
Erina tersenyum menatap bagian belakang tubuh Bisma yang berjalan di depannya, tangan Bisma masih menarik tangan Erina untuk menjauh dari tempat di adakannya pernikahan Leo dan Krystal.
Bisma tiba-tiba menghentikan langkahnya dan membuat Erina menabrak punggung pria itu, lalu Bisma berbalik menatap Erina, posisi Bisma saat ini hampir memeluk tubuh mungil istrinya.
"Kita hanya berdua sekarang, kamu bisa bebas menanyakan apapun padaku." Ucap Bisma lirih, dia merasa sedikit khawatir karena pertemuan mereka dengan Rose, salah satu client Bisma.
Erina menatap Bisma bingung, dia tidak merasa memiliki sesuatu yang harus di tanyakan kepada suaminya. "Mas, aku lapar, bagaimana kalau kita pergi makan?" tanyanya berusaha mengalihkan.
"Rose bukan siapa-siapa bagiku, dia hanya client." Ucap Bisma memberitahu, bahkan disaat Erina sama sekali tidak penasaran akan hal itu, Bisma tidak ingin Erina sampai salah paham padanya.
"Oh baiklah, Rose hanya client kamu, sekarang bagaimana kalau kita makan? aku benar-benar lapar!" Ucap Erina merengek dan tidak terlalu memperdulikan siapa wanita bernama Rose itu.
"Mas, apa kamu suka aku curigai?" Tanya Erina sambil membelai wajah Bisma dengan tangan kirinya dan tersenyum hangat, Erina tidak membiarkan Bisma terus membahas Rose.
Bisma menatap mata teduh Erina dengan tangan yang masih menggenggam erat tangan Erina dan tangan lain yang memegang pinggang wanita itu. "Bukan suka, mas takut kamu salah paham--"
"Kalau begitu berhenti membahas Rose. Mas, aku tidak peduli siapapun wanita itu, selama tangan yang mas genggam adalah tanganku, kehadiran dia tidak akan pernah berpengaruh bagiku."
"Mas, kamu tahu tempat makan di sekitar hotel ini? bagaimana kalau kita pergi kesana? mas tidak kasihan melihat istrimu ini kelaparan, hm? mas juga harus makan bukan?" Lanjut Erina beruntun.
Bisma tersenyum simpul. "Baiklah, karena kamu meminta mas berhenti membahas Rose, tapi apa kamu baik-baik saja?" Tanyanya dan membuat Erina mendengus, Erina benar-benar kelaparan.
"Mas, kamu pikir siapa yang bisa membuat aku tidak baik-baik saja?" Tanya Erina berusaha untuk menahan perasaan jengkel kepada suaminya, dia sudah sangat kelaparan karena belum sarapan.
"Lagipula, menurutku tidak penting memikirkan apa yang mereka katakan." Erina menarik nafas sejenak dan memberi jeda pada kalimatnya. "Jadi, apa sekarang kita bisa pergi makan?" Tekannya.
"Mas, sebenarnya kalau tadi mas tidak menarik tanganku dari sana, aku pasti sudah menampar mulut mereka, aku ingin memberi mereka sedikit pelajaran." Lanjutnya karena Bisma terdiam.
Bisma tertawa pelan. "Erin, lain kali kalau kamu ingin menampar orang, kamu bisa mengatakan itu padaku, aku tidak akan membiarkan tangan kamu ternodai oleh wajah kotor mereka."
Bisma mencium punggung tangan Erina lembut, tapi bukannya merasa senang karena perkataan dan perlakuan suaminya, Erina terlihat kesal karena Bisma kembali mengabaikan perutnya.
"Mas, apa kamu benar-benar mau melihat istrimu ini mati kelaparan?" Tanya Erina sarkas sambil menarik tangannya dari Bisma, lalu Erina berjalan mendahuli Bisma untuk mencari tempat makan.
