
Bisma tidak bisa berhenti memandangi Erina yang masih tertidur pulas, dia begitu penarasan dengan mimpi Erina, siapa yang sebenarnya datang ke dalam mimpi istrinya itu? Mengapa Erina sampai membalas ciumannya?!
Bisma ingin sekali menanyakan itu kepada Erina, tapi bagaimana Bisma bertanya kalau Erina saja masih belum membuka matanya, wanita itu masih terlihat nyaman berada di alam mimpi, entah sedang bersama siapa disana.
"Erin, saya rasa kita harus benar-benar pergi ke rumah sakit, kamu harus segera di periksa, saya khawatir kamu tidak bangun." Ucap Bisma jengkel.
Bisma tidak tahu mengapa dirinya harus merasa kesal, meski Erina hanya bermimpi, Bisma merasa bahwa Erina sedang menghianatinya. Bisma ingin sekali memaksa Erina untuk bangun, tapi takut nanti istrinya itu marah.
"Erin ... ah!" Bisma menghentikan perkataannya ketika Erina tiba-tiba menarik tangannya, posisi Bisma saat ini berada tepat diatas tubuh Erina.
Bisma berusaha menahan tubuhnya supaya tidak terlalu menindih tubuh mungil istrinya, tapi Erina sendiri malah memeluk Bisma bak memeluk guling, Bisma berusaha keras menahan tubuh beserta hasratnya dari Erina.
"Hmm ..." Erina bergumam pelan dan semakin memeluk erat Bisma tanpa menyadari apa yang dirinya lakukan, Erina benar-benar tidur pulas.
"Erin, jangan berani menggoda saya ..." Bisik Bisma dengan suara parau, dia berusaha terlepas dari pelukan Erina yang membuatnya sulit bernafas.
"Bisma ..." Ucap Erina mengigo ketika Bisma baru akan melepaskan diri dari pelukan wanita itu, lalu Erina terlihat tersenyum dengan wajah damainya.
Bisma menatap wajah itu, kedua sudut bibirnya terangkat, dia merasa harus kembali membangunkan Erina dan berpikir untuk melakukan hal sama dengan yang sebelumnya di lakukan.
"Erin, bangun!" Bisma berbisik pelan pada telinga Erina, lalu memberikan kecupan serta lumatan pada bibir istrinya, Bisma tidak melihat cara itu berhasil dan berniat melakukan lebih.
Erina sudah terlanjur membuat bagian inti tubuh Bisma bangun dan wanita itu harus mau bertanggung jawab. Bisma tidak bisa menahannya terlalu lama, dia sangat membutuhkan Erina.
"Erin, kalau kamu tidak mau makan buburnya, bagaimana kalau kamu menjadi sarapan pagi saya?" Tanpa menunggu jawaban, Bisma menyerang Erina dan mulai menciumi lehernya.
Erina terusik ketika Bisma memberikan beberapa tanda pada lehernya, wanita itu spontan membuka matanya dan terkejutnya Erina mengetahui apa yang sedang Bisma lakukan padanya.
"Bisma, kamu ... apa yang kamu lakukan?" Tanya Erina tercekat.
Bisma tidak menjawab, dia masih fokus memberi tanda pada leher Erina, tidak lama ciuman Bisma menurun dan tangannya mulai membuka kancing piyama Erina satu persatu.
"Bisma, umphhhh ..." Erina berhenti bicara karena bibir Bisma dengan cepat membungkam mulutnya, Erina juga bisa merasakan tangan kiri Bisma menyentuh wajahnya dengan lembut.
Bisma tidak menyangka Erina akan cepat bangun, dia sempat berpikir hari ini akan menyetubuhi Erina yang tertidur pulas. Bisma sudah tidak bisa menahan dirinya, terlebih tadi Erina memberikan lampu hijau padanya.
"Erin, saya membutuhkan kamu ..." Ucap Bisma masih dengan suara parau, Erina yang mengerti apa yang Bisma butuhkan hanya mendesah pelan.
Erina tidak mengerti mengapa Bisma mendadak membutuhkan itu, persis seperti apa yang Bisma lakukan dalam mimpi Erina, pria itu kembali mencium bibir Erina dengan tangannya yang berusaha melepaskan piyama Erina.
Ya, Erina memang mimpi berciuman bahkan hampir melakukan hal lebih dengan seorang pria dan pria yang ada dalam mimpi Erina adalah Bisma. Ha, Erina terus teringat perkataan Soraya sampai terbawa dalam mimpi.
