Ikatan Tanpa Cinta

Ikatan Tanpa Cinta
ITC #42


Bisma mana peduli dengan perkataan Leo. Dia mengajak Erina foto bersama meski Leo melarangnya, Bisma malah sengaja berpose mesra supaya Leo kesal padanya. Bisma sangat menyukai wajah kesal Leo.


Dulu, Leo merupakan playboy dan hampir setiap hari berganti pasangan, Leo sering menyuruh Bisma mencari kekasih dan sekarang giliran mantan playboy itu yang harus buru-buru mencari seorang istri.


Bisma tersenyum menatap layar ponsel Erina, dia merasa puas dengan hasil gambar mereka, Erina terlihat cantik meski tanpa senyuman di wajahnya dan Bisma tidak pernah bosan melihat wajah cantik istrinya itu.


"Bagus." Gumam Bisma memuji hasil fotonya.


Bisma mengagumi wajah tampannya yang tidak pernah terlihat jelek. Bisma tidak bermaksud narsis karena memang itu kenyataannya. Bisma tampan dan pantas bersanding dengan wanita secantik Erina.


"Erin, bagaimana kalau foto ini saya jadikan wallpaper?" Tanya Bisma sambil menunjukan foto yang terakhir mereka ambil.


Erina terdiam melihat foto yang Bisma tunjukkan padanya. Sementara Leo melirik kaca spion dan memutar mata malas. Leo merasa penumpang di mobilnya memang tidak tahu diri.


"Maksud saya ... bagaimana kalau foto ini saya jadikan wallpaper handphone saya? kamu tidak keberatan?" Bisma melarat pertanyaan sebelumnya.


"Oh?" Erina beralih menatap Bisma dan tersenyum. "Aku tidak keberatan kalau foto itu menjadi wallpaper di handphone ku juga." Jawabnya.


Erina merebut ponsel miliknya dari tangan Bisma, lalu memasang foto tadi menjadi wallpaper di ponselnya. Dia merasa sudah tidak sepantasnya foto Bryan berada di ponselnya.


"Bagaimana menurut kamu?" Tanya Erina meminta pendapat Bisma sambil menunjukkan layar ponselnya.


Bisma tidak menyangka Erina serius mengganti wallpaper ponselnya. Bisma hendak menjawab, Erina tiba-tiba memegang kepalanya dan ponsel di tangan Erina terjatuh.


"Erin, kamu kenapa?" Tanya Bisma panik karena wajah Erina juga terlihat pucat. Leo kembali melirik kaca spion dan melihat wajah pucat Erina.


"Leo, tolong antar kami ke rumah sakit." Ucap Bisma semakin panik ketika tubuh Erina hampir terjatuh.


Bisma berusaha menahan tubuh Erina dan menyandarkan kepala wanita itu pada bahunya. Erina tidak pingsan, dia hanya merasa tubuhnya lemas.


"Oke ..." Leo berniat memutar kemudi, namun Erina lebih dulu mencegahnya.


"Aku baik-baik saja, Bisma! Tidak perlu ke rumah sakit!" Ucap Erina cepat meski suaranya terdengar lemas.


"Kita ke rumah Soraya saja." Erina melingkarkan tangannya di pinggang Bisma. Dia merasa kepalanya berat.


"Erin ..." Lirih Bisma sambil menyentuh lembut wajah Erina yang terpejam.


"Bisma, kamu mau membawa istrimu ke rumah sakit atau pergi ke rumah Soraya?" Tanya Leo bingung.


Leo tidak begitu mendengarkan perkataan Erina karena Leo merasa Bisma lebih berhak memutuskan.


"Ya, antar kami ke rumah sakit." Jawab Bisma tegas. Erina mengangkat wajah menatap Bisma dengan susah payah.


"Bisma, aku mohon ... aku hanya mau pergi ke rumah Soraya." Ucap Erina memelas.


"Erin, kenapa kamu keras kepala?!" Bisma meninggikan suaranya, detik berikutnya Bisma menghela nafas dan berusaha meredam emosinya.


"Kita bisa pergi ke rumah Soraya setelah memastikan kamu baik-baik saja." Ucap Bisma merendah.


Erina menggeleng pelan dan berusaha menjauhkan dirinya dari Bisma setelah sakit kepalanya mereda, dia kembali menatap wajah Bisma.


"Aku tidak mau pergi ke rumah sakit ..." Ucap Erina memohon kepada Bisma dengan tatapannya. Bisma membuang wajahnya dari Erina.


"Baiklah! Leo, kita akan tetap pergi ke rumah Soraya!" Bisma mengakhiri dan memutuskan untuk mengalah.