Bisma panik melihat Erina semakin menjauh darinya, lalu bergegas mengejar istrinya itu dan menyesuaikan langkah mereka. "Sayang, mas tidak berniat membiarkan kamu kelaparan, mas-"
"Baiklah mas, aku mengerti." Ucap Erina menyela perkataan Bisma, lalu menghentikan langkahnya. "Sekarang kita harus mencari tempat makan, aku sudah sangat lapar dan membutuhkan nutrisi."
Bisma tersenyum kemudian meraih tangan Erina dan menggenggam tangan itu. "Baiklah, mari kita makan, aku tahu tempat makan paling enak disini." Bisma menarik lembut tangan Erina.
Erina hanya mengikuti kemana Bisma membawa dirinya pergi sampai akhirnya mereka berdua masuk ke dalam sebuah lift. Erina membiarkan tangan hangat Bisma menggenggam tangannya.
"Mas, sepertinya Rose menyukaimu." Ucap Erina tiba-tiba dan membuat Bisma menoleh padanya. Erina ikut menoleh kepada suaminya, lalu wanita itu tersenyum manis dengan wajah tenangnya.
"Tidak heran. Menurutku, mas memang pantas menjadi idaman wanita." Erina menyandarkan kepalanya di bahu Bisma setelah mengatakan itu dan tangannya *** lembut tangan Bisma.
"Pertama bertemu, aku pikir mas akan menolak ide nenek untuk menjodohkan kita dan aku pikir hari itu akan menjadi hari terburuk dalam hidupku." Erina mengangkat sedikit wajahnya.
"Mas tahu kenapa?" Tanya Erina ketika Bisma juga sedang menatap padanya, mereka berdua saling menatap dalam jarak yang lumayan dekat, beruntung hanya ada mereka di dalam lift itu.
Erina kemudian mengalihkan pandangannya kearah lain. "Dulu, aku mengira mas sama seperti orang kaya lain, aku pikir mas akan menghinaku karena aku tidak sederajat denganmu, aku pikir-"
"Erin, aku mohon hentikan! tidak peduli apapun yang dulu kamu pikirkan tentang diriku, sekarang kamu sudah tahu orang seperti apa aku ini? Jadi, menurutku semua itu sudah tidak penting."
Bisma memotong perkataan Erina, dia tidak ingin mengingat pandangan buruk istrinya. Bisma pikir sudah cukup mereka melewati masa-masa itu, tidak perlu untuk di ingat, semua sudah berlalu.
"Mas, aku pikir pernikahan kita akan menjadi mimpi terburuk, aku pikir kisahku akan seperti tokoh Tari dalam film wedding agreement." Erina menahan perkataannya dan mengabaikan Bisma.
Erina membenarkan posisi kepalanya, lalu dia menatap Bisma tepat pada matanya. "Mas tahu? aku belum pernah sekalipun menonton film itu, tapi berasumsi sendiri hanya melihat trailer nya."
"Mas benar, aku sudah tahu pria seperti apa yang menikahiku dan semuanya sudah tidak penting, tapi aku tetap ingin berbagi cerita kekonyolanku waktu itu." Lanjut Erina disertai senyuman.
Erina kembali mengalihkan pandanganya kearah lain, wanita itu menatap pintu lift masih dengan senyuman yang di bibir manisnya. Sementara Bisma hanya bisa pasrah untuk mendengarkan.
"Mas ingat saat aku terus gelisah di pelaminan? waktu itu, aku tidak memikirkan apapun selain bagaimana hidupku setelah menikah, tapi aku mengatakan padamu kalau aku tidak enak badan."
Bisma tidak berniat menanggapi ocehan Erina, tapi masih terus setia mendengarkan setiap kata yang terucap oleh istrinya itu. Bisma tidak begitu mempermasalahkan kebohongan Erina waktu itu.
"Mas, hari itu aku menimbang orang seperti apa dirimu, kamu terlihat khawatir padaku sampai meminta ijin kepada nenek supaya kita berdua pulang duluan, tapi aku masih berpikir hal buruk."
Erina menarik nafas, lalu dia berusaha untuk mengingat kembali masa yang telah berlalu itu. Erina tersenyum saat ingat Bisma menggendong dirinya masuk kedalam mansion. Manis sekali.
