Ikatan Tanpa Cinta

Ikatan Tanpa Cinta
ITC #90


Dua minggu berlalu, semua masih baik-baik saja bagi Erina dan Bisma, tidak ada tanda-tanda dari orang yang berniat buruk terhadap pernikahan mereka, malah rumah tangga mereka semakin harmonis meskipun Erina masih belum hamil.


Pagi ini berjalan seperti biasa, Erina melakukan tugasnya sebagai seorang istri, dia menyiapkan semua kebutuhan Bisma sebelum suaminya itu berangkat ke kantor. Erina baru saja selesai membuat sarapan dan berjalan menuju kamar.


"Ah, kebetulan sekali kamu datang, tolong bantu aku memakai dasi." Sambut Bisma ketika Erina mulai memasuki kamar mereka, dasi di lehernya masih bergelantungan dan belum tertata rapih.


Sudah menjadi kebiasaan Bisma meminta Erina memasangkan dasi, meski hal itu sangat mudah untuk di lakukan sendiri, kadang Bisma sengaja menunggu Erina selesai dengan pekerjaannya.


Erina memang tidak mengerjakan pekerjaan rumah, kecuali membuat makan dan menyiapkan keperluan Bisma, tapi tetap saja hal itu butuh waktu untuk bisa di selesaikan oleh Erina.


Dan Bisma seperti tidak ingin meringankan tugas istrinya, dia selalu mengandalkan Erina untuk sekedar memasangkan dasi, padahal sebenarnya Bisma masih mampu melakukan itu sendiri.


"Hm." Erina berjalan mendekati Bisma, lalu dia dengan telaten memasang dasi pada leher suaminya itu. "mas, kalau boleh, aku akan pergi ke rumah Soraya, katanya dia sedang sakit."


Bisma memperhatikan wajah fokus istrinya, entah mengapa Bisma tidak pernah bosan melihat wajah itu, malah Bisma tidak bisa membayangkan kalau suatu saat nanti Erina pergi darinya.


"Mas, boleh atau tidak?" Tanya Erina saat Bisma tidak mengatakan apapun dan hanya menatap padanya, Erina merasa sedikit risih dengan cara Bisma menatapnya dalam jarak dekat seperti itu.


"Boleh." Jawab Bisma pada akhirnya, baginya pertanyaan Erina adalah sesuatu yang sudah pasti jawabannya, karena Bisma tidak berani melarang Erina melakukan sesuatu yang diinginkannya.


Ya, meskipun Bisma berhak untuk membatasi Erina, tapi menurut Bisma memaksa sesuatu terhadap siapapun tidak akan menjadi hal baik, termasuk memaksa sesuatu terhadap istrinya itu.


"Nanti mas antar kamu ke rumah Soraya." Lanjut Bisma setelah melihat Erina selesai memasang dasi, lalu Bisma mendekatkan wajahnya pada wajah Erina dan mengecup kilas bibir istrinya.


Satu lagi kebiasaan Bisma, memberikan morning kiss kepada Erina. Karena Erina pernah menolak dicium saat Bisma baru bangun tidur, Bisma melakukannya setelah Erina memasang dasi.


Well, alasan utama Bisma selalu meminta Erina memasang dasinya memang untuk itu, supaya Bisma bisa memberikan morning kiss, anggap saja sebagai ucapan terimakasih terhadap Erina.


Erina tersenyum dan mencium pipi kanan Bisma. "Terimakasih." Ucapnya disertai senyuman, sikap manis ini yang membuat Bisma merasa senang tidak pernah membatasi apapun terhadap Erina.


"Tidak perlu berterima kasih, ini hanya hal kecil." Sahut Bisma, meskipun sebenarnya Bisma sangat menyukai cara Erina berterima kasih, Erina benar-benar tahu cara menyenangkan Bisma.


Erina hanya tersenyum mendengarnya, dia merasa sangat beruntung memiliki suami seperti Bisma, selama menikah Bisma tidak pernah bersikap buruk seperti yang Erina takutkan.


