Ikatan Tanpa Cinta

Ikatan Tanpa Cinta
EPILOG


Bisma sedikit merapikan penampilannya sambil menatap dirinya di layar ponsel saat layar itu menunjukkan tulisan berdering. Bisma berusaha menghubungi Erina yang berada di negara yang berbeda dengan dirinya, Indonesia via WhatsApp.


Well, Bisma memang sedang berada di luar negeri untuk perjalanan Bisnis. Bisma pergi ke Kanada demi memperluas bisnisnya di negara tersebut. Bisma tidak bisa meminta Leo mewakilinya dan terpaksa meninggalkan istrinya yang hamil.


Usia kandungan Erina memasuki empat bulan, itu yang membuat Bisma merasa harus memberi perhatian lebih terhadap ibu dari anak-anaknya. Bisma tidak ingin kembali merasa gagal menjadi suami sekaligus ayah bagi keluarga kecilnya.


Ditengah kesibukkannya di Kanada beberapa hari ini, Bisma tidak pernah lupa untuk sekedar menghubungi istrinya. Baik melalui panggilan biasa atau vidio, yang terpenting kabar dari ketiga orang yang sangat berarti dalam hidupnya.


Tidak lama layar ponsel Bisma mulai menghitung detik bersama wajah Erina yang terlihat disana. Bisma tidak mendapat sapaan istrinya, Erina mengatakan sebentar kemudian terlihat keluar dari kamar dan Bisma hanya memperhatikan.


"Sayang hati-hati!" Ucap Bisma panik saat layar ponselnya memperlihatkan Erina yang berjalan cepat menuju kamar Arumi. Perut Erina sudah mulai membesar dan itu yang membuat Bisma teramat sangat mengkhawatirkan istrinya.


Erina sepertinya tidak terlalu mendengarkan apa yang Bisma katakan padanya, dia masih terlihat mengambil langkah lebar sampai Bisma saja merasa sedikit pusing melihat layar ponselnya. Rasanya ingin sekali Bisma menghentikkannya.


"Huh, Arumi sudah tidur." Ucap Erina, nadanya terdengar merendah seperti menahan kecewa. Maya yang kebetulan berada disana tersenyum ramah dan pamit keluar pada Erina. Maid yang satu itu memang paling mengerti situasi.


"Mas, kamu terlambat menelponku." Protes Erina beberapa detik berikutnya. Bisma tersenyum mendengarnya, perbedaan waktu antara Kanada dan Indonesia yang menjadi masalah mereka. Bisma saja bingung memilih waktu yang tepat.


Bisma sedang berada di Montreal, dimana waktu disana lebih lambat dua belas jam dari Jakarta. Bisma biasanya menelpon larut malam supaya saat itu di Jakarta sudah siang hari dan Bisma tidak perlu mengganggu tidur istri dan anaknya.


Sekarang, Bisma menelpon Erina jam sembilan pagi waktu Montreal, tidak heran kalau Arumi sudah tidur. Karena saat ini di Jakarta sudah jam sembilan malam. Tapi tujuan utama Bisma menelpon adalah untuk melihat wajah istrinya.


Jadi tidak masalah kalau Arumi sudah tidur, anak kecil memang seharusnya istirahat. Bisma bisa menanyakan kabar gadis kecil itu kepada sang ibu yang sangat dia rindukan. Bisma sudah tidak sabar menyelesaikan pekerjaannya di Kanada.


"Maaf ..." Hanya kata itu yang Bisma ucapkan. Erina terlihat menghela nafas dan berpindah tempat disamping Arumi. Dengan begitu Bisma bisa melihat ratu dan putri kecilnya berada di layar ponsel, mereka berdua benar-benar cantik.


"Mas, Arumi merindukanmu." Ucap Erina pelan, seperti berusaha untuk tidak membangunkan gadis kecil mereka. Bisma kembali tersenyum merespon perkataan Erina barusan, kemudian Bisma sedikit melonggarkan dasi di lehernya.