"Kenapa ceritanya berhenti? kenapa juga kamu tersenyum seperti itu?" Tanya Bisma ketika Erina berhenti bercerita dan hanya tersenyum entah karena hal apa, Bisma juga tidak mengetahuinya.
Erina tertawa pelan. "Jadi, mas ingin mendengar ceritaku? aku pikir mas tidak tertarik karena terus diam saat aku bercerita." Ucapnya tanpa berniat melanjutkan kembali ceritanya kepada Bisma.
Kalau di pikir-pikir, memang tidak penting Erina terus membahas masa lalu itu, Erina juga hanya berniat memberitahu Bisma bahwa dirinya sudah bodoh dalam waktu yang lumayan lama.
Erina dan Bisma hampir bercerai karena Erina yang selama ini terlalu waspada terhadap Bisma, beruntung Tuhan lebih cepat menyadarkan Erina dari kesalahannya selama mereka menikah.
Kalau tidak, mungkin mereka akan resmi bercerai dan Erina akan hidup dalam penyesalan. Tuhan memang maha membolak balikan hati, Erina saja sekarang sampai sangat mempercayai Bisma.
Sebenarnya, Erina sengaja banyak bicara supaya Bisma tidak membahas siapa Rose, karena hal itu sungguh tidak penting, Erina sama sekali tidak tertarik untuk mengetahui siapa itu Rose.
Tidak lama pintu lift terbuka pertanda Erina dan Bisma telah tiba di lantai tujuan, lalu Erina keluar mendahului Bisma meskipun Erina tidak tahu kemana Bisma akan membawa dirinya pergi.
"Erin tunggu!" Teriak Bisma saat melihat Erina semakin menjauh darinya, lalu Bisma bergegas mengikuti Erina keluar dari lift dan langsung mensejajarkan langkahnya di samping sang istri.
"Mas, bisa kita makan dulu sebelum melanjutkan cerita tadi? aku benar-benar lapar, apa mas tidak kasihan padaku?" Ucap Erina sambil memasang wajah semelas mungkin di depan sang suami.
Bisma tertawa pelan dan mengacak rambut Erina lembut. "Sebentar lagi kita akan segera sampai di restoran, kamu bisa makan sepuasnya nanti." Ucap Bisma lalu kembali menarik tangan Erina.
××××××××××××××××××××××××××××××××××××
Erina merasa sedikit aneh dengan suasana di restoran tempatnya berada saat ini. Pertama Erina dan Bisma datang, restoran itu masih ramai pengunjung, tapi tiba-tiba mereka menghilang.
"Mas, apa restoran ini akan tutup?" Bisik Erina kepada Bisma yang duduk di hadapannya dan membuat Bisma terkekeh mendengarnya, Bisma memang sengaja membuat restoran itu sepi.
Ha, hotel tempat pernikahan sekretaris Bisma sekaligus restoran yang berada di dalam nya itu milik Bisma, alasan restoran itu mendadak sepi karena memang Bisma yang menghendakinya.
Erina memang tidak mengetahui sekaya apa suaminya, sehingga Erina sama sekali tidak tahu bahwa restoran itu milik Bisma, wanita itu hanya tahu Bisma memiliki perusahaan dan mansion.
"Tidak! bukankah kamu lapar? makanlah!" Ucap Bisma mempersilahkan, hidangan di meja mereka begitu banyak, Bisma secara khusus memesan semua itu untuk Erina yang katanya kelaparan.
"Hm, baiklah." Erina hendak memulai makan, tapi dia tiba-tiba teringat pernikahan sahabat Bisma. "Mas, tidak apa-apa kita meninggalkan acara Leo? bagaimana kalau nanti nenek mencari kita?"
"Tidak apa-apa, kamu makan saja, mas sudah menghubungi nenek dan mengatakan padanya kalau kita akan pulang duluan." Jawab Bisma sambil terus memperhatikan wanita di depannya.