"Bisma ..." Erina memanggil nama suaminya parau, lalu Erina membelai wajah Bisma yang berjarak sangat dekat dengan wajahnya. Dia menekan tengkuk Bisma dan mengecup bibirnya.
"Aku mencintaimu." Lanjut Erina dengan suara rendah.
Bisma tersenyum, ini pertama kalinya Erina menyatakan cinta padanya, lalu Bisma membalasnya dengan berbisik. "Saya juga mencintai kamu, Erin."
Setelah itu, Bisma mengecup bibir Erina sambil membuang piyama atas istrinya itu sembarangan, lalu Bisma mengarahkan tangan Erina untuk membuka kancing piyamanya.
Erina hanya menuruti keinginan Bisma dan membuka kancing piyama Bisma sampai tubuh atletis pria itu terlihat di depan matanya. Bisma langsung membuang sembarang piyamanya.
Semua itu masih berlanjut sampai tubuh Bisma dan Erina tidak terbalut apapun, mereka akhirnya bisa saling memuaskan dengan cinta yang sudah tumbuh di hati masing-masing.
Jujur, Bisma masih merasa takut kalau suatu saat nanti Erina tiba-tiba pergi dari sampingnya. Bisma sadar, dia tidak akan pernah tahu apa yang Erina pikirkan atau yang ada di pikirannya.
"Hm ..." Erina hanya bergumam menanggapi Bisma, dia membenamkan wajahnya pada dada bidang Bisma untuk menutupi wajah merahnya.
- - -
Sementara itu, Leo berdiri di depan pintu rumah Soraya dan Farhan, dia datang untuk menjemput kedua bosnya. Dan sedang menunggu sang pemilik rumah membuka pintu.
"Eoh, kamu?" Farhan tersenyum ramah ketika melihat siapa yang datang.
"Selamat pagi, tuan. Saya datang kesini untuk menjemput pak Bisma dan juga istrinya." Ucap Leo tidak kalah ramah.
Farhan yang mengetahui itu sedikit berdehem, dia tiba-tiba teringat saat melewati kamar Erina dan Bisma. Bahkan, Farhan masih bisa mengingat suara tidak pantas yang di dengarnya.
Leo mengamati Farhan.
Soraya sedang menonton televisi, dia sama seperti Farhan yang mendengar suara tidak pantas dari kamar Erina, dan sedang berusaha mengalihkan pikirannya dari apa yang di dengar.
"Pak Bisma dan nona Erin belum bangun?" Tebak pria itu asal.
"Sudah." Farhan langsung melaratnya. "Maksudku, aku tidak tahu, silahkan masuk, aku akan memanggil mereka." Farhan mempersilahkan Leo masuk meskipun dirinya tidak yakin bisa memanggil Bisma dan Erina.
Leo masuk ke dalam rumah itu, entah mengapa dia merasa ada sesuatu yang terjadi, Farhan terlihat mencurigakan dan sepertinya ada yang membuat pria itu terlihat sangat gelisah.
"Soraya, tolong buatkan minuman untuk tamu kita." Teriak Farhan, dia berharap Erina dan suaminya bisa mendengar teriakannya itu. Farhan tidak yakin bisa menghampiri kamar Erina karena akan membuat canggung.
"Iya, sebentar." Soraya ikut berteriak menjawab suaminya.
Farhan kemudian beralih kepada Leo. "Duduk dulu, aku akan memanggil Erin dan suaminya."
Leo hanya mengangguk, lalu duduk di sofa ruang tamu. Farhan berniat pergi menuju kamar Erina, tapi bertepatan dengan itu Bisma menghampiri mereka. Sepertinya Farhan berhasil.
"Kamu sudah datang?" Tanya Bisma kepada Leo.
Bukannya menjawab, Leo malah salah fokus dengan sikap Farhan ketika melihat kedatangan Bisma.
"Aku merasa ada yang tidak beres." Leo memperhatikan Farhan.
Bisma mengangkat sebelah alisnya, dia melihat Farhan dan Leo bergantian. "Tidak beres bagaimana? Sudahlah jangan mengacau!"
Dalam hati Farhan berkata. "Dia tidak menyadarinya atau pura-pura tidak sadar? Apa dia tidak tahu rumah ini tidak kedap suara?!"
- - -
Jangan lupa mendukung karya ini dengan menekan tombol suka dan masukan ke daftar favorit kalian. Teruntuk kalian yang tertarik dengan karya-karya aku, silahkan ikuti aku di mangatoon atau instagram (@light.queensha) Terimakasih ...
Regards:
©2019, lightqueensa.