"Bagaimana denganmu? mamah Arumi, apa kamu tidak merindukanku, hm?" Tanya Bisma menatap intens Erina melalui alat komunikasi mereka. Dia menahan senyum saat wajah Erina terlihat memerah, yang tidak lama berubah datar.


"Menurut kamu? papah Arumi, rinduku padamu sudah menumpuk saking lamanya kamu sibuk dengan perusahaan!" Ucap Erina, tapi meskipun berkata begitu wajah Erina masih terlihat tanpa ekspresi dan membuat Bisma merasa geli sendiri.


Erina masih tetap menjadi dirinya sendiri yang tidak pandai berekspresi, tidak jarang wanita itu membuat suasana romantis yang Bisma ciptakan menjadi kaku. Tapi setidaknya sekarang sudah ada perubahan dalam pernikahan mereka.


Selain Erina dan Bisma yang sudah menjadi pasangan yang saling mencintai, mereka sudah memiliki anak dan Erina juga sedang hamil. Tuhan akhirnya memberi kebahagiaan setelah ujian yang Erina dan Bisma hadapi selama ini.


"Kalau begitu aku akan secepatnya pulang untuk mengobati rindumu." Ucap Bisma menanggapi Erina dengan senyuman yang terus menghiasi bibirnya. Kalau bisa, Bisma ingin sekali memeluk Erina dan menumpahkan rasa rindu pada istrinya.


"Ah, tidak perlu di pikirkan apa yang aku katakan barusan. Kamu bisa tetap berada disana selama yang kamu butuhkan dan ingat untuk menjaga kesehatanmu. Aku tidak ingin merawatmu kalau kamu sampai pulang dalam keadaan sakit."


Bisma tertawa pelan mendengar perkataan sarkas istrinya, entah mengapa Bisma merasa istimewa meskipun Erina mengatakan seolah Bisma akan menyusahkan kalau sakit. Mungkin benar adanya tentang pandangan orang yang berbeda-beda.


Orang lain mungkin berpikir Erina terlalu kaku dan tidak asik sebagai istri, tapi berbeda dengan apa yang Bisma lihat tentang istrinya. Bisma melihat Erina sebagai istri yang baik dan penuh perhatian, Erina hanya tidak pandai berekspresi.


"Sayang, apa kamu mengidam sesuatu hari ini? maaf aku tidak bersamamu saat kamu mengidam, aku berjanji akan menebusnya saat pulang nanti." Ucap Bisma mengalihkan karena memang sudah lebih dari dua minggu Bisma di Kanada.


"Baiklah, kamu harus ingat untuk menepati janjimu dan segeralah pulang jika pekerjaanmu disana sudah selesai." Ucap Erina menanggapi perkataan Bisma, wanita itu tiba-tiba meringis seperti merasakan sesuatu yang menyakitkan.


"Sayang, apa yang terjadi dengan perutmu? kamu baik-baik saja?" Tanya Bisma ketika Erina terus memegangi perutnya, spontan Bisma bangkit dari tempat duduknya dan berniat pulang dari Kanada untuk menemui istrinya di Indonesia.


Kemudian Bisma menyadari sesuatu, dia mungkin akan terlambat untuk menemui Erina. Durasi dari Montreal ke Jakarta sampai dua puluh tiga jam dan itu benar-benar memakan waktu. Bisma tidak mungkin bisa datang tepat waktu untuk istrinya.


"Istriku ..." Bisma menahan perkataannya karena panggilan vidio mereka tiba-tiba terputus. Tidak lama Bisma menerima pesan masuk dari Erina. Isi pesan itu memberitahukan kalau Erina baik-baik saja dan Bisma tidak perlu merasa khawatir.


Tapi meskipun begitu Bisma tetap saja merasa khawatir, dia bergegas menghubungi Leo dan memintanya untuk mengurus tiket kepulangan mereka ke Indonesia. Bisma meminta jadwal penerbangan secepat mungkin kepada Leo.


Ya, Leo memang mengikuti Bisma ke Kanada, tapi ada beberapa hal yang harus Bisma tangani sendiri. Karena bagaimana pun Bisma merupakan pemimpin perusahaan, Bisma tidak mungkin hanya berpangku tangan dan menunggu hasil.