"Oh." Erina tersenyum dan akhirnya menyantap makanan yang sudah tersedia diatas meja mereka, sementara Bisma hanya memperhatikan tanpa berniat untuk mengikuti Erina makan.
Erina yang merasa Bisma belum menyentuh makanan mengarahkan pandangannya kepada suaminya itu. "Mas, kenapa kamu tidak makan?" tanyanya masih dengan mulut penuh makanan.
Bisma tersenyum. "Mas tidak lapar, kamu saja yang makan dan menghabiskan semuanya." lalu Bisma mengambil tisu dan membersihkan sudut bibir Erina yang sedikit kotor karena makanan.
Erina menelan semua makanan yang ada di dalam mulutnya dan mengerjapkan matanya, Erina merasa tidak biasa dengan sikap Bisma yang seperti itu, sepertinya berefek dari bertemu Rose.
Erina merasakan tatapan Bisma padanya sedikit berbeda, suaminya itu seperti sedang memikirkan sesuatu, mungkin karena perdebatan yang terjadi mengenai perkata anak atau mungkin hal lain.
"Hey, kenapa?" Tanya Bisma menyadarkan Erina dari lamunannya, lalu mengusap sayang puncak kepala istrinya itu. "Makanan ini tidak enak kalau dingin, jadi sebaiknya cepat kamu habiskan."
"Mas, kamu juga harus makan." Ucap Erina saat sudah tersadar dari lamunannya, lalu wanita itu menyodorkan sendok berisi makanan di depan mulut Bisma, suaminya harus ikut makan.
Bisma hanya tersenyum dan menuruti Erina untuk makan, memang benar saat ini Bisma masih memikirkan tentang bagaimana perasaan Erina setelah Rose membuat istrinya itu malu.
Bisma tidak mempercayai istrinya, mungkin Erina berbohong mengenai perasaannya, Rose sudah sangat keterlaluan dan memojokan Erina sampai wanita itu terlihat buruk di mata banyak orang.
Bisma menahan tangan Erina saat suapan kedua, lalu merebut sendok yang Erina pegang. "Sayang, mas memesan makanan untukmu, jadi lebih baik kamu saja yang menghabiskan semuanya."
Erina mendengus. "Mas, kamu pikir perutku bisa menghabiskan semuanya? aku memang lapar, tapi perutku tidak bisa menampung semuanya!" Erina jengkel melihat Bisma akan menyuapinya.
"Mas akan memakan sisamu nanti, kalau kamu tidak bisa menghabiskannya." Sahut Bisma dan melirik tajam sendok di depan mulut Erina itu, memaksa istrinya untuk segera membuka mulut.
Erina tiba-tiba memegang perutnya seperti menahan rasa sakit. "Kalau begitu lebih baik mas makan sekarang, perutku sudah tidak kuat menampung semua makanan ini." Aktingnya.
Bisma tertawa cukup keras, dia tahu Erina tidak serius mengatakan itu, Erina pasti melakukannya supaya Bisma makan, memang istri Bisma tidak terlalu baik dalam berakting seperti itu.
"Yak! kenapa kamu tertawa?" Teriak Erina tidak terima, Bisma masih belum bisa menghentikan tawanya dan tanpa mereka sadari ada seseorang yang memperhatikan keduanya dari kejauhan.
"Kita lihat, mau sampai kapan Bisma bertahan tanpa adanya keturunan, karena bagaimana pun pria kaya seperti Bisma membutuhkan pewaris." Kemudian orang itu pergi dari tempatnya berdiri.
Sementara itu, Leo dan Krystal tidak bisa tenang semenjak mereka melihat Bisma meninggalkan acara mereka, keduanya tahu bahwa selain client, Rose juga teman kuliah yang menyukai Bisma.
"Krystal, sepertinya Rose mengikuti Bisma dan nona Erin, aku takut terjadi sesuatu nantinya."
~TBC
"Dalam kehidupan, pasti banyak sekali peran antagonis, mereka adalah pelengkap kisah."
Regards,
Nur Alquinsha A | IG: light.queensha