
Bismillahirrohmanirrohim.
Gimana sama ceritanya sudah hampir bab 40 menurut kalian semua para pembaca? Mohon kritik dan sarannya ya!
Sebelum lanjut dukung terus novel ini. Jangan lupa Like, komen, favorit, mawar dan bintang 5. Nonton iklan ya guys biar tambah dukung karya ini.
Pada setuju nggak kalau Hans dan Ulya langsung OTW pelaminan.
"Assalamualaikum." Fahri dan Hans mengucapkan salam secara bersama.
Fahri masuk ke dalam rumah diikuti oleh Hans. Kedua laki-laki itu memiliki daya tarik masing-masing untuk membuat kaum Hawa mengagumi mereka. Baik Hans maupun Fahri banyak perempuan yang menyukai mereka.
Seperti memilik pribadi yang sama keduanya ketimbang fokus dengan perempuan merasa lebih baik jika mengurusi pekerjaan mereka masing-masing lebih dulu.
Ulya yang sedang bermain di ruang tamu bersama Aditya menjawab salam tanpa menoleh pada abangnya.
"Wa'alaikumsalam, tumben jam segini udah pulang bang." Jawab Ulya tanpa menatap lawan bicaranya.
"Iya, didekat bengkel abang ada orang meninggal."
"Inalilahiwainalilahirojiu'n, meninggal kenapa bang?" Ulya tetap masih diposisi yang sama.
Cek!
"Anak satu ini ya." Decak Fahri melihat adiknya mengajak bicara tapi tanpa menoleh sedikitpun kearahnya.
"Kalau lagi ngomong sama orang itu lihat orangnya bukan di belakangin, nggak baik."
"Om ganteng jangan marah-marah cama mbak Lia." Bela Aditya lalu dia mengakat kepalanya untuk menatap Fahri.
Ulya pun langsung menatap sang kakak sambil tersenyum tengil seperti biasa.
"Jangan marah bang na-"
"Daddy!" Senyum tengil Ulya langsung hilang kala sadar abangnya tidak datang sendiri melainkan bersama daddy dari anak asuhnya.
"Pak Hans!" kaget Ulya sedikit malu karena Hans melihat tingkah konyolnya.
'Lucu juga dia ternyata.' Batin Hans tapi tetap bersikap cool di hadapan Ulya dan abangnya.
"Mbak Lia! Udah dibilang jangan panggil daddy, pak Hans!"
Eh! Kaget Ulya, dia kira Aditya sudah lupa akan masalah soal panggilan dirinya untuk Hans.
"Tua banget ya dek muka Hans." Ledek Fahri yang membuat Hans menatap tak percaya calon abang iparnya itu. Iyaa, calon abang ipar nggak tu.
"Nggak!"
Sebuah senyum tipis terbit disudut bibir Hans kala Ulya tidak mengiakan ucapan Fahri yang mengatakan mukanya sudah terlihat tua.
"Terus apa dong? Ganteng nggak dek."
"Ga-"
"Masya Allah ada tamu, kok nggak disuruh duduk tamunya Lia, Fahri." Tegur ibu Rida yang datang dari arah dapur.
Hampir saja Ulya menjawab pertanyaan Fahri jujur. Untung saja ada mamanya datang Ulya merasa diselamatkan oleh ibu Rida sang mama tercinta, sementara Hans sedikit kecewa tidak bisa mendengarkan jawab dari pertanyaan kedua Farhi untuk Ulya tentang dirinya.
Satu jam lalu ibu Rida sudah pulang lebih dulu ke rumah daripada anak laki-lakinya itu melihat ada Aditya di rumah beliau, ibu Rida berniat membuatkan Aditya kue saat berada di dapur malah beliau mendengar suara ribut-ribut di ruang tamu. Rupanya memang ada tamu yang datang.
"Tante, gimana kabarnya sudah tidak ada hal serius lagi kan?" tanya Hans sopan sekali.
"Alhamdulillah, Hans. Tante sudah dinyatakan sembuh total oleh dokter. Ayo duduk dulu." Suruh Ibu Rida.
"Iya tante."
Aditya sudah lengket didekat daddynya tapi dia juga tidak ingin berpisah dari mbak Lia. Sekarang Ulya sangat terpaksa sekali duduk di sebelah Hans.
"Mama, masak apa? Kok baunya nggak enak." Ada yang mengganggu indera pencium Ulya dari arah dapur.
Netra Fahri dan Ulya saling tatap mereka melupakan keberadaan Hans dan Aditya di rumah itu. "Mama, kebiasaan!" teriak adik kakak itu bersama.
Hmmm...
Sekaan tersadar apa yang telah mereka lakukan setelah mendapat sebuah deheman dari Hans, Ulya merasa kikuk sendiri, Fahri mah tetap bersikapa cool, santai seperti tidak terjadi hal memalukan.
"Abang bersih-bersih dulu temeni tamunya." Pamit Fahri, sejujurnya dia tidak ingin meninggalkan adiknya hanya bertiga saja di ruang tamu, tapi keringat yang terus membahasi tubuhnya membuat Fahri tidak betah.
Ulya menatap abangnya penuh harapan agar tidak meninggalkan dirinya bersama ayah dan anak ini. Fahri paham akan bahasa adiknya itu seakan berbicara. 'Sebentar dong dek 20 menit palingan.' Begitu kira-kira balasan dari gestur tubuh Fahri, Aditya sibuk memperhatikan interaksi Fahri dan adiknya, Ulya. Bocah itu paham akan gerak-gerik mereka.
Hening..
Tidak ada yang membuka suara setelah ke pergian Fahri dari ruang tamu. 'Ya Allah, mama kok lama banget di dapur.' Keluh Ulya.
'Jadi canggung begini ada apa?' heran Aditya pada diri sendiri.
"Daddy, kecini mau jemput Aditya?" suara Aditya akhirnya memecah keheningan antara mereka bertiga.
"Iya tapi sekalian mau silaturrahmi kesini son.' Satu tangan Hans mengelus pucuk kepala Aditya sayang.
"Ohhh. Mbak Lia ikut kita tidak?" anak kecil itu kembali bertanya, dia menatap Ulya dan daddynya secara bergantian.
"Ulya."
"Pak, Hans." Keduanya menyebut nama bersama-sama.
Baik Hans maupun Aditya mengehela nafas kasar mendengar Ulya masih memanggil Hans dengan sebutan pak. Daddy dan putranya itu terlihat sedikit kecewa tapi Ulya tetap tidak peka.
"Biar saya buat minum dulu, mau minum apa?"
"Apa saja asal kamu yang buat, eh, maksud saya apa saja." Hans cepat meralat ucapannya.
Ulya beralih menatap Aditya, gadis itu tidak ingin terlihat janggung di hadapan Hans, dia merasa harus bersikap seperti biasa saat belum melihat video viral tentang dirinya. Ulya juga sudah berjanji pada Cia akan menjelaskan semua pada sahabatnya.
"Aditya mau mbak Lia buatkan susu?"
"Boleh mbak Lia. Tapi jangan manic-manic" Sebagai jawaban Ulya mengangguk pada Aditya.
"Saya tinggal sebentar." Gadis itu cepat sekali menghilang dari pandangan Hans.
"Daddy cini Aditya kacih tau." Dahi Hans mengerut mendengar nada bicara Aditya tidak seperti biasanya.
"Ada apa, son?"
"Daddy cepertinya ada yang ingin mencelakai mbak Lia." Terpaksa Aditya berbisik tepat di telinga sang daddy tidak ingin ada orang mendengar pembicaraan mereka.
"Tahu dari mana? Siapa yang mau mencelakai dia, son?" ada rasa khawatir yang dirasakan oleh Hans mendengar ada orang yang mau mencelakai Ulya.
"Cini." Aditya menuruh daddynya lebih mendekat lagi.
"Daddy ingat tidak cama tante yang kita temui di mall cama di pantai waktu itu? Tadi ciang waktu Aditya cama mbak Lia mau beli ice crem, tante itu maca marah-marah cama mbak Lia."
'Yulia, mau apa dia? Awas saja kalau berani cari gara-gara dengan orang-orangku. Aku akan membuat jera dia.' Geram Hans, dia memang paling tidak suka ada orang yang mengusik ketenangan dirinya, apalagi dengan cara menyentuh orang-orangnya.
"Tengang saja son, papa akan menjaga mbak Lia." Hans dan Aditya berhenti menbicarkan tentang Ulya saat mendengar langkah kaki mendekat kearah mereka.
"Minumnya." Ucap Ulya, ibu Rida ada di sebelah putrinya membawa kue yang sudah beliau buat.
Tak lama kemudian setelah mereka mengobrol sejenak suara adzan ashar berkumandang. Setelah 30 menit Fahri baru keluar dari kamarnya tadi janjinya pada Ulya tida lama. Fahri sudah rapai memakai baju kok dan sarunga hendak berangkat ke mesjid sekalian pergi melayat sebetar didekat bengkelnya.
"Hans mau ikut ke mesjid?"
"Boleh bang, Aditya daddy tinggal dulu ya."
"Pulangnya nanti saja Hans sekalian makan malam dulu disini." Ucap ibu Rida sekaligus ingin mendengarkan penjelasan dari Hans.