Mungkin ada yang penasaran tentang perusahaan yang Bisma pimpin. Maka akan diberi sedikit bocoran, nama perusahaan itu diambil dari kata Radhika yang disingkat menjadi D.K Grup dan D.K Grup ini dulunya merupakan perusahaan properti.


Dimasa kini, D.K Grup menjadi perusahan besar dan sukses yang meluas dalam bidang industri. D.K Grup memiliki beberapa rumah sakit, properti yang di milikinya juga sudah tersebar di beberapa negara Asia dan akan berkembang di Amerika.


Tidak banyak yang tahu bagaimana perusahaan yang dulunya kecil itu berubah menjadi besar, pastinya harus melewati proses yang begitu lama dan penuh perjuangan. Disini Bisma hanya menikmati dan meneruskan usaha keluarganya.


Kembali kepada Bisma, pria yang semula berada di sebuah resto Kanada itu bergegas kembali ke hotel untuk mengemasi barang-barangnya. Bisma tidak memikirkan apapun, selain untuk segera menemui Erina yang sedang membutuhkannya.


"Ya Allah, tolong lindungi istri dan anakku. Aku mohon jaga mereka sebelum aku pulang." Gumam Bisma dalam hatinya. Erina mungkin sudah mengatakan dirinya baik-baik saja, tapi Bisma merasa harus pulang untuk memastikan hal itu.


Bisma berusaha fokus menyetir meski pikirannya mengingat saat Erina meringis sambil memegang perut. Bisma tidak tahu sesakit apa yang Erina rasakan, tapi mungkin kehadirannya mampu membuat rasa sakit itu sedikit berkurang.


×××××××××××××××××××××××××××××××××××××××


Siang itu Erina sedang menemani Arumi bermain di ruang bermain, Arumi yang sudah bisa berjalan dan dalam proses belajar bicara terlihat sangat aktif dengan mainan bonekanya. Erina merasa gemas melihat bagaimana Arumi bermain.


Erina dan kandungannya baik-baik saja. Kemarin saat Bisma menelpon Erina hanya mengalami kram pada perutnya. Erina bisa mengetahuinya karena dia langsung chatting dengan dokter kandungan melalui sebuah aplikasi dokter.


Jaman sekarang memang banyak sekali aplikasi penting yang bisa kita download di ponsel, salah satunya aplikasi yang Erina miliki. Sebenarnya Bisma yang memberi ide untuk menginstal aplikasi itu dan Erina hanya menuruti suaminya.


Tidak disangka aplikasi dokter itu sangat berguna saat Bisma ada di Kanada. Erina tidak perlu repot untuk menemui dokter saat mengalami masalah dengan perutnya. Karena dokter yang berada di aplikasi itu bukan dokter sembarangan.


"Sayang ..." Suara itu mengalihkan perhatian Erina dari Arumi, lalu Erina menoleh kearah sumber suara dan betapa terkejutnya ibu Arumi itu melihat pria yang berdiri di ambang pintu ruang bermain sambil membawa bingkisan.


"Mas?" Gumam Erina, tiba-tiba waktu seakan terhenti saat Erina menyadari pria yang berada di ambang pintu itu adalah Bisma, suami yang sangat dirindukannya. Erina refleks berdiri dan menghampiri pria berpakaian formal tersebut.


"Sayang, apa perutmu masih sakit? maaf aku baru datang padamu sekarang, aku benar-benar suami yang tidak berguna." Lirih Bisma dalam pelukan mereka. Erina merasa pelukan Bisma menguat dan membuat wanita itu menarik nafasnya.


"Mas, apa yang kamu katakan, hoh? bukankah aku sudah mengatakan padamu kalau aku baik-baik saja?" Tanya Erina sambil berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Bisma, meskipun hasilnya nihil karena pelukan Bisma terlalu kuat.