Selesai sarapan, Bisma mengantar Erina ke rumah Soraya, kebetulan rumah Soraya dan kantor Bisma searah, sehingga Erina tidak harus merasa tidak enak terhadap Bisma yang harus bekerja.


"Mas antar kamu sampai sini saja ya, titip salam untuk Soraya dan suaminya." Ucap Bisma yang sudah memarkirkan mobilnya di depan rumah Soraya, kebetulan Bisma harus pergi meeting.


"Iya, mas. nanti siang aku antar makan siang ke kantor, mas mau makan apa?" Tanya Erina sambil melepas sabuk pengaman, lalu Erina menatap Bisma yang juga sedang menatap padanya.


"Makan siang hari ini mas bisa beli di luar, kamu disini saja menghabiskan waktu bersama Soraya, bukannya Soraya juga sakit?" Ucap Bisma sambil tersenyum dan membelai lembut wajah Erina.


"Have fun, sayang." Lanjut Bisma masih dengan senyuman yang menghiasi bibirnya, sudah sangat lama Erina tidak bertemu Soraya, Bisma merasa kedua wanita itu membutuhkan waktu bersama.


"Tapi mas ..."


"Sudah siang, mas bisa terlambat ke kantor." Ucap Bisma memotong perkataan Erina sambil melirik arloji yang melingkar di tangannya, bisa di lihat Erina mendengus karena perkataan Bisma itu.


"Baiklah, mas mulai bosan makan masakan aku kan?" Tuding Erina tajam dengan mata memicing. Bisma masih bisa bersikap santai, bahkan pria itu mengangguk membenarkan perkataan Erina.


"Mas tahu kamu memasak dengan penuh cinta, tapi mas sedang rindu masakan wanita lain." Ucap Bisma memperjelas jawabannya, dia tersenyum dan membantu Erina membuka pintu mobil.


Bisma memainkan matanya seolah meminta istrinya itu untuk segera turun dari mobil, posisi Bisma saat ini masih duduk di kursihnya dan menatap Erina yang masih duduk di mobil.


Erina kembali mendengus. "Sebenarnya aku juga bosan memasak untukmu, kalau bukan karena tugasku, aku pasti--" Erina berhenti bicara karena bibir Bisma tiba-tiba membungkam mulutnya.


"Baiklah, kamu juga tidak perlu masak untuk makan malam, kita akan makan di luar, sekarang lebih baik kamu turun." Ucap Bisma lembut, namun terdengar menyebalkan di telinga Erina.


Jangan salah mengira, Bisma dan Erina sudah biasa melakukan perdebatan tentang makanan, tapi bukan karena Bisma benar-benar sudah bosan dengan masakan yang Erina buat.


Bisma pernah mengatakan hal yang sama saat Erina sakit, awalnya Erina merasa kesal karena Bisma seolah serius sudah bosan dengan masakannya, tapi hari itu berakhir dengan manis.


Bisma mengatakan Erina memasak dengan penuh cinta sehingga membuat Bisma takut overdosis dengan cinta yang Erina berikan dalam masakan itu. Lumayan untuk disebut manis bukan?


Kalau Erina, wanita itu sengaja menyangkal sikap manis suaminya dengan berpura-pura bosan memasak, Bisma benar-benar pandai berkata manis dan Erina merasa harus lebih pandai.


"Ah baiklah, suamiku ini memang sangat sibuk, aku tidak boleh membuang waktunya." Ucap Erina dengan nada kesal yang dibuat-buat, lalu wanita itu bergegas untuk turun dari mobil Bisma.


"Sayang, kamu tidak merasa sudah melupakan sesuatu?" Tanya Bisma sambil mengulurkan tangannya kearah Erina, meminta istrinya untuk mencium tangannya sebelum menemui Soraya.


