
Erina dan Bisma akhirnya memiliki waktu untuk bersantai sambil menikmati teh hangat, setelah sebelumnya melewati acara yang begitu melelahkan. Mereka baru selesai membersihkan diri dan sedang duduk di sofa kamar, sementara Arumi tertidur semenjak mereka tiba di mansion.
"Sayang, bagaimana kalau besok kita belanja kebutuhan Arumi? mungkin kamu ingin sekalian membeli sesuatu?" Ucap Bisma setelah mengesap teh hangat. Meskipun tadi Leo dan Farhan sudah membantu membelikan kebutuhan Arumi, tapi Bisma tidak yakin semua yang mereka beli cukup.
Bisma ingat kedua orang yang membantunya saja pria yang belum memiliki anak, Leo dan Farhan mana tahu apa yang Arumi butuhkan. Ah ralat! Farhan sudah memiliki anak, tapi anaknya meninggal beberapa hari setelah lahir, sementara Arumi merupakan gadis kecil berusia satu tahun.
Mungkin saja Farhan melewatkan hal penting yang di butuhkan Arumi. Ya, meskipun Erina juga belum berpengalaman masalah anak, tapi wanita seharusnya lebih mengetahui kebutuhan anak kecil. Terlebih Erina termasuk wanita yang sudah lama menantikan seorang anak dalam dunianya.
Erina mengerutkan dahi, lalu menyimpan cangkir teh di tangannya keatas meja. Kebetulan minggu lalu Erina dan Bisma mendekorasi ulang kamar sehingga mereka memiliki tempat khusus untuk bersantai di dalam kamar yang di lengkapi sofa dan meja, bahkan sampai tersedia minibar disana.
Tidak lama Erina menghela nafas, bukan berarti tidak setuju untuk membeli keperluan Arumi, dia hanya tidak percaya Bisma masih menawarinya untuk membeli sesuatu setelah begitu banyak hadiah yang Bisma berikan, bahkan hadiah itu sekarang masih memenuhi bagasi mobil mereka.
Erina mengagumi royalitas Bisma padanya, tapi menurut Erina akan lebih baik kalau mereka menggunakan uang itu untuk membantu orang lain. Karena pasalnya semua hadiah yang Bisma berikan terlalu mewah dan uang itu pasti akan lebih bermanfaat untuk yang membutuhkan.
"Jangan menatapku begitu! sayang, kamu tahu kalau aku tidak bisa memberikan sesuatu untuk orang lain sementara padamu tidak?" Ucap Bisma saat melihat wajah siap mengomel istrinya, dia teringat ketika Erina mengomel karena sudah menghamburkan uang dengan membeli hadiah.
Erina benar-benar berbeda dengan wanita lain, disaat wanita di luar sana menyukai kejutan dan hadiah, Erina malah menjadi wanita yang sangat perhitungan tentang kedua hal itu. Alih-alih berterimakasih, Erina malah mengomeli Bisma sepanjangan perjalanan menuju mansion.
Well, Erina memang mengucapkan terimakasih dan mencium Bisma setelah aksi suaminya di pesta anniversary mereka, tapi sikap manis Erina berubah semenjak Bisma memberi Erina hadiah dan mereka berada di dalam mobil, Erina mengomel melebihi yang nenek Sekar lakukan.
"Baiklah." Ucap Erina diluar ekspektasi Bisma, lalu mengambil cemilan dan memakannya. "Nanti sekalian antar aku ke dokter." Tambahnya setelah cemilan di dalam mulutnya habis, kebetulan Erina ingin memastikan sesuatu dan semoga saja kali ini hasilnya benar dan tidak mengecewakan.
"Dokter? apa kamu sakit? tidak perlu menunggu besok, aku bisa menelpon dokter untuk datang kesini sekarang juga." Ucap Bisma yang kemudian langsung bergegas untuk mengambil ponsel. Tapi sebelum Bisma benar-benar menelpon dokter, Erina sudah lebih dulu merebut ponselnya.
"Tidak! mas, aku tidak sakit. Aku hanya ingin memastikan ini." Ucap Erina sambil menunjukan benda kecil di tangannya. Bisma menatap lama benda berwarna putih kecil itu, lalu dia beralih menatap wajah istrinya. Bisma tahu betul benda apa yang sedang Erina pegang, test pack.
"Hasilnya positif, tapi aku tidak yakin akurat, jadi aku ingin memastikannya ke dokter." Tambah Erina menjelaskan. Bisma berusaha keras untuk mencerna apa yang keluar dari mulut istrinya itu, dan entah kenapa Bisma mendadak seperti orang bodoh hanya karena mendengar perkataan Erina.
