal-adzim," refleks Azril menutup matanya.


Eris yang melihat tingkah Azril terkekeh geli, dia semakin senang menggoda Azril sekarang.


"Sayang, kok matanya ditutup. Aku suami kamu loh. Jadi halal kok kalau mau lihat."


"Apa sih Mas! sana pake baju," suruh Azril, dia bahkan menghentakan kakinya di lantai, bukan karena kesal melainkan malu.


"Mas mau ganti baju asal buka dulu mata kamu," Azril menggeleng kuat.


"Terus ngapain di depan pintu kamar madi waktu Mas lagi mandi, tadi diajak bareng nggak mau."


"Ihh, bukan gitu Mas!" kesalnya. "Azril mau minta kunci pintu kamar, Mas Eris tarok mana?" tanyanya.


Dia masih belum membuka mata, membuat Eris semakin terkekeh melihat Azril yang teguh pendirian itu.


"Ini di tangan Mas, makannya buka mata kalau mau kuncinya."


Yaps! Eris berhasil membujuk istrinya, Eris telah membuka kedua bola matanya sempurna, benar kunci kamar ada ditangan Eris dijunjung tinggi.


"Sini Mas kuncinya, Azril mau keluar," pintanya.


"Mau kemana?"


"Dapur," jawabnya padat dan jelas.


"Ya udah ambil sendiri ini." Eris menyodorkan kunci kamar pada Azril saat tangan Azril bergerak untuk mengambil kuncinya, Eris malah kembali menarik kunci tersbut.


Jadi refleks Azril menabrak dada suaminya, bola mata Azril membolak sempuran cepat-cepat dia kembali memejamkan matanya, saat akan mundur sang suami sudah lebih dulu memeluk erat tubuhnya.


"Mas lepas, sana ganti baju! Azril basah lagi nanti," rengeknya.


"Nggak papa gampang kok kalau bajunya basah nanti bisa ganti lagi." Eris menjawab dengan enteng.


"Tapi memang Mas tidak kedinginan?" yah, Azril masih mencari cara agar bisa terlepas dari pelukan Eris.


"Kenapa gak mau dipeluk suami sendiri?"


"Ihh, bukan nggak mau Mas! Azril malu," cicintnya sambil menenggelamkan kepalanya di dada Eris, tapi mata Azril masih terpejam.


Untung mereka sudah shalat asar berjamaan tadi, kalau tidak urusannya akan semakin rumit.


"Jadi sekarang mana kunci kamarnya?" pinta Azril lagi.


Eris kira Azril sudah tidur karena sekitar 5 menit dia tak mendengar suara yang keluar dari mulut Azril.


"Dari tadi juga kuncinya udah Mas kasih, tapi kamu masih betah nempel sama Mas," goda Eris.


Azril langsung membuka matanya dan secepat kilat menyambar kunci pintu kamar yang ada ditangan Eris. Buru-buru Azril berjalan kearah pintu segera keluar dari kamar, dia jelas malu.


"Ya Allah, malunya, malunya. Kamu sih Az lodingnya lama tadi," runtut Azril pada diri sendiri.


Eris yang melihat tingkah istrinya tertawa geli di dalam kamar, dia benar-benar puas sudah melihat muka memerah Azril karena malu.


"Lucu banget sih kamu yank, istri siapa dulu," gumam Eris merasa bangga.


Azril masih berdiri di depan pintu kamar.


"Mbak!"


"Astagfirullah hal-adzim!" pekik Azril.