Leo menurut dan melajukan mobilnya menuju rumah Soraya. Meski Leo tidak bisa memahami Bisma yang kurang tegas dan selalu mengalah.


Erina merasa bersalah ketika melihat Bisma membuang wajah darinya, dia bukan tidak mau menurut kepada Bisma, tapi Erina benci rumah sakit.


"Bisma, aku minta maaf ... aku hanya sakit kepala biasa, jadi aku harap kamu--" Erina berhenti bicara, Bisma tiba-tiba membungkam mulut Erina dengan bibirnya.


Erina merasa kewalahan, dia hanya membiarkan Bisma bermain dengan bibirnya tanpa berniat membalas. Sementara Leo yang menyaksikan adegan itu dari kaca spion hanya bisa berdumel dalam hati.


"Setan apa yang merasuki Bisma sampai melakukan itu pada istrinya yang sedang sakit?"



Mobil hitam Leo berhenti di depan rumah Soraya. Beruntung Erina sudah memberitahu Leo alamat sahabatnya, sehingga Leo tidak perlu bertanya pada kedua makhluk mesum di mobilnya.


Leo melirik kaca spion, Bisma masih berciuman dengan istrinya, tidak sekalian mereka making love di dalam mobil?! Pikir Leo geram karena sudah sangat lama melihat adegan itu.


"Bisma, perlu aku mengantar kalian ke hotel?" Tanya Leo sarkas.


Bisma tidak menanggapi Leo, dia masih fokus kepada Erina setelah ciuman mereka berhenti. Bisma melihat wajah Erina sudah tidak sepucat sebelumnya, tapi Bisma masih merasa khawatir.


"Erin, saya menurut padamu sekarang, tapi nanti kamu yang harus menurut, saya tidak suka kamu memohon untuk mengabaikan kesehatanmu."


Erina tersenyum kaku karena keberadaan Leo. "Baiklah, aku akan menurut padamu."


"Tapi lain kali tolong jangan nyium gue sembarangan!" Lanjut Erina dalam hatinya. Dia menjadi satu-satunya orang yang malu karena perkataan sarkas Leo tadi.


Bisma tersenyum dan membelai lembut wajah istrinya, Leo yang sudah tidak tahan melihat setiap adegan di mobilnya akhirnya angkat bicara.


"Kita sudah sampai di rumah Soraya! atau kalian memang ingin aku antar ke hotel?!" Tanya Leo kelewat kesal.


Leo ingin segera mencuci mobilnya yang sudah ternodai kelakukan Bisma dan Erina. Karena dia saja tidak pernah membawa wanita ke mobilnya.


"Bisma, kalau begitu aku masuk ke rumah Soraya duluan ya?" Lalu Erina bergegas turun dari mobil Leo.


Bisma menatap kepergian Erina, lalu memberikan tatapan mematikan kepada Leo. Rasanya Bisma ingin sekali menjahit mulut berisik itu.


"Leo, sepertinya kamu harus mencari wanita untuk kamu jadikan istri agar kamu lebih memahami kami." Ucap Bisma menirukan perkataan Leo.


Dulu, Bisma bahkan harus melihat adegan yang lebih menodai mata, Leo hampir 'making love' di dalam kamar Bisma, bukankah itu lebih parah?!


Bisma dan Erina sudah menikah, sekedar ciuman tentu saja itu wajar bagi mereka, sementara dulu Leo melakukan tanpa ada sebuah ikatan.


Leo dan wanitanya bermain gila di kamar Bisma. Sementara si pemilik kamar di larang untuk protes, siapa yang lebih tidak tahu malu?


Sekarang, Bisma hanya berciuman dengan istri sah nya di dalam mobil Leo, sahabat Bisma itu malah terus mengganggu karena tidak terima.


Leo seperti déjà vu, Leo ingat dirinya pernah mengatakan itu dan menyuruh Bisma mencari kekasih supaya Bisma tidak merusak momennya.


"Jadi kamu balas dendam huh?" Tanya Leo spontan.


"Tidak!" Jawab Bisma cepat. Dia tidak menganggap itu sebagai pembalasan dendam. Bisma hanya ingin Leo merasakan apa yang pernah dirinya rasakan. Hanya itu!


"Oh ya, tolong kamu antarkan koper aku ke mansion." Ucap Bisma sengaja mengalihkan.


Bisma tersenyum bisa melihat wajah merah Leo dari kaca spion. Salah Leo sendiri berani mengusir Erina!



Jangan lupa mendukung karya ini dengan menekan tombol suka dan masukan ke daftar favorit kalian. Teruntuk kalian yang tertarik dengan karya-karya aku, silahkan ikuti aku di mangatoon atau intagram (@light.queensha) Terimakasih ...


Regards:


©2019, lightqueensa.