"Sebentar! test pack itu ... kamu hamil?" Tanya Bisma sambil menatap lurus mata istrinya, Bisma masih belum percaya Erina memegang test pack bergaris merah dua. Bisma mendadak lambat hanya karena melihat benda itu, seperti sebuah mimpi dan Bisma merasa harus segera terbangun.
Erina membuang nafas melihat reaksi Bisma, suaminya benar-benar menjengkelkan dengan wajah seperti itu. Sebenarnya, sudah dari pagi Erina berniat memberitahu Bisma tentang test pack itu, tapi Bisma terlalu sibuk mengurusi hal lain dan baru sekarang Erina memberitahunya.
Tapi, alih-alih melihat wajah bahagia suaminya, Erina malah melihat Bisma terus terbengong sambil menatap padanya, seolah test pack itu sebuah lelucon dan Bisma tidak mempercayainya. Erina yang kesal langsung menyimpan kembali test pack itu kedalam tas kecil disampingnya.
"Tidak, lupakan!" Kemudian Erina berpura-pura sibuk dengan cemilan. Sudah jelas test pack itu menunjukkan kalau Erina hamil. Meskipun Erina juga belum begitu yakin dengan hasilnya, tapi setidaknya Bisma jangan bereaksi seperti kehamilan Erina adalah hal yang tidak mungkin.
"Sayang ..." Lirih Bisma menyadari perubahan dari nada bicara istrinya. Erina bicara agak ketus dan membuat Bisma panik. Meskipun Bisma tidak tahu penyebab Erina marah, tapi Bisma masih harus membujuk istrinya. Karena tidak mungkin Bisma membiarkan Erina mengambek padanya.
"Maaf, mas tidak bermaksud ... besok mas akan mengantar kamu menemui dokter, bagaimana?" Bisma membujuk Erina setelah sebelumnya dia sempat menyimpan cangkir teh di tangannya itu keatas meja. Erina tidak marah, dia hanya kesal karena reaksi yang Bisma tunjukan padanya.
"Hm." Sahut Erina yang membuat Bisma semakin panik. Satu tahun mereka hidup bersama, Bisma sudah sangat mengenal bagaimana Erina, istrinya itu akan sulit diajak bicara saat marah, dan parahnya lagi Erina mungkin akan kembali menghindari Bisma seperti sebelumnya.
Bisma memang tidak melakukan kesalahan, dia hanya terlalu bahagia dengan kabar baik dari Erina sampai lupa bagaimana caranya berekspresi, tapi baginya membuat Erina kesal atau marah adalah sebuah kesalahan dan Bisma harus memperbaikinya sebelum terlambat.
Erina melihat Bisma dengan sudut matanya, dia merasa menjadi orang jahat karena membuat Bisma sampai sepanik itu. Tapi Erina tidak bisa menutupi kekesalannya, karena meskipun belum mendapatkan kepastian tentang kehamilannya, Erina ingin mendapat ucapan selamat.
"Sayang ..."
"Mas ... ah, sepertinya Arumi bangun."
Bisma dan Erina bicara nyaris bersamaan, sampai akhirnya suara Arumi mengalihkan mereka. Erina bergegas menghampiri Arumi yang terbaring di ranjang dan Bisma mengikutinya dari belakang. Bisma tiba-tiba memikirkan nasib Arumi kalau ternyata Erina benar-benar sedang hamil.
"Sayang, bagaimana dengan Arumi?" Tanya Bisma ketika Erina menggendong anak angkat mereka. Setelah mengetahui Erina hamil, Bisma merasa bahwa kehadiran Arumi sudah tidak di butuhkan. Karena sejak awal Bisma memutuskan untuk mengadopsi karena Erina belum juga hamil.
Bisma sedikit berbohong saat mengatakan kepada semua orang alasan mengadopsi Arumi. Selain tidak tega terhadap Arumi yang di tinggalkan orang tua di usia sekecil itu, alasan utama Bisma mengadopsi Arumi karena Bisma berpikir Erina memang benar-benar sudah tidak bisa hamil.
Sebenarnya, Bisma tidak menuntut Erina untuk hamil, tapi mengingat bagaimana Erina menangis sambil menyatakan cinta padanya, entah kenapa Bisma selalu merasa Erina bisa saja pergi dari hidupnya dan itu membuat Bisma takut sehingga memutuskan untuk mengadopsi seorang anak.