Erina menatap tangan Bisma dan tidak langsung menyambut tangan itu. "Mas benar, aku sudah melupakan tas ku." Jawabnya yang diam-diam tersenyum melihat ekspresi wajah suaminya.


"Terimakasih sudah mengingatkanku, mas berhati-hatilah." Erina melambaikan tangannya dan membuat Bisma mengerjapkan matanya berkali-kali, Erina tidak mencium tangan Bisma.


"Mas, kamu bisa benar-benar terlambat." Tegur Erina yang melihat Bisma belum juga melajukan mobilnya, tidak lama Erina tersenyum, meraih tangan Bisma dan mencium punggung tangannya.


"Sudah tidak ada yang aku lupakan bukan? mas, kamu bisa pergi sekarang!" Ucap wanita itu melanjutkan kalimatnya dan membuat Bisma akhirnya melukiskan senyuman di bibirnya.


"Hm, mas akan pergi sekarang. tolong kamu tutup pintu mobilnya." Ucap Bisma karena pintu mobilnya masih terbuka. Erina yang mendengar itu mendengus untuk yang kesekian kalinya.


Kemudian Erina berjalan cepat menuju rumah Soraya setelah menutup pintu mobil Bisma dengan sedikit kasar, tapi baru beberapa langkah Erina mendengar notifikasi dari ponselnya.


Erina tersenyum membaca pesan itu, sebenarnya pesan Bisma membuat Erina sedikit geli, tapi perasaan senang lebih mendominasi dan Erina berhasil tersipu hanya karena membaca itu.


×××××××××××××××××××××××××××××××××××


"Lo hamil?" Tanya Erina kepada Soraya, suaranya terdengar begitu keras, Soraya barusan memberitahu kehamilannya, tapi entah kenapa ada sesuatu yang membuat Erina tidak senang.


"Ya, gue hamil." Jawab Soraya disertai senyuman. Erina ikut tersenyum meskipun hatinya merasa sedih, Erina tahu tidak seharusnya dirinya seperti ini, tapi kenapa harus Soraya yang hamil duluan?


"Selamat, Raya." Ucap Erina tulus. Erina memang sedih karena Soraya mendahuluinya hamil, tapi sebagai teman dia tidak mungkin tidak mengucapkan selamat untuk kabar baik itu.


"Erin, lo kenapa?" Tanya Soraya panik ketika melihat mata Erina berkaca-kaca. Soraya akan menyentuh tangan Erina, tapi Erina lebih dulu memberi penolakan seolah tidak ingin disentuh.


"Erin ..."


"Maaf, Raya ..."


Soraya dan Erina saling menyahut dengan suara lirih, Soraya benar-benar tidak tahu alasan Erina menangis, sementara Erina merasa sudah menjadi sahabat yang sangat buruk bagi Soraya.


"Maaf, gue seharusnya bahagia sekarang, tapi hati gue sakit, gue merasa sudah di khianati, kenapa bukan gue yang hamil? dan kenapa gue harus punya perasaan buruk ini?" Erina semakin lirih.


"Erin ..."


"Raya, gue tidak bisa terlalu lama disini, maaf gue harus pulang sekarang." Ucap Erina menyela perkataan Soraya, lalu Erina berlari keluar dari rumah Soraya begitu saja sambil menangis.


Soraya menatap kepergian Erina dengan tubuh lemas, sebenarnya usia kehamilan Soraya sudah dua bulan, dia sengaja tidak memberitahu Erina kabar baik itu untuk menjaga perasaannya.


Soraya tahu bagaimana rasanya kehilangan buah hati, tapi Soraya tidak menyangka Erina akan mengatakan itu padanya, Erina tidak menyukai kehamilan Soraya bahkan merasa dikhianati.


"Raya, aku yakin Erin tidak bermaksud ..."


"Ya, aku tahu. Erina juga tidak salah, tapi aku tidak berniat bahagia diatas penderitaan sahabat aku sendiri. Farhan, apa ini artinya Allah sedang menguji persahabatan kami? Erin membenciku?"