"Ayolah mas, anak kita kesakitan kalau kamu memelukku seperti ini." Barulah Erina terlepas dari pelukan Bisma, ternyata anak mereka manjur untuk suaminya itu. Kemudian Bisma meminta maaf dan menyentuh lembut perut Erina.


Erina tersenyum melihat apa yang Bisma lakukan pada perut buncitnya sampai ada seseorang yang menginterupsi mereka, siapa lagi kalau bukan si kecil Arumi. Arumi menarik ujung jas yang Bisma pakai dan membuat perhatian mereka teralih.


"Pap-pah ..." Ucap Arumi dengan suara khas anak kecil sambil memegang boneka di tangannya yang lain. Erina dan Bisma bersamaan melihat Arumi, kemudian mereka berjongkok di dekat Arumi dan Arumi langsung memeluk Bisma.


"Oh ..." Bisma terkekeh melihat kelakuan Arumi, untuk gadis kecil seperti Arumi memang sulit memeluk Bisma, tangan kecilnya tidak akan sanggup memeluk tubuh besar Bisma, tapi dari cara Arumi bersandar sudah bisa ketebak.


Arumi sedang memeluk Bisma meskipun tidak terlihat seperti memeluk. Kemudian Bisma meraih Arumi dan menggendongnya. Erina ikut berdiri ketika melihat Bisma berdiri sambil menggendong anak perempuan mereka.


Bisma bertanya banyak hal kepada Arumi karena sudah memastikan Erina baik-baik saja. Meskipun Bisma tidak mendapatkan jawaban yang tepat dari anak perempuannya, Bisma bicara heboh pada Arumi dan membuat Erina tersenyum.


Sore harinya, Erina menemani Bisma menonton televisi di ruang keluarga. Sementara Arumi masih tidur sejak tadi siang, hal itu membuat Erina dan Bisma memiliki waktu untuk berduaan layaknya pasangan kekasih yang baru bertemu.


"Sayang, benar kamu tidak mengidam sesuatu?" Tanya Bisma untuk yang kesekian kalinya. Erina merasa bosan mendengar pertanyaan itu berulang kali, padahal Erina sudah berkal-kali mengatakan dirinya tidak menginginkan apapun.


"Aku hanya memastikan barangkali kamu berubah pikiran. Ah, film nya bagus." Ucap Bisma langsung mengalihkan saat menyadari tatapan Erina terhadap dirinya berubah, lalu dia berpura-pura fokus menonton televisi dan memakan cemilan.


Erina mendengus melihat Bisma yang diam-diam tersenyum, seperti ada hal lucu yang tidak Erina sadari. Kemudian sebuah ide terlintas dalam benak Erina. Karena Bisma terlihat ingin sekali melakukan sesuatu, maka akan Erina kabulkan.


"Mas, aku mendadak ingin buah mangga." Ucap Erina yang berusaha memasang wajah semelas mungkin supaya Bisma percaya padanya. Benar saja Bisma langsung antusias dan menanyakan jenis mangga yang sedang Erina inginkan.


"Mas, kamu tahu di belakang mansion ada pohon mangga? aku melihat pohon itu sudah berbuah, apa mas bisa memetiknya untukku?" Tanya Eruna sambil menunggu reaksi yang akan Bisma tunjukkan nantinya. Semoga rencananya berhasil.


Ya, Erina memang tidak serius menginginkan buah mangga, dia hanya ingin membuat Bisma berhenti menanyakan sesuatu yang sudah Erina jawab. Erina yakin sebentar lagi Bisma akan menanyakan hal yang sama seperti sebelumnya, maka dari itu Erina mendahului Bisma bicara.


"Baiklah, berapa buah mangga yang kamu inginkan? aku akan segera memetiknya." Ucap Bisma antusias setelah sekian lama terdiam sambil melipat lengan bajunya, padahal saat itu Bisma sedang memakai kaos putih pendek.


Erina mengerjapkan mata beberapa kali, reaksi yang Bisma tunjukkan diluar ekspektasinya. Bukankah seharusnya Bisma menanyakan hal lain yang Erina inginkan karena tidak sanggup memanjat pohon? Lalu ada apa ini?!