"Kenapa?" Tanya Erina masih dengan nada ketus. Erina tidak tahu kenapa mood nya mendadak buruk, hanya karena melihat reaksi Bisma saat mengetahui dirinya hamil. Bisma membuang nafas, lalu berdiri di hadapan sang istri. Bisma ingin bicara serius tentang nasib Arumi nantinya.
"Kamu hamil, bagaimana dengan nasib Arumi?" Bisma memperjelas pertanyaan sebelumnya, dia benar-benar merasa khawatir dengan nasib si kecil yang baru beberapa jam menjadi anak angkatnya. Erina yang mendengar itu langsung memberikan tatapan tajam kepada Bisma.
"Tidak! bukan begitu ..."
"Lalu?" Tanya Erina menyela penjelasan Bisma padanya. "Mas, kamu bahkan tidak mengucapkan selamat padaku, sekarang kamu menanyakan bagaimana nasib Arumi? kamu benar-benar pria yang kejam!" Erina mencibir bukan karena masih kesal, dia hanya asal mengatakan hal itu.
Lagipula, mana mungkin pria sebaik Bisma pantas dengan kata kejam. Bisma berhasil mengubah pandangan Erina terhadap pria, Erina sekarang yakin bahwa memang tidak semua pria memiliki sifat atau sikap yang tidak baik. Karena ada Bisma yang menjadi salah satu bagian dari pria baik itu.
"Maaf ..." Ucap Bisma pelan, dia tidak tahu harus mengatakan apalagi selain itu dan Erina merasa Bisma sudah terlalu sering meminta maaf, bahkan meskipun tidak sedang melakukan kesalahan, Bisma akan meminta maaf seperti yang sedang terjadi di depannya sekarang.
Bagi Erina, Bisma adalah suami terbaik di dunia, mungkin itu yang membuat Erina tidak sungkan untuk menunjukan rasa kesal dan amarahnya terhadap Bisma. Bahkan Erina pernah sengaja berpura-pura marah supaya bisa melihat sesabar apa suaminya, dan saat itu Bisma selalu sabar.
Berbeda dengan apa yang ada di pikiran Bisma, Erina sering menangis dan menyatakan cintanya kepada Bisma bukan karena tertekan, Erina hanya melepaskan emosinya karena banyak orang yang mengatakan mereka tidak pantas bersama, sekaligus ingin menunjukan kepada dunia bahwa Bisma tidak akan membiarkan dirinya pergi.
Malam ini, Erina berhasil menunjukkan kepada semua orang bahwa Bisma berada di pihaknya, bahkan disaat Bisma tahu Erina tidak sempurna, dan Erina benar-benar menikmati ekspresi Rose tadi. Ya, meskipun sekarang Erina malah membuat Bisma meminta maaf padanya, Erina tetap berterimakasih kepada suaminya.
"Kemarilah!" Ucap Erina meminta Bisma untuk lebih dekat dengan dirinya. Bisma hanya menurut dan mendekati istrinya masih dengan perasaan bersalah, sampai akhirnya Erina kembali bicara. "Mas, kamu tidak ingin memeluk kami? haish, aku hanya memiliki dua tangan dan tanganku ..."
Bisma menghentikan perkataan Erina dengan memeluk tubuh mungil itu beserta si kecil yang hanya terdiam di gendongan Erina. Arumi, gadis kecil yang pendiam dan murah senyum, entah mengapa Bisma merasa seperti melihat Erina saat pertama kali bertemu dengannya, terlebih senyuman Arumi yang mirip Erina.
Sayangnya, Bisma jarang melihat senyuman Erina dan Bisma juga tidak tahu bagaimana wajah Erina saat kecil, Erina tidak pernah menunjukan foto masa kecilnya kepada Bisma, tapi mungkin saja wajah Erina mirip dengan Arumi. Bahkan, Bisma sangat meyakini Arumi akan tumbuh besar seperti Erina, berwajah cantik dan pendiam.
"Menurutku, kata selamat kurang tepat untukmu, yang tepat adalah terimakasih, terimakasih karena tetap bertahan bersamaku dan terimakasih atas usahamu untuk bisa mengandung anak kita." Ucap Bisma sambil mengeratkan pelukannya, lalu mencium kening Erina dan Arumi secara bergantian.
Erina tersenyum tanpa menanggapi perkataan suaminya. Dibandingkan suami takut istri, Erina lebih suka menyebut Bisma sebagai suami yang sangat menghargai istrinya sampai lupa bagaimana caranya menghargai diri sendiri dan Erina sangat bersyukur bisa memiliki Bisma.
Bisma adalah pria sempurna yang sudah berhasil menyempurnakan kehidupan Erina yang jauh dari kata sempurna. Meskipun mereka harus melalui proses yang lumayan lama untuk bisa saling mengerti dan memahami, setidaknya sekarang mereka sudah bisa bertemu dengan kebahagiaan.
Lagipula, tidak ada satupun yang instan di dunia ini, semuanya membutuhkan proses. Bahkan, mie instan sekalipun membutuhkan proses supaya layak untuk di makan. Termasuk dalam pernikahan, tuhan mungkin menghendaki Erina dan Bisma untuk menghadapi proses, sampai akhirnya sekarang proses itu membuahkan hasil.
Keesokan harinya, Bisma mengantar Erina ke dokter untuk memastikan Erina benar-benar hamil dan sepertinya tuhan pun tidak tega untuk menghancurkan harapan mereka. Karena setelah Erina mengikuti berbagai macam pemeriksaan, dokter membenarkan bahwa Erina hamil dan usia kandungannya memasuki minggu ketiga.
Setelah keluar dari ruangan dokter, keduanya sibuk memberitahukan kabar baik itu kepada orang terdekat, Bisma menghubungi nenek Sekar dan Leo, sementara Erina menelpon ibunya dan Soraya. Setelah selesai, barulah mereka kembali fokus terhadap satu sama lain dan Bisma seketika teringat perkataan dokter saat melihat Erina.
"Eh ..." Ucap Erina memekik saat Bisma tiba-tiba merebut Arumi dari tangannya. Arumi memang sedikit berbeda dengan balita lainnya, dia hanya memandangi wajah ayah angkatnya itu tanpa memberi penolakan. Selain pendiam dan murah senyum, Arumi jarang sekali menangis, seperti tidak ingin membuat keluarga angkatnya repot.
"Biar aku saja yang menggendong Arumi, ingat dokter memintamu untuk tidak kelelahan." Ucap Bisma sambil tersenyum dan menunjukan lesung pipinya. Erina mengangguk mengerti, Erina yakin Bisma mengetahui apa yang terbaik untuknya, sehingga memilih untuk menurut daripada nanti menyesal seperti yang terjadi sebelumnya.
"Sayang pelan-pelan, aku takut kamu jatuh, lebih baik kamu tetap berjalan di sampingku."
"Sayang, apa yang terjadi dengan kaki kecilmu? kenapa jalanmu bisa secepat itu?"
"Yak! Erin, apa kamu tidak mendengarku? aku sudah memintamu untuk tidak cepat berjalan!"
Ho, apa sekarang Bisma berubah bawel? Erina hanya berjalan di depan Bisma, tapi Bisma bicara seolah Erina sudah berada sangat jauh darinya. Erina sepertinya harus siap menghadapi sikap berlebihan Bisma mulai sekarang, mungkin calon ayah itu terlalu takut anak mereka terluka dan Erina harus menerima perubahan suaminya.
~END
Menikah, mungkin banyak yang mengira bahwa modal untuk menjalin ikatan itu hanya butuh cinta, tanpa tahu bahwa menikah tidak selalu tentang cinta. Kamu dan dia mungkin menikah karena saling mencintai, tapi kalian belum tentu bisa bertahan karena cinta dan kalian juga belum tentu bisa berpisah karena sudah tidak saling mencintai. Karena sesungguhnya ikatan dan cinta adalah dua hal yang berbeda.
Siapapun bisa menikah karena saling mencintai, tapi akan ada saatnya cinta itu tidak berarti apapun dan akan menjadi omong kosong. Kamu hanya akan di tuntut untuk percaya. Ya percaya! kamu harus percaya bahwa kamu dan dia memang ditakdir untuk bersama, supaya apapun yang terjadi tidak ada satupun dari kalian yang memilih untuk saling melepaskan.
Yaampun, gak tahu apa yang aku ketik, bagian ini terus aku revisi karena takut endingnya gak berkesan, tapi sepertinya emang tulisanku gak bisa berkesan buat kalian. Serius, aku merasa gagal menyampaikan apa yang ada di pikiranku ke kalian, aku benar-benar minta maaf, tapi emang sekedar ini kemampuan yang aku miliki.
Masih ada satu bagian lagi, epilog. Semoga kalian masih mau baca dan tolong berikan cinta kalian meskipun hasilnya tidak memuaskan. Drama banget nih penulisnya. Tapi makasih banyak untuk membaca setiaku. Big Love ❤
Regards,
Nur Alquinsha A | IG: light.queensha