Soraya menatap suaminya sendu, Farhan sedari tadi berada disana, berdiri diantara Soraya dan Erina. Seperti biasa, Farhan memberi ruang untuk kedua wanita itu untuk bisa saling bicara.


Tapi, tanpa disangka Erina bereaksi seperti tadi saat Soraya memberitahu kehamilannya. Farhan sedikit kaget dengan reaksi Erina, hanya karena Soraya hamil, Erina pergi dari rumah mereka.


"Tidak, Erin tidak mungkin membencimu hanya karena kamu hamil, mungkin Erin hanya butuh waktu untuk menerima semuanya, Erin mungkin masih sedih pasca keguguran." Ucap Farhan.


Soraya tersenyum simpul. "Sudah lebih dari dua bulan Erin keguguran, aku mengerti Erin pernah mengalami depresi, mungkin ini berat baginya, tapi aku benar-benar tidak bermaksud ..."


Soraya berhenti bicara karena dadanya mendadak terasa sesak, dia tidak menyangka semua hal yang sudah mereka lewati bersama harus berakhir seperti ini hanya karena kehamilan keduanya itu.


Farhan menarik nafasnya sejenak. "Aku tahu, kamu tidak perlu terlalu memikirkannya, ingat kamu harus menjaga calon anak kita, aku yakin Erin akan membaik dengan sendirinya."


Sementara itu, Erina menatap rumah Soraya dengan mata berair sambil berkali-kali mengucap kata maaf. Erina tahu tidak seharusnya dia bersikap berlebihan hanya karena Soraya hamil.


Erina meraih ponselnya dan berusaha menelpon suaminya, tapi karena Bisma sedang meeting dan ponselnya berada dalam mode hening, Bisma tidak mengetahui kalau Erina menelponnya.


Padahal belum dua puluh menit Bisma mengantar Erina ke rumah Soraya, suami Erina itu sudah disibukan dengan pekerjaannya, Erina akhirnya hanya mengirim pesan singkat kepada Bisma.


Erina memberitahu kalau dirinya sudah pulang dari rumah Soraya, supaya nanti Bisma tidak usah repot-repot menjemputnya, dan Erina kembali ke mansion dengan mengandalkan ojeg online.


Sebelum Soraya memberitahu kehamilannya, Erina dan Soraya sempat membicarakan hal lain, sampai akhirnya Erina memaksa Soraya untuk mengatakan sakit yang sedang di alaminya.


"Raya, bagaimana keadaan lo? lama tidak bisa di hubungi, terus sekarang lo malah sakit, hm?"


"Gue kangen banget sama lo, kenapa coba tiba-tiba ngilang? bikin gue khawatir aja tahu!"


"Lo sakit apa sebenarnya, Raya?"


"Lo hamil?"


"Maaf, gue seharusnya bahagia sekarang, tapi hati gue sakit, gue merasa sudah di khianati, kenapa bukan gue yang hamil? dan kenapa gue harus punya perasaan buruk ini?"


"Raya, gue tidak bisa terlalu lama disini, maaf gue harus pulang sekarang."


Erina terus meneteskan air mata mengingat apa yang dirinya katakan kepada Soraya, dan Erina menyesal sudah mengatakan itu, karena memang Tuhan yang menghendaki seseorang hamil.


~TBC


×××××××××××××××××××××××××××××××××××


"Kamu boleh melakukan segalanya demi cinta, asal jangan melakukan segalanya agar dicintai, atau kamu harus siap berhadapan dengan yang namanya sakit hati." (Quotes this chapter)


"Jangan menyalahkan orang lain jika dunia tidak berpihak padamu, karena apapun yang terjadi tidak lain adalah atas kehendak Tuhan dan kamu hanya harus menjalaninya." (Quotes this chapter)


Regards,


Nur Alquinsha A | Instagram: light.queensha