"Sayang, kenapa melamun, hum? ayo, aku akan memetik buah mangga untuk kalian." Ucap Bisma sambil menarik lembut tangan Erina menuju taman belakang. Kalian yang dimaksud Bisma adalah Erina dan calon anak mereka berdua.


Setibanya di taman belakang mansion, Erina di kejutkan dengan Bisma yang bisa memanjat pohon mangga, bahkan Bisma sampai memetik beberapa buah mangga untuknya. Katanya buat stok barangkali Erina menginginkan mangga lagi.


Tapi, Erina merasa ada yang aneh setelah Bisma turun dari pohon mangga, tubuh Bisma terlihat bergetar entah karena apa. Erina memegang tangan Bisma dan hendak menanyakan apa yang terjadi, namun suara seseorang menahannya.


"Bisma, kamu baik-baik saja? kenapa kamu tidak mengatakan kepada saya kalau istrimu ingin buah mangga? bukankah kamu masih trauma untuk naik pohon?" bapak Asep, pria tua yang dulunya supir pribadi Bisma itu menghampiri mereka.


"Memang ada trauma naik pohon? bapak ayolah, tolong jangan membuat istriku salah paham. Lihatlah wajah istriku ini, dia sepertinya sangat mencemaskanku." Ucap Bisma sambil memegang kedua pipi Erina dan sengaja memainkannya.


Sebenarnya, Bisma tidak pernah naik pohon lagi setelah kejadian di masa lalu. Waktu kecil Bisma pernah di kejar anjing sampai harus memanjat pohon yang lumayan tinggi, dan saat itu Bisma tidak tahu caranya untuk turun dari pohon.


Bisma merasa kejadian itu adalah sebuah aib. Karena akan terdengar konyol jika orang lain mengetahuinya. Bisma memanjat pohon atas inisiatifnya sendiri, tapi setelah itu menangis dan menyalahkan orang lain yang tidak tahu apapun.


"Sayang, aku baik-baik saja, kamu tidak perlu khawatir." Ucap Bisma selang beberapa detik.


"Ya baiklah, kamu baik-baik saja, hanya tubuhmu yang sedikit gemetaran, benar kan?" Sahut Erina.


Setelah itu terdengar suara tawa mereka, atau mungkin hanya Bisma dan bapak Asep yang tertawa. Erina hanya tersenyum tipis setelah meledek suaminya. Keluarga Erina dan Bisma sudah benar-benar harmonis dan bahagia.


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


EPILOG macam apa ini menurut kalian?! orang lain nulis cerita satu hari bisa nyampe beberapa chapter, sementara aku satu chapter aja di ketik sampe beberapa hari. Setelah menunggu lama, mohon maaf kalau hasilnya kurang memuaskan.


Dan ...


Kabar baiknya aku sudah mempublikasi lanjutan dari novel ini, kisah anak-anak Bisma dan Erina sudah hadir dalam novel yang bergenre romantis. Kalau kalian mau bisa langsung cek profil aku dan cari nover dengan judul It's Okay, That's Fate.


Sinopsis:


Ini kisah Keana dan Juna. Dua manusia yang sama-sama mengalami patah hati.


Arjuna Yudhistira Radhika, putus dengan kekasihnya setelah lebih dari lima tahun pacaran, disaat mereka tidak terlibat masalah apapun.


Keana Audie Jovanka, bertahun-tahun terjebak friendzone dan harus menerima kenyataan sahabatnya dekat dengan perempuan lain.


Kisah antara bos dan sekretarisnya, laki-laki kaya dengan perempuan yang berusaha keras untuk memenuhi segala kebutuhan hidupnya.


Disaat Tuhan menebar percikan cinta diantara keduanya. Sebuah fakta terbongkar, sang laki-laki memilih berjuang untuk cinta pertamanya.


Lalu, apa yang mungkin akan terjadi pada mereka yang ternyata sudah saling mencintai?


Semoga kalian suka. Makasih 💙


Regards,


Nur Alquinsha A | IG